Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Gagal


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Mama Lusi langsung membawa Brenda menuju UGD. Mama Lusi menangis dan menyesali apa yang telah ia lakukan. Mama Lusi terlalu memaksa kehendaknya daan tidak pernah memberinya contoh yang baik selaku orang tuanya.


"Sayang maafkan mama, aku mohon bertahanlah jangan biarkan mama hidup sendiri di dunia ini,” ucap Mama Lusi. Mama Lusi terus mengikuti Brenda saat didorong perawat menuju ruang perawatan. Sementara itu om Lukas mendampinginya hingga akhirnya bertemu dengan dokter yang menanganinya.


“Dokter, Bagaimana keadaan putriku? Aku mohon berilah pengobatan yang terbaik untuk putriku.Pokoknya usahakan putriku terselamatkan?” tanya Mama Lusi penuh kekuatiran.


“Tenangkan lah diri anda, Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolong Putri anda,” ucap dokter yang menangani Brenda dan langsung memeriksa Brenda.


“Terimakasih Dokter. Aku berharap Putriku dapat sembuh seperti sedia kala,” ucap Mama Lusi. 


Setelah beberapa lama menunggu di luar dokter yang menangani Brenda pun keluar dari ruang perawatan. “Alhamdulillah, putri anda sudah melalui masa kritisnya. Dan perlu Anda ingat, janganlah anda membuat Putri anda tertekan,”  ucap dokter memberi pengertian kepada Mama Lusi.


“Baik dokter, aku akan mengingat apa yang dokter sampaikan,” ucapan mama Lusi yang kemudian langsung masuk kamar peralatan putrinya. 


Mama Lusi memandangi putrinya yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Mama Lusi mengusap-usap rambut putrinya seakan penuh penyesalan.


“Sayang, maafkan aku karena hari ini rencana kita gagal. Aku sudah tidak peduli lagi dengan rencana kita. Bagaimanapun aku masih membutuhkan putriku. Dia adalah putriku satu-satunya dan bagaimanapun aku sangat menyayanginya,” ucap mama Lusi kepada Om Lukas.


“Terus bagaimana, apa kita menyerah begitu saja.  Kmu kan tahu,  perusahaan kita sudah diambang kehancuran.  Apa kamu mau hidup menjadi seorang gembel!” ucap Om Lukas penuh dengan emosi.


“Tentu saja tidak. Aku punya solusinya. Kita terima saja, apa yang ditawarkan oleh Rahardi.  Rahardi juga tidak kalah kaya dengan Tegar.  Jadi aku jamin hidup kita dan putriku tidak akan menderita,” ucap mama Lusi.


“Sayang..., bagaimana bisa menyimpulkan seperti itu? Apa jaminannya, kalau Rahardi mau menjamin hidup kita,” ucap Om Lukas penuh kekuatiran.

__ADS_1


“Tadi aku sudah menghubunginya, kalua dia mau dating kesini berarti dia masih mau menerima Brenda dan menikahinya. Kita lihat saja nanti!” ucap mama Lusi penuh percaya diri.


Tidak Berapa lama kemudian Rahardi datang menjenguk Brenda. Rahardi tidak mempedulikan lagi Mama Lusi dan Om lukas yang ada di ruangan. Rahardi langsung menerobos masuk ke ruang perawatan Brenda untuk menemuinya. Rahardi merasa sakit melihat Brenda tidak berdaya di pembaringan.


Rahardi duduk di samping ranjang Brenda, dan memegangi tangannya. Rahardi mengusap-usap pipi Brenda penuh dengan kasih sayang.


“Sayang..., apa yang kamu lakukan?  Bukankah aku sudah bilang, akan mencari jalan keluarnya.  Sayang…, ayo bangunlah dan bertahanlah! Ingatlah janji cinta kita.  Aku dan kamu akan selalu hidup bersama di dalam suka maupun duka,” ucap Rahardi menitikkan air matanya menunjukan rasa kasih sayangnya sehingga membuat mama Lusi menitikkan air matanya.


 Mama Lusi semakin merasa bersalah melihat putrinya berbaring tidak  berdaya.  Mama Lusi tanpa meminta persetujuan dari Om Lukas langsung menghampiri Rahardi.  Mama Lusi kemudian membisikkan sesuatu ke telinga putrinya. “Brenda sayang, bangunlah nak.  Ini calon suami kamu, pak Rahardi menunggumu.  Mama tidak lagi memaksamu.  Mama akan memberi restu kalian untuk bersatu,” ucap Mama Lusi di hadapan Rahardi dan Brenda.


Brenda yang sudah tersadar dari pingsannya, pelan-pelan membuka matanya. Rahadi nampak senang melihat Brenda sudah tersadar.


 "Sayang kamu sudah sadar ya? Alhamdulillah kamu tidak terjadi apa-apa?”  ucap Rahardi dengan senang dan langsung memeluk Brenda dan menciuminya.


“Sudahlah, kamu Jangan memikirkan apapun, yang terpenting kamu segera sehat dan pulih seperti semula,” ucap Rahardi dengan penuh kasih sayang membelai rambut Brenda.


Mama Lusi begitu tersentuh dan akhirnya mengajak Om Lukas untuk pulang. Mama Lusi berusaha memberi kesempatan kepada Rahardi untuk menunggu Brenda. Mama Lusi yakin kalau Rahardi yang dibutuhkan oleh Brenda.


“Pak, Rahardi, aku percayakan kan anakku untukmu.  Aku mohon rawatlah dia dengan baik. Aku akan pulang bersama Om Lukas. Aku lihat Brenda lebih membutuhkanmu,” ucap Mama Lusi yang kemudian langsung pergi ke luar ruangan untuk pulang.


“Sayang, kamu yakin dengan keputusanmu, padahal Tegar lebih baik dari segalanya,” tanya Lukas penasaran tak kala mereka sudah berada di luar ruang perawatan.


“Iya, semua sudah aku pertimbangkan.  Sudahlah, yang terpenting kita masih menikmati hidup enak,” ucap Mama Lusi yang terus berjalan menuju halaman parkir.

__ADS_1


“Baiklah, terserah kamu sajalah!” ucap om Lucas langsung masuk ke dalam mobilnya.


Sementara itu di dalam rumah sakit, Rahardi memberi perhatian kepada Brenda dengan sangat baik. Makan dan minumnya dia perhatikan bahkan saat Brenda hendak ke belakang di gendongnya.


Brenda tersenyum Bahagia, hari ini dia benar-benar diperlakukan bagaikan seorang putri. Rahardi semalaman menjaganya hingga nampak kantung matanya karena tidak tidur semalaman.


Di pagi hari Rahardi yang terjaga langsung membangunkan Brenda untuk segera bangun dan membantunya untuk membersihkan badannya. Setelah semuanya bersih kemudiaan bersiap untuk melaksanakan sholat subuh yang dipimpin oleh Rahardi. Brenda nampak bingung karena selama ini tidak pernah sholat. Rahardi dengan sabar membimbingnya.


Rahardi hari ini sengaja menunggu dokter yang akan memeriksa Brenda. Rahardi kemudian konsultasi terkait kesembuhan calon istrinya. Setelah bertemu dengan dokter, Rahardi karena besok Brenda boleh dirawat di rumah.


Rahardi memanfaatkan kesempatan itu dengan menyampaikan ke mama Lusi untuk merawat Brenda di rumahnya. Melalui ponselnya Rahardi langsung minta izin ke mama Lusi. Dengan banyak pertimbangan mama Lusi memberikan izin Rahardi untuk merawat Brenda.


Sementara itu Dilla yang melakukan pemeriksaan di rumah sakitnya tidak sengaja melihat Rahardi telpon di depan kamar rawat inap Brenda. Dilla menyapa Rahardi hingga akhirnya Rahardi langsung menutup ponselnya.


“Dilla, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Rahardi yang tidak tahu kalua sesungguhnya Dilla yang mempunyai rumah sakit tersebut.


“Aku hanya berkunjung saja ke sini kak, kakak sendiri ada apa di sini?” tanya Dilla yang tidak mengetahui kalua Brenda menjalani rawat inap karena hendak bunuh diri.


“Itu...,” Rahardi bingung mau menjawabnya tapi tangannya menunjuk ke ruangan perawatan Brenda. Dilla yang tanggap langsung menengok mengikuti arah telunjuk Rahardi.


“Brenda? Ada apa dengannya?” tanya Dilla yang benar-benar tidak tahu. Sementara itu Rahardi tidak memberinya penjelasan apapun. Dilla yang tahu adiknya di rumah sakit langsung menjenguknya meskipun dulu pernah menyakitinya. Bahkan Dilla juga memberinya pelayan gratis untuk Brenda.


Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2