Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Pelaminan


__ADS_3

Hari pesta pernikahan Sabrina dan Abiyasa dilaksanakan secara meriah yang di hotel milik keluarga Abiyasa. Kedua mempelai sudah berada di atas pelaminan dengan pakaian adat Jawa. Sabrina kelihatan cantik ditemani oleh Almaira. Almaira juga tidak kalah cantik dengan kakak iparnya.


Ijab qobul telah dilaksanakan dengan baik dengan saksi Abisetya dari pihak laki-laki dan Dimas dari pihak perempuan.


Sesaat Abiyasa nampak tegang sebelum melakukan ijab shah, Setya saudara kembarnya nampak ngerjain Abiyasa dengan celotehan nya yang sangat menjengkelkan.


“Kakak jangan tegang ya? Ingat kalau tegang-tegang pasti tidak enak rasanya? Apalagi terlalu semangat!” ucap Abisetya kepada saudara kembarnya.


“Kunyuk lo pikiran kamu ngeres saja! Tuh ada cewek temannya Almaira! Ayo sana kamu pergi dekati sana ambil salah satu dan segera menikah!” ucap Abiyasa sengaja mendorong saudara kembarnya untuk segera mendapatkan jodohnya.


“Kak gitu itu gak usah dipaksa pasti nanti akan mengalir sendiri mengikuti alur!” ucap Abisetya yang berprofesi sebagai dokter namun dirinya selalu tidak serius menjalin hubungan dengan wanita. Bahkan beberapa teman seprofesi dengannya yang cantik-cantik dan berharap jadi kekasihnya tidak pernah sekalipun diliriknya.


“Iya nich kak! Ayo aku kenalkan sama temanku yang tak kalah cantik dengan kak Sabrina!” Almaira langsung menarik tangan Setya dan mengajaknya bertemu dengan sahabatnya.


“Hai Liana…! Kenalkan ini kakak aku!” ucapnya dan langsung memeluk Liana yang datang bersama ayah dan bundanya yang ternyata teman bisnis papa Tegar. Setelah berpelukan dengan Almaira langsung mengalihkan pandangannya ke arah Setya. Setya yang fokus dan terpesona kecantikan Liana jadi salah tingkah.


“Hai…, aku Setya kakaknya Almaira!” ucap Setya sambil mengulurkan tangannya namun tidak disambut baik oleh Almaira.


“Iya aku tahu kamu kakaknya Almaira! Ayo Almaira kita duduk di situ!” ucap Liana sambil menggandeng Almaira duduk untuk dan ngobrol menceritakan masa-masa sekolah mereka. Setya pun ikutan duduk bersama mereka dan dirinya tidak lepas mengamati tingkah laku Liana yang menurutnya sangat menggemaskan.


“Hem teruskan tingkahmu gadis kecil, Baru begitu saja sudah sombong!” gumam Setya lirih sambil terus memperhatikan Liana.


“Almaira, gila ya jaman sekarang kok ada cowok yang sok kegantengan dan kepedean banget ya! Lain kali ajari tuh abang kamu bagaimana cowok itu bersikap! Gila banget apa? Cowok begitu sih banyak yang hanya ngandelin nama besar ortunya!” ucap Liana mak jleb menusuk jantung hati Setya. Tapi aneh Setya tidak sakit hati sama sekali dengan kata-katanya Liana.


“Ha…, ha…, aku suka dengan gayamu gadis kecil?” ucap Setya tertawa lepas mengejek Liana.

__ADS_1


“Aku bukan gadis kecil namaku Liana!” ucap Liana yang sebal dengan tingkah Setya.


“Kakak…, Liana…, apaan kalian itu! Ayo kita nikmati makannya!” ucap Almaira yang menjadi penengah diantara mereka berdua.


Liana dengan yang kesal dengan Setya justru membangkitkan rasa laparnya sehingga Liana makan beberapa masakan yang dihidangkan dengan lahapnya. Namun tiba-tiba mc memberitahu untuk semua undangan yang bisa menyanyi diperbolehkan untuk menyumbangkan sebuah lagu untuk mempelai.


Liana tanpa sungkan dan malu langsung maju ke depan dan menyanyikan lagu “Cinta sampai Mati,” miliknya Kangen Band bahkan Lina sangat piawai main gitar. Setya semakin terpukau dengan Liana. Dirinya sangat mengagumi Liana.


“Dik…, kenapa sih punya teman seperti Liana kok tidak dikenalkan sama kakak dari dulu!”


“Emangnya kakak minta, kan kakak gak pernah minta! Lagian kakak kan playboy banget mana mau tuh si Liana. Liana itu anak baik dan dia the best friend aku. Jadi ogah dong ngenalin ke kakak! Bisa-bisa Liana tiap hari nangis darah dong!” ucap Almaira membuat sang kakak gemas dan langsung menjitak kepala Almaira.


“Pletak,” Almaira mengusik kepalanya kesakitan.


“Sakit kak! Apaan sich kak!” ucap Almaira sambil mengerucutkan bibirnya karena jengkel sama kakaknya.


“Gak. Aku tak ingin Liana nanti terluka. aku bilang enggak ya enggak!” ucap Almaira karena tidak ingin persahabatannya rusak karena kakaknya.


“Dik tolong lah kakakmu satu ini! Aku siap kok nikahin dia! Ntar aku belikan kamu ponsel termahal dan terbaru dech!” ucap Setya merayu adiknya untuk membantunya.


“Enggak kalau kakak naksir usaha sendiri, titik!” ucap Almaira yang tidak bergeming sma sekali dengan iming-iming kakaknya.


“Ok! Aku akan usaha sendiri! Tolong aku kasih no ponselnya ya?” ucap Setya menyerah dengan adiknya yang bersikeras untuk tidak membantu kakaknya.


“Kakak usaha sendiri kak! Tuh orangnya hampir selesai menyanyi. Aku pastikan nanti dia akan kesini bergabung dengan kita,” ucap Almaira dan benar saja tidak beberapa lama kemudian tepuk tangan undangan sangat riuh mengiringi Liana setelah selesai menyanyikan lagu di panggung.

__ADS_1


Sementara itu mamanya Liana yang begitu dekat dengan mama Dilla sedang membisikan sesuatu dan tertangkap oleh Almaira. Almaira mengamatinya dan merasa kalau mereka berdua merencanakan sesuatu.


“Set…, kak lihatlah kayaknya apa yang kamu inginkan untuk mendapatkan Liana bersambut dengan mama tuh! Aku melihat mama dengan mamanya Liana nampak akrab banget dan membicarakanmu dan Liana!” ucap Almaira berusaha mendeskripsikan kedekatan mereka berdua.


“Ah…, jangan ngacou dik!” ucap Setya tidak percaya dengan ocehan adiknya.


“Hai…, Liana suara kamu merdu banget. Andai boleh aku ingin lo berduet dengan kamu! Aku nanti yang memainkan gitarnya,” ucap Setya berusaha mengambil hati.


“Masa sich kak. Boleh tuh kapan-kapan main tuh ke resto aku! Setiap malam kita juga menampilkan konser musik kecil-kecilan,” ucap Liana yang ternyata suka bisnis dan mengelola bisnisnya sendiri meskipun kedua orang tuanya kaya raya.


“Boleh juga. Aku minta no ponsel kamu ya? Ntar pas aku tidak ada jaga malam aku langsung meluncur kesana!” ucap Setya sedikit lega karena ada respon dari Liana.


“Jangan terlalu senang, ntar kalau gak kesampaian sakitnya di sini tuh!” goda Almaira kepada kakaknya.


“Diamlah dik! Berilah kesempatan kakak dan sana pergi dari sini!” ucap Setya memberi kode pada Alamira untuk meninggalkan mereka berdua.


“Ogah…, aku tak mau. Aku tetap disini! Kasihan Liana ntar kamu kerjain habis-habisan,” bisik Almaira kepada kakaknya.


“Hai…, kalian kenapa! Wah kakak adik nich hobinya main rahasia segala!” ucap Liana langsung yang risih dengan mereka berdua.


“Gak kok! Ini lo Almaira katanya mau ke kamar mandi! Tapi takut meninggalkanmu!” ucap Setya sengaja mengusir Almaira agar menjauh darinya.


“Almaira pergilah! Tidak apa-apa kok aku kan disini bisa ngobrol dengan kak Setya,” ucap Liana yang sudah mulai sedikit akrab dengan Setya.


Setya yang merasa ada lampu hijau langsung menoel kaki Almaira.

__ADS_1


Almaira yang merasa ada chemistry kakaknya dengan Liana maka langsung izin untuk ke kamar mandi. Almaira berharap nantinya hubungan mereka berdua berjalan lancar dan langgeng.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?


__ADS_2