
Berita penyerangan terhadap Ceo ternama di kota itu masuk ke dalam madsos dan parahnya oleh madsos disebarluaskan kalau Tegar Ceo ternama di kota mereka tertusuk oleh warga dengan sebuah belati tanpa ada keterangan kalau penusukan tersebut digagalkan oleh Setya putra Tegar.
Sementara itu Mita yang di villa bersama Dilla mengetahui beritanya tanpa klarifikasi ke Dimas langsung memberitahukan kepada Dilla. Dilla yang cemas atas keselamatan Tegar langsung mengajak Mita pergi ke lokasi kejadian. Dan yang lebih parah lagi Dilla juga tidak membaca berita tersebut hingga tuntas.
Mita mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju tempat yang tertera di madsos. Dengan kecepatan penuh kurang lebih seperempat jam mereka sampai ke lokasi. Dilla langsung menuju klinik pabrik dan langsung menangisi seseorang yang terluka di pembaringan IGD tanpa melihat wajahnya.
“Hik…, hik…, kak Tegar, aku mohon jangan tinggalkan aku dan anak-anak. Aku dan anak-anak sangat membutuhkan kamu kak!” ucap Dilla histeris hingga Tegar yang berada tidak jauh dari IGD langsung menghampirinya.
“Sayang? Kenapa ada di sini? Dan apa yang kamu lakukan?” tanya Tegar bingung. Dilla yang mengetahui Tegar masih dalam keadaan sehat langsung berlari menghampirinya dan memeluknya.
“Bukankah kakak tertusuk sama warga yang demo?” tanya Dilla polos. Tegar yang mengetahui permasalahannya tidak bisa menahan tawanya.
“Sayang, kau itu kalau baca berita jangan setengah-setengah. Siapa yang tertusuk? Aku baik-baik saja. Dan ini semua berkat putra kita,” ucap Tegar menggodanya dan menunjuk Setya yang berada di samping Tegar.
“Setya…? Apa yang kamu lakukan? Bener-bener bandel ya kamu?” Dilla langsung menemui Setya dan pura-pura menjewer telinga Setya.
“Aduh ma, sakit,” ucap Setya langung bergeser sembunyi dibelakang Tegar.
“sudahlah sayang, yang terpenting aku sama Setya tidak terjadi apa-apa,” ucap Tegar membela putranya. Sementara itu dimas dan Mita senang mengamati kebersamaan mereka.
“Semoga mereka akan segera bersatu, dan si kembar akan memiliki keluarga yang utuh. Aku selama 5 tahun tinggal bersama bu Dilla merasa kasihan karena harus berjuang sendiri membesarkan si kembar,” ucap Mita yang berada di dekat Dimas. Dimas tanpa sadar langsung memegang tangan Mita dan menciumnya.
“Sayang, bolehkah aku melamar mu?” ucp Dimas tiba-tiba hingga membuat Mita terkejut. Karena Mita baru mengenal Dimas dan tidak menyangka kalau Dimas berniat serius melamarnya.
__ADS_1
“Dik, kok Diam? Apa kamu tidak mau aku lamar?” ucap Dimas sekali lagi hingga akhirnya Mita menggangukan kepalanya dan secara otomatis Dimas menarik Mita dalam pelukannya dan mencium keningnya.
“Terimakasih sayang, I love you,” ucap Dimas yang terbawa situasi hingga tidak menyadari kalau Tegar beserta Dilla dan Setya sudah ada di dekatnya.
“Ah…, om Dimas ngapain?” teriak Setya sambil menutup matanya dengan jarinya namun agak dibuka sedikit jadi mengetahui pergerakan Dimas.
“Astaga. Dimas bener-bener kau itu asisten yang menyebalkan. Bergerak dibalik kesulitan orang lain!” ucap Tegar hingga membuat Dimas terkekeh kemudian melepaskan Mita.
“Yang terpenting semuanya beres urusan beres bos!” ucap Dimas yang langsung pamitan kepada Tegar untuk pergi mengurus keperluan nanti malam di villanya.
“Ok. Pergilah! Tapi ingat urusan nanti malam harus beres. Dan kau Mita temani lah Dimas. Untuk bu Dilla sama Setya merupakan tanggung jawab saya nanti saya yang mengurusnya.
“Siap pak!” ucap Mita langsung bergerak melangkah keluar bersama Dimas namun tiba-tiba Dilla berteriak memanggilnya.
“Sayang, biarkan mereka pergi. Kalau tidak nanti aku kan cium kamu di depan mereka lo?” bisik Tegar kepada Dilla hingga dirinya nampak pucat karena menahan malu.
“Mita pergilah! Aku yang bertanggungjawab atas semuanya!” ucap Tegar tegas. Sementara Mita dan Dimas pergi, Tegar langsung mengajak Dilla mengelilingi lokasi proyek.
Kesempatan berduaan pun Tegar manfaatkan sebaik mungkin. Namun Setya juga masih anak-anak di lokasi proyek sering membuat ulah dengan hal-hal yang tidak jelas. Dilla yang berjalan dengan Tegar tiba-tiba Setya menghilang dan muncul-muncul sudah berada di tangga bersama pekerja. Dilla yang kuatir berteriak mencari Setya. Setya yang nakal tiba-tiba langsung datang dengan meluncur dengan merosot memakai kayu di tengah-tengah tangga.
“Setya, kau itu bener-bener membuat mama cemas nak? Kalau jatuh bagaimana?” ucap Dilla sambil memegangi dadanya yang berdegup dengan kencang.
“Santai ma, aku tidak apa-apa. Aku sudah prediksi kok dari sudut kemiringannya!” ucap Setya yang langsung menggandeng tangan mamanya.
__ADS_1
“Kak, ayo kita pulang saja. Aku tidak Ingin anak aku berada di lingkungan proyek yang bisa membahayakan keselamatannya,” rengek Dilla kepada Tegar, hingga akhirnya Tegar memutuskan mengajak mereka pulang ke villa.
Hari pun menjelang sore mereka sampai di villa. Dilla yang capek hendak masuk ke kamar namun tiba-tiba dikagetkan dengan kehadiran pak Ardi papanya Tegar.
“Papa? Kapan datang?” tanya Dilla kepada papa Ardi dan langsung mencium punggung tangan papa Ardi.
“Baru saja nak, kebetulan saya tadi ada proyek di sekitar sini, eh ternyata ada cucu-cucu kakek yang menginap di sini,” ucap papa Ardi yang mengajaknya ngobrol di ruang tengah.
“Iya pa, kemarin kak Tegar mengajak kita liburan di sini untuk merayakan ulang tahunnya,” ucap Dilla yang tidak tahu kalau papa Ardi ke villa ada misi khusus yang berhubungan dengan dirinya.
“Papa senang nak, akhirnya kalian bisa menerima satu sama lainnya, papa mohon hubungan kalian segera diresmikan secara langsung ya? Papa sudah menganggap mu seperti anak kandung papa sendiri. Kalau kelak putra papa sangat mengecewakanmu papa akan membelamu dengan baik meskipun papa harus bermusuhan dengan putra papa,” jelas papa Ardi serius.
“Papa? Apa yang papa lakukan?” pekik Tegar memberi peringatan terhadap papanya.
“Apa ada yang salah dengan papa?” tanya papa Ardi terhadap Tegar hingga membuat Tegar kesal karena tidak ada pembelaan dari papanya sama sekali.
“Tidak, cuman begitulah papa yang selalu membela Dilla. Ayo sayang kita masuk ke kamar saja. Jangan dengarkan perkataan papa ya?” tanya Tegar kepada Dilla dan menggandengnya masuk ke kamar. Papa Ardi langsung memarahinya.
“Hai bukankah itu baik nak, berarti menantu papa merupakan sosok yang baik jadi wajarlah kalau papa membelanya,” ucap papa Ardi yang masih duduk di ruang tengah sambil membagikan oleh-oleh kepada si kembar.
Si kembar Yasa dan Setya sangat senang menerima oleh-oleh dari kakek Ardi. Mereka berdua langsung memeluk kakeknya dan menciumnya.
“Kakek bener-bener kakek yang terbaik. Semoga kakek diberi umur panjang dan berkah sehingga kelak bisa menemani kita hingga dewasa,” ucap Yasa bijak hingga membuat hati sang kakek senang.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.