
Begitu pulang dari penjara Mama Lusi nampak murung dan tidak mau menyapa Brenda sama sekali. Brenda yang mengetahui kalau kebebasan Mama Lusi karena permintaan Dilla berusaha membujuk Mama Lusi untuk meminta maaf kepada Dilla.
“Mama, karena ulah mama, Kak Dilla masuk rumah sakit. Calon bayi yang ada di dalam kandungannya hampir celaka karena mama. Kak Dilla meskipun disakiti oleh Mama masih berusaha memaafkan mama dengan meminta Kak Tegar mencabut tuntutannya. Aku mohon mama mau meminta maaf pada Kak Dilla,” ucap Brenda yang yang sekarang semakin bertambah dewasa.
“ Mama tidak mau, untuk apa Mama minta maaf. Mama melakukan itu karena mereka telah merebut peninggalan Ayah Wisnu dari mama,” jawab Mama Lusi yang belum juga menyadari kesalahannya. nya
“ Maaf ma…,, aku bukan Brenda yang dulu. Aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Bukankah kita yang merebut semua milik kak Dilla dari mama dan papanya!” ucap Brenda serius hingga membuat mama Lusi gregetan dan langsung menampar Brenda.
“O…, begitu ya? Bukankah kamu juga terlahir dari darah papa Wisnu? Jadi menurut mama itu merupakan hak kamu dan kakakmu Dilla. Sedangkan kamu masih memiliki Mama tentunya apa yang kamu peroleh dari warisan almarhum papa lebih banyak dari Dilla, “ucap mama Lusi yang semakin emosi.
“Ma…, bukankah mama masuk dalam kehidupan papa Wisnu dengan sengaja melalui beberapa accident termasuk menjebak papa Wisnu untuk meniduri mama hingga akhirnya terlahir aku,” ucap Brenda yang sangat keras hingga dia mengucapkannya dengan terbata-bata.
“Plak…, plak…, Anak kurang ajar dan tidak tahu diuntung,” Tante Lusi menampar pipi Brenda untuk yang kedua kalinya. Rahardi yang tidak tega langsung membawanya pergi dari situ.
“Maaf ma…, untuk sementara Brenda biar bersama aku saja,” ucap Rahardi langsung membawanya pergi dari rumah kontrakan mamanya.
Rahardi dengan penuh kasih sayang menghapus air mata Brenda dan langsung meluncur pergi menuju rumahnya yang tidak jauh dari rumah kontrakan mama Lusi.
“Ayolah sayang, kamu istirahat dulu di sini. Kamu jangan menangis lagi ya? Percayalah orang mau berubah baik itu memang sangat sulit dan banyak tantangannya. Aku akan sangat mendukung kamu!” ucap Rahardi langsung membawa Brenda masuk ke kamarnya.
Brenda yang sangat lelah dan capek langsung merebahkan dirinya di ranjang milik Rahardi. Rahardi yang mengetahui kalau Brenda kecapekan kemudian memintanya untuk tidur. Rahardi mengambilkan selimut untuk menyelimuti Brenda.
Setelah Brenda tertidur Rahardi bangkit dari duduknya kemudian mengecup kening Brenda dan pelan-pelan keluar dari kamar. Rahardi kemudian merencanakan sesuatu menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
“Aku kasihan banget dengan Brenda, ternyata dulu dia seperti itu karena memang mamanya tidak pernah mendidiknya jadi wanita yang baik,” gumamnya lirih kemudian Rahardi mengeluarkan brankas yang berisi perjanjian dengan mamanya Brenda. Rahardi menghela nafasnya karena di dalam perjanjiannya dengan tante Lusi dia harus memberi tante Lusi sebuah perumahan mewah yang berada di dekat kota apabila ingin menikah dengan Brenda.
Akhirnya dengan penuh keyakinan Rahadi menandatangani perjanjian itu demi menyelamatkan Brenda dari pengaruh jahat ibunya. Setelah menandatangani perjanjian tersebut Rahardi karena kecapekan tertidur di meja kerjanya tanpa membereskan berkas-berkasnya.
Hari sudah menjelang malam, Brenda terbangun dari tidurnya dan karena haus Brenda melangkah keluar kamar dan menuju ke dapur. Ketika dirinya melintas di depan ruang kerja Rahardi melihat pintunya sedikit terbuka dengan posisi Rahardi tertidur di atas meja kerja,, Brenda menghentikan langkahnya kemudian menghampiri Rahardi.
Brenda sekilas melihat dokumen yang ada di meja yang bertuliskan nama mamanya, kemudian Brenda membacanya dan seketika hatinya terasa sakit melihat perjanjian tertulis antara mamanya dan Rahardi.
“Hik...., hik…, kenapa mama begitu tega menukarkannya dengan rumah mewah? Hik…, hik…, aku bukan barang yang bisa ditukarkan dengan barang,” ucapnya lirih hingga akhirnya Brenda menangis sesenggukan sambil terduduk karena tidak berdaya melihat sikap mamanya seperti itu.
Rhardinyang tertidur seketika terkejut mendengar tangis Brenda. “Sayang apa yang kamu lakukan?” ucap Rahardi dan langsung menarik Brenda dalam pelukannya dan memapahnya menuju sofa.
“Kak…, aku malu ternyata mamaku telah menggadaikanku dengan sebuah rumah mewah. Kak lebih baik kita putus saja dan berjalan di jalan kita masing-masing,” ucap Brenda yang terus sesenggukan berada dalam pelukan Rahardi.
“Tapi kak…,” belum selesai melanjutkan kata-katanya Rahardi langsung mengecup bibir Brenda dan sesaat mereka berdua melupakan kasusnya. Mereka berdua seolah menikmati kebersamaan mereka berdua dengan dinginnya angin malam hingga akhirnya mereka tersadar dan seketika Rahadi mengakhiri ciumannya.
Rahardi kemudian membawa Brenda kembali tidur di kamarnya dengan dirinya berada di sebelahnya. Mereka berdua terbangun tatkala mendengar suara adzan subuh berkumandang. Rahardi pergi ke kamar mandi di kamar sebelah hendak membersihkan diri.
Setelah semuanya bersih mereka berlanjut melaksanakan sholat bersama. Setelah sarapan Rahardi mengajak Brenda untuk pergi.
“Kita mau kemana kak?” tanya Brenda yang tidak mengerti dengan tujuan Rahardi.
“Ada deh…, kamu ganti bajumu dengan baju yang sudah aku siapkan. Tadi aku menyuruh si mbok untuk menaruhnya di kamar,” perintah Rahardi kepada Brenda.
__ADS_1
Brenda dengan perasaan senang mengganti bajunya dengan kaos casual dan celana jin yang ternyata warnanya senada dengan Rahardi. Rahardi ternyata hari ini mengajak Brenda pergi menikmati pemandangan di tepi danau.
Secara tidak sengaja mereka berdua bertemu dengan Abiyasa dan Abisetya yang juga berjalan-jalan di tepi danau bersama Dimas dan Mita.
“Pagi tante cantik dan om tampan?” ucap Abiyasa yang sok cool menyapa mereka berdua.
“Pagi juga keponakan tante yang tampan-tampan?” ucap Brenda kepada mereka berdua.
“Keponakan? siapa yang mau jadi keponakan tante jahat?” ucap Abisetya seketika membuat mental Brenda douwn. Abiyasa langsung menyenggol Abisetya dengan maksud mengingatkannya agar berhati-hati kalau berucap. Namun Abisetya yang tidak mengerti kode Abiyasa justru berakasi dengan sangat keras.
“Habisnya tante dulu suka jahatin bunda jadi aku ogah punya tante seperti dia,” ucap Abisetya justru membuat Brenda semakin terisak meneteskan air matanya. Rahardi seketika langsung melaksanakan perannya dengan menjelaskan kepada mereka berdua kalau tantenya sudah berubah tidak seperti dulu.
Namun Abisetya tidak mudah percaya begitu saja dengan seketika dia menantang Brenda untuk balap kuda bersamanya. Abisetya hanya menguji kalau Brenda yang tidak bisa berkuda itu mau menerima tawarannya atau tidak. Kalau mau berarti Brenda mau mempertaruhkan dirinya hanya karena ingin menyenangkan dirinya sehingga bisa dikatakan lulus ujian.
“Baklah, ayo kita kesana! Aku pakai kuda yang putih dan kamu pakai yang coklat,” ucap Brenda yang seolah-olah dirinya tidak takut akan tantangan Abisetya. Abiyasa beserta Daimas mengingatkan AbiSetya agar tidak keterlaluan tapi sudah terlambat. Brenda yang sudah bersedia menerima twaran ereka langsung naik di atas kudanya.
Brenda nampak ketakutan memegang tali kuda yang telah ia naiki. Namun Abiyasa langsung naik di depan Brenda dan meminta Rahardi untuk naik bersama Abisetya.
“Om Rahardi naik kuda bersama adik, aku bersama tante sedngkan untuk om Dimas bersama tante Mita pakai kuda yang paling besar itu! Kia akan berkuda bersama mengitari danau ini!” ucap Abiyasa seolah memberi komando pada semua orang yang berada di dekatnya.
“Sayang…, keponakan tante yang tampan jadi kalian memaafkan tnate ya?’ tanhya Brenda yang tidak mengerti dengan sikap mereka berdua. Si kembar seketika langsung menganggukan kepalanya pertanda menyetujui perkataan Brenda.
Akhirnya keponakan dan tantenya berdamai dan mereka berdua bercanda bersama-sama seolah melupakan masa lalunya. Rahardi, Dimas dan Mita nampak senang melihat perdamaian mereka.
__ADS_1