Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Bertahan


__ADS_3

Setelah beberapa menit menuruni lereng, Tegar sampai dimana Dilla berada. Tegar langsung memeluk Dilla yang kedinginan. Dilla kalau secara medis mengalami Hipotermia. Tegar langsung membawa Dilla agak tersembunyi. Kemudian Tegar menganti baju Dilla yang basah dengan baju mantelnya kemudian mengusap-usap punggung Dilla dengan tangannya dan terus memeluknya.


“Sayang kamu harus bertahan, ingatlah anak-anak!” ucapnya lirih sambil terus memeluk Dilla namun Dilla tiba-tiba melemah. Tegar merasa harus segera mengambil tindakan dengan mencium bibir Dilla dan terus memainkannya disana hingga hawa panas mengalir ke dalam tubuhnya. Namun kali ini Tegar tidak mau berbuat gegabah. Tegar hanya berusaha membuat suhu tubuh Dilla memanas dan tidak lebih dari itu. Dia tidak ingin menodai kepercayaan Dilla kembali.


Sementara itu Dimas yang hanya membawa perlengkapan seadanya berusaha mencari sesuatu untuk menolong bosnya. Karena tidak ada alat apapun untuk menolongnya Dimas langsung mengubungi tim SAR untuk membawa perlengkapan pertolongan pertama.


“Bos, sabar di bawah ya? Tim Sar dan medis sudah meluncur kesini, aku harap bos bisa memberinya pertolongan pertama!” ucap Dimas dari atas.


“Ok, segera ya! Dilla kena serangan Hipotermia!” ucap Tegar masih menunggu dengan perasaan cemas dan berusaha menenangkan Dilla. “Sayang, bukalah mata kamu, aku mohon! sebentar lagi pertolongan akan segera datang! Aku sangat mencintaimu dan akan menjagamu seumur hidupku,”


“Kak…, aku juga men…,” ucap Dilla yang belum menyelesaikan kalimatnya keburu pingsan.


“Dilla, bangun sayang, janganlah kau buat aku semakin cemas!” Tegar terus mengusap pipi Dilla agar tersadar dari pingsannya. Dilla tidak kunjung sadar hingga TEgar berteriak-teriak memanggilnya.


“Bos, apa yang terjadi dengan bu Dilla?” teriak Dimas yang berada di atas Tebing.


“Dilla pingsan dan kesehatannya semakin memburuk. Dim, cepatlah kau hubungi tim Sar kembali. Pastikan posisi mereka sudah dekat,” teriak Tegar dari bawah.


“Siap bos, aku rasa mereka sebentar lagi datang. Dan itu bos, beberapa orang yang menuju kesini. Aku sudah bisa menangkap cahaya dari mereka!” teriak Dimas dari atas untuk menenangkan bosnya.


“Ok Dim, cepat ya? awas ya kalau terjadi sesuatu dengan bu Dilla kamu akan aku pecat,” ancam Tegar karena panik dan kesal, pertolongan tidak kunjung datang.

__ADS_1


Dalam hitungan detik semua tim Sar dan petugas medis datang di area kejadian. “Pak korban berada dibawah sementara dalam keadaan pingsan dan mengalami hipotermia,” lapor Dimas kepada Petugas.


“Siap. Kami akan mengerahkan tim kami dan segera menolong korban,” ucap pimpinan petugas Sar dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan peralatan dan langsung turun ke bawah mengevakuasi korban.


Tim Sar dan tenaga medis memang terlatih maka dengan cepat mereka berada di bawah kemudian langsung mengevakuasi Dilla dan Tegar. Dilla segera mendapat pertolongan pertama oleh tim medis. Dilla mulai sadar dari pingsannya dan Tegar merasa sedikit lega.


Petugas dengan cekatan membawa Dilla naik ke atas dengan peralatan yang memadai, Dilla sampai di atas dengan baik disusul dengan Tegar. Tim Sar dan Medis langsung membawa mereka keluar hutan. Setelah melalui beberapa perjuangan mereka sampai di lokasi resort. Dilla langsung dimasukan ke dalam ambulan dan segera dibawa ke rumah sakit untuk perawatan karena kondisinya sangat lemah dan mengalami trauma.


“Mama…? Om tampan, Bagaimana kondisi mama?” tanya Setya yang berlari mendekati mamanya dan disusul oleh Yasa.


“Mama hipotermia nak, om tampan akan membawa mama ke rumah sakit. Kamu sama kakek menyusul saja ya? do’akan mama segera membaik,” ucap Tegar menenangkan kedua bocah kembar tersebut.


“Nak! Sini ikut kakek. Yakinlah mama dan om tampan baik-baik saja!” ucap kakek Ardi sambil memeluk mereka secara bergantian mengusap air mata mereka.


Tidak berapa lama kemudian ambulan meluncur menuju rumah sakit. Diikuti oleh Dimas dan Mita yang memakai mobil kantor. Mita memberi instruksi kepada Dimas untuk membelikan baju untuk Tegar dan Dilla karena sudah tidak memungkinkan untuk dipakai.


Tegar mendampingi Dilla dengan perasaan sayang dan cinta, Tegar memegangi tangan Dilla dan sesekali mengusap-usap punggung tangan Dilla yang membuat rasa iri perawat yang menanganinya.


“Hem…, alangkah bahagianya kalau saya mempunyai pacar seperti bos Tegar. Sudah tampan, kaya dan penuh perhatian sama pasangannya,” lamunnya sesaat membayangkan dirinya bersama Tegar dan tersenyum sendiri.


“Pletak,” tiba-tiba dirinya tersadar karena kepalanya membentur kaca mobil ambulan yang di rem mendadak karena ada seseorang memotong jalannya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Dan Dilla mendapat pertolongan dan dari keterangan dokter Dilla tidak masalah yang cukup memberatkan dan besok boleh dibawa pulang. Dilla masih lemah dan kondisinya masih belum sadarkan diri. Tegar menunggunya dengan sabar. Sedangkan Dimas dan Mita dengan setia menunggu mereka hingga tertidur di sofa. Tegar dengan terjaga masih tetap setia menunggunya hingga subuh menjelang.


Tegar hendak menunaikan sholat subuh, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Dilla dan mengigau. “Sayang jangan tinggalkan aku, aku kedinginan?” ucapnya tanpa sadar dan tertidur kembali. Tegar tersenyum mendengar ucapan Dilla. “Ternyata tidak bisa dipungkiri kalau dirimu mencintaiku bahkan dibawah sadar mu kau masih mencintaiku.”


Tegar kemudian pelan-pelan melepaskan genggaman tangan Dilla dan menyuruh Mita untuk menjaganya. Tegar mengajak Dimas sholat subuh, setelah sholat Tegar membersihkan dirinya dan menyuruh Dimas menghendel semua urusan kantor. Dan Mita pun pulang bersama Dimas untuk menyelesaikan semua maslah yang ada di perusahaan PT Abiyasa.


Sepeninggal mereka Dilla terbangun dari tidurnya dan berusaha membuka matanya. “Sayang, kamu sudah bangun ya? Aku mandikan ya?” ucapnya dengan lembut.


“Tidak, aku tidak mau mandi. Aku cuci muka saja,” ucapnya hendak bangkit dari tidurnya dan berjalan ke kamar mandi namun baru dua langkah Dilla terhuyung-huyung mau jatuh.


“Sayang janganlah kau mencemaskan ku?” ucapnya langsung menggendong Dilla menuju kamar mandi dan kemudian dengan cekatan Tegar mengambil handuk kecil dan mengelap muka Dilla dengan pelan dengan lembut. Dari muka turun ke leher dan kemudian masuk ke dalam area belahan dadanya namun tanpa sengaja tangannya menyenggol sesuatu yang berada di sana hingga membuat Dilla menggeliat menahan hasratnya. Dilla tanpa sadar mengalungkan tangannya ke leher Tegar hingga Tegar bereaksi mencium bibirnya dan sedikit bermain di sana.


“Ach…,” teriak Tegar tiba-tiba karena Dilla mengigit bibirnya dengan sengaja.


“Makanya jangan ambil kesempatan dalam kesempitan,” ucapnya kesal dan mendorong Tegar menjauh dari tubuhnya. Namun Tegar tersenyum puas.


“Tapi kamu suka kan? Ayo mumpung sepi kita lanjut mandi bersama ya?” ucapnya mesum sehingga membuat Dilla semakin bertambah kesal dan hendak berjalan keluar kamar mandi dan lagi-lagi hampir terjatuh hingga Tegar harus turun tangan kembali dengan menggendongnya.


Pelan-pelan Tegar menidurkan Dilla ke ranjangnya dan sekali lagi Tegar memanfaatkan moments itu dan kembali mencium pipi Dilla hingga membuat pipinya merah merona menahan malu.


Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2