
Sejak peristiwa penembakan itu, Dilla semakin perhatian kepada Tegar. Tegar merasa sangat beruntung telah memiliki Dilla dan kedua Putra kembarnya ditambah lagi nanti bayi yang ada di dalam kandungan Dilla.
Setelah mendapat pengobatan dari rumah sakit Tegar hari ini masih belum masuk kantor. Semua aktivitas yang ada di kantor diserahkan sepenuhnya untuk dikelola Dimas. Tegar semakin manja terhadap Dilla hingga kedua putranya merasa tersaingi oleh Papanya.
“Mama…, Kenapa sekarang sikap mama berubah kepada kami? Bukankah mama dulu sangat perhatian kepada kami?” protes Yasa suatu hari di meja makan.
“Apa yang berubah? Bukankah mama selalu memberi perhatian untuk kalian?” ucap Dila yang menanggapi protes Yasa.
“Iya sih…, mama perhatian, tapi mama lebih suka memperhatikan papa. bahkan kita berdua sekarang menjadi yang kedua setelah papa,” ucap ya Sambil mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan jawaban mamanya.
“Sayang, mana bisa seperti itu? Itu kamu kan tahu, papa lagi sakit sehingga perlu pemulihan dan perhatian dari mama, “ucap Dila sambil menjelaskan keadaan Apanya yang sesungguhnya. Namun Yasa tetap ngambek, apalagi melihat Papanya disuapi oleh Dilla.
“Mama lebay dan terlalu bersikap berlebihan terhadap papa. Yang sakit itu bahu papa ma, bukan tangan papa sehingga makan Disuapin mama sedangkan kita yang kecil saja sendiri,” jelas Yasa yang masih jengkel dengan mamanya.
“Iya, mama terlalu berlebihan terhadap papa!” ucap Setya yang ikut menimpali komentar Yasa.
“Ha…, ha…, ternyata kedua putra papa ngiri terhadap papa ya? Mama…, papa minta minumnya dong?” ucap Tegar yang sengaja meledek kedua putranya. Yasa dan Setya yang semakin kesal langsung menekuk tangannya seakan protes tidak mau makan.
Tegar semakin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kedua putranya. “Ayo sini untuk kalian Papa saja yang menyuapi makannya!” ucap Tegar sambil mengambil makanan putranya dan menyuapinya namun Yasa tidak membuka mulutnya sama sekali.
“Sudahlah, hari ini semua jagoan mama makan bersama dan mama yang menyuapi kalian!” Ucap Mama Dilla menenangkan mereka.
“Ok…, itu baru adil. I love you mama!” ucap Setya langsung mencium pipi mamanya.
__ADS_1
Begitulah suasana di meja makan diselimuti suasana yang penuh damai dan ceria di keluarga Tegar. Saat asyik menikmati makan siang, mereka dikejutkan dengan suara bel berbunyi. Dilla hendak berjalan menuju depan untuk membukakan pintu tamu mereka. biasa dengan cekatan mencegah mamanya untuk membukakan pintu.
“Mama, duduk di sini saja, biarkan aku saja yang membuka pintunya!” ucap Yasa yang terus berdiri dari duduknya dan berjalan membuka pintu rumah mereka.
“Siang…, Yasa? Bagaimana kabar papa dan mama kalian?” tanya Rara yang datang dari Semarang bersama Irfan.
“Siang juga tante dan om? Papa dan mama baik-baik saja. O…, iya tante dan om kemana saja ya? Lama tidak kelihatan jadi kita kangen om dan tante!” ucap Yasa sambil memeluk tante Rara.
“Yasa? siapa tamunya nak? Ayo segera diajak bergabung disini makan bersama!” teriak papa Tegar kepada putranya Yasa.
“Ok pa…, ini tante Rara dan om Irfan. Aku akan mengajaknya ke sana. Ayo tante dan om kita makan bersama yang kebetulan mama hari ini masak besar!” ucap Yasa yang langsung menarik tangan Rara untuk bergabung dengan mereka.
“Hai…, Ra kayaknya betah ya di Semarang? Bagaimana setelah bertemu dengan keluarganya kak Irfan?” goda Dilla kepada Rara.
“Alhamdulillah semuanya baik-baik. Bahkan kakaknya yang paling sulung menganggap aku seperti adiknya sendiri! Tapi ujung-ujungnya mereka menodong aku agar segera menikah dengan kak Irfan. Kata mereka takut kak Irfan jadi perjaka tua?” ucap Rara yang sengaja bercanda ingin mencairkan suasana karena diliriknya Irfan dan Tegar agak kaku satu sama lainnya.
“Begitu ya pak Tegar, jadi kita para lelaki bisa dimanjakan istrinya ya?” tanya Irfan ikut nyambung pembicaraan.
“Iya sih tapi kalau saat tertentu. Ini aku kan lagi sakit, tapi nanti kalau sudah sembuh jangan harap kita dimanjakan istri. Istri akan selalu minta manjakan apalagi lagi hamil sudah pasti manjanya pakai banget. Betu kan sayang?” tanya Tegar sambil mengedipkan matanya sebagai tanda meminta persetujuan Dilla.
“Iya…, pokoknya terserah bapak Tegar saja!” ucap Dilla berseloroh hingga semua orang yang ada di situ tertawa semua.
“Ayo semuanya ikut makan. pasti kalian berdua capek habis perjalanan jauh,” ucap Tegar kepada Rara dan Irfan yang sudah mulai mencair. Irfan dan Rara akhirnya makan bersama mereka. Setelah menikmati makanan yang disajikan Dilla mereka semuanya berjalan menuju ruang tengah.
Mereka bercanda bersama layaknya keluarga, Rara membongkar semua oleh-oleh untuk Abiyasa dan Abisetya. Rara bahkan memanjakan mereka dengan banyak oleh-oleh. Rara memang dekat dengan mereka berdua dan memperlakukan mereka berdua layaknya putra sendiri.
__ADS_1
“Tante kalau ke Semarang lagi aku ikut ya? Aku suka kok dengan pemandangan di sana!” ucap Abiyasa yang memang suka menyatu dengan alam.
“Iya…, tuh bilang sama om Irfan! Om Irfan yang tahu lokasi Semarang yang bisa dikunjungi!” ucap Rara kepada Yasa.
“Iya om! Kapan-kapan aku sama kakak diajak ke Semarang lagi ya? Kemarin aku belum puas menikmati pemandangan alam kota Semarang!” ucap Yasa sudah bergelayut manja di pangkuan om Irfan.
“Pasti lah nak! Om Irfan akan mengajak kalian bersenang-senang. Di sana banyak tantangan alam yang bisa dinikmati oleh para lelaki. Pokoknya dijamin kalian akan senang!” bisik Irfan kepada Yasa.
“Beneran om Irfan akan mengajak kami bersenang-senang di kota Semarang. Kalau bisa liburan bulan depan ya?” ucap Setya yang tiba-tiba ikut nimbrung dengan mereka.
“Bulan Depan? Kalau bulan depan om dan tante tidak bisa Mengajak kalian ke Semarang!”ucap Irfan kepada mereka hingga Setya penasaraan langsung menanyakan alasannya kepada Irfan.
“Kenapa om? Aku dan kakak libur semesteran lo?”
“Karena om dan tante mau menikah nak?” ucap Irfan yang disambut gembira oleh mereka berdua termasuk papa dan mamanya.
“Benarkah seperti itu tante Rara?” tanya Abiyasa yang dijawab dengan anggukan oleh tante Rara. Dan secara spontan Abiyasa dan Abisetya melonjak kegirangan karena dalam pikiran mereka akan segera mendapatkan adik baru sehingga bisa mendapatkan teman untuk bermain.
“Selamat ya? Nanti resepsi dan tempatnya kita yang menanggungnya sebagai hadiah untuk kalian. Kalian bisa pakai hotel kita!”ucap Tegar yang senang dengan keputusan Irfan sehingga dia tidak perlu khawatir dan cemas kalau irfan ingin mendekati Dilla.
“Terimakasih pak Tegar. Tapi kami ingin menikah sederhana saja!” ucap Irfan menolaknya.
“Mana bisa seperti itu? Kalian berdua sangat berjasa terhadap kami. Dan yang kami lakukan tidak sebanding dengan jasa kalaian, aku mohon izinkan kami melakukan sesuatu untuk kalian!” ucap Tegar berusaha mengambil simpati Irfan dan Rara.
“Iya…, aku mohon terimalah ucapan terimakasih kami ya?” ucap Dilla memperkuat permintaan Tegar, hingga akhirnya Irfan dan Dilla menyetujuinya.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.