Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Semakin Aneh


__ADS_3

Dilla hari demi hari sikapnya semakin aneh hingga Tegar dibuat pusing olehnya. Seperti hari ini Dilla meminta tegar untuk membelikan makanan khas dari Semarang. Meminta tegar untuk membeli tahu bakso dan lumpia dari Semarang.


“ sayang,  Yang kamu jangan aneh-aneh ya?  mana bisa hanya membeli tahu bakso dan lumpia saja aku harus pergi sama ke Semarang? aku minta tolong Dimas saja ya?” tanya Tegar kepada Dilla yang ternyata membuat  Dilla marah dan kecewa.


“Kak, Suami aku itu kakak apa Dimas ya? Aku maunya yang membeli itu kakak bukan Dimas,” Ucap Dilla sambil menghentakkan kakinya meninggalkan Tegar  yang berada di ruang kerjanya.


“Kamu itu  aneh lo sayang? Jelaslah suamimu itu aku. Aku seorang Tegar Sanjaya yang memiliki beberapa perusahaan dan menguasai seluruh bisnis di kota ini!” ucap Tegar penuh dengan kesombongan.


“Aku tidak mau tahu.  Pokoknya kakak harus mencarikan aku tahu bakso dan  lumpia dari Semarang,” ucap Dila yang ngambek langsung menelungkupkan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.


“Sayang, kamu jangan egois ya? Mana bisa kamu bersikap seperti itu? Ke Semarang itu jauh loh?” ucap Tegar yang berusaha memohon kepada Dilla agar permintaan nya dirubah.


“ Aku minta tahu bakso dan lumpia saja kok ditunda-tunda?” ucap Dilla langsung  pergi meninggalkan Tegar  masih berada di ruang yang tengah.


Tegar yang takut kalau Dilla ngambek langsung mengejarnya. “Oke…, Aku akan mencarikan untukmu,”  ucapnya langsung berjalan sejajar dengan Dilla. 


“Ya sudah. Kakak berangkat sana ya? Kakak bisa juga mengajak Dimas,” ucap Dilla yang terus berjalan menuju kamarnya.


Ketika sampai di kamarnya Dilla langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Dilla mengambil novel untuk dibacanya. Sementara itu Tegar mengganti bajunya untuk berburu makanan yang disukai oleh Dilla.


“ Sayang, Kamu bener-bener tega? Ini aku harus berangkat ke Semarang?” Tanya Tegar yang yang udah rapi mengganti bajunya dan kunci mobilnya.  sementara itu Dila hanya menganggukkan kepalanya sebagai pertanda kalau Dila tidak mau merubah keputusannya.


“Kakak tidak mau ya? Kalau Kakak tidak  mau pergi ya sudah.  Aku mau tiduran saja,” ucap Dila pada Tegar, namun air matanya tidak bisa dibendung lagi. Entah mengapa Gila tiba-tiba menjadi cengeng.


Tegar hanya berprasangka bahwa Dilla hanya sedang sensitif karena hendak datang bulan. Namun Tegar yang tidak tega melihat Dila seperti itu lagi izin keluar untuk mencari makanan yang diinginkan oleh Dila. Tegar berharap makanan tersebut juga bisa ditemukan di kota Solo.


Sesampainya di parkiran Tegar menelpon Dimas. Tegar meminta Dimas untuk datang di kantornya. Tegar menceritakan hal-hal aneh yang terjadi dengan dengan Dilla. Namun Dimas yang belum pernah memiliki istri hanya mengangkat bahunya sebagai tanda bahwa apa yang disampaikan oleh Tegar dia tidak mengetahuinya. 

__ADS_1


“Dimas, ayo kamu yang memegang kemudi. Nanti kalau tidak dapat nanti aku tidak dapat pintu,” jelas Dimas. 


“Bos, kamu itu yang santai saja. Semua itu bisa diatasi, yang terpenting ada uang,” ucap Dimas yang langsung berjalan menuju mobil dan menyalakan mobilnya dengan santai.


Hanya beberapa menit Dimas sudah menghentikan mobilnya di pusat oleh-oleh Semarang yang berada di Solo.


“Dimas, ini aku kamu bawa kemana  ya?”Tanya Tegar  geram karena takut dirinya harus tidur di luar rumah tidak dibukakan pintu rumah oleh Dilla.


“Ha…, ha…, pak bos ikut saja!” Dimas turun dari mobil berjalan menuju toko dengan santai. Sementara itu Tegar masih kesal dan berjalan di samping Dimas.


Dimas langsung menuju kasir dan menanyakan makanan yang diinginkan oleh Tegar.  tidak lama Kemudian salah satu dari mereka mengantar Dimas menuju tempat yang dituju. 


“Ini bukan yang diminta oleh Nyonya Dila,” ucap Dimas dengan santai sambil mengambil beberapa barang untuk dimasukkan dalam keranjang.  Tegar tersenyum sumringah melihat apa yang diinginkan oleh istrinya bisa didapatkan di toko tersebut.


  Disaat Tegar membayar di kasir memberi beberapa uang tambahan untuk kasir karena perasaan gembira nya.  Sementara itu Dimas langsung memprotes yang dilakukan oleh bosnya dengan berbisik.


“ Itu gampang.  Besok kamu ke rumah bersama Mita nanti aku akan memberi kalian hadiah,”  ucap Tegar dengan senang karena Dimas bisa membantunya.


“Ok…, Aku akan  kesana tapi Pak Bos harus menepati janjinya!”Ucap Dimas  sambil membawakan belanjaan Tegar untuk menuju ke arah parkiran.


 Tidak Berapa lama kemudian mereka meluncur menuju rumah Tegar.  Tegar langsung menemui Dila dan membawakan makanan tersebut untuk Dilla. 


Tegar menyiapkan makanan tersebut untuk ditaruh di meja.  Tegar menyuruh Dila untuk makan, akan tetapi Dilla tidak bergeming dari tempat tidurnya.


Tegar yang merasa diabaikan oleh istrinya, naik ke ranjang dan membangunkan istrinya.  Dilla pelan-pelan berjalan menuju sofa dan hendak mengambil makanan yang telah disiapkan oleh Tegar.


 Dilla memasukkan Lumpia ke dalam mulutnya, akan tetapi tiba-tiba Dilla merasa pusing dan mual.

__ADS_1


“Huek…, huek…,” Dilla Berkeringat dingin dan hendak muntah berlari menuju ke kamar mandi.  Tegar yang panik langsung menyusulnya dan memijit leher Dila. 


“Sayang,  kamu kenapa? Apa Apakah kamu sakit? Kamu masuk angin ya?” tanya Tegar yang merasa kuatir akan keadaan Dilla.  Belum sempat Dilla menjawab, tubuh Dila Limbung hendak jatuh. Tegar dengan sigap menangkap tubuh Dilla hingga tidak di lantai kamar mandi.


Tegar membawa Dilla ke keranjang untuk dibaringkan. Tegar yang panik langsung memanggil mbok Atun.  Tidak berapa lama kemudian mbok Atun ke kamar  ke untuk melihat kondisi Dilla. 


Atun mengambil minyak kayu putih untuk di oleskan ke tubuh Dilla sambil memijit kaki dan lengan Dila.  Namun Dila tidak kunjung sadar  hingga membuat Tegar panik dan menelepon dokter keluarga.


“ Nyonya…,  Ayo segera bangun! Kasihan pak Tegar panik melihat nyonya tidak sadarkan diri!” ucap mbok Atun sedih melihat majikannya pingsan.


Tidak Berapa lama kemudian dia sadar,  tetapi kepalanya merasa pusing.


“Kak…, aku pusing dan sakit sekali. Perutku mual seperti diaduk-aduk dan hendak muntah,”ucap Dilla lirik hampir tidak terdengar oleh Tegar.


“ Sayang kamu yang sabar.  Ayo minum teh hangat ini!” ucap Tegar sambil menyendok teh hangat untuk diberikan ke Dila. Dila meminum  apa yang telah disuapkan ke mulutnya oleh Tegar.


“ kak…, Ku sudah tidak tahan lagi?” ucap Della yang tiba-tiba bangun dari pembaringan dan ndak pergi ke kamar mandi.  Tegar yang mengetahui istrinya masih lemah langsung menggendongnya dan mengantarnya ke kamar mandi.


 Dilla  kembali muntah untuk kedua kalinya hingga semua makanan yang dia makan tadi pagi keluar semuanya.  Dilla semakin lemah dan kembali pingsan. 


Tegar yang panik melihat Dila seperti itu dan dokter keluarga belum datang langsung teriak memanggil Dimas.


“ Dimas…,  Tolong kamu telepon kembali dokter keluarga kita! Aku bilang padanya kalau tidak segera datang akan aku potong gajinya,”  teriaknya penuh emosi.


 Dimas yang berada di ruang tamu langsung berlari menemui Tegar yang berada di kamar dan kebetulan pintunya tidak terkunci.


 Dimas kemudian berusaha menelpon dokter keluarga Tegar. Belum sempat telepon tersebut diangkat dokter sudah datang. Dokter langsung memeriksa kondisi tubuh tubuh Dilla.

__ADS_1


__ADS_2