Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Perubahan


__ADS_3

Pertemuan Brenda dengan kedua keponakannya membawa perubahan terhadap dirinya. Brenda nampak bergembira melihat tingkah kedua bocah kembar tersebut. Rahardi sangat senang karena Brenda benar-benar menjadi sosok Brenda yang ceria dan tidak tertekan.


“Tante…, ayo kita cari kupu-kupu. Itu kupu-kupunya sangat indah sekali. Aku ingin menangkapnya!” rengek Setya kepada tantenya. Brenda dengan rasa sayangnya menuruti apa yang dimau oleh Setya. Brenda seperti anak kecil mengejar kupu-kupu dengan perasaan gembira. 


Disaat mereka asyik bermain tiba-tiba di dekat Setya ada ular yang hendak menggigitnya. Brenda yang mengetahuinya dengan tanpa rasa takut langsung menangkap ular itu dan melemparnya jauh-jauh. Namun karena tidak biasa menangkap ular maka otomatis ular tersebut menggigit Brenda hingga kesakitan. 


“Om…., tante digigit ular! Om tolong tante!” teriak Setya kepada Rahardi. Seketika itu juga Rahardi menghampiri mereka.


“Sayang…, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu nekat menangkap ular tersebut?” ucap Rahardi panik hingga akhirnya Rahardi mengikat tangan Brenda dengan menyobek bajunya.


Rahardi yang panik menggendong Brenda masuk ke mobil. Dimas yang berada di dekatnya langsung meminta kunci mobil dan mengemudikannya. Sementara Mita membawa anak-anak untuk pulang ke rumah atas permintaan Rahardi dan Dimas.


“Tante Mita, bagaimana keadaan tante Brenda? Aku takut terjadi sesuatu dengannya? Dia melakukannya karena ingin menolongku. Tapi kenapa tante nekad menangkapnya?” ucap Setya terbata-bata di ruang tengah ketika sampai di rumah.


“Siapa yang kamu bicarakan? dan kenapa?” tanya Dilla duduk di sofa yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka.


“Tante Brenda ma. Tadi menolong adik yang hendak dipatuk ular dengan nekad menangkap ular tersebut dan melemparnya jauh-jauh. Tapi karena menangkapnya tidak memakai teknik maka ular itu mematuk tangan tante. Sekarang tante diantar om Rahadi dan om Dimas ke rumah sakit,”ucap Yasa yang menceritakan pertemuannya dengan tante Brenda.


“Sayang, kasihan tante Brenda? Bagaimana keadaannya? Mita, tolong kamu cari informasi tentangnya!” perintah Dilla.


Mita seketika itu juga menelpon Dimas dan tidak berapa lama ponselnya terhubung dengan Dimas.


“Sayang? Bagaimana keadaan Brenda?” tanyanya dengan lembut.


“Ini sudah ditangani oleh dokter, tapi kata dokter tidak begitu mengkhawatirkan sehingga bisa dibawa pulang. Sudah dulu ya sayang, ini pak Rahardi,” jawab Dimas dengan santai kemudian langsung menutup ponselnya.


“Ini orang main tutup Pantas saja.  Maaf bu menurut Dimas kondisi saudara tiri anda dalam keadaan baik tidak ada yang perlu dikhawatirkan,”  ucap Mita yang langsung memberi laporan.


“Alhamdulilah, tolong nanti kamu besuk dia ya? Soalnya aku belum bisa kesana sampai menunggu kak Tegar pulang!”Ucap Dilla sambil mengusap-usap perutnya.

__ADS_1


“Baiklah, nanti aku akan kesana! Ini barusan kak Dimas memberi kabar kalau Brenda dibawa pulang ke rumah pak Rahardi.  Dan ini aku disuruh untuk menjemput Kak Dimas,” Ucap minta kepada Dilla.  Miita pun akhirnya pamitan ndak pergi menjemput Dimas bukan tapi belum melangkah sampai menjauh Setya berteriak ingin ikut dengannya.


“ Tante tunggu Aku…  Aku hendak ikut ke rumah tante Brenda.  Aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya,” ucap Setya yang menghampiri Mita. Sedangkan Yasa memutuskan untuk tinggal di rumah menjaga ibunya. 


“Sayang…, kamu tidak ikut tante Mita?” tanya mama Dilla.


“Tidak ma…, aku jaga mama saja di rumah,” jawab Yasa dan langsung bergeser duduk di sebelah mamanya.


“Baiklah…, kamu sama mama dan calon adik bayi ya?” ucap mama Dilla sambil tersenyum memeluk putranya.


Sementara itu Abiyasa yang mendpat pelukan langsung menempelkan telinganya di perut mamanya dan membisikan sesuatu.


“Adik sayang…? Calon adiknya kakak, kamu baik-baik saja di perut mama ya? ingat jangan rewel lagi? kasihan mama kalau harus keluar masuk rumah sakit!”


“Siapa nak yang rewel?” tanya papa Tegar yang tiba-tiba muncul dari ruang kerjanya.


“Ini calon adiknya kakak,” jawab Abiyasa sambil mengusap perut mamanya. 


“Ini sih tidak rewel sayang? tapi ingin di sapa sama kakak dan papa? Lo mana jagoan papa satunya?” tanya tegar tak kala menyadari Setya tidak adda.


“Ke rumah om Rahardi besuk tante Brenda!” jawab Yasa sambil menjelaskan klau Brenda celaka karena menolong Setya.


“O…, begitu ya? Ok…, besok atau lusa kita besuk ke sana! di rumah Rahardi kan?” tanya Tegar menekankan dengan jelas.


“Iya pa? Aku menagkap pembicaraan Mita dan Dimas kayaknya seperti itu!” jawab Dilla.


“Baguslah kalau begitu,aku tidak akan bertemu dengan tante Lusi yang sok itu!” jawab Tegar dihadapan Dilla dan putranya.


“Sayang…, kamu kok begitu ya? meskipun begitu dia telah membesarkanku hingga akhirnya bertemu denganmu!” jawab Dilla menyenggol perut Tegar.

__ADS_1


“Iya papa itu ya? katanya mengjrkan kita tidak boleh dendam tapi papa kok masih menyimpan dendam sama oma Lusi ya?” tanya Yasa yang gemas dengan sikap papanya.


“Sudahlah, jangan ribut melulu. Mama ingin istirahat ke kamar!” ucap Dilla yang mnyudahi perdebatan antara papa dan putranya.


“Sayang…, sini aku gendong untuk masuk ke kamarnya.” Tegar langsung dengan sigap menggendong istrinya masuk ke kamar. Sedangkan Yasa yang mengetahui sikap papa dan mamanya hanya tersenyum geli memandangnya.


Yasa pun mengikuti jejak papanya masuk ke kamar hendak membersihkan diri mandi di kamar mandi.


Sementara itu Rahardi yang beradapan dengan dokter yang menagani Brenda meminta informasi tentang Brenda. 


“Maaf pak dokter? Bagaimana keadaaan Brenda dokter?” tanya Rahardi dengan cemas.


“Nona Brenda tidak apa-apa. Racun ular sudah kami keluarkan. Dan nanti akan aku buatkan resepnya untuk menghilangkan sisa racun yang ada di tubuhnya.


“Baiklah, terimakasih dokter. Bolehkan hari ini Brenda aku bawa pulang?” tanyanya kepada dokter dengan harapan dirinya bisa menjaga Brenda sampai sembuh.


“Tentu itu tidak masalah, karena sudah kami cek racun tidak menybar kemana-mana!” ucap Dokter langsung memberikan resep yang telah selesai di tulisnya. Rahardi dengan sigap menebus resep yang telah dituliskan oleh dokter kemudian langsung memapah Brenda menuju parkiran. 


Dimas yang masih berada di dekat mereka langsung memegang kemudi dan menjalankan mobilnya menuju rumah Rahardi. Dimas juga memberitahu kepada Mita untuk menjemput dirinya di rumah Rahardi. tidak berapa lama kemudian mereka sampai di rumah Rahardi.


Rahaardi memapah Brenda untuk istirhat di kamrnya. Setelah memastikan Brenda baik-baik saja, Rahardi kembali menemui Dimas.


“Ayo Dim…, minumlah! Di rumah aku hanya ada minuman seperti ini!Mbok…, tolong ambilkan beberapa makakan untuk pak Dimas,” perintah Rahardi kepada asisten rumah tangganya.


Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara mobil di depan rumahnya yang tak lain adalah Mita brsama Setya.


“Om…, tante dimana? bolehkah aku bertemu degannya?” tanya Setya setelah mengucapkan salam menyapa om Rahardi.


“Tante lagi istiraahat di kamar! Sini aku antar kesana! Rahardi langsung manggandeng Setya menuju kamar yang ditempati Breda.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian Setya nampak akrab dengan Brenda. Mereka berdua nampak cereia dan bersenadu  hingga terkesan akrab satu sama lainnya.


__ADS_2