
Setelah acara menembak Alamaira di restoran, Ibra sering main ke rumah Almaira bahkan keluarganya berencana ingin melamar Almaira. Ibra yang berada di rumah Almaira segera mengutarkan maksudnya kepada mama Dilla dan papa Tegar.
Di sore hari mendekati senja Ibra dtang dengan membawa oleh-oleh yang sudah disiapkap oleh mamanya setelah kepulangganya dari luar negeri. Dengan senyum yang sumringah, Ibra datang karena merindukan Almaira. Bahkan Ibra tidak lepas dalam waktu sehari pun untuk tidak menemui Almaira.
Setelah memarkir kendaraannya di halaman rumah bapak Tegar, Ibra menghampiri bibi yang ada di depan untuk membawakan oleh-oleh yang di bawanya.
“Bi…, Mama mana? Tolong ini kasihkan untuk mama ya?” perintah Ibra kepada bibi. Bibi tersenhyum dengan apa yang diucapkan Ibra. Ibra memang sudah terbiasa memanggil mama Dilla dengan panggilan mama.
“Baik, tuan muda. Oleh-oleh untuk Bibi ada gak tuan?” Jawab bibi sambil mengambil semua oleh-oleh bibi pun menggoda Ibra.
“ Ada bi! Semuanya aku jatah oleh-olehnya! Untuk bibi, oleh-olehnya berada di tas warna hijau!” ucap Ibra yang terus measuk ke dalam rumah setelah menugucapkan salam.
Mama Dila yang berada di ruang tamu membersihkan Ibra untuk duduk. Mama Dilla sangat senang karena calon menantunya datang mengunjunginya. Dan tidak lama kemudian disusul Bibi dengan beberapa oleh-oleh yang di bawa oleh Ibra untuk diserahkan ke Mama Dilla.
“ Nak Ibra, ini apa?” hujat Mama Dila membuka pembicaraan dengan calon menantunya.
“ Bukan apa-apa ma? Tapi ini oleh-oleh mama untuk mama Dilla! kemarin pulang dari Belanda,” jawab Ibra menjelaskan kepada mama Dilla
“O…, Terima kasih ya? Nanti tolong disampaikan ke Mama!” ucap mama Dilla kepada calon menantunya. Mama Dilla kemudian menyampaikan kalau Almaira sedang fitnes di ruang belakang dekat kolaam renang. Ibra pun dengan menenteng oleh-oleh kusus untuk calon istrinya. Meskipun belum pernah ketemu mama Ibra sangat menyanyangi Almaira.
Ibra dengan sopan melewati mama Dilla dan berjalan menuju ruang fitnes yang ditunjukan oleh mama Dilla. Ibra dengan sengaja membuat kejutan dan langsung nyelonong masuk. Ibra sangat terkejut ketika masuk ke ruang fitnes. Ibra melihat Almaira memakaai pakaian yang begitu seksi meskipun tertutup bagian tubuhnya namun lekuk-lekuk tubuhnya terlihat menonjol.
Ibra menelan air ludahnya menahan gejolak yang ada di hatinya. Sementara itu Almaira yang melihat dari kaca kalau Ibra melihatnya dengan kagum buru-buru turun dari sepeda fitnesnya.
__ADS_1
“Kak Ibra, ih ngpain nyelonong masuk saja. Ayo ke lur dulu!” teriak Almaira tapi justru mendekati Ibra dan memululkan tangannya ke bahu Ibra. Ibra dengan cepat meraihnya sehinga Alair terdiam nampak mereka berdua saling beradu pandang.
“Sayang…, aku kesini karena kangen dengan mu! Dan ini oleh-oleh dari mama. Lagian tadi mama Dilla yanga kasih izin aku datang kesini!” ucap Ibra yang teerus memegangi tangan Almaira hingga Almaira tak tahan hanya menundukan pandangannya. Ibra yang laki-laki normal langsung mengangkat dagu Almaira kemudian mendekati bibirnya dan menciumnya.
“Sayang, maaf aku terlalu mencintaimu!” bisik Ibra di dekat telinga Almaira. Almaira berusaha melepas ciuman Ibra dan mengigau untuk minta dilepaskan oleh Ibra. Ibra puntersenyum tipis melihat ulah Almaira kemudian dengan pelan melepaskannya. Ibra masih berdiri dan memberikan bingkisan oleh-oleh dari mamanya untuk Almaira.
“Terimaksih sayang,” ucap Almaira tiba-tiba hingga membuat Ibra semakin senang dengan panggiln sayang oleh Almaira. Kemudian merengkuhnya kembali dalam pelukannya dan mencium pipinya Almaira.
“Ih…, kak Ibra menyebalkan!” ucap Almaira sambil mengusap pipinya yang baru saja di cium oleh Ibra. Namun Ibra yang nakal justru mencium kembali Alamaira hingga Almaira pun mngusapnya kembali. Dan hal itu dilakukan secara berulang-ulang, sehingga mereka berdua tertawa terkekeh setelah tahu apa yng mereka lakukan.
“Sayang, kalau begini bisa-bisa akan aku percepat acara lamarannya. Aku sudah tidak kuat,” bisik Ibra yang masih memeluk Almaira kemudian menuntunnya untuk duduk di sofa. Mereka akhirnya berlanjut untuk ngobrol di sofa saling berhadapan.
“Kak…, tidak kuat bagaimana? Bukan kah bulan depan kita sudah lamaran?” tanya Almaira bingung dengan kelakuan calon suaaminya.
“Kak…, jangan ngelantur ya? Malu kak kalau dilihat orang!” ucap Almaira yang kemudian tiba-tiba dari arah pintu muncul bibi yang membawa cemilan dan minum untuk mereka berdua.
“Tuan…, non…, silahkan diminum dan dicicipi kuenya!” ucap bibi sambil melirik Almaira yang terksesan sangat sengan dikunjungi pacaaranya.
“Baik bi. Terimakasih!” ucap Almaira yang sedang duduk di sebelah Ibra. Mereka berdua beraada terlihat serasi satu sama linnya. Bahkan mereka berdua nampak saling menyanyangi satu sama lainnnya. Bibi yang melihat mereka berdua tersenyum senang karena sebentar lagi majiakannya kan menjadi pasangan yang serasi dan ideal dengan pesonannya masing-masing.
Almaira nampak tidak enak dengan bajunya. Dan hal itu dilihat oleh Ibra. Ibra dengan cekatan melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Almaira.
“Terimaksih sayang, kamu telah menjaga kehormatan ku!” bisik Almaira ke ccalon suaminya. Ibra pun terkekeh dan kembali menggoda Almaira.
__ADS_1
“He…, he…., Tapi nakal dikit boleh kan?” tanya Ibra kepada calon istrinya. Almaira yang gemas dengan kelakuan Ibra langsung mencubit lenganya dengan keras.
“Sakit sayang!” ucp Ibra sambil pura-pura mengusap bagian dari tangannya tersebut yang kemudian sama Almaira diusap-usapnya sebagai tanda rasa bersalahnya. Ibra senang sekali diperlakukan seperti itu. Ibra malah bermanja menyandarka kaepalanya di bahu Almaira.
Di saat asyik sahdu seperti itu tiba-tiba papa Tegar masuk di ruang fitnes. “Hem…, kalian ngapain?” ucap papa Tegar.
“Maap pa…, ini Ira gemes nyubit lengan aku om!” ucap Ibra yang kemudian berdiri menghampiri Tegar dan mencium punggung tangan Tegar.
“Ibra…, kalau seperti ini lebih baik segera nikah saja! Om tidakmau terjadi apa-apa dengan putri om!” ucap Tegar memberi peringatan.
“Benar om! Terimakasih, aku tadi sudah ngobrol dengan Almaira kalau lamarannya nanti akan kita ajukan!” ucap Ibra dengan penuh percaya diri tanpa ada rasa takut sedikit pun.
“Baguslaah! Syukur-syukur segera dilangsungkan saja prnikaaha kalian. Papa tidak ingin kalian melebihi batas,” ucap Tegar membeerinya peringatan dengan tegas.
“Ih…, papa! Ira tidak seperti itu. Ira masih bisa jaga diri,” ucapnya merajuk ke papa Tegar dan kini dirinya sudah bergelayut manja dengan papanya.
“Iya papa percaya sama kalian? Ayo sekarang ke ruang makan. Kita sarapan bersama, mama kalian masak makanan yang spesial,” ucap papa Tegar dan segera ke luar ruangan diikuti oleh Ibra dan Almaira. Ibra nampak begitu dekat dengan papa Tegar. Tegar yang sudah menganggap Ibra seperti putranyaa sendiri nampak harmonis hubungan keduanya. Mereka berdua nampak tidak caggung sedikit pun.
“Pa…, setelah ini kita main catur ya?” ucap Ibra memulai pembicaraan sambil berjalan menuju ruang makan. Papa Tegar pun mengiyakan permintaan calon menantunya. Papa Tegar pun menggoda Ibra kalau Ibra kalah harus mentraktirnya makan di restorant langganan keluarga. Ibra pun mengiyakan apa yang diminta oleh papa Tegar.
Setelah acara sarapan mereka berdua langsung mojok di ruang fitnes untuk bertanding catur.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?
__ADS_1