
Tegar senang setidaknya jalan untuk kembali merebut hati Dilla sudah ada di depan mata. Tegar mulai hari ini punya aktivitas baru mengantar dan menjemput kedua bocah kembar tersebut. Hari-hari waktu luangnya selalu diwarnai dengan kebersamaannya bersama kedua bocah kembar tersebut. Hari yang cerah menunjukan pukul 11.00 wib, Tegar menjemput Yasa dan Setya di sekolahnya.
Waktu sampai di pintu gerbang sekolah dilihatnya ada sebuah keributan. “Sekolah internasional tidak bermutu, kenapa menjaga anakku Ryan tidak bisa. Mana tugas kalian sebagai pendidik!” ucap orang tua siswa mengamuk tidak jelas karena kesal anaknya menangis.
“Maaf pak putra anda sering membuat ulah, dan tadi hampir mencelakai siswi kami. Putra bapak memukul dan mendorong siswi kami hingga terjatuh dan berdarah. Dan entah mengapa tiba-tiba dia menyerang Yasa yang lagi belajar. Jadi Yasa dengan sigap langsung menghindari pukulannya hingga membuat dia terjatuh membentur meja hingga dagunya berdarah. Luka di dagunya bukan karena disebabkan oleh kita atau temannya tapi karena ulahnya sendiri,” ucap bu guru Ratna membela Yasa.
“Berani-beraninya kau membela orang lain. Mana siswa yang bernama Yasa?” ucapnya sambil mencari-cari Yasa hingga putranya si gendut Ryan menunjukan kalau Yasa masih duduk di bangku taman sekolah.
Ayah Ryan yang sombong langsung menhampiri Yasa dan Setya yang duduk di bangku taman namun tiba-tiba ayah Ryan mengambil kayu yang tergeletak di sekitar taman dan memukulnya. Dengan sigap bu guru Ratna langsung menangkisnya. “Brak…, Ach…, ach…,” teriak bu guru Ratna karena pukulannya mengenai dirinya.
“Om, apa yang om lakukan? Apa salah bu guru hingga om pukul bu guru?” teriak Yasa polos kalau sebenarnya yang diincar itu dirinya.
“Hai..., anak kecil yang tak punya sopan santun! Siapa orang tuamu hingga kau berani mencelaki Ryan?” tanya ayah Ryan sambil mencengkram kerah leher Yasa ditariknya hingga naik ke atas.
“Jangan bawa-bawa orang tua om, aku bisa mengatasi msalahku sendiri. Tidak kayak putra om yang suka mengadu. Dasar pecundang,” teriak Yasa semakin membuat ayah Ryan kesal dan hendak menampar Yasa.
“Lepaskan putraku?” teriak Tegar dengan suara lantang hingga membuat ayah Ryan pelan-pelan melepaskan cengkramannya. Yasa langsung berlari dibelakang Tegar diikti oleh Setya.
“Pak Tegar? Apa yang anda lakukan disini?” ucap ayah Ryan pelan dan penuh ketakutan. Ayah Ryan ternyata adalah pak Bagas rekan dan relasi perusahaan Tegar.
“Aku menjemput putraku. Dan perlu kau tahu anak yang kau anianya itu putraku. Janganlah kau sok berkuasa. Inggstlah di langit masih ada langit!” ucap Tegar tegas dan penuh wibawa.
“Maaf pak, aku tidak bermaksud seperti itu?” ucapnya merendah dan memohon maaf kepada tegar.
“Tidak semudah itu pak, karena kau telah melukai guru dari putraku dan membuat kegaduhan di sekolah ini bahkan hampir mencelakai putraku maka kasus ini kita selesaika secar hukum,” ucapTegar tegas dan memerintahkan Dimas untuk mengurus segala sesuatunya termasuk membawa bu guru ke rumah sakitnya.
__ADS_1
“Ampun pak, aku mohon jangan kau lakukan itu. Dan aku mohon janganlah kau batalkan proyek Kerjasama kita?” ucap ayah Ryan sambil berlutut dihadapan Tegar.
“Kau yang telah merusak Kerjasama kita pak Bagas, jadi pergilah dan tunggu kasus ini diiusut di pengadilan.” Tegar langsung meninggalkan pak Bagas bersama anaknya Ryan. Ryanpun menangis ketakutan ternyata orang tuanya yang diandalkannya tidak bisa mengatasi masalahnya.
“Sayang, apakah ada yang sakit?” tanya Tegar sambil menatap dan memegangi wajah Yasa.
“Tidak ada, om tampan. Untung tadi ada bu Ratna jadi aku tidak kena pukul balok kayu olehnya. Kasihan bu Ratna kelihatnnya tangannya mengalmi patah tulang,” jawab Yasa sambil menghela nafasnya dan membayangkan jika dirinya kena pukul balok tersebut tepat mengenai lengannya.
“Ok, ayo kita pergi melihat bu Ratna yang sudah dibawa ke rumah sakit,” Tegar langsung menggandeng mereka naik ke mobil menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Tegar langsung bertanya kepada Dimas yang sudah berada di sana. “Bagimana keadaannya? Apakah dia mengalami cidera yang cukup serius?” tanya Tegar kepada Dimas.
“Lukanya cukup serius. Tangannya mengalami patah tulang yang cukup serius kemungkinan penyembuhannya agak lama?” ucap Dimas.
“Bu guru, terimakasih karena bu guru telah menyelamtakan putraku. Andaikan itu terjadi pada putraku mungkin dia akan menderita cacat seumur hidupnya karena tulang tangannya tidak akan patah lagi tapi hancur oleh pukulannya,” ucap Tegar sopan hingga tidak disadarinya di luar ada Dilla yang telah sampai karena diberi kabar oleh Dimas.
“Itu sudah menjadi tanggungjawab kami selaku pendidik pak, jadi kami harus melindungi anak didik kami,” ucap bu Ratna dengan menahan sakit.
“Bu ini sebagai bentuk terimakasih kami jadi aku mohon ibu mau menerimanya,” Tegaaar menyerahkan selembar cek kepaada bu Ratna.
“Mohon maaf pak, saya tidak bisa menerimnya. Ini bagian dari tugas kami dan kami ikhlas membantu anak didik kami,” ucap bu Ratna yang memang tulus membantu anak didiknya.
“Ibu, sekali lagi kami tidak bermaksud apapun. Ini hanya rasa terimakasih kami karena ibu membantu menyelamatkan putra kami,” ucap Tegar yang tidak lepas dari rasa hormatnya.
“Ibu Ratna, aku mohon terimalah. Papaku ikhlas memberinya,” ucap Yasa yang tiba-tiba ikut bicara.
__ADS_1
“Baiklah, terimakasih pak! Semoga rezeki bapak bertambah,” ucap ibu Ratna.
“Alhamdulilah, dia sudah banyak berubah dan mau menghargai pengorbanan orang lain,” gumam Dilla sengaja tidak masuk dan Dimas yang mengethaui keberadaannya diberi isyarat oleh Dilla agar diam.
“Bu Dilla…,” ucap bu Ratna yang mengetahui keberadaan bu Dilla di dekat pintu. Dilla pun langsung menghampiri mereka dan mendekati ibu Ratna.
“Terimaksih ibu. Atas bantuannya terhadap putra kami,” ucap Dilla ambil memeluk bu Ratna.
“Untuk operasi dan perawatan ibu kai yang menanggungya hingga ibu sembuh,” Dilla kemudian duduk di sofa bersama ke dua putranya, tidak lama kemudian keluarga bu Ratna datang dan operasipun segera akan dilakukan.
Dilla bersama Tegar ikut menunggu hingga operasi selesai dilakukan. Setelah memastikan operasi berjalan lancar Tegar beserta Dilla pamit kepada keluarga bu Ratna untuk pulang ke rumah. Setya yang tertidur di sofa hendak dibnsgunkan oleh Dilla tapi Tegar melarangnya. Tegar menggendong Setya hingga menuju parkiran mobil kemudin pelan-pelan menidurkan Setya di mobil Dilla.
“Pak tolong bawa mobilnya hati-hati. Janganlah ngebut,” pesan Tegar kepada sopir Dilla kemudian mendekati Dilla.
“Sayang, nanti malam aku ke rumah. Maaf hari ini aku tidak bisa mengantar kalian hinnga sampai ke rumah,” bisik Tegar kepada Dilla.
“Terserah. Mau ke rumah atau tidak bukan urusan aku,” ucap Dilla memang sengaja dibuat ketus.
“Ma, jangan begitu sama om tampan,” ucap Yasa secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka.
“Yasa, jaga mama dan adik kamu baik-baik ya? Papa tidak bisa mengantar kalian karena masih ada urusan,” Tegar mengusap-usap kepala Yasa dengan kasih sayang.
“Siap, om tam…eh papa,” ucap Yasa yang masih belum biasa memanggil papa. Tegar tersenyum melihat Yasa yang sangaat patuh. Kemudian memastikan mereka pergi dan Tegaar baru menuju mobilnya dimana Dimas sudah menunggu di mobil.
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.
__ADS_1