
Abisetya yang biasa ganti pasangan bersama Liana membuat dia tidak bisa berkutik lagi. Baginya Liana sangatlah istimewa. Liana membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama hingga dia memutuskan untuk menemui orang tuanya Liana. Di dalam mobil mereka berdua ngobrol banyak hal tentang keluarga.
“Sayang…, papa dan mama kamu kira-kira mau menerima aku tidak ya?” tanya Abisetya kepada Liana yang duduk di sebelahnya.
“Mana aku tau kak! Yang jelas papa itu orangnya tegas dan tidak mudah mempercayakan putrinya begitu saja sama orang yang baru dikenalnya. Papa sangatlah protektif sama aku. Kemungkinan kamu nanti kalau ke rumah pasti akan ditanya banyak hal olehnya,” ucap Liana tanpa dibuat-buat.
“Benarkah? Terus apalagi dik,” tanya Setya penasaran.
“Gak ada kak!” ucap Liana sambil berusaha mengingat sesuatu. Kemudian tiba-tiba dirinya mengungkapkan sesuatu dengan agak keras.
“Satu lagi kak! Kalau ada cowok menyakitiku, pasti papa akan menghajarnya hingga babak belur. Contoh dulu ada cowok yang ternyata secara tiba-tiba papa memukulnya hingga babak belur. Padahal cowok itu hanya membuat aku menunggu terlalu lama ketika akan menjemputku di acara pernikahan sahabat aku,” ucap Liana memberi keterangan kepada Setya.
“Wah ortu yang baik dan protektif bnget sama putrinya. Aku suka tuh gaya papa kamu. Aku yakin keluarga kamu pasti keluarga yang harmonis. Diantara anggota keluarganya pasti terjalin hubungan yang sangat erat dan saling mengayomi satu sama lainnya,” ucap Setya yang berusaha menganalisis dari cerita Liana.
“Kak…, kita sampai. Itu rumah aku!” ucap Liana menunjuk satu rumah mewah yang tak jauh mewah dengan rumah yang biasa ditinggali oleh Setya dan keluarga.
Setya turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Liana. Kemudian menutupnya kembali, namun yang tidak lepas dari pengamatan orang tua Liana ternyata Setya menggandeng Liana dengan penuh percaya diri menuju rumah Liana.
“Pa…, papa ngintip apa sih? Dari tadi aku perhatikan senyum sendiri?” tanya mamanya Liana yang melihat gerak-gerik mencurigakan dari jendela kamarnya.
“Tuh ma…, lihatlah putri kita sudah menemukan jodohnya yang pas untuknya. Mereka berdua begitu serasi dan pasangan idaman yang diinginkan anak-anak sekarang,” ucap papanya Liana memberi kode istrinya agar mendekat ke arah jendela.
“Wah kalau itu sih mama setuju. Aku lihat sangat serasi. Papa sudah tahu apa belum latar belakang keluarga pemuda tersebut?” tanya mamanya Liana yang ingin memastikan.
“Iya lah! Papa sudah selidiki semuanya. Dia itu putranya Agam dan bu Dilla tapi tidak mengikuti jejak bisnis kedua orang tuanya. Dia lebih memilih menjadi dokter dan mengelola rumah sakit milik keluarganya,” jelas papanya Liana.
__ADS_1
“Benarkah? Kalau putra dari mereka berdua, aku tidak meragukannya lagi. Mama juga sudah lama mengenal bu Dilla. Mereka semuanya orang baik. Dan yang terpenting Liana sudah mantap dengannya dan kita segera memiliki cucu,” ucap mamanya Liana begitu penuh percaya diri.
“Tok-tok,” suara pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
“Masuklah, pintu tidak dikunci,” teriak papanya Liana dari dalam kamarnya.
“Papa…, mama…, ada seseorang ingin bertemu,” ucap Liana manja yang langsung bergelayut menggandeng papanya manja.
“Wah…, kelihatannya ada tamu istimewa ya?” tanya mamanya Liana yang mengikuti mereka berdua dari belakang.
“Tahu dech. Pokoknya papa dan mama lihat sendirilah!” ucap Liana yang terus menggandeng papanya menuju ruang tamu.
Setya yang mengetahui mereka sudah ada di depannya langsung bangkit dari tempat duduknya dan menyapa orang tuanya Liana.
“Siang om…, tante. Maaf mengganggu istirahat om dan tante. Perkenalkan aku Setya kekasihnya Liana ,” ucap Setya sopan hingga membuat papanya Liana tersenyum puas dengan sikap Setya.
“Nak Setya sudah lama mengenal Liana?” tanya papanya Liana langsung tanpa basa-basi.
“Baru om, kira-kira sebulan,” jawab Setya tegas tanpa ada yang ditutupi.
“Kalau baru berarti belum mengenal Liana sepenuh hati dong?” tanya papanya Liana seolah mengintrogasi kedekatan mereka.
“Sudah dong om, aku tahu Liana yang manja dan cerewet suka mengoreksi orang. Aku sangat menyukainya. Dan yang terpenting aku siap menerima kelebihan dan kekurangan Liana!” ucap Setya mantap hingga membuat papanya Liana semakin yakin dengan Setya.
“Ok…, kalau kamu sudah yakin dengan keputusan kamu, om dan tante siap menerima kamu asalkan Liana juga mencintaimu!” ucap papanya Liana tegas.
__ADS_1
“Iya om. Aku yakin dik Liana mencintai dan menyukaiku,” ucap Setya yakin sepenuhnya.
“Gimana nak kamu?” tanya papanya Liana kepada putrinya tanpa basa-basi. Liana nampak malu mendengar pertanyaan papanya. Liana yang bingung membuat Setya langsung mengeluarkan cincin yang dibelinya.
“Sayang…, kalau kamu malu mengatakannya. Kamu bisa menerima cincin ini kalau siap menjadi istriku. Tapi kalau kamu tidak siap maka jangan kau pakai cincin ini!” ucap Setya yang memberikan satu cincin berlian dari saku bajunya. Liana mengambilnya, kemudian Setya dengan spontan menarik Liana berdiri dari duduknya.
Setya meminta cincin nya itu untuk dipakaikan ke jari manis Liana, sambil mengucapkan sesuatu.
“Sayang aku minta kau bersedia menjadi istriku dan kelak melahirkan Setya-setya kecil yang bisa berbisnis!” ucap Setya hingga membuat kedua orang tua Liana sangat mengagumi mereka..
“Iya kak! Tapi kalau banyak anak aku tidak sanggup? Aku takut nanti kalau menjaganya,” ucap Liana sopan.
“Sayang kamu meragukan calon suamimu? Aku kelak akan membantumu merawat dan menjaga putra dan putri kita,” ucap Setya kembali menyakinkan Liana.
“Tuh, dengarkan Liana. Nak Setya kelihatannya calon suami yang tepat untuk kamu,” ucap mamanya Liana yang terus mengagumi pertemuan dengan calon menantunya itu.
“Mama, terimakasih. Kak, karena kamu dibantu oleh mama dan papa jadi jangan segan-segan kau traktir sana papa dan mama aku!” ucap Liana bermaksud memberi isyarat agar Agar mereka bertiga nampak dekat.
“Siap sayang. Besok lusa kita ngobrol bersama di puncak ya? Bagaimana om dan tante bisa kan?” tanya Setya kepada orangtua Liana.
“Tidak bisa nak, karena besok lusa tante dan om sudah pergi ke luar negeri jadi ke puncaknya lain kali saja ya?” ucap papanya Liana mengambil jalan tengahnya.
“Ok om dan tante, Setya siap kapan saja!” ucapnya Setya penuh percaya diri.
“Baguslah, om dan tante suport sepenuhnya kalian. Om harap setelah pertemuan ini, kedua orang tua kamu datang kesini untuk melamar putri om,” ucap papanya Liana sekaligus perintah kepada Setya untuk segera melamar putrinya.
__ADS_1
“Iya om…, tante. sebenarnya papa daan mama juga merencanakan seperti itu! Dan alhamdulilah papa dan mama aku juga suport,” ucap Setya yakin percaya diri. Dirinya tidak menyangka jika bertemu calon mertua justru membuat semuanya mudah dan yang terpenting restu calon mertuanya sudah terkantongi.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?