
Ibra yang sudah mendapaat lampu hijau
dari Tegar berusaha mendekati Almaira. Ibra pura-pura mengambil minum tapi
begitu membalikan tubuhnya Ibra langsung menabrak Almira yang kebetulan lewat
disamingnya.
“Up, maaf,” ucap Ibra yang dengan sengaja
menabrak Almaira.
“Bener-bener cowok yang tidak tahu
diri! Meyebalkan!” balas Almaira sambil bersungut-sungut.
“Hai, gadis kecilku! Aku kan sudah
minta maaf!” ucap Ibra sambil tersenyum puas karena berhasil membuat Almaira emosi.
“Gadis kecil…, hai aku bukan gadis
kecilmu! Enak saja kalau ngomong!” ucap Almaira semakin emosi sambil berusaha
mengelap tumpahan minuman ke bajunya dengan tisu. Ibra yang berusaha
memanfaatkan peluang dengan secara paksa memegang tangan Almaira dan mengambil
tisu yang dibawanya untuk mengelap tumpahan minuman tersebut.
“Benar-benar sakau! Menyebalkan dan
bikin emosi!” ucap Almaira menengadahkan kepalanya ke atas memandang Ibra
hingga mereka saling beradu pandang. Almaira merasakan getaran aneh dalam
dirinya yang semakin lama semakin bergejolak, demikian pula Ibra.
Almaira yang tidak bisa mengendalikan
diri langsung mengalihkan pandangannya kea rah lain dan pergi meninggalkan Ibra.
“Hai gadis kecilku yang selalu berekor
kuda, tuh ada kecoak di bawahmu!” ucap Ibra yang dengan sengaja menyebut kecoa
karena yang dia tahu Almaira yang dahulu sangat takut dengan kecoa. Almaira menjerit
dan langsung berbalik berlari menuju Ibra.
Ibra dengan cekatan dan terampil
mendekapnya kemudian mengecu kening Almaira. Almaira yang tahu kalau dirinya
dipermainkan Ibra berusaha melepas pelukannya namun tidak bisa diaa lakukan
karena pelukan Ibra yang begitu kuat.
“Sayang, ayo ikut kakak! Aku akan
menunjukan sesuatu kepadamu! Aku akan membuka kembali memori tentang kita!”
ucap Ibra tiba-tiba berusaha menenangkan Almaira. Almaira yang merasa bingung tapi
di bawah sadarnya dia penasaran dengan sosok laki-laki yang ada di depannya.
Almaira seperti tidak sadar mau saja mengikuti langkah kaki sosok laki-laki
tersebut.
Ibra menggandeng Almaira dengan penuh
kemenangan karena bagaimanapun dirinya yakin pasti bisa memenangkan hati
Almaira. Tidak lama kemudian Ibra terhenti di halaman depan hotel menghadap di
sebuah pohon yang bawahnya ada kursi panjangnya.
Ibra menuntun Almaira menuju pohon dan
__ADS_1
menyentuh bagian pohon itu yang tertuliskan kak Ibra love Almaira tertanda
tahun 2014 kira-kira 8 tahun yang lalu. Almaira semakin bergetar tubuhnya tak
kala mengingat kenangan tersebut. Almaira kecil yang waktu itu masih duduk di sekolah
dasar nangis sesungukan kala Ibra sahabat kakaknya pamitan pindah ke luar
negeri.
“Kak Ibra jangan pergi, aku sayang kak
Ibra dan besok aku ingin menikah dengan kak Ibra. Jadi aku mohon jangan
tinggalkan aku kak?” ucap Almaira kecil yang masih polos. Almaira seketik itu
juga pipinya jadi merah jambu menahan malu.
“Kak Ibra, kenapa kakak gak bilang?
Kakak jadi berubah total! Aku bahkan tidak mengenalinya lagi?” ucap Almaira
masih ddengan gayanya yang malu-malu. Tapi karena dirinya sekian tahun menahan
rasa rindunya tanpa sadar Almaira memeluk Ibra dengan eat seolah tidak mau
dilepasakan lagi.
“Hem…, tadi marah-marah. Eh sekarang
minta peluk?” sindir Ibra kepada Almaira yang dengan sepontan menjauh dari
Ibra.
“Kakak dari dulu menyebalkan. Main pergi
saja dan tidak pernah kasih kabar,” ucap Almaira yang berkaca-kaca. Almaira
tanpa sadar, dirinya sangat mengharapkan Ibra.
“Hai…, hai jangan nangis lagi! Adik
kecil, kakak akan selalu menemanimu selamanya! Tapi kita nikah dulu ya?” ucap
“Habisnya kakak perginya tanpa pamit!”
ucap Almaira yang cemberut dihadapan Ibra. Almaira sudah kembali manjanya
seperti terdahulu. Ibra serasa mendapat angin kemudian merengkuh Almaira
kembali ke dalam pelukannya. Dan tanpa sadar Almaira nampak menikmatinya.
“Gadis kecilku! Mulai besok kakak tidak
akan meninggalkanmu lagi. Kakak janji akan selalu menjagamu! Kakak juga akan
selalu melindungimu dari kecoak!” gurau Ibra menggodda Almaira.
“Kakak, selalu menggoda aku ya?” ucap
Almaira yang kembali menengadahkan mukanya berhadapan dengan Ibra. Ibra yang
tergoda dengan bibir merah Almaira, dengan pelan meraih dagu Almaira dan
pelan-pelan menciumya. Almaira yang sudah gadis menginjak dewasa merasakan
sensasi kenikmatan yang luar biasa. Almaira yang polos tanpa ada instruksi dari
Ibra berusaha mengimabangi gerakan bibir Ibra. Ibra yang mengendalikan
peraminan tersebut dengan tiba-tiba tersentak dari aktivitasnya sehingga
berusaha menghentikan peraminan tersebut. Ibra tidak ingin menyakiti Almaira
ataupun menodainya dengan perbuatannya. Ibra sangat mencintai Almaira sehingga
tidak ingin menghancurkan harapan dan impiannya, apalagi om Tegar mempercayai
dirinya untuk menjaga putrinya.
__ADS_1
“Dik…, ayo ke dalam dulu! Aku akan
antar kamu pulang! Kamu ganti bajumu yang basah itu!” ucap Ibra pada Almaira.
“La kakak lupa to? Hotel in ikan merupakan
rumah kedua aku, jadi untuk ganti baju aku tidak perlu pulang kak. Baju-baju aku
ada beberapa di sini. Karena kita satu keluarga berencana menginap di sini!”
ucap Almaira menjelaskan. Ibra tersenyum tipis mendengar penjelasan Almaira. Ibra
lupa kalau hari ini pernihakahan sahabatnya yang sekaligus kakak Almaira.
“Ibra menggaruk keapalanya yang tidak
gatal kemudian menggandeng Almaira menuju ke dalam hotel. Mereka berdua bergandengan
seolah tidak ingin berpisaah lagi.
“Dik, jangan lupa ntar malam, aku ajak
kamu jalan-jalan ya?” bisik Ibra kepada Almaira.
“Tidak bisa kak, ntar malam ada acara
kumpul bareng sama keluarga. Kebetulan semua keluarga hadir di pernikahan kakak
Setya jadi kita berencana melakukan perayaan kumpul-kumpul. Kalau kakak mau,
kakak bisa ikut kok,” ucap Almaira yang terus berjalan menuju ke dalam hotel.
“Benarkah? Kalau begitu aku ananti akan
balik lagi kesini! Tapi aku pulang dulu ya? Aku ada janji dengan klien untuk
melakukan kontrak kerja,” ucap Ibra yang kemudian langsung pamit kepada om Tegar
dan istrinya.
“Om, aku pulang dulu! Ada sesuatu yang
harus aku kerjakan!” ucap Ibra kepada om Tegar.
“Iya nak! Hati-hati di jalan. jangan
lupa nanti malam balik lagi ke sini! Nanti om kenalkan dengan keluarga besar
om!” ucap Tegar yang memang dengan sengaja dan berharap Ibra jadi menantunya.
“Siap om, maaf sebelumnya aku pulang
dulu,” jawab Ibra kemudiaan mencium tangan om Tegar dan tante Dilla.
Ibra pun pamitan dengan Almaira berusaha
hendak mencium kening Almaira hingga membuat om Tegar menggodanya.
“Hai…, hai anak muda sekarang memang
tidak tahu diri ya? Hai ini ada bapaknya lo sayang?” ucap Tegar hingga akbirnya
bisa mengurungkan niat Ibra. Ibra pun tanpa sadar menggaruk kepalanya yang
tidak gatal. Kemudian pelan-pelan meninggalkan mereka menuju parkiran.
Di jalan Ibra nampak tersenyum sendiri,
karena dengan paksa dia bisa membawa Almaira mengikuti alur ceritanya yang
memang dari awal sudah dia rencanakan untuk membuat surpraise Almaira.
Dari dulu hingga sekarang, /ibra masih
selalu setia dengan perasaannya untuk menjaga Almaira sampai dewasa. Selama 8 tahun
dia sengaja menghilang krena bagaimanapun Almaira yang terdahulu masih anak-anak.
Terimakasih para pembaca yang setia,
__ADS_1
atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita
terus mengikuti kisahnya ya?