Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Paksaan


__ADS_3

Ibra yang sudah mendapaat lampu hijau


dari Tegar berusaha mendekati Almaira. Ibra pura-pura mengambil minum tapi


begitu membalikan tubuhnya Ibra langsung menabrak Almira yang kebetulan lewat


disamingnya.


“Up, maaf,” ucap Ibra yang dengan sengaja


menabrak Almaira.


“Bener-bener cowok yang tidak tahu


diri! Meyebalkan!” balas Almaira sambil bersungut-sungut.


“Hai, gadis kecilku! Aku kan sudah


minta maaf!” ucap Ibra sambil tersenyum puas karena berhasil membuat Almaira emosi.


“Gadis kecil…, hai aku bukan gadis


kecilmu! Enak saja kalau ngomong!” ucap Almaira semakin emosi sambil berusaha


mengelap tumpahan minuman ke bajunya dengan tisu. Ibra yang berusaha


memanfaatkan peluang dengan secara paksa memegang tangan Almaira dan mengambil


tisu yang dibawanya untuk mengelap tumpahan minuman tersebut.


“Benar-benar sakau! Menyebalkan dan


bikin emosi!” ucap Almaira menengadahkan kepalanya ke atas memandang Ibra


hingga mereka saling beradu pandang. Almaira merasakan getaran aneh dalam


dirinya yang semakin lama semakin bergejolak, demikian pula Ibra.


Almaira yang tidak bisa mengendalikan


diri langsung mengalihkan pandangannya kea rah lain dan pergi meninggalkan Ibra.


“Hai gadis kecilku yang selalu berekor


kuda, tuh ada kecoak di bawahmu!” ucap Ibra yang dengan sengaja menyebut kecoa


karena yang dia tahu Almaira yang dahulu sangat takut dengan kecoa. Almaira menjerit


dan langsung berbalik berlari menuju Ibra.


Ibra dengan cekatan dan terampil


mendekapnya kemudian mengecu kening Almaira. Almaira yang tahu kalau dirinya


dipermainkan Ibra berusaha melepas pelukannya namun tidak bisa diaa lakukan


karena pelukan Ibra yang begitu kuat.


“Sayang, ayo ikut kakak! Aku akan


menunjukan sesuatu kepadamu! Aku akan membuka kembali memori tentang kita!”


ucap Ibra tiba-tiba berusaha menenangkan Almaira. Almaira yang merasa bingung tapi


di bawah sadarnya dia penasaran dengan sosok laki-laki yang ada di depannya.


Almaira seperti tidak sadar mau saja mengikuti langkah kaki sosok laki-laki


tersebut.


Ibra menggandeng Almaira dengan penuh


kemenangan karena bagaimanapun dirinya yakin pasti bisa memenangkan hati


Almaira. Tidak lama kemudian Ibra terhenti di halaman depan hotel menghadap di


sebuah pohon yang bawahnya ada kursi panjangnya.


Ibra menuntun Almaira menuju pohon dan

__ADS_1


menyentuh bagian pohon itu yang tertuliskan kak Ibra love Almaira tertanda


tahun 2014 kira-kira 8 tahun yang lalu. Almaira semakin bergetar tubuhnya tak


kala mengingat kenangan tersebut. Almaira kecil yang waktu itu masih duduk di sekolah


dasar nangis sesungukan kala Ibra sahabat kakaknya pamitan pindah ke luar


negeri.


“Kak Ibra jangan pergi, aku sayang kak


Ibra dan besok aku ingin menikah dengan kak Ibra. Jadi aku mohon jangan


tinggalkan aku kak?” ucap Almaira kecil yang masih polos. Almaira seketik itu


juga pipinya jadi merah jambu menahan malu.


“Kak Ibra, kenapa kakak gak bilang?


Kakak jadi berubah total! Aku bahkan tidak mengenalinya lagi?” ucap Almaira


masih ddengan gayanya yang malu-malu. Tapi karena dirinya sekian tahun menahan


rasa rindunya tanpa sadar Almaira memeluk Ibra dengan eat seolah tidak mau


dilepasakan lagi.


“Hem…, tadi marah-marah. Eh sekarang


minta peluk?” sindir Ibra kepada Almaira yang dengan sepontan menjauh dari


Ibra.


“Kakak dari dulu menyebalkan. Main pergi


saja dan tidak pernah kasih kabar,” ucap Almaira yang berkaca-kaca. Almaira


tanpa sadar, dirinya sangat mengharapkan Ibra.


“Hai…, hai jangan nangis lagi! Adik


kecil, kakak akan selalu menemanimu selamanya! Tapi kita nikah dulu ya?” ucap


“Habisnya kakak perginya tanpa pamit!”


ucap Almaira yang cemberut dihadapan Ibra. Almaira sudah kembali manjanya


seperti terdahulu. Ibra serasa mendapat angin kemudian merengkuh Almaira


kembali ke dalam pelukannya. Dan tanpa sadar Almaira nampak menikmatinya.


“Gadis kecilku! Mulai besok kakak tidak


akan meninggalkanmu lagi. Kakak janji akan selalu menjagamu! Kakak juga akan


selalu melindungimu dari kecoak!” gurau Ibra menggodda Almaira.


“Kakak, selalu menggoda aku ya?” ucap


Almaira yang kembali menengadahkan mukanya berhadapan dengan Ibra. Ibra yang


tergoda dengan bibir merah Almaira, dengan pelan meraih dagu Almaira dan


pelan-pelan menciumya. Almaira yang sudah gadis menginjak dewasa merasakan


sensasi kenikmatan yang luar biasa. Almaira yang polos tanpa ada instruksi dari


Ibra berusaha mengimabangi gerakan bibir Ibra. Ibra yang mengendalikan


peraminan tersebut dengan tiba-tiba tersentak dari aktivitasnya sehingga


berusaha menghentikan peraminan tersebut. Ibra tidak ingin menyakiti Almaira


ataupun menodainya dengan perbuatannya. Ibra sangat mencintai Almaira sehingga


tidak ingin menghancurkan harapan dan impiannya, apalagi om Tegar mempercayai


dirinya untuk menjaga putrinya.

__ADS_1


“Dik…, ayo ke dalam dulu! Aku akan


antar kamu pulang! Kamu ganti bajumu yang basah itu!” ucap Ibra pada Almaira.


“La kakak lupa to? Hotel in ikan merupakan


rumah kedua aku, jadi untuk ganti baju aku tidak perlu pulang kak. Baju-baju aku


ada beberapa di sini. Karena kita satu keluarga berencana menginap di sini!”


ucap Almaira menjelaskan. Ibra tersenyum tipis mendengar penjelasan Almaira. Ibra


lupa kalau hari ini pernihakahan sahabatnya yang sekaligus kakak Almaira.


“Ibra menggaruk keapalanya yang tidak


gatal kemudian menggandeng Almaira menuju ke dalam hotel. Mereka berdua bergandengan


seolah tidak ingin berpisaah lagi.


“Dik, jangan lupa ntar malam, aku ajak


kamu jalan-jalan ya?” bisik Ibra kepada Almaira.


“Tidak bisa kak, ntar malam ada acara


kumpul bareng sama keluarga. Kebetulan semua keluarga hadir di pernikahan kakak


Setya jadi kita berencana melakukan perayaan kumpul-kumpul. Kalau kakak mau,


kakak bisa ikut kok,” ucap Almaira yang terus berjalan menuju ke dalam hotel.


“Benarkah? Kalau begitu aku ananti akan


balik lagi kesini! Tapi aku pulang dulu ya? Aku ada janji dengan klien untuk


melakukan kontrak kerja,” ucap Ibra yang kemudian langsung pamit kepada om Tegar


dan istrinya.


“Om, aku pulang dulu! Ada sesuatu yang


harus aku kerjakan!” ucap Ibra kepada om Tegar.


“Iya nak! Hati-hati di jalan. jangan


lupa nanti malam balik lagi ke sini! Nanti om kenalkan dengan keluarga besar


om!” ucap Tegar yang memang dengan sengaja dan berharap Ibra jadi menantunya.


“Siap om, maaf sebelumnya aku pulang


dulu,” jawab Ibra kemudiaan mencium tangan om Tegar dan tante Dilla.


Ibra pun pamitan dengan Almaira berusaha


hendak mencium kening Almaira hingga membuat om Tegar menggodanya.


“Hai…, hai anak muda sekarang memang


tidak tahu diri ya? Hai ini ada bapaknya lo sayang?” ucap Tegar hingga akbirnya


bisa mengurungkan niat Ibra. Ibra pun tanpa sadar menggaruk kepalanya yang


tidak gatal. Kemudian pelan-pelan meninggalkan mereka menuju parkiran.


Di jalan Ibra nampak tersenyum sendiri,


karena dengan paksa dia bisa membawa Almaira mengikuti alur ceritanya yang


memang dari awal sudah dia rencanakan untuk membuat surpraise Almaira.


Dari dulu hingga sekarang, /ibra masih


selalu setia dengan perasaannya untuk menjaga Almaira sampai dewasa. Selama 8 tahun


dia sengaja menghilang krena bagaimanapun Almaira yang terdahulu masih anak-anak.


Terimakasih para pembaca yang setia,

__ADS_1


atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita


terus mengikuti kisahnya ya?


__ADS_2