Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Hilangnya Tegar


__ADS_3

Setelah mendapat telepon dari Dilla,  Dimas langsung meluncur pergi ke rumah sakit untuk  menggantikan Dilla menjaganya.


Dimas yang sudah berada di rumah sakit langsung menuju kamar perawatan Tegar.  namun Dimas sangat terkejut ketika mengetahui kalau Tegar sudah tidak berada di kamarnya. 


Dimas curiga telah terjadi sesuatu dengan Tegar karena ponsel dan perlengkapan yang lain masih berada di kamar tersebut. Kemudian Dimas menghubungi resepsionis dan security yang ada di rumah sakit.


 Resepsionis melacak kalau secara administrasi dan laporan medis Tegar belum bisa keluar dari rumah sakit.


Karena rumah sakit itu milik Dila sendiri maka  Dimas juga punya kuasa untuk mengakses beberapa prosedur yang lain. Dan semua orang di rumah sakit juga mengetahui kalau Dimas merupakan orang kepercayaan bosnya.


“Security, Mari kita segera pergi untuk melihat CCTV yang ada di rumah sakit ini!  Aku curiga ada sesuatu yang tidak beres dengan kepergian pak Tegar! karena setahu aku bu Dilla tadi menyuruh aku untuk menjaganya berarti tidak mungkin pak Tegar pergi tanpa pamit,” ucap Dimas memberi perintah kepada kepala Security.


“Baik pak, mari kita lihat ke pos pemantauan semua CCTV rumah sakit!” ucap security dan terus berjalan menuju ruangannya. Tidak berapa lama kemudian mereka berdua telah berada di depan monitor komputer untuk melacak semua akses rumah sakit 2 jam sebelum kejadian. Security nampak bekerja dengan sangat serius karena menyangkut keselamatan suami dari pemilik rumah sakit ini.


“Pak tolong berhenti di bagian ini!” ucap Dimas tiba-tiba setelah melihat kejadian seorang wanita mengendap-endap di ruang perawatan Tegar.


“Bapak kenal orang ini?” tanya Dimas setelah mengaktifkan zoom di bagian wajah wanita tersebut.


“Dokter Airin, ya dokter Airin. Benar-benar di luar dugaan kita. Apa motif dokter Airin melakukan itu?” ucap kepala security itu terkejut.


“Airin? Airin Pangestu?” tanya Dimas penasaran.

__ADS_1


“Iya dokter Airin Pangestu. Tuan muda kenal dengan dokter?” tanya balik satpam rumah sakit.


“Iya lah. Aku kenal dulu semasa kuliah kekasih Tegar tapi itu dulu sebelum kenal dengan bu Dilla. Dan dokter Airin dulu meninggalkan pak Tegar begitu saja. Sudahlah jangan dibahas. Kita harus menyelamatkan pak Tegar. Aku akan telpon bu Dilla terlebih dahulu,” ucap Dimas dan berusaha menghubungi Dilla dengan ponselnya.


“Maaf nyonya muda, ada kabar yang tidak menyenangkan hari ini. Ternyata setelah nyonya muda pulang, pak Tegar diculik oleh dokter Airin. Dan ini kita sudah melacak keberadaannya. Kami melaporkan kasus ini ke pihak berwajib,” ucap Dimas terbata-bata.


“Diculik? Dimas kau ini bagaimana? Bukankah aku suruh menunggu pak Tegar?’ ucap Dilla panik.


“Iya, tapi aku kalah cepat dengan  penculik itu nyonya? Maaf kan aku, semua diluar batas kemampuan aku,” ucap Dimas sambil menghela nafasnya, karena bagaimanapun dia juga mengkhawatirkan bu Dilla yang panik.


“Baik. Aku akan ke rumah sakit!” ucap Dilla sambil berusaha kuat menghadapi masalahnya. Dilla kemudian meminta sopir untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Setelah sampai di rumah sakit kemudian Dilla mengumpulkan semua orang penting yang membawahi beberapa departemen rumah sakit termasuk pimpinan rumah sakit tersebut.


“Maaf ibu, maafkan saya yang tidak bisa mendidik adik kami dengan baik. Semua berawal dari keteledoran saya selaku dokter yang bertanggung jawab atas kesehatan pak Tegar. Dokter Airin yang merupakan adik kandung dari aku telah menyelinap mengambil berkas yang aku berikan untuk keluarga dan menggantinya dengan diagnosanya hingga kejadian ini menimpa tuan Tegar,” ucap dokter Riyadi sambil menghilangkan tangan kanannya serta membungkukkan badannya seraya minta maaf kepada bu Dilla.


“Aku akan memaafkan kamu jika kamu bisa membawa suamiku dalam keadaan selamat!” ucap Dilla sekaligus ancaman untuk Riyadi.


“Baik, akan aku lakukan. Aku akan berusaha membawa suami nyonya kembali dalam keadaan selamat. Dan tolong maafkan adik saya yang terobsesi dengan suami anda,” ucap Riyadi ketakutan karena bagaimanapun adiknya sudah melakukan kesalahan dan tindak pidana yang bisa membuat masa depannya suram.


Riyadi kemudian berusaha menelpon adiknya namun tidak aktif, dan Riyadijuga bertanya kepada kerabatnya untuk menanyakan tentang keberadaan Airin tapi juga tidak ada yang mengetahuinya.

__ADS_1


Kemudian Riyadi memberikan alamat rumah mereka yang ditempati semasa kecil, hingga akhirnya polisi meluncur kesana namun juga tidak ditemukan keberadaan Airin.


Rahardi pun panik memikirkan adiknya yang ceroboh berbuat nekat menculik suami dari pemilik rumah sakit tersebut sehingga bisa membuat karirnya sebagai dokter kandungan akan terancam karena harus mendekam di penjara.


“Maaf nyonya, aku sudah berusaha dan semua yang pernah Airin tempati juga sudah aku cari keberadaannya tapi nihil,” ucapnya kepada Dilla yang terus berkaca-kaca menahan tangisnya karena keberadaan suaminya belum ada titik terang.


“Baiklah, kita tunggu dari pihak kepolisian dulu. Bagaimana langkah selanjutnya? Dan untuk kamu Dimas tolong semua bodyguard kita kerahkan untuk melacak keberadaan suami aku!” perintah Dilla kepada Dimas yang merupakan atasan dari suaminya.


Sementara itu pihak polisi juga berusaha melacak keberadaan Tegar. Namu polisi sangat sulit karena ponsel Tegar  tertinggal, sedangkan Airin ternyata juga sudah mengganti nomor ponselnya.


Untuk selanjutnya Dilla yang lelah seharian menunggu hasil pencarian suaminya merasa sakit dan lemas. Dilla meratapi nasib suaminya jika wanita tersebut menyakitinya.


Tidak berapa lama karena kegalauan hatinya Dilla terduduk lesu dan menangis sesenggukan memikirkan keselamatan suaminya dan juga anak-anaknya jika harus terpisah dengan ayahnya.


“Dimas kalau hingga besok suami aku belum ketemu segeralah berbuat sesuatu. Dan tolong memaksimalkan pencarian serta sebarkan beberapa brosur di seluruh kota agar semua orang yang mengetahuinya segera melaporkannya. Untuk seseorang yang melaporkan atau mengetahui tentang keberadaan suami aku berilah imbalan sepantasnya!” perintah Dilla kepada Dimas. 


Dimas hanya menganggukkan kepalanya dan sekuat tenaga terus memantau perkembangan pencarian Tegar oleh pihak kepolisian maupun dari pihak bodyguard yang mereka kirim.


Dimas yang tidak tega dengan Dilla mengantarnya pulang ke rumahnya. Dan tidak berapa lama kemudian semua kerabat dan teman Dilla maupun Tegar datang ke rumah.


Mita dan sahabatnya Rara datang ke rumah Dilla dan berusaha menghiburnya. Mereka berdua saat ini sedang mengandung bayi pertama mereka sehingga tidak bisa maksimal untuk membantu Dilla.

__ADS_1


Kedua sahabatnya hanya bisa memberi support tanpa harus pergi mengikuti suaminya untuk mencari Dilla. Kedua sahabatnya sedang hamil besar dan diperkirakan akan segera melahirkan.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya? 


__ADS_2