
Hari ini tante Lusi bersama Lukas sangat bingung memikirkan bagaimana agar perusahaannya kembali bangkit namun usaha apapun tidak bisa memulihkan keadaan karena nilai kepercayaan investor menurun. Tante Lusi menghela nafasnya dan mengelus pada Lukas.
“Sayang, bagaimanapun aku tidak mau hidup susah. Kamu harus bisa berbuat sesuatu. Apapun caranya kita haru bisa memulihkan keadaan kita,” tante Lusi bergelayut manja di pelukan Lukas.
“Tenanglah sayang, kita masih punya seribu cara untuk membuat kita bahagia dan kalau perlu kita bisa menguasai seluruh harta kakakku Ardi tanpa sedikitpun membayar hutang untuk perusahaan nya,” ucap Lukas santai.
“Bagaimana bisa? Aku masih belum mengerti maksudmu,” ucap tante Lusi sambil bermanja-manja di dalam pelukan om Lukas.
“Kita manfaatkan putrimu Brenda. Kita jebak Tegar seolah-olah tidur bersama Brenda dan kita dokumentasikan dalam bentuk foto dan video. Kemudian kita ancam untuk kita sebar luaskan jika Tegar tidak mau bertanggungjawab menikahi Brenda. Kalau Brenda sudah menikah dengan Tegar otomatis kekayaan Tegar bisa dinikmati oleh Brenda dan kita,” jelas Lukas secara Detail.
“Bagaimana kalau tidak berhasil? Kitakan tahu untuk menyusup masuk ke lingkungan Tegar saja sangat sulit apalagi ada asistennya si Dimas. Belum si Brenda sekarang sangat sulit diajak untuk Kerjasama sejak memiliki kekasih yang bernama Rahadi. Rahardi memang kaya tapi kayaknya tidak bisa menjamin kita menikmati kekayaannya,” ucap Lusi sambil tangannya tidak mau diam.
“Kau itu ya, tenang saja aku akan yang mengatur semuanya. Yang terpenting kamu mau mendukungku,” ucap Lukas sambil terus mengecup bibir Lusi dan berlanjut di lehernya hingga mereka berdua berlanjut dengan permainan panas yang membawa kenikmatan untuk keduanya. Tante Lusi berkali-kali mendesah dan merintih menikmati kepuasan.
Setelah selesai melakukan aktivitasnya mereka berdua membersihkan tubuhnya dan bersiap diri untuk ke kantor. Mereka berdua berangkat bersama dan memeriksa semua karyawan yang bekerja di ruang produksi. Namun belum sampai mereka berkeliling di bagian produksi tiba-tiba ada beberapa kumpulan karyawan perusahaan melakukan aksi demo menuntut gaji mereka.
Lukas dan Lusi kualahan menghadapi mereka, karena tidak ada penyelesaian mereka berdua langsung mendapat amukan para karyawan bahkan mereka juga sudah menyiapkan paparazi untuk memuat beritanya.
__ADS_1
“Sayang, ayo kita pergi dari sini!” Lukas menarik tangan Lusi dan langsung melarikan diri dari amukan massa para karyawan. Lusi sangat ketakutan melihat situasi dan kondisi tersebut.
Sementara itu dibalik kerusuhan yang ada di perusahaan Lusi ada seseorang yang memantau pergerakan di dalam perusahaan.
“Dimas, kerja yang bagus. Sebentar lagi perusahaan Lusi yang dulu milik orang tua Dilla akan kembali ke tangannya melalui kita,” ucap Tegar sambil melihat video yang di share oleh Dimas.
“Siap bos, tapi ini sayang belum sepenuhnya bisa kita kuasai dan mereka masih punya waktu 5 bulan. Dan aku melihat kalau om Lukas berusaha mendekati pengusaha ternama di daerah kita. Mereka bahkan berniat menjodohkan Berenda dengannya,” ucap Dimas dengan memperlihatkan data-datanya.
“Siapa pengusaha terkenal itu? bisakah kau cari informasi tentangnya? Bisakah pengusaha itu kita ajak Kerjasama untuk menghabisi usaha mereka?” tanya Tegar kepada Dimas dengan ragu-ragu.
“Pengusaha itu Bernama Rahardi, dan kelihatannya beliau juga tertarik terhadap kecantikan Brenda. Dan kisah mereka kelihatannya bukan rahasia umum lagi. Dan dari beberapa mata-mata yang aku sebarkan mereka berdua saling mencintai satu sama lainnya. Dan yang lebih menarik lagi di tangan Rahardi, sikap dan tingkah laku Brenda menjadi lebih baik,” ucap Dimas memberi informasi lengkap dan detail kepada tegar.
“Siang pa, aku hari ini bersama mama ingin mengajak papa untuk ke dunia mainan,” ucap Setya yang langsung menyelonong duduk di pangkuan Tegar.
“Iya, sebentar ya sayang. Ini papa masih menyelesaikan beberapa berkas dulu. Jadi kamu tunggu dulu ya?” ucap Tegar penuh kesabaran.
Dilla yang mengetahui Tegar masih repot langsung menghampiri dan menggandeng Setya untuk duduk di sofa. “Sayang sini, sama mama dulu,biarkanlah papa menyelesaikan tugasnya dulu,” ucap Dilla dengan sabar.
__ADS_1
Tegar dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya karena baginya kebahagiaan si kembar adalah tugas utamanya sebagai orang tuanya apalagi saat mengandung dan tumbuh sebagai anak-anak ia tidak pernah mendampinginya.
“Ok, kita sudah selesai. Ayo kita berangkat,” ucap Tegar langsung memberikan kunci mobil kepada Dimas. Dimas masih bengong dengan sikap bosannya.
“Bos, kamu tega sekali? Masa aku suruh sendirian, tidak seru dong!” bisiknya di telinga Tegar.
“Jangan kuatir, Mita ada di bawah!” ucapnya terus berlalu mengandeng Yasa sementara Setya bergelayut di gendongan punggung belakangnya. Mereka berjalan di lorong perusahaan dan menunjukan kalau mereka keluarga yang bahagia.
“Hai, itu kan calonnya pak Tegar! Dasar murahan ternyata hamil di luar nikah dan berusaha menjebak pak Tegar dengan anak-anaknya!” bisik salah satu karyawan hingga terdengar oleh Yasa.
Yasa langsung menghentikan langkahnya dan memandang begitu tajam wanita tersebut hingga Yasa tiba-tiba menghampirinya dan memecatnya. “Ampun, tuan muda, maaf kan saya? Bukan maksud aku menghina mama anda?” ucapnya sambil berlutut di hadapan Yasa namun tidak ada jawaban dari Yasa bahkan Yasa terkesan mempermalukannya di depan umum dengan membuka aibnya.
“Hai, kamu nona Leli? Bukankah kamu yang murahan? Setiap pulang kerja kamu selalu mampir ke hotel dan melayani pria-pria hidung belang? Kau lakukan hal kotor karena putramu di luar nikah sedang sakit? Maaf siapkah yang muruahan? Bukankah Anda sendiri? Dengarkan sebenarnya saya kasihan dengan anda tapi karena anda seorang perempuan pecundang maka aku tidak ada rasa simpatik sama sekali! Dan mulai sekarang anda kami pecat! Tinggalkan perusahaan ini sekarang juga!” ucap Yasa tegas sambil matanya menatap tajam ke arah bu Leli yang menangis dengan posisi berlutut di depan Yasa.
Dilla yang tidak tega melihat pemandangan yang ada di depannya langsung turun tangan dan menolong perempuan itu dan membimbingnya untuk duduk di kursi yang berada di lorong perusahaan.
“Sudahlah, hapuslah air matamu! Abaikan sikap anakku. Kembalilah bekerja dan janganlah kau bersikap seperti itu lagi! Ingat manusia itu tempatnya salah. Kita tidak pernah meminta pada situasi yang susah dan sulit seperti ini. Tapi yakinlah Allah selalu menolong umatnya yang sabar dan tawakal,” ucap Dilla bijak hingga membuat Tegar semakin menyanyanginya.
__ADS_1
“Baiklah! Anda hari ini selamat karena kebaikan mamaku! Dan camkan itu janganlah anda menghina mamaku ataupun wanita lain yang belum tentu buruk dimata anada!” ucap Yasa semakin emosi hingga akhirnya Dilla menggandengnya dan mengajaknya pergi.
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.