
Yasa dan Aska kali ini benar-benar sudah dilanda cinta. Yasa yang cinta mati dengan Sabrina selalu mnuruti apa kemauan Sabrina. Sedangkan Aska yang PDKT dengan Marsha berusaha berjuang mati- matian untuk mengambil hati Marsha.
Sabrina yang manja berusaha merayu dan merajuk kepada Yasa untuk memintanya makan es krim rasa durian kesukaannya. Sabrina menarik tangan Yasa untuk mengikutinya.
“Sayang, ayolah aku ingin makan es krim itu!” ucapnya sambil menggandeng Yasa menuju ke kedai es krim kesukaannya.
“Malu dong sayang, lihatlah masa iya aku dengan pakaian seperti ini harus ke kedai es krim?” ucap Yasa yang masih ogah-ogahan untuk pergi.
“Oke, kalau kakak tidak mau mengantarku kesana Aku akan pergi sendiri sama Marsha,” ucapnya langsung menggandeng Marsha.
“Mau kemana?” tanya Marsha yang tidak mengerti dengan ulah Sabrina.
“Beli es Krim?” ucap SAbrina enteng dan terus melenggang pergi ke kedai es krim yang ada di mall.
“Astaga Sabrina? Kamu masih suka es krim? Pasti rasa durian ya?” ucap Marsha menebaknya karena dulu semasa berteman dengan Sabrina waktu SMA kemanapun perginya pasti minuman favorit Sabrina es krim.
“Pastilah! Kamu masih ingat juga kesukaan aku?” tanya Sabrina hingga dia terhenti sesaat kemudian menariknya kembali untuk masuk ke kedai.
Di dalam Kedai es krim Sabrina memesan es krimnya kemudian duduk di meja kosong bersaama Marsha, namun tiba-tiba ada dua orang pemuda dengan pakaian eksekutif berusaha mendekati mereka.
Yasa yang memantau mereka dengan buru-buru mengajak Aska untuk segera menyusul mereka.
“Aska, Ayo segera susul mereka! Kalau tidak segera mendekat, bisa-bisa mereka di kerjain oleh pemuda itu!” ucap Yasa berjalan menghampiri kedai dan diikuti oleh Aska.
“Tadinya gak mau antar sekarang kerepotan sendiri dong?” goda Aska kepada sang bosnya sekaligus temannya.
“Habisnya pemuda- pemuda itu menyebalkan! Lihatlah mereka merayu kedua kekasih kita!” ucap Yasa dengan menambah laju jalannya.
“Kekasih bos kali? Aku kan masih PDKT?” ucap Aska yang mengikutinya dari belakang.
“Ok…, kalau Marsha diambil mereka jangan menyesal ya?” ucap Yasa kepada sahabatnya.
“Bro jangan begitu dong! Ayolah kita kesana!” ucap Aska yang tidak mau mengecewakan bos dan sekaligus temannya.
Mereka berdua langsung menghampiri Sabrina dan Marsha.
“Sayang, pesananku! Sudah kamu pesankan belem?” tanya Yasa yang datang tiba-tiba dan langsung merangkul dan mencium Sabrina.
__ADS_1
“Sudah kok sayang?” ucap Sabrina sambil melirik genit Yasa.
“Maaf siapa mereka?” tiba-tiba salah satu dari pemuda yang mendekati Sabrina bertanya kepada Sabrina.
“Kenalkan ini calon suami saya? Dan ini temannya sekaligus orang kepercayaannya,” ucap Sabrina memperkenalkan Yasa sebagai calon suaminya.
“O…, maaf pak! Kita salah teman, aku kira adi teman kita waktu SMA dulu namanya Sabrina!” ucap salah satu pemuda tersebut.
“La…, aku kan memang Sabrina?” ucap Sabrina mengerutkan dahinya mengingat sesuatu.
“Sabrina putri dokter Irfan kah?” tanya salah satu pemuda tersebut.
“Iya…, kamu siapa?” tannya Sabrina penasaran.
“Eh…, tunggu dulu. Kamu Ageng kan? Dan yang ini pasti Herman?” ucap Marsha tiba-tiba ketika berhasil mengingatnya.
“Astaga Marsha! Jadi kalian berdua bekerja di tempat yang sama ya? Wah seneng banget bisa selalu berdua, bisa mengingat waktu SMA,” ucap Ageng yang ternyata sahabat Sabrina dan Marsha waktu SMA.
“Wah seru nich! jangan-jangan ini juga pasangan kamu Marsha?” ucap Herman yang dulunya naksir berat kepada Marsha.
“O…, begitu! Baiklah nikmatilah acara kalian! Aku permisi dulu karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan klien aku bisa-bisa membatalkan kontrak dengan aku!” ucap Ageng yang tidak mau menjadi orang ketiga diantara mereka.
“Ageng kita kan belum…,” ucap Herman menyambung pembicaraan mereka.
“Klien kita menunggu jam 11 kita harus siap!” ucap Ageng kembali menekankan karena Herman tidak juga mengerti.
Herman dengan tanda tanya besar langsung membuntuti Ageng yang berjalan cepat.
“Kamu itu gimana ya? Bukannya kita baru bertemu dengan Sabrina? Dari dulu kan kamu juga naksir Sabrina? Harusnya kamu memanfaatkan peluang ini untuk mendekatinya?” ucap Herman yang terus membuntuti Ageng.
“ Kamu sudah gila apa apa? Bu bukannya kamu tadi mendengar kalau Sabrina itu sudah tunangan dengan pria yang menyusul nyanya!” ucap Ageng emosi menanggapi perkataan Herman.
“ Menurutku, selama janur belum melengkung kamu bisa mendapatkan peluang untuk menjadikan dia seorang istri!” ucap Herman berusaha mempengaruhi Ageng.
“Gila apa? Kita bukan levelnya? Kamu tau gak calon suami Sabrina itu siapa?” tanya Ageng dengan terus naik ke mobilnya kemudian menstarter mobil nya untuk balik ke perusahaan.
“Ya paling-palin karyawan di perusahaan?” ucap Herman sekenanya yang duduk di sebelah Ageng.
__ADS_1
“Kau salah Her…? Dia itu pengusaha terkaya di negara ini! Pewaris kekayaan Permana Group dan Sanjaya Group,” ucap Ageng yang masih konsentrasi menyetir kemudi mobilnya.
“Gila yang bener! Wah…, dia keren banget ya? Pantesan kaya punya kharismatik sendiri!” ucap Herman sambil terus berucap kagum dengan Yasa.
“Sudah Her, bisa-bisa kamu mengaguminya! Tadi-tadi bilangnya paling karyawan biasa! Sialan kamu Her!” Ageng menonjok bahu Herman dengan keras agar tersadar dari bayang-bayang Yasa.
“Tadi kan belum tahu bro! Dan maksud aku biar kamu senang jadi aku dukung kamu sepenuhnya untuk mendapatkan Sabrina dan tentunya aku juga bisa dekat dengan Marsha yang cantik dan kalem.
“Huekkk…, jangan mimpi kamu! Mana mau Marsha pilih kamu lelaki yang suka mabuk-mabukan!” ucap Ageng mengejek Herman.
Siapa tahu kan jodoh, rezeki dan maut kan yang menentukan Allah!” ucap Herman yang masih ngeles tidak terima menerima ejekan Ageng.
“Ok, aku tunggu! Biar kamu bengong kayak sapi ompong hingga tua berharap mendapatkan Marsha tidak akan kesampaian!” Ageng kembali mengejek Herman.
“Astaga benar-benar kamu itu teman tidak ada akhlak maunya goda orang saja!” ucap Herman emosi.
“Tidak usah nyolot! Itu kenyataan bro!” ucap Ageng semakin menjatuhkan Herman.
“Bodo amat! Emang gue pikirin!” ucap Herman dan terus memandangi jendela untuk melihat pemandangan yang ada di luar dan Ageng terus memacu kendaraannya menuju ke perusahaannya.
Sementara itu Sabrina yang sudah puas dengan menikmati beberapa es krim mengajaknya untuk naik kuda-kudaan mengitari lorong-lorong yang ada di mall.
“Astaga jangan ah! Aku malu dik dan lagian mana bisa badan ku sebesar ini mau naik kuda-kudaan seperti itu!” ucap Yasa namun berusaha mengganti dengan permainan yang lain namun Sabrina tetap ngotot untuk naik.
“Ya sudah sayang…, naik saja! Biar ditemani oleh Marsha!” ucap Yasa berniat menghindari agar tidak jadi naik kuda-kudaan.
“Tidak mau aku maunya juga sama kakak,” ucap Sabrina kembali merajuk hingga Yasa tidak kuasa menolaknya! Karena bagaimanapun Sabrina adalah kekasihnya yang harus memanjakannya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?
Hadir juga karya baru kami :
MISTERI MENANTU PENGGANTI
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Misteri Menantu Pengganti, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/fictionsWatch?id\=5024049&\_language\=id&\_app\_id\=2
Semoga karya ini juga bisa membuat pembaca terhibur. Harapan kami selaku penulis bisa
__ADS_1