Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Berkumpul


__ADS_3

Semua sahabat berkumpul di rumah Mita. Sementara itu Rara juga memiliki bayi kecil yang sangat cantik diberi nama Sabrina.  Sabrina lahir lebih ih awal dibandingkan dengan melatih Putri dari Mita.


 Dila beserta Suaminya mengajak Putri dan putranya ke rumah Mita.  Yasa nampak begitu senang bermain dengan Sabrina. Bahkan sesekali Yasa memangku Sabrina dan Sabrina pun nampak nyaman di pangkuan Sabrina.


“Adik Sabrina tidak boleh ngompol ya?” ucap Yasa sambil gemas mencubit pipi chubbynya Sabrina. Baru saja Yasa berhenti ngomong tiba-tiba Sabrina sudah ngompol di pangkuannya.


“Wah dik Sabrina kelihatannya betah deh di pangkuan aku! Tante tolong ganti celana Sabrina ya? Jangan lupa dipakaikan pampers sekalian! Aku mau ganti baju dulu” ucap Yasa kembali sambil berteriak sama tantenya untuk mengganti celana Sabrina. Setelah tante Rara datang Yasa pergi ngeloyor menuju mobil yang ada di halaman depan rumah tante Mita.


“Bu Dilla senang ya punya putra-putri yang sangat baik seperti mereka,” ucap Rara sahabatnya.


“Iya itu semua juga berkat didikan kamu. Kau selalu membimbingnya dengan baik ketika aku berada di luar kota!” ucap Dilla merendah.


“Asalamualaikum,” sapa Brenda yang baru saja tiba bersama suaminya dan putranya. Brenda melahirkan putra yang sangat tampan dan lucu yang diberi nama Adnan.


“Waalaikumsalam, wah ada dik Brenda. Ini kebetulan banget bisa berkumpul disini! Di acara perayaan 7 bulan kelahiran adik Melati,” ucap Dilla yang mempersilahkan adiknya duduk.


Sementara para bapak-bapak duduk di depan yang membicarakan masalah kerja dan dan urusan para lelaki.


“Dimas, ada rencana nambah lagi tidak? Setelah ada Melati?” tanya Tegar tiba-tiba kepada sahabatnya.


“Tak tahulah, aku begitu kasihan ketika melihat Mita begitu tersiksa dalam melahirkan dan harus menjalani operasi seperti itu!” ucap Dimas yang ngeri ketika menyaksikan istrinya kesakitan dan harus mengalami pendarahan seperti itu.


“Dim, melati butuh teman lo? Jadi anak tunggal itu tidak enak! Kamu juga merasakannya kan?” ucap Tegar pada sahabatnya.


“Iya sih! Tidak tahulah lihat besok saja! Kau sajalah yang nambah!” ucap Dimas kepada sahabatnya.


“Pasti dong! Kalau aku sih ingin 2 lagi biar lima!” ucap Tegar sekananya dan hal itu terdengar oleh Dilla yang ingin mengajak para bapa-bapak makan di ruang makan.


“Plak…,” Dilla memukul tangan suaminya.

__ADS_1


“Enak saja main nambah-nambah! Situ sih enak tinggal gak pernah merasakan bagaimana mengandung dan melahirkannya!” ucap Dilla.


“Ya kan tidak apa-apa dik, biar rumah kita ramai!” ucap Tegar terkekeh menggoda suaminya.


“Terserahlah! Sekarang yang terpenting makan dulu, sama Mita sudah disiapkan makanan spesial kesukaan kalian para bapak-bapak muda!” ucap Dilla sekenanya.


“Memangnya apa to dik? Makanan spesialnya?” tanya Tegar penasaran diikuti oleh yang lainnya.


“Sate gulai kambing muda, kata pak dokter Irfan biar tambah semakin kuat dan garang!” ucap Dilla sambil melirik suaminya.


“Mantap dong! Wah yang program ingin nambah Baby cocok nich! Ayo kita kesana!” ucap Dimas yang menyindir Tegar.


Mereka akhirnya menuju ruang makan dan diikuti oleh suasana hiruk pikuk anak-anak yang bermain di lantai.


Setelah ibu-ibu muda melayani suami mereka masing-masing, mereka kemudian disibukan dengan acara rumpi mereka yang terpotong karena melayani suami mereka yang sedang makan,


“Iya nich, Aku juga tidak kebayang dapat suami Kak Dimas yang dingin seperti bongkahan batu es yang sulit dilelehkan!” ucap Mita menyambung pembicaran mereka.


“Apalagi aku,  tidak menyangka dapat suami dokter Irfan yang sebenarnya menaksir Bu Dilla sejak dulu! Bahkan aku dulu sempat meragukan cintanya!” ucap Rara terang-terangan membahas suaminya yang dia tahu dulu naksir berat sama Dilla sahabatnya.


“Bukan naksir tahu,  dia itu hanya tidak ingin melepas tanggung jawab begitu saja karena mamaku dan tantenya begitu dekat sejak jaman sekolah. Jadi kak Irfan hanya ingin meringankan beban tantenya untuk menjaga aku!” ucap Dilla supaya tidak menyinggung perasaan sahabatnya.


“Sudahlah, kita lupakan masalah itu! Yang terpenting kita sekarang cocok dengan pasangan kita masing-masing! Dan kita berharap kedepannya tetap menjalin tali silaturahmi agar tidak terputus hubungan pertemanan dan persahabatan kita!” ucap Mita menyambung pembicaraan kita.


“Cocok nich, kalau bisa kita besok berbesan saja! Aku kan punya anak cowok dua jadi bisa dong nikah sama putri kalian?” ucap Dilla serius hingga membuat sahabatnya terkekeh mendengarnya.


“ Gila apa kamu, anak-anak kita masih kecil.  Soal jodoh biarlah mereka yang menentukan!” ucap Mita serius.


“Boleh juga tuh aku setuju dengan ide Dilla, kita jodohkan putri dan putra kita pasti seru nich!” ucap Rara antusias. Sementara itu brenda yang berada di situ hanya tersenyum melihat dan mendengar kedekatan mereka bertiga yang begitu akrab satu sama lainnya.

__ADS_1


Brenda merasa ciut nyalinya dihadapan mereka bertiga. Brenda yang adiknya Dilla tidak begitu dekat dengannya bahkan dulu pernah menyakitinya.


“Brenda ayo gabung dengan kita-kita! Cerita dong soal si kecil,” ucap Rara yang membuyarkan lamunan Brenda.


“Iya kak! Aku senang melihat kedekatan kalian. Aku banyak belajar dari kalian bahwa hidup itu perlu teman sehingga bisa menciptakan suasana yang begitu ramai dan sepi di hati!” ucap Brenda jujur yang selama ini dia hanya hidup untuk meraih materi saja tanpa memiliki teman.


“Janganlah kau ungkit masa lalu Brenda, yang terpenting masa sekarang saja. Kita harus menikmati hidup tanpa merepotkan orang lain! Ayo kita rayakan kebersamaan ini dengan makan bersama,” ucap Rara sok bijak padahal dia itu sebenarnya paling cuek diantara grupnya.


“Terima kasih Kak! Kalian benar-benar orang baik! Semoga kalian sealu mendapatkan Rahmat dari Allla SWT!” ucap Brenda kepada kakak dan teman-temannya.


“Sama-sama dik! yang terpenting kita bisa berkumpul disini dalam keadaan sehat?” ucap Dilla memberi motivasi untuk adiknya yang merasa bersalah di kehidupan masa lalunya.


Mereka pun berlanjut makan di ruang makan sedangkan anak-anak ganti yang djaga para suami mereka masing-masing. Baru menyuapkan makanan beberapa sendok ke dalam mulutnya tiba-tiba Tegar berteriak kalau Almaira tiba-tiba menghilang.


Dilla yang panik menemui Tegar dan ikutan mencari Alamira yang sudah tidak ada di dekat mainannya.


“Gimana sih pa kok bisa menghilang!” ucap Dilla panik. Dilla takut kalau Almaira ngeloyor pergi ke luar menuju jalan raya atau jatuh ke kolam renang yang ada di samping rumah. Dilla dengan teman-temannya berlari di kolam renang.


“Tidak mungkinlah ma, aku yakin Almaira ada di sekitar sini!” ucap papa Tegar yang terus manggil-manggil Almaira.


Almaira yang menggemaskan tiba-tiba nongol dari bawah meja.


“Ba…, papa nyari Almaira ya? Aku kesal papa sibuk bercerita sama om-om! Aku sembunyi saja di bawah meja!” ucap Almaira yang masih cadel.


“Alamira lain kali jangan buat papa jantungan ya nak!” ucap papa Tegar kepada putrinya dan dengan sigap langsung mendekap Almaira.


Semua orang mengelus dada mereka masing-masing melihat tingkah Almaira yang jahil. Almaira yang jahil mewarisi sikap dari papanya. Demikianlah kebersamaan mereka hari ini di tempat Mita.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya? Bagaimana pertemanan sahabat-sahabat kecil putra-putri mereka! Kita saksikan kisahnya ya?

__ADS_1


__ADS_2