
Setelah semuanya pergi, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu ruang perawatan Dilla. Mita membukakan pintu. Mita terkejut setelah mengetahui siapa yang datang.
“Maaf ada apa ya?” tanyanya begitu keras hingga membuat Dilla sadar kalau yang datang pasti Tegar bersama asistennya. Dilla langsung pura-pura memejamkan matanya karena dirinya masih malas bertemu dengan Tegar.
“Kami ingin bertemu dengan ibu Dilla. ceo kami ingin minta maaf atas kejadian kemarin,” ucap Dimas yang terkesan sombong seperti ceo-nya.
“Bu Dilla sedang istirahat jadi tidak biasa diganggu,” ucap Mita sekenanya karena Mita tahu kalau Dilla belum ingin bertemu dengan Tegar.
“Tolonglah kami nona manis. Kami hanya ingin minta maaf sebagai makhluk Allah agar kami kelak tidak berdosa dan masuk neraka karena tidak minta maaf atas kesalahan kami di dunia? Maukah anda menanggung beban kami jika kami masuk neraka?” tanya Dimas yang sengaja membuat Mita menyerah.
Mita nampak berpikir sejenak kemudian menjawab. “ Baik tapi tidak lebih dari 5 menit,” jawab Mita kemudian mempersilahkan mereka berdua.
Tegar berjalan mendekati Dilla yang terbaring di ranjang dan pura-pura sedang tertidur. Tegar membetulkan selimut Dilla yang sedikit menyingkap kemudian menaruh bunga di dekat ranjang Dilla. Tegar menggeser kursi penunggu untuk mendekatkan diri di samping Dilla. Tegar meraih tangan Dilla kemudian mengusap-usapnya sambil beberapa kali menahan nafasnya.
Dimas yang mengetahui kalau ceo-nya ingin berdua saja dengan Dilla kemudian mencari cara agar Mita dan dirinya bisa pergi dari ruangan bu Dilla. “Aduh, perutku sakit sekali, nona bisakah menolong aku? Antarkan aku ke kantin rumah sakit karena dari tadi saya belum makan,” pinta Dimas lirih untuk menarik simpati Mita.
“Kamu cari sendiri kan bisa? Kamu kan laki-laki dan punya mulut lagi? Bisa bertanya ke orang lain!” jawab Mita ketus, namun tidak membuat Dimas gentar.
“Nona mau menambah pahala kan? Dan aku tahu nona orang baik menolong orang yang sedang lapar itu pahalanya besar lo?” rayu Dimas yang telak membuat Mita luluh karena Mita memang dasarnya baik dan rajin menolong orang. Mita masih ragu hingga dirinya memandang Dilla sesaat tapi belum berani memberi jawaban.
__ADS_1
“Mita-mita dari dulu kamu tidak berubah, selalu kalah dan tergoda dengan cowok cakep dan seksi. Bisa celaka ini kalau dia pergi bersama Dimas,” gumam Dilla lirih.
Tegar yang tahu kalau Dilla pura-pura tertidur langsung memberi kode dengan isyarat mata agar Dimas segera pergi dari ruangan perawatan Dilla.
“Nona ayolah bantu aku. Kamu tidak kasihan kalau aku sakit lambung. Biasanya kalau lambung aku sakit itu sampai sebulan aku tidak bisa beraktifitas. Bisakah kamu bertangggungjawab karena tidak mau mengantarku cari makan? Dan maukah kamu merawatku selama satu bulan karena di kota ini aku tinggal sendiri,” tanya Dimas yang sengaja menyudutkan Mita.
Mita hyang merasa tersudut langsung menyetujui permintaan Dimas. “Baiklah. Mari saya antarkan!” Mita langsung pergi ke luar ruangan diikuti oleh Dimas. Tegar merasa puas dengan cara kerja Dimas. Tegar menyunggingkan senyumnya dan kembali fokus kepada Dilla.
“Masa sih rumah sakit sebesar gini di ranjangnya ada kecoa,” kata Tegar yang sengaja memprovokasi Dilla. Dilla yang jijik dengan kecoak serentak bangun dari ranjangnya dan melompat kepelukan Tegar.
“Kecoak? Mana kecoaknya?” tanya Dilla yang berada di pelukan Tegar sambil matanya mencari-cari kecoak di ranjangnya. Tegar tertawa kegirangangan melihat ulah Dilla.
“Tidak ada kok, yang ada ini kak Tegar,” ucap Tegar tanpa rasa bersalah hingga akhirnya Dilla berusaha melepaskan pelukannya namun Tegar memeluknya dengan erat tanpa memberi kesempatan sedikitpun kepada Dilla untuk melepaskan diri darinya.
“Silahkan teriak. Aku sudah tahu ini ruangan khusus untuk pemilik rumah sakit dan dirancang sedemikian rupa hingga tidak bisa di dengar oleh siapapun dari luar sana,” ucap Tegar santai.
“Dasar Ceo somplak. Lepaskan tidak aku akan mengigit kamu,” ancam Dilla kepada Tegar yang tetap saja tidak dihiraukan oleh Tegar.
“Silahkan, aku tidak masalah asal kamu puas,” ucap Tegar santai karena baginya Dilla tidak akan berani melakukan itu kepadanya, namun di luar dugaannya Dilla menggigit telinga Tegar. Tegarpun terkejut dan melepaskan Dilla.
__ADS_1
“Dik 5 tahun tidak ketemu dirimu kok jadi kanibal ya?” ucap Tegar sambil meringis kesakitan memegangi telinganya.
“Enak saja mengatakan kanibal. Memangnya aku saudarinya Sumanto apa?” Dilla bersungut-sungut sungut sambil kembali ke ranjangnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Dik, maaf. Tolong dengarkan aku ya? Aku kesini mau mengatakan kalau aku saat ini merasa bersyukur bisa bertemu dengan kamu. Sejak lima tahun yang lalu aku berusaha mencari kamu namun aku kehilangan jejak kamu. Dik, aku minta maaf waktu itu aku emosi dan khilaf. Aku keburu menghakimi kamu karena penolakan kamu hingga aku nekad melakukan perbuatan itu. Aku menyesal dan mencari kamu setelah tahu dari Dimas kalau kamu menolak aku hanya ingin menyelamatkan aku dari keserakahan ibu tiri kamu yang bekerjasama dengan om Lukas adik tirinya ayah Ardi,” Tegar menjelaskannya dengan panjang lebar namun Dilla tidak membalasnya sama sekali.
“Maaf kamu terlambat mas, nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah hilang kepercayaan aku terhadap kamu,” gumam Dilla lirih dibalik selimutnya. Tegar yang merasa diabaikan oleh Dilla yang tidak beraksi sama sekali langsung memohon kepada Dilla dengan memeluknya dan membisikan sesuatu ke telinga Dilla.
“Dik, aku siap melakukan apapun asal kamu mau memaafkan aku. Ku mohon berilah maaf untuk ku dik?” ucap Tegar lirih agar dikasihani oleh Dilla. Belum sempat memberi jawaban tiba-tiba ada suara anak-anak masuk hingga akhirnya Tegar pura-pura membetulkan selimut Dilla.
“Lo ada om Tegar ya? Bagaimana kabarnya om?” tanya Setya yang memang welcome dengan Tegar.
“Iya nak ini besuk mama kalian? Alhamdulilah sudah sehat. Om senang karena bagaimanapun kasus mama kamu kemarin tanggungjawab om,” ucap Tegar agar Setya tidak menaruh curiga kepadanya.
“Iya om mama tidak apa-apa. Ini hanya pemulihan saja karena rasa traumanya yang terjebak di ruangan yang sempit dan gelap. Dan nanti sore mama boleh pulang kok. Kalau om mau nanti bisa antarin mama pulang ke rumah sekalian nanti om bisa tahu rumah kami,” ucap Setya sopan hingga membuat Tegar semakin menyukai anak kecil tersebut.
“Baiklah nanti om yang antar kalian pulang ini sudah jam 2 kira-kira sore jam berapa ya? Soalnya om harus meeting di kantor,” ucap Tegar serius.
“Jam 17.00 wib om. Nanti om kita tunggu di sini ya? Mana ponsel om?” Setya langsung meminta ponsel Tegar dan memasukan nomor ponselnya ke dalam ponsel Tegar.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Dimas dan Mita kembali ke ruangan hingga akhirnya Tegar izin kembali ke kantor terlebih dahulu.
“Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.