
Yasa dan Setya Pergi ke perusahaan Papanya dengan diantar oleh mang Akri sopir dari Papanya. Yasa dan setia minta diturunkan di persimpangan jalan dekat perusahaan papanya.
Yasa dan Setya berjalan menuju perusahaan kemudian mengendap-endap melihat situasi agar bisa masuk dan menyusup ke dalam perusahaan Papanya. Semua Polisi terlihat berjaga di sekitar perusahaan Papanya karena kasusnya cukup besar terkait dengan perdagangan senjata ilegal dan kemungkinan adanya keterlibatan mafia besar.
“Dik…, kita masuk dari pintu samping Dek persis di ruang pengendali perusahaan. Di mana semua operasi terkait dengan CCTV perusahaan tersimpan,” Ucap Yasa kepada ada adiknya. nya
“ Kak..., pintu samping juga dijaga oleh Polisi dengan ketat. Kelihatannya kita tidak bisa masuk ke situ. Tapi hanya ada satu jalan keluar. kakak harus bisa mengalihkan perhatian penjaga tersebut, sehingga aku bisa masuk ke ruang CCTV,” ucap Setya dengan santai.
“ Baiklah, aku mencoba mengalihkan perhatian penjaga tersebut dengan mainan ku. Aku akan terbangkan pesawat aku dan akan aku arahkan ke semak-semak untuk mengalihkan mereka. Aku akan membuat pesawat ku jatuh sehingga aku akan pura-pura mencari pesawat aku,” ucap Yasa yang menjelaskan strateginya kepada adiknya.
“Baiklah Kak, nanti kalau siap Kak berilah kode dengan menyalakan lampu yang ada di pesawat kakak!” ucap Setya.
Tidak Berapa lama kemudian biasa mendekati lokasi dan menerbangkan pesawat mainannya dengan remote control. polisi yang berjaga di samping perusahaan merasa terganggu dengan mainan Yasa.
“Bang…, itu pesawat mainannya siapa ya? Berisik sekali dan mengganggu saja!”ucap penjaga satunya.
“Biarkan bang, paling juga anak-anak sekitar sini yang sedang bermain!” ucap penjaga yang lain.
Namun lama-lama dibiarkan pesawat tersebut benar-benar mengganggunya karena terbangnya semakin rendah hingga memekikkan telinga mereka. Ketika mereka hendak beranjak mencari seseorang yang menerbangkan pesawat tersebut, tiba-tiba pesawatnya menukik jatuh di semak-semak tak jauh dari mereka. Yasa dengan aktingnya berjalan menemui pak polisi penjaga tersebut.
“Hik…, hik…, om pesawat aku jatuh. Aku bingung tidak bisa mengendalikan remote kontrolnya hingga pesawat aku oleng tidak terkendali,” ucap Yasa pura-pura menangis dan mengelap air matanya dengan tangannya.
“Adik kecil, kelihatannya pesawatnya jatuh di sekitar semak-semak itu! Silahkan dicari ya? Om repot harus mengamankan tempat TKP ini!” jawab salah satu polisi penjaga tersebut.
Saat mereka berdua disibukan dengan Yasa, Setya langsung mengendap-endap masuk di ruang kontrol CCTV perusahaan. Dengan keahliannya Setya berhasil membuka pintu ruangan, tangannya dengan terampil menyalakan kembali komputer pengendali kemudian mengkopi kejadian seminggu sebelum kejadian penangkapan papanya. Dengan hitungan menit apa yang dibutuhkan bisa didapatkannya.
__ADS_1
Setya mengendap-endap hendak kembali namun diurungkan nya karena penjaga yang tadinya ngobrol dengan Yasa nampak siaga dengan memperhatikan sekelilingnya.
Yasa yang berhasil menangkap pergerakan saudara kembarnya langsung berusaha mengalihkan perhatiannya kembali.
“Hik…, hik…, om tolong bantu aku. Aku takut semak-semak apalagi kalau ada ular. Kalau pesawat aku tidak ketemu, aku akan dimarahi papaku! Karena minggu depan harus diikutkan kompetisi di Lanud Iswahyudi Madiun!” ucap Yasa merengek-rengek berusaha menyakinkan penjaga tersebut.
“Baiklah anak kecil ayo aku carikan!” Kedua penjaga tersebut langsung menemani Yasa untuk mencari mainan pesawatnya. Setya langsung bergerak keluar dari area dan berjalan menemui mang Akri yang ada di ujung persimpangan. Sementara itu Yasa berusaha mencari mainan nya ditemani kedua penjaga polisi yang bertugas.
Setelah beberapa saat mereka mencari tidak jauh dari tempatnya jatuh pesawat tersebut berhasil ditemukan namun sudah dalam keadaan hancur.
“Yah…, pesawat aku sudah hancur. Aku jadi gagal tidak bisa mengikuti lomba!” ucapnya melas. Kedua penjaga tersebut bersimpati kepada Yasa dengan menepuk punggung Yasa bermaksud memberi dukungan kepada anak kecil tersebut agar tidak bersedih.
“Sudahlah nak…, aku yakin papa kamu akan mengerti dan memaafkannya! Ini om kasih uang untuk beli yang baru ya!” ucap salah satu penjaga tersebut dengan memberinya dua lembar uang kertas yang sesungguhnya tidak cukup untuk membeli mainannya Yasa.
“Om tidak terbebani nak. Ayo terimalah…,” ucap polisi tersebut sambil memaksa memasukan uang tersebut di saku celana Yasa.
Setelah semua puing pesawatnya terkumpul, Yasa langsung pamitan untuk pulang. Sampai Yasa pergi kedua polisi penjaga tidak menyadari kalau dirinya dikelabui anak kecil tersebut.
Yasa kemudian kembali menyusul saudara kembarnya yang menunggunya di mobil bersama mang Akri.
“Aman dik! Ayo segera pergi,” ucap Yasa yang langsung masuk di mobil samping mang Akri. Mang Akri yang tahu keadaan genting langsung meluncur pergi pulang ke rumah.
Setelah sampai rumah Setya dengan bukti rekaman CCTV yang berhasil dia copy bergegas ke ruang kerja papanya. Setya langsung mengamati rekaman tersebut bersama saudara kembarnya.
Mereka sangat lama melihat dan mengenali beberapa kejadian yang ada di CCTV. Beberapa saat kemudian hampir membuat mereka putus asa karena tidak menemukan apapun yang dicurigai di dalam CCTV namun tiba-tiba Yasa berteriak kepada saudara kembarnya untuk menghentikan pergerakan rekaman CCTV tersebut.
__ADS_1
“Dik…, tolong berhenti di posisi itu! Perhatikan dan amatilah siapa mereka yang telah memberikan sesuatu kepada penjaga gudang kita!”
“Iya, kak! Wajahnya sangat familier, kayaknya kita pernah melihatnya!” jawab Setya sambil mengernyitkan keningnya seolah berusaha mengingatnya.
“Good…, aku tahu kak! Itu bapak Sentanu yang minggu kemarin menggoda mama dan bertengkar dengan papa! So sudah pasti itu pekerjaannya hendak menghancurkan papa dengan membalas dendam!” ucap Setya kepada saudara kembarnya.
“Betul sekali dik! Ayo copy semua bukti ini dan kau kirimkan kepada om Dimas!” ucap Yasa yang memberi komando kepada adiknya.
Dengan pergerakan cepat Setya mengirim file tersebut kepada om Dimas yang sebelumnya dia hubungi terlebih dahulu. Setelah berhasil terkirim dan dibuka oleh Dimas mereka berdua tos dengan kedua tangannya seolah merayakan keberhasilannya karena menolong papanya.
Sementara itu Dimas yang berhasil memperoleh buktinya langsung menyerahkan buktinya kepada tim penyidik. Tim Penyidik mempelajari bukti yang diberikan oleh Dimas karena memang senjata tersebut terbukti ada pihak lain yang dengan sengaja menyuap penjaga gudang .
Di dalam rekaman CCTV nampak penjaga gudang dibantu oleh orangnya Sentanu untuk memasukan senjata ilegal tersebut maka Tegar dinyatakan tidak bersalah sehingga dibebaskan dan diperbolehkan pulang.
Tegar tersenyum senang karena dirinya bisa bebas dan bisa berkumpul bersama istri dan kedua putranya. Tegar dibantu Dimas menyelesaikan berkas-berkas yang berhubungan dengan pembebasannya.
Di saat mereka keluar kantor polisi bertemu dengan Sentanu dan para anak buahnya yang ditangkap paksa oleh polisi. Tegar tersenyum sinis terhadap Sentanu dan berusaha tenang namun tiba-tiba Sentanu menarik pistol polisi dengan kedua tangannya yang terborgol.
“Dor…, dor!” senjata api tersebut tepat mengenai bahu Tegar hingga darah segar keluar dari tubuhnya. Semua orang panik dan merebut kembali senjata yang berada di tangan Sentanu. Polisi pun dengan sigap langsung menghajar Sentanu hingga babak belur kemudian memasukkannya ke dalam sel tahanan.
Sementara itu tegar langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Tegar dimasukan dalam ruang operasi untuk diambil peluru yang bersarang dalam tubuhnya. Tegar masih tersadar karena peluru yang mengenai tubuhnya tidak begitu dalam.
Dimas yang khawatir dengan kondisi Tegar sengaja tidak memberitahu Dilla dan kedua putranya ditakutkan akan berpengaruh buruk terhadap kehamilan Dilla.
Terimakasih para pembaca yang setia semoga menghibur, kami juga menunggu kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya.
__ADS_1