Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Putuskan hubungan


__ADS_3

Sekembali dari rumah sakit Tegar langsung menuju ruangannya, Tegar mencari beberapa berkas dan menyampaika kepada Dimas. “Dim ini berkas-berkas perusahaan pak Bagas, tolong kau pelajari dan cabut semua Kerjasama dengan perusahaannya. Berilah pelajaran untuknya. Aku tidak ingin menjalin kerjasama dengan orang yang super arrogant dan hampir mencelakai anak kecil. Putuskan hubungan semua hal terkait dengan perusahaan Bagas,” ucap Tegar serius.


“Lo…, aku rasa tadi hanya gertakan bos saja! Ok, akan aku laksanakan! Nanti aka aku proses dengan pengacara kita!” ucap Dimas serius sambil mempelajari beberapa berkasnya. “Bos pengajuan kasus ke pengadilan jadi dilanjutkan tidak?” tanya Dimas setelah melihat beberapa lembar berkas yang berada di tangannya.


“Jadi lah, biar semua tahu kalau orang tersebut merupakan pengusaha yang tidak punya hati dan beraninya sama anak kecil,” ucap Tegar tegas.


“Ok, akan aku laksanakan,” Dimas langsung pergi meninggalkan bosnya.


Sementara itu Dilla sudah sampai di rumahnya, Dilla menyiapkan makan siang untuk kedua putra kembarnya dengan masakan kesukaan mereka berdua. Di meja makan Setya yang usil tiba-tiba merebut makanan yang ada di piring sang kakak. Mereka berdua ribut dan membuat susana jadi gaduh.


“Kak Yasa, aku minta ayam goreng punya kakak kelihatannya gurih banget?” ucap Setya yang langsung mengambil darinpiring sang kakak.


“Dik, itu kan masih banyak kenapa harus ambil punya kakak,” tanya Yasa kesal dan Setya menyeringai nakal sambil menggoda kakaknya.


“Sayapnya udah gak ada kak. Aku suka sayap,” ucap Setya sambil memakan ayam gorengnya dengan lahap.


“Sini, punyaku. Enak saja langsung merebut punya kakak, lain kali biasakan minta baik2 dik!” ucap Yasa kesal dan langsung merebutnya kembali.


“Kak, itu punyaku. Kakak tidak sayang sama adik,” Setya langsung berusaha merebut kembali ayam goreng yang sudah berada di tangan Yasa.


“Dik aku bilang tidak ya tidak! Belajarlah jadi pribadi yang baik. Terimalah apa yang ada di depanmu, janganlah kau menilai kalau milik orang lain itu lebih baik dari apa yang kamu miliki,” ucap Yasa bijak namun Setya tidak memperdulikan perkataan kakaknya.


“Kak Yasa pelit dan tidak sayang sama aku,” ucapnya langsung ngambek meninggalkan meja makan dan masuk ke kamarnya.


“Setya, mau kemana kamu. Makan dulu nak?” ucap Dilla penuh dengan kesabaran.


“Nggak. Aku ngak mau makan, selera makanku turun,” Setya tidak memperdulikan ucapan mamanya lagi.


“Yasa, kau lihat adikmu. Dan bawakan makanan untuknya kasihan nanti dia lapar!” ucap Dilla bijak.


“Iya ma, tapi aku selesaikan makanku dulu,” ucap Yasa yang terus menikmati makannya. Dilla menghela nafasnya melihat kelakuan kedua buah hatinya.

__ADS_1


“Memang buah tidak jauh dari pohonnya, putraku dua-duanya memiliki sifat sama persis dengfan papanya, sama-sama keras kepala dan egois,” gumam Dilla lirih.


Yasa melanjutkan makannya dengan lahap, setelah selesai makan langsung menghampiri Setya ke kamarnya namun dicari-carinya tidak ketemu.


“Dik…, adik dimana?” Yasa bingung mencari adiknya hingga ke taman belakang dan halaman depan tapi juga tidak ketemu.


“Tuan kecil cari siapa?” tanya si mbok yang tahu kalau Yasa mondar mandir di taman dan haalaman belaakang.


“Setya mbok, tadi ngambek minta makanan ku dan kita bertengkar. Aku kira tadi ke kamar tapi tidak ketemu,” ucap Yasa panik. Si mbok juga ikut membantu mencarinya namun sudah satu jam lebih tidak ketemu dengan Setya bahkan semua orang termasuk satpam dan sopir di rumahnya tidak menemukannnya.


“Hikk…, hikk, ini salah aku. Ma…, mama adik ada dimana?” Yasa menangis menghampiri Dilla.


“Nak jangan menangis, mari kit acari adikmu bersama-saama,” Dilla menghapus air mata Yasa dengan kasih sayang. Kemudian meintanya duduk di sofa dan langsung menelpon Mita.


“Mita, tolong kerahkan semua orang kepercayaan kita untuk mencari putraku Setya. Aku mengignginkan dia lekas ketemu,” ucap Dilla melalui ponselnya.


“Ok bu. Akan segera kami lakukan!” ucap Mita yang berada di rumah makan bersama Dimas. Mita sibuk menelpon sesorang hingga membuat Dimas merasa terabaikan.


“Setya hilang, dan semua orang mencari di rumahnya namun tidak diketemukan!” jawab Mita serius sambil menelpon semua orang kepercayaannya untuk membantu mencarinya.


“Apa? Bagaimana bisa seperti itu?” tanya Dimas yang tidak percaya karena baru sejam yang lalu bersama dengan dirinya dan bosnya.


“Entahlah aku juga belum tahu, ayo kita segera ke rumah dan kita lihat CCTV rumah bu Dilla,” ucap Mita langsung berdiri dari tempat makannya sedangkan Dimas langsung memanggil pelayan dan meninggalkan beberapa lembar uang untuk membayar makanannya.


“Tuan, kembaliannya?” teriak pelayan restoran.


“Ambil saja buat kamu,” Dimas langsung berlalu meninggalkan restoran bersama Mita.


“Mit…, kamu yang pegang kemudi aku mau telpon bos Tegar. Bagaimanpun bos Tegar harus tahu kondisi putranya,” ucap Dimas dan langsung menelpon bosnya. Dan tidak lama kemudian dari seberang sana muncul suara bos Tegaar.


“Iya Dim, ada apa?” tanya Tegar dari seberang sana.

__ADS_1


“Bos, Setya hilang dari rumah. Ini kita meluncur ke rumah bu Dilla. Anak buaah kita juga sudah aku kerahkan untuk mencarinya. Namun juga belum menemukannya karena kemungkinan sudah berada di luar rumah,” ucap Dimas kepada bos Tegar.


“Baik, segera lakukan yang terbaik untuk mencari putraku,” ucap Tegar dan langsung menyambar kunci mobilnya dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan kencang menuju rumah Dilla.


Tidak lama kemudian Tegar tiba di rumah Dilla, dengan perasaan tidak menntu langsung menemui Dilla.


“Sayang, apa yang terjadi dengan Setya?” tanya Tegar panik.


“Maafkan aku papa o, tadi adik bertengkar dengan aku, aku yang tidak bisa menjaganya. Ini salahku harusnya aku tidak egois dan mau mengalah sedikit untuknya,” ucap Yasa menangis menghampiri Tegar.


“Sudahlah nak, ayo kita ke ruang pengendali CCTV kita lihat apa yang terjadi dengan Setya,” ucap Tegar kepada Yasa. Dan tidak lama kemudian Dimas dan Mita datang. Akhirnya mereka menuju ruang kerja Dilla dan mencari rekaman CCTV 2 jam yang lalu.


Mita langsung memutar rekaman CCTV yang diarahakan ke waktu 2 jam yang lalu, namun yang nampak hanya Setya yang keluar dari kamarnya kemudian menuju halaman depan dan anehnya Setya melewati pintu depan tanpa sepengetahuan satpam.


“Satpam rumah kamu dimana? Kenapa membiarkan Setya keluar gerbang tanpa sepengetahuannya? Dasar satpam tidak becus,” ucap Tegar kasar.


“Mita kau panggil satpam kita ke sini?” apa kerjanya hingga mereka tidak tahu kalau putraku ke luar rumah.


“Maaf bu, bukankah kemarin satpam kita izin pulang kampung untuk menjenguk orang tuanya yang sakit?” ucap Mita sopan.


“Astaga kenapa aku melupakan hal itu?” ucapnya lemas.


“Sudahlah bu Dilla jangan kuatir, anak buah pak Tegar akan membantu mencarinya. Pak Tegar akan melakukan pencarian yang terbaik untuk Setya,” ucap Dimas menenangkan bu Dilla.


“Yasa adakah sesuatu yang bisa kita kerjakan untuk membantu segera menemukan adik kamu,” tanya Tegar kepada Yasa. Dan Yasa nampak berpikir sejenak kemudian mengingaat sesuatu.


“Aku juga pernah memberinya jam pelacak untuknya, ayo kita lihat lokasinya,” ucap Yasa sambil mencari alatnya namun alatnya menunjukan kalau Setya masih berada di dalam kamarnya. Mereka langsug rame-rame menuju kamar Setya namun merekan hanya mendapatkan jam pelacaknya tergeletak di meja kamar.


Mama Dilla putus asa dan pingsan karena begitu terluka melihat kenyataan kalau putranya hilang jtanpa jejak. Tegar langsung menggendongnya masuk ke kamar dan menenagkannya.


Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2