Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Balasan


__ADS_3

Hari ini Abiyasa dan saudara kembarnya ingin pergi ke mall untuk mengikuti lomba menggambar, namun tidak ada yang mengantarnya. Dilla yang berada di ruang keluarga didatangi oleh Abiyasa. 


“Ma, aku hari ini mau mengikuti lomba menggambar tapi tidak ada yang mengantar. Ini bagaimana? Tante Mita juga tidak ada karena menghadiri meeting dengan perusahaan yang menjadi rekan kerja kita,” ucap Abiyasa kepada mamanya.


“Om Dimas apa tidak bisa mengantar?” tanya mamanya.


“Tidak ma. Bagaimana kalau aku naik grab saja!” tanya Abiyasa kepada mamanya.


“Janganlah…, biar mama saja yang mengantar kamu! Kamu tunggu sebentar ya?” Dilla mematikan televisinya kemudian berjalan menuju ke kamar untuk ganti baju. Setelah siap mengganti bajunya Dilla  mengajak Putranya untuk segera berangkat.


Dilla mengemudikan kendaraannya dengan santai dan tidak berapa lama kemudian sampai di tempat acara. Kedua putranya langsung bergabung mengikuti lomba, sedangkan Dilla menunggu mereka di cafe dekat acara tersebut.


Dilla memesan minuman dan cemilan kecil untuk menunggu anaknya yang mengikuti lomba. Berapa menit kemudian Dilla mendapat telepon dari suaminya.


“Sayang, kamu  ada dimana?” tanya Tegar kepadanya.


“Aku ada di mall menemani kedua putra kita mengikuti lomba,” jawabnya santai.


“Apa? kamu mengemudikan mobil sendiri?” tanya Tegar yang berada di seberang sana.


“I...ya? Memangnya kenapa?” tanya Dilla kepada suaminya.


“Astaga sayang? Kamu kan lagi hamil? Kenapa harus mengemudi sendiri?” ucap Tegar yang penuh rasa kuatir.


“Memangnya kenapa? Dulu saya hamil si kembar itu juga tidak ada masalah.  Waktu itu aku juga mengalami  titik  tersulit, tapi buktinya mereka berdua terlahir sehat dan cerdas,”ucap Dilla yang masih membela dirinya.

__ADS_1


“Sayang, Kamu itu kalau dibilangin kok tidak bisa ya? Aku sangat mengkhawatirkan kamu. Tolong kamu share lokasi kamu, aku mau jemput kamu!” ucap Tegar cemas dan langsung berdiri mengambil kunci mobilnya dan berjalan menuju parkiran.


Setelah menerima share lokasi dari Dilla, Tegar menyalakan mobilnya meluncur pergi ke tempat yang Dilla kirim.


“Aku heran sama Kak Tegar itu, begitu saja kok dibuat repot,” gumamnya lirih sambil mematikan ponselnya berlanjut menikmati minumnya. Namun baru menikmati minumnya beberapa teguk tiba-tiba Dilla dikejutkan dengan suara seseorang yang menurutnya tidak asing lagi.


“Dasar anak tidak tahu diuntung, dibesarkan dari kecil ternyata balasan kamu seperti ini!” teriak seorang wanita yang tiba-tiba menyerang dirinya.


“Bruk…,” Dilla terjatuh dari kursinya karena dorongan wanita tersebut yang tak lain adalah tante Lusi.


“Ma…, mama Lusi. Apa yang anda lakukan? Dan apa salah aku?” tanya Dilla yang tidak mengerti dengan serangan tante Lusi secara tiba-tiba.


“Apa? Kamu tidak mengerti ya? Kau ambil rumahku dan kau usir aku masih bertanya apa salahku?” tanya mama Lusi dengan kasar kepada Dilla.


Tante Lusi kembali mendekati Dilla yang masih terduduk di lantai dan hendak menyerangnya kembali dengan menampar Dilla namun belum sempat dirinya menyentuh Dilla tiba-tiba ada tangan kekar yang menangkapnya.


“Aku tidak peduli,  semua sumber permasalahan aku ada pada dirinya!” ucap Tante Lusi semakin menggila dan berusaha menerobos Tegar untuk melanjutkan aksinya menyerang Dilla.


“Sekuriti…, tolong bawa perempuan ini keluar dari sini. Kalau perlu aku akan melaporkan kasus ini kepada polisi!” perintah Tegar kepada security yang sudah berada di dekatnya ketika mendengar keributan di cafe tersebut.


“Baik…, pak! Ayo nyonya anda harus ikut kami di pos, biar semua kasus anda diselesaikan oleh pihak berwajib,” ucap security tersebut.


“Tidak…, aku tidak mau dan aku tidak bersalah. Semua yang aku lakukan benar adanya!” teriak tante Lusi hingga menarik perhatian semua pengunjung yang ada di mall. Tante Lusi akhirnya diseret paksa oleh security menuju pos.


Sementara itu Dilla merintih kesakitan menahan rasa sakit yang ada di perutnya. “Sayang…, perut aku sakit,” ucapnya setelah ditolong oleh Tegar.

__ADS_1


Tegar dengan segera menggendong Dilla menuju parkiran dan melarikan dirinya menuju rumah sakit. Tidak berapa lama kemudian Dilla mendapat pertolongan pertama oleh dokter kandungan yang biasa ia pakai ketika kontrol ke rumah sakit.


“Maaf pak Tegar, kandungan ibu Dilla masih beresiko mengalami keguguran. Pak Tegar harus menjaga ibu Dilla dengan baik!” jelas dokter kandungan yang menangani kehamilan ibu Dilla.


“Iya ibu…, ini semua di luar batas kemampuan saya. Saya terlalu sibuk bekerja hingga lepas kontrol tidak bisa memantau aktivitas istri saya!” ucap Tegar dengan menghembuskan nafasnya karena khawatir dengan keselamatan bayinya.


“Untuk hari ini, ibu harus istirahat di rumah sakit kembali kira-kira satu pekan lagi biar keadaannya stabil. Dan sekarang kita pindahkan di ruang perawatan agar bisa beristirahat dengan tenang!” ucap sang dokter kepada Tegar setelah memberikan resep obat.


“ Baik dokter. Kami menurut saja apa perintah dokter!” ucap Tegar kepada dokter tersebut karena memang sesungguhnya dirinya sangat tenang jika Dilla untuk sementara di rawat di rumah sakit.


Setelah masuk ruangan dan Dilla sudah tampak tenang dan tertidur pulas, tegar langsung menelpon dimas untuk menjemput kedua putranya yang berada di mall.


“Baik pak…, aku akan berangkat kesana!” ucap Dimas dari seberang sana kemudian langsung meluncur menuju lokasi kedua putranya Tegar. Dan tidak begitu lama Dimas sudah berada di tempat lomba si kembar. Dan kebetulan acara sudah hampir selesai dan pengumuman pemenang lomba.


Si kembar Yasa dan Setya mendapatkan juara 1 dan 3, akan tetapi kedua bocah kembar tersebut merasa kecewa karena diumumkan kalau orang tua dari peserta yang mendapatkan lomba harus naik ke atas menemani mereka untuk memperoleh hadiah. Dimas yang kebetulan sudah hadir langsung naik ke panggung.


Si kembar langsung terkejut melihat yang mendampinginya om Dimas  bukan papanya dan mamanya.  Acara serah terima penghargaan selesai,  langsung saja Dimas mengajak si kembar untuk menuju rumah sakit.


“Om…, kenapa yang hadir om Dimas? Kemana mama? Bukankah tadi yang datang mama?” tanya Yasa cemas.


“Mama berada di rumah sakit. Dan sekarang telah ditunggu papa jadi mereka tidak bisa kesini dan yang mendampingi kalian naik ke panggung terpaksa om Dimas,” ucap Dimas pelan sambil memberi pengertian kepada si kembar.


“Mama sakit apa? Bukankah tadi baik-baik saja?” tanya Setya.


“Mama jatuh karena didorong oleh oma Lusi dan harus dilarikan di rumah sakit. dan untungnya papa Tegar datang pada saat yang tepat jadi mama dan adik bayi bisa terselamatkan,” jelas Dimas kepada si kembar agar mereka berdua tidak mengkhawatirkan mamanya.

__ADS_1


Si kembar langsung terdiam dan sejenak mereka membacakan do’a untuk kesembuhan mama dan calon adiknya yang masih di dalam kandungan mama Dilla.


Dimas sangatlah menyukai pribadi mereka berdua hingga Dimas memperlakukan mereka seperti keponakannya sendiri.


__ADS_2