
Hubungan Yasa dan Sabrina sudah mencapai taraf tunangan tinggal menunggu masa pernikahan. Dimana kamrin disepakati oleh kedua belah keluarga untuk menikahkan mereka setelah Sabrina lulus kuliah.
Dokter irfan yang merasa kuatir dengan perkembangan putrinya meminta Tegar untuk segera menikahkan putranya dengan Sabrina putrinya.
“Tegar, aku sebagai orang tua Sabrina merasa kuatir dengan hubungan mereka. Bagaimana kalau kita nikahkan saja!" ucap Irfan disaat mereka ngobrol bersama di lapangan golf ketika olahraga.
"Setuju, aku juga sangat merindukan cucu juga. Kayaknya kalau tambah cucu keluarga kita semakin ramai," ucap Tegar sambil memukul bola golfnya.
"Ok, aku dan Rara menunggu konfirmasi keluarga kamu sebagai pihak laki-laki," ucap Irfan santai.
"Iya, nanti aku sama Dilla tak usahakan ngobrol dan sekalian aku tanyakan skedulnya Yasa biar bisa ketemu jadwal yang pas dan bisa mengumpulkan semua keluarga besar kita, " ucap Tegar sambil membereskan alat-alat golfnya ke dalam tasnya.
Tegar pulang dengan perasaan senang karena apa yang menjadi impiannya juga mendapat Respon yang baik oleh dokter Irfan yang akan menjadi calon besan nya.
“Ma…, aku pulang!” ucap Tegar begitu sampai di rumahnya. Tegar langsung mencari istrinya ke ruang keluarga kemudian mencium keningnya. Tegar menarik tangan Dila untuk duduk di dekatnya.
“ Sayang, aku tadi ngobrol dengan Irfan kalau rencana pernikahan Yasa dan Sabrina agar dipercepat. Irfan sama sepertiku, dia ingin segera memiliki cucu dari mereka berdua,” Ucap Tegar kepada istrinya.
“ Baiklah, nanti kita minta Dimas dan Mita untuk menyiapkan segala sesuatunya,” aku dengar Putra kita bulan depan juga ada rencana ke luar negeri. Jadi aku usul kalau mereka menikah sebelum biasa pergi ke luar negeri. sehingga nanti biasa bisa sekalian menikmati bulan madunya bersama Sabrina ke luar negeri. Kalau ndak salah Aska kemarin menyebutnya ke Jepang,” ucap mama Dilla menjelaskan rencananya kepada suaminya.
“Ma…, siapa yang ke jepang?” tanya Almaira tiba-tiba.
“Kakak Yasa sayang?” ucap mama Dilla yang masih asyik ngobrol dengan papa Tegar.
“ Wah, seru dong. Aku juga ingin ikut, keliling menikmati keindahan wisata di negara Jepang,” ucap Almaira tiba-tiba.
“Hus…, mana bisa seperti itu! Kakak kamu di Jepang tidak liburan sayang tapi kerja dan sekaligus menikmati bulan madunya,” ucap papa Tegar menjelaskan pada putri kesayangannya.
“Astaga kapan kakak menikah? Gimana nih ma, kakak belum menikah malah dikasih izin bulan madu?” ucap Almaira sambil menutup mulutnya yang masih ternganga heran dengan kekonyolan kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Iya sih, mereka belum menikah. Untuk itu kita akan segera menikahkan mereka sebelum kepergian kakakmu ke Jepang,” jelas mama Dilla kepada putri kesayangannya.
“Wah gagal dong rencana liburan aku!” ucapnya sambil bergelayut manja di lengan papanya. Tegar dengan kasih sayang mengusap rambut Almaira yang tergerai panjang.
“Sayang kamu yang tenang nanti kapan-kapan sama papa dan mama pergi ke Jepang!” ucap papa Tegar untuk meredakan kekecewaan putrinya.
“Iya, deh. Terserah Papa dan Mama saja, yang terpenting untuk saat ini uang saku Almaira dinaikkan!” ucapnya manja ingin mendapatkan kompensasi dari papanya.
“Iya…, iya bawel papa akan naikan uang saku kamu tapi jangan di habis-habiskan ya?” ucap papa Tegar memencet hidung mancung putri kesayangannya.
“Terima Kasih papa!” ucap Almaira sambil mencium pipi kanan papa Tegar.
“Ini ya anak gadis mama, sama mama kok cuek banget ya? Sini cium pipi mama juga ya?” ucap mama Dilla kepada putri tercintanya. Almaira dengan spontan langsung mencium pipi mamanya.
“Ih mama. Cemburu ya sama papa karena mendapat perhatian lebih dari Almaira,” ucap putri tercinta mereka menggoda mamanya.
“Mama bener-bener mama yang sangat baik untuk kita semua. Terimakasih ma,” Almaira langsung mengecup pipi mamanya. Dan kemudian bergantian duduk di dekat mama tercintanya.
“Wah seru nich kayaknya,” ucap Yasa yang tiba-tiba hadir di tengah mereka.
“Wah kebetulan nich, tadi papa diminta om Irfan untuk klarifikasi masalah pernikahan kamu dan Sabrina. Mereka meminta kamu segera menikahi Sabrina,” jelas papa Tegar kepada putranya.
“Gampang itu pa. Minggu depan pun aku juga siap!” ucap Yasa penuh percaya diri.
“Bagus kalau begitu, besok segala sesuatunya kamu urus untuk perlengkapan administrasinya. Om Dimas dan tante Mita biar mengurus kelengkapan dan peralatan untuk menikahnya,” ucap papa Tegar.
“Iya pa, tapi sebenarnya kita tidak perlu ribet, karena semuanya kita serahkan Event Organization yang dikelola oleh tante Mita saja!” ucap mama Dilla kepada putrnya.
“Terus untuk baju bagaimana pa…, ma!” ucap Alamira tiba-tiba.
__ADS_1
“Kita pakai butik kita sendiri saja sayang, semua karyawan nanti kita kerahkan untuk mendesain dan membuat baju kita,” ucap mama Dilla santai.
“Iya dong! Jangan lupa kerabat kita harus kita undang semuanya. Segera beritahu mereka untuk pergi ke butik. Ini tugas Almaira untuk memberitahu lewat grup besar keluarga kita!” perintah mama Dilla kepada putrinya.
“Siap ma! Yang terpenting cuan untuk beli pulsa ya?” ucapnya yang langsung meminta kepada mamanya.
“Sayang kan jatah uang jajan kamu masih?” ucap mama Dilla kepada putrinya.
“Iya dik! Lagian pulsa seratus ribu saja, kamu minta pulsa? La uang jajan kamu kan lebih dari itu?” ucap Yasa yang gemas dengan tingkah adiknya.
“He…, he…, ini beda kak! Ini kan untuk kepentingan kakak! Kakak bisnisman sedang aku kan masih kuliah,” ucap Almaira cengar-cengir di depan kakaknya.
“Iya deh nanti kakak transper kamu!” ucap Yasa kepada adiknya.
“Ok…, semuanya siap! Mama dan papa senang karena tahun depan kita pastikan sudah ada cucu tercinta yang segera hadir di keluarga kita!” ucap mama Dilla dengan senyuman kegembiraan karena impiannya akan segera terwujud menjadi nenek di usianya yang masih terbilang muda.
Sementara itu Yasa yang sudah ngobrol dengan kedua orang tuanya berniat memberi kabar kepada Sabrina tentang pernikahannya yang dipercepat.
“Sayang…, kita menikah minggu depan! Besok akan aku urus segala sesuatunya,” ucap Yasa melalui vidio callnya yang sangat mengejutkan Sabrina.
“Astaga sayang…, ini terlalu cepat! Kita kan belum mempersiapkan segala sesuatunya?” ucap Sabrina di seberang sana sementara itu dokter Irfan yang mencuri dengar perkataan putrinya sangat gembira dan menimbulkan kegaduhan sehingga terdengar oleh Sabrina. Sabrina pun meminta Yasa untuk mengakhiri video callnya. Kemudian Sabrian menghampiri papanya yang langsung terdiam begitu Sabrina menghampirinya.
“Astaga papa, Sabrina yakin ini pasti ulah papa! Papa harus ngaku kenapa Yasa ingin mempercepat pernikahan kita?” tanya Sabrina kepada papanya yang hanya mengangkat bahunya sebagai tanda kalau dia tidak mengetahui apapun tentang rencana Yasa.
“Memangnya kenapa? Aku ras itu hal yang wajar. Kamu harusnya bersyukur karena Yasa sangat mencintaimu dan segera meresmikan hubungan kalian dalam suatu pernikahan. Itu menunjukan kalau Yasa merupakan lelaki yang bertanggung jawab akan kehidupan kamu. Papa sangat mendukung itu!” ucap papa Irfan menasehati putrinya.
“Iya pa! Tapi SAbrina masih muda pa? Sabrina belum siap untuk menikah sekarang!” jawab Sabrina namun mamanya yang mengetahuinya berusaha menjelaskan kepada Sabrina kalau menikah itu tidak perlu ditunda. Sabrinapun akhirnya mengerti dan menerima semua keputusan Yasa dan keluarganya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?
__ADS_1