
Tegar dan tim berusaha mencari Dilla hingga masuk ke hutan namun tidak kunjung ditemukan. Waktu menjelang malam dan hujan pun mulai turun. Tegar panik akhirnya memberitahu pihak polisi di daerahnya. Namun pihak kepolisian menghentikan pencarian karena cuaca yang tidak mendukung karena hujan dan angin serta petir tiba-tiba datang.
“Dim, bagaimana caranya kita harus mencari Dilla hingga ketemu. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Dilla. Yasa dan Setya masih membutuhkannya. Dan aku yakin pasti terjadi sesuatu dengan Dilla, tidak mungkin dia menghilang begitu saja karena waktu kejadian aku mengejarnya. Dan entah mengapa dia seolah-olah tidak meninggalkan jejak sama sekali. Mungkinkah Dilla dicelakai oleh orang lain?” ucap Tegar cemas.
“Mana bisa begitu bos, janganlah berprasangka dulu, kita sisir semua hutan di sekitar resort kita! Kita berdo’a saja bu Dilla tidak apa-apa!” ucap Dimas kepada Tegar agar tidak panik.
“Aku coba hubungi bu Dilla juga tidak bisa, kemungkinan ponselnya mati atau tidak ada sinyal,” ucap Mita cemas.
“Coba kita pikirkan sesuatu, bisakah kita membuat alat untuk melacak keberadaan seseorang?” tanya Dimas kepada Tegar.
“Dim…, jangan ngacau kamu mana bisa kita membuat alat seperti itu?” ucap Tegar yang semakin kesal dengan Dimas karena tidak memberinya solusi tapi malah memberinya solusi yang jelas-jelas tidak bisa dilakukan.
“Alat Pelacak?...hai aku ingat Setya pernah memberi mamanya jam tangan yang super canggih dan bisa dilacak keberadaannya melalui aplikasi yang diciptakan oleh Setya,” Mita teriak kegirangan karena menemukan solusinya.
“Dim, kalau begitu coba kamu hubungi Setya yang kebetulan sekarang bersama dengan ayah Ardi!” perintah Tegar kepada Dimas.
“Siap pak bos,” ucap Dimas sambil menekan tombol calling kepada ayah Ardi dan tidak lama kemudian tersambung dengan ayah Ardi.
“Iya Dim…, ada apa kok kelihatannya penting sekali? Bukankah kalian bersenang-senang di resort?” tanya ayah Ardi di seberang sana.
“Ini pak. Bu Dilla menghilang dan sampai sekarang belum ditemukan?” Dimas memberitahu kepada pak Ardi.
“Apa? Menghilang? Kenapa bisa begitu?” tanya ayah Ardi yang kaget hingga terdengar oleh Setya.
“Kek…? Siapa yang menghilang?” tanyanya cemas karena dirinya merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
__ADS_1
“Mama Dilla nak, ayo kita segera menyusul kesana!” perintah kakek Ardi kepada sopirnya dan kedua bocah kembar itu juga merasa cemas.
“Kek, bisakah kakek mengantar aku pulang ke rumah? Aku mau mengambil alat pendeteksi keberadaan mama,” ucapnya memohon.
Baiklah…, kita mampir ke rumah kamu dulu baru berangkat menuju puncak,” ucap Kakek dan langsung memerintahkan sopirnya menuju rumah Yasa dan Setya. Setelah sampai di rumahnya, Setya dibantu oleh Yasa mengambil semua perlengkapan untuk melacak keberadaan mamanya.
Setelah semuanya beres, mereka langsung meluncur ke puncak. Sementara itu di puncak dekat resort semua orang masih sibuk mencari Dilla. Bahkan tim Sar dari kepolisian juga digerakkan tapi tak bisa menemukan Dilla.
Setya yang datang langsung memeluk Tegar dan dengan tenang dia mengeluarkan alat untuk mendeteksi keberadaan mamanya.
“Om tampan, apa yang terjadi dengan mama? Bukankah mama selama ini takut gelap dan petir? Dan kenapa om Tampan tidak bisa menjaga mama?” tanya Setya sambil mengotak-atik alat pelacaknya.
“Maafkan om tampan nak? Om tampan janji akan mencarinya hingga ketemu! Bagaimana nak, bisakah kamu melacak keberadaan bunda kamu?” tanya Tegar dengan perasaan bersalahnya.
“Terus bagaimana ini? bisakah alat ini memberi petunjuk yang akurat?” tanya Tegar yang takut kecewa.
“Aku jamin kalau alat ini bisa membantu untuk menemukan mama!” ucap Setya penuh percaya diri kemudian langsung memainkan alatnya dan berjalan menuju hutan diikuti oleh Tegar dan Dimas.
“Hai…, hai…, apa tidak sebaiknya kamu menunggu sama kakek dan Yasa saja biar kita berdua yang masuk menyisir hutan kembali.
“Baiklah kalau begitu om tampan harus bisa mengoperasikan alat ini!” ucap Setya langsung memberi tahu caranya kepada Tegar.
Tegar langsung meminta alat itu dari Setya dan mengikuti kemana alat tersebut terbang, dan Dimas selalu menemaninya.
Sementara itu Dilla yang berlari dari Tegar tiba-tiba tanpa disadarinya masuk di tengah hutan. Dilla yang berada di tengah hutan sangat ketakutan. Karena panik Dilla tidak bisa mengendalikan dirinya.
__ADS_1
“Buk…,” kakinya menyandung batu hingga akhirnya membuat Dilla terperosok di jurang yang kira-kira kedalaman 3 meter dan dibawah kepalanya terbentur dengan batu hingga tidak sadarkan diri. Beberapa jam kemudian Dilla membuka matanya dan mengerjap-ngerjapkan matanya namun yang ada hanya gelap malam, hujan angin dan petir. Dilla semakin ketakutan dirinya menangis sambil meringkuk di sudut tebing jurang.
“Hik…, hik…. Tidak seharusnya tadi aku berlari darinya. Sekarang kalau seperti ini aku sendiri yang rugi. Hik…,hik…, kakiku sakit sekali dan sulit digerakkan, kenapa tidak mencari ku?” Dilla terus menangis namun sampai air matanya kering tidak ada orang yang mendengarnya. Dilla menggigil kedinginan dan berusaha mencari ponselnya namun tidak diketemukannya. Dilla semakin putus asa dan semakin takut kalau dirinya tidak tertolong lagi.
Dilla mengingat si kembar yang lucu, dengan semangat Dilla berusaha mencari pegangan untuk berusaha naik ke atas namun lagi-lagi dia gagal. Disaat dirinya ingin menyerah, sayup-sayup Dilla mendengar suara seseorang memanggilnya.
“Dilla…, Sayang…, kamu dimana Sayang? Janganlah kau buat aku cemas!” teriak Tegar yang semakin mendekati areanya.
“Kak Tegar…, aku disini. Kak aku dibawah!” teriak Dilla sekuat tenaga. Tegar yang berada di atas langsung menghentikan langkahnya.
“Dim, kamu mendengar suara Dilla tidak?” tanya Tegar kepada Dimas.
“Tidak bos, aku tidak mendengar suara apapun,” ucap Dimas yang memang tidak mendengar suara apapun. Dilla yang tahu pembicaraan mereka langsung berteriak keras berusaha memanggil mereka.
“Kak Tegar…, kak Dimas…, aku dibawah kalian. Tolong kak!” ucapnya sekali lagi.
“Dim kau dengar itu, bukankah itu suara Dilla! Ayo arahkan lampu sentermu ke bawah!” perintah Tegar kepada Dimas dan benar saja begitu Dimas mengarahkan lampu senternya terlihat sosok Dilla yang lemah dan menggigil ketakutan.
“Itu bos, bu Dilla sebaiknya kita cari bantuan dan membawanya untuk naik ke atas,” ucap Dimas kepada sang bos.
“Kalau cari bantuan, Dilla keburu mati kedinginan. Kau carilah area yang bisa untuk turun menuju kesitu, aku akan segera turun kesana dan jangan lupa tetap kau beri cahaya dari lampumu itu,” Perintah Tegar sambil dirinya mencari celah menuju ke bawah tempat Dilla berada.
“Baik pak. Aku rasa itu ide yang paling baik. Pak bos itu ada akses yang paling mudah menuju ke bawah!” Dimas menunjuk area yang berada di sampingnya. Kemudian Tegar turun ke bawah pelan-pelan dengan beberapa rintangan semak dan belukar tidak dirasakan demi menolong Dilla.
Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.
__ADS_1