Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Bertambah Manja


__ADS_3

Sudah hampir sepekan Dilla berada di rumah sakit. Tegar sama sekali tidak pergi ke kantor dan hanya menunggu Dilla di rumah sakit. Dilla juga tidak mau di tinggal bahkan Dilla bertambah manja. 


Hari ini Dilla pulang dari rumah sakit, semua aktivitas kesehariannya Tegar selalu membantunya. Tegar juga sangat senang memperlakukan Dilla bagaikan seorang permaisuri. Tegar tidak merasa keberatan dengan semua aktivitas barunya.


Hari ini Dilla sedang tiduran di pembaringan, dia tidak ingin keluar rumah sama sekali. Tegar menghampirinya dan hendak mengajaknya keluar untuk jalan-jalan. "Sayang ayo kita jalan-jalan biar terhibur. Aku dengar di taman baru ada acara pentas lumba-lumba. Itu si kembar mengajak pergi ingin melihat atraksi lumba-lumba,” rayu Tegar kepada Dilla.


“Tidak sayang, aku lagi malas. Aku hanya ingin tiduran saja!”jawab Dilla yang masih bermalas-malasan di tempat tidur. 


“Ma…, mama. Ayo kita pergi menonton pentas lumba-lumba,” ucap Setya yang langsung naik di ranjang mamanya.


“Kamu nonton sama papa saja ya? Mama lagi perlu istirahat. Kasihan adik bayi di kandungan mama  kelihatannya lagi perlu istirahat. Nanti kalau usia adik bayi yang di kandungan mama sudah cukup berumur dan tidak rewel, mama mau kok menemani kakak berdua,” jelas mama Dilla pelan-pelan agar tidak menyinggung putranya.


“Baiklah ma, aku ajak papa dan kakak Yasa ya? Tapi mama di rumah nanti sama siapa?” ucap Setya yang turun dari ranjang mamanya dan mengandeng papa Tegar untuk mengajak keluar kamar hendak nonton.


“Setya sayang, kamu tidak kasihan sama mama? Kita melihatnya nunggu mama sehat saja ya?” ucap papa Tegar yang berat meninggalkan Dilla.


“Tapi pa, aku inginnya sekarang!” Setya merajuk dan ngambek kembali naik ke ranjang merengek-rengek meminta ke mama Dilla.


“Papa,tolong antar anak-anak melihat pentas lumba-lumba. Aku tidak masalah di rumah,” ucap Dilla berusaha membujuk suaminya.


“ Tapi papa tidak tega meninggalkan mama sendirian di rumah.  Bagaimana kalau kita mengundang mereka di hotel kita sekaligus bonus gratis untuk orang yang menginap di hotel kita. Atraksinya bisa ditempatkan di kolam renang hotel yang luas. Kita bisa sekaligus promosi untuk menarik konsumen kita,” ucap Tegar mengambil jalan tengah nya.


“ Boleh juga itu Pa.  Aku rasa itu ide yang bagus. Jadi mama  kita tempatkan di kamar dekat kolam sehingga kita juga bisa mengawasi mama,” ucap Setia senang sambil memeluk Papanya sekaligus mencium pipi Papanya. 

__ADS_1


“Bener-bener anak sama Papanya sama saja. memangnya mengundang langsung itu tidak perlu biaya?” ucap Dilla yang masih tiduran di ranjangnya.


"Tidak masalah sayang, kita bekerja juga untuk menyenangkan hati putra kita, kalau soal hanya minta pentas lumba-lumba saja tidak masalah.  Itu juga  menguntungkan bagi kita."


 “Ya Kak, tapi jangan membiasakan memanjakan anak! Nanti anak terbiasa menikmati fasilitas dari kedua orang tuanya tidak mau berusaha,” ucap Dilla sambil memelototi suaminya. Sementara itu Setya yang sudah senang berlari ke luar kamar untuk mencari kakaknya Yasa.


“Kak, kita enggak jadi nonton pertunjukan lumba-lumba,”  ucap setia yang menggoda kakaknya.


“ Dik, kamu itu bagaimana? aku kan menyuruh kamu untuk mengajak Papa  dan mama nonton?” Yasa nampak bersungut-sungut  sedikit kecewa. Sementara itu Setya yang mengetahui rencana papanya hanya tertawa senang karena bisa  membuat Yasa kakaknya ngambek.


“Ya, memang begitu. Karena adik kecil yang berada di kandungan Mama kelihatannya lagi malas. Dan karena mama tidak ikut maka Papa tidak mau pergi,” ucap Setya yang mengompori kakaknya.


“ Baiklah kalau begitu, aku yang akan membujuk papa untuk pergi.  Aku yakin, papa pasti mau mengajak  kita,” ucap Yasa hendak pergi menghampiri papa dan mamanya. Yasa berjalan menuju kamar papa dan mama diikuti oleh Setia.


“Maaf papa, apa betul yang dikatakan  Setya. Kita tidak jadi nonton pentas  lumba-lumba?” tanya Yasa yang kecewa dengan keputusan Papanya.


“Kita tidak jadi pergi nonton, ta...pi….?” belum sempat papanya menjawab Setya langsung menimpalinya.


“Tapi kita mengadakan pertunjukan sendiri yang dilaksanakan di hotel kita kak.” Ucap Setia yang sudah berada didekat mereka.


“Adik, jadi kamu Kamu tahu ya? dan sengaja untuk mengerjai aku?” Yasa langsung menghampiri adiknya dan hendak menjewer telinganya. Setya yang tahu gelagat Yasa Langsung berlari menghampiri papanya.


 Akhirnya mereka berdua berkejar-kejaran mengelilingi tubuh papanya.Yang berada diantara kedua putranya Langsung memisahkan keduanya.  Tegar dengan suara tegas menyuruh kedua putranya untuk berhenti berkejar-kejaran. 

__ADS_1


Tegar  menyuruh kedua putranya berada di tempat untuk bersiap-siap mandi, Setelah mandi mereka Langsung menuju tempat di mana mereka hendak menyaksikan pertunjukan lumba-lumba.


Tidak berapa lama kemudian mereka sudah bersiap diri untuk survey menuju hotel tempat diadakannya pertunjukan, karena jarak hotel dekat dengan rumahnya maka hanya ditempuh beberapa menit.


Dilla yang berada di rumah minta di temani Mita yang kebetulan Dimas telah menjemputnya dari pagi. Mita sangat setia kepada Dilla seperti halnya Dimas yang sangat setia kepada Tegar.


Dimas atas persetujuan Tegar saat ini membuat janji dengan pemilik pertunjukan lumba-lumba. Tidak berapa lama mereka membuat perjanjian kerja di hotel milik Tegar. Pertunjukan lumba-lumba rencananya akan diadakan selama 3 hari berturut-turut dengan harga tiket ditentukan oleh pihak hotel.


Pemilik pertunjukan lumba-lumba secara profesional sangat menyukai cara kerja yang disampaikan oleh pihak hotel. Sementara itu Yasa dan Setia meminta kepada papanya untuk memperbolehkan teman-temannya melihat pertunjukan tersebut.


Papa mereka yang sangat baik tentu mengijinkan teman-temannya untuk melihat pertunjukan. Yasa dan Setya langsung meminta tiket kepada mereka dan akan dibagi-bagikan kepada temannya yang mau datang.


Karena urusan mereka sudah selesai, akhirnya mereka pulang ke rumah. Dilla yang berada di kamar sudah menunggu Tegar dan mencari tahu informasi tentang pelaksanaannya. 


Tegar menceritakan semua teknisnya kepada Dilla. Dilla merasa sangat senang karena mengetahui kinerja suaminya pasti akan menambah omset penjualan hotel dan tentunya bisa meningkatkan penghasilan warga yang tinggal di sekitar hotel.


Dilla tiba-tiba merajuk di tengah-tengah percakapan mereka Dilla meminta Tegar untuk membuatkan rujak manis.


Lagi-lagi Tegar dibuat bingung oleh istrinya, Tegar nampak berpikir sejenak kemudian spontan memanggil Dimas dan Mita yang bercanda di ruang tamu dengan si kembar.


Meskipun mereka lagi malas berangkat namun mereka berdua tidak berani menolak permintaan bosnya. Mereka berangkat mencari rujak di sekitar alun-alun. Setidaknya Dimas di sini masih ditemani calon bidadarinya kelak jadi menambah dirinya bersemangat melaksanakan tugas dari bosnya.


Tidak berapa lama kemudian rujak manis yang diminta Dilla sudah berada di tangan Tegar. Akhirnya Dimas dan Mita kembali lagi untuk bergabung dengan si kembar.

__ADS_1


Mita yang mendapat tugas dari Dilla mengawasi si kembar selama Rara pergi bersama Irfan merasa sangat capek melayani dan menuruti kemauan si kembar. Namun rasa capek Mita kadang-kadang juga tergantikan oleh sikap mereka berdua yang konyol. 


__ADS_2