Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Pernikahan Besar


__ADS_3

Dengan berat hati akhirnya Sabrina mengikuti pihak keluarga untuk menikah dengan Yasa yang menurutnya persiapannya begitu cepat dan mendadak. Pernikahan mereka berdua memang sangat diharapkan oleh kedua orangtuanya maupun keluarga Yasa. Dirinya  sesungguhnya juga berharap menikah dengan Yasa tapi pernikahan besar antara dirinya dan Yasa terlalu tiba-tiba.


Sabrina menghela nafasnya tak kala dirinya berhadapan dengan papa dan mamanya yang sudah berusaha menyiapkan semua perlengkapannya dengan maksimal. Sabrina memang sangat disayang oleh mereka karena putri satu-satunya.


“Pa…, ma…, Sabrina rasa tidak harus seperti ini. Ini terlalu mewah untuk Sabrina pa, ma?” ucapnya yang sesekali menghela nafasnya karena apa yang diinginkan kedua orang tuanya untuk membahagiakannya terlalu berlebihan.


“Sayang…, diam dan tenanglah. Mama dan papa melakukan ini sangatlah ikhlas. Ingatlah kamu Putri papa Papa dan Mama satu-satunya.  kamu  juga merupakan menantu dari Papa Tegar dan mama Dilla dimana mereka merupakan pengusaha sukses dan ternama di seluruh negara cara kita. Jadi tidak mungkin mama dan papa akan mengadakan acara sesederhana yang kamu minta!” ucap mama Rara yang berusaha menyakinkan putrinya.


 “Iya ma. Terserah mama saja! Aku ngikut yang terpenting acara lancar dan tidak ada kendala,” ucap Sabrina yang saat ini harus dipingit tidak boleh bertemu dengan Yasa. Bahkan untuk perawatan dalam rangka persiapan pernikahan dirinya mamanya menghadirkan salon kecantikan  yang berkelas ke rumahnya.


“Bagus gitu baru anak mama! Dan mama harap kau segera menikah dan tidak menunda untuk memiliki momongan jadi mama tidak kesepian,” ucap mama Rara.


“Astaga mama! Memangnya mama merencanakan apa biar mama senang dan tidak kesepian?” tanya Sabrina penasaran.


“Ya mama do’akan setelah kamu menikah segera hamil dan memiliki anak jadi mama bias mengajak cucu mama untuk tinggal bersama mama!” ucap mama Rara penuh harap.


“Itu sih enak di mama dong? Masa iya yang melahirkan aku, mama asal minta saja! Enggak ah kalau aku punya bayi aku akan merawatnya sendiri. Mama terlalu tua untuk mengurus bayi aku,” ucap Sabrina bermaksud hendak mengurangi beban kerja mamanya.


“Tidak begitu kok sayang, itu akan membuat mama senang dan awet muda . Mama secara tidak langsung akan semangat untuk hidup dengan cucu ada di sekeliling mama. apalagi mama sekarang sudah tidak kerja lo sayang?” ucap mama Rara menekankan kepada Sabrina agar tidak salah sangka terhadap dirinya.


“Eh mama dan anak sama saja. Semuanya tidak mau mengalah. Ya kalau mama itu biar awet muda cukup merawat papa saja sayang? Ayo sini aku tunjukan caranya ma?” ucap papa Irfan sambil menggandeng istrinya menuju ke kamarnya. Sementara itu Sabrina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah kedua orang tuanya.

__ADS_1


Papa Irfan tiba-tiba memeluk mama Rara dan menciuminya dengan puas mulai bibir, leher dan kening mama Rara. Mama Rara yang tahu persis keinginan suaminya hanya mengikuti dan mengimbangi apa yang diinginkan oleh suaminya.


Mama Rara nampak begitu semangat ingin membahagiakan suaminya yang baginya adalah segalanya. Mama Rara mulai menggantikan papa Irfan untuk memimpin permainan.


“Sayang, itulah yang kusuka dari kamu. Kamu selalu tahu keinginan papa!” ucap papa Irfan yang terus menikmati permainan mama Rara. Mama Rara yang dipuji oleh suaminya semakin semangat untuk melancarkan aksinya hingga beberapa kali papa Irfan mencapai puncak kenikmatan. Mereka berdua meskipun usianya menginjak kepala lima soal bercinta masih berlanjut layaknya pasangan muda.


Papa Irfan yang berprofesi dokter selalu mengajarkan istrinya hidup sehat sehingga tubuh mereka tetap terjaga dan nampak kencang tidak kendur.


Sesaat kemudian Sabrina kembali ke kamarnya dimana sudah menunggu para pelayan untuk melakukan ritual mandi rempah-rempah dan perawatan lulur badannya.


Mereka nampak ramah dan baik dalam melakukan pelayanan terhadap dirinya. Bahkan ketika ada vidio call dari Yasa mereka membantu memeganginya waktu Sabrina kerepotan mengangkat ponselnya.


“Iya sayang kamu yang sabar ya?” Aku juga rindu berat sama kamu! Kalau kamu rindu berat sama aku nanti akan aku kirim video-video  aku biar kamu terhibur!” ucap Sabrina dengan percaya diri selalu menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri tanpa mempertimbangkan apapun dari orang lain.


“Ok sayang, terimaksih ya? jangan lupa kamu kirim video kamu waktu mandi ya?” ucap Yasa tiba-tiba hinga membuat Sabrina ternganga mendengar kata-kata mesum kekasihnya.


“Astaga sayang? Dirimu mesum sekali! Lihat mbak-mbak yang melakukan perawatan untuk diriku terkejut mendengarnya. Bener-bener Ceo Mesum ya?” ucapnya sambil bersungut-sungut memarahi Yasa calon suaminya.


“Tenang mbak Sabrina kami tidak mendengar apa-apa kok,” ucap salah satu pegawai perawatan tersebut.


“Gitu mbak laki-laki jaman sekarang belum-belum pikirannya sudah mesum,” ucap Sabrina yang terus ngomel-ngomel pada Yasa yang ada di seberang.

__ADS_1


“Sudah  puas ya ngomelnya?” Tanya Yasa kepada Sabrina sambil cekikikan gemas melihat Sabrina yang mulutnya monyong sedikit Karena ngomel-ngomel.


“Gitu ya kakak, calon istri ngambek tidak dirayu malah diketawain! Udah ah aku tutup dulu jangan ganggu, aku lagi perawatan,” ucap Sabrina yang langsung menutup ponselnya.


“Mbak Sabrina beruntung ya punya calon suami yang cakepnya selangit. Kaya lagi?” ucap salah satu mbak-mbak yang melakukan perawatan kepadanya.


“Terimakasih mbak! Semoga mbaknya juga segera menemukan jodoh yang tepat,” ucap Sabrina mendo’akan mbaknya.


“Iya mbak semoga stock pria seperti calonnya mbak Sabrina masih ada!” ucap mbak yang melakukan perawatan kepada Sabrina.


Selang beberapa saat mama Rara masuk membawakan makanan untuk para mbak-mbak yang melakukan perawatan terhadap putrinya. Mama Rara pun dengan baik hati menyuapi putrinya dengan makanan kesukaannya.


“Bunda sangat menyayangi mbak Sabrina ya? Benar-benar mbak Sabrina beruntungnya tiada tara. Suami baik, mama baik, dan saya yakin papanya juga baik. Benar-benar buat kita-kita iri hati dong!” ucap mbaknya sambil memberi ramuan creambath untuk rambut Sabrina.


“Iya mbak. Mama aku itu orangnya memang sangat baik dan pengertian. Mama itu melebihi segalanya untuk aku. Dan Papa sudah pasti papa yang baik untuk aku. Papa selalu memanjakan aku dan parahnya papa selalu membelaku jika kena marah mama,” ucapnya secara tidak langsung menceritakan tentang manjanya dirinya terhadap kedua orang tuanya.


“Tentu mbak! Sabrina putri satu-satu kami. Dan dia hanya milik kami satu-satunya. Jadi apapun akan kami curahkan dan berikan untuk Sabrina!” ucap mama Rara dengan bangga menunjukan kalau Sabrina memang putri satu-satunya yang harus dia sayangi.


Mama Rara menunggui proses perawatan Sabrina hingga selesai dan sesekali mama Rara memberinya masukan terhadap pelayan yang menanganinya.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Kita terus mengikuti kisahnya ya?

__ADS_1


__ADS_2