Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Undangan


__ADS_3

Hari ini hari bahagia, Tegar dan Dilla menerima undangan dari Rahardi kalau minggu depan Rahardi akan mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Brenda.


Selain undangan Rahardi juga mengirim gaun dan baju untuk Tegar sekalian serta putra kembarnya. Tegar yang sedang berbincang dengan Dilla nampak merencanakan sesuatu.


“Sayang…, minggu depan kita didaulat untuk mendampingi pengantin. Aku harap kamu bisa menghadirinya!”ucap Dilla yang sedang duduk di sofa kamarnya.


“Tentulah sayang, aku akan menghadiri nya bersama kamu. aku tidak akan membiarkan Kamu berangkat sendiri bersama si kembar.  aku takut nanti Tante Lusi berbuat macam-macam kepadamu,” ucap Tegar hamil mengucap perut yang mulai membesar.


“ Terima kasih sayang,  kamu memang suami yang baik sekaligus saudara ipar yang baik,” Dilla  menggeliat geli karena Tegar masih mengusap-usap dan menciumi perutnya.


“Tentulah sayang…, Aku bukan suami yang baik saja akan tetapi juga ayah yang baik untuk anak-anakku.  Aku kali ini tidak akan melewatkan perkembangan adik bayi yang ada di dalam kandungan. Aku akan selalu memantaunya hingga dia dewasa bersama kakak-kakaknya.  Terima kasih ya sayang,  kamu benar-benar calon ibu dn istri yang  handal untuk aku dan anak-anak,”ucap Tegar yang sengaja memuji istrinya.


“Kakak berlebihan ya? Aku bisa begini juga karena  Kakak.  Kakak memang yang memiliki  bibit unggul hingga kedua putra kita memiliki kecerdasan yang luar biasa. Untuk itu aku pengennya bayi kita nanti seorang perempuan sehingga aku bisa memperlakukannya bagaikan seorang bidadari,”  ucap gila serius karena memang gila sangat berharap memiliki bayi perempuan yang sangat cantik sehingga  bisa menemaninya kalau ada acara.


“Semoga ya sayang, aku juga membayangkan kalau bayi kita perempuan pasti imut dan cantik seperti kamu. Pasti akan menggemaskan,” ucap Tegar yang tersenyum puas membayangkan anak perempuannya berjalan berdampingan dengannya dan mamanya beserta kakak-kakaknya.


Tegar juga berharap anak perempuannya kelak menjadi gadis mandiri yang punya usaha sendiri seperti mamanya.


“Sayang…,  kan apa yang kamu lakukan?  ada Adakah sesuatu yang lucu sehingga membuat kamu tersenyum?”  tanya Dila penasaran.

__ADS_1


“ tidak…,  aku tidak apa-apa.  aku hanya membawa jika  Anak perempuanku mirip dengan kamu. Tapi aku juga aku membayangkan  kalau anak perempuanku aku dewasa pasti kelak akan banyak cowok yang mengejarnya nya!” ucap Tegar yang kembali tertawa geli mengingatnya.


“Sayang…, kau terlalu berlebihan. Itu masih lama sayang?” ucap Dilla sambil bangkit dari sofa hendak keluar kamar.


“Kamu mau kemana?” tanya Tegar cemas.


“Aku hanya ingin makan bakso yang ada di depan gang kok,”ucap Dilla lirih dengan harapan Tegar tidak mendengarnya. Karena jika mendengarnya pasti Tegar akan melarangnya.


“Baiklah,  Ayo aku antar!” ucapnya langsung mengikuti Dilla berjalan di belakang. Namun begitu sampai di luar rumah Tegar  mencari kursi roda untuk mendorong istrinya karena takut terjatuh.


“Sayang…, kamu jangan berlebihan.  Aku tidak masalah kalau berjalan di Gang situ saja aku masih bisa,” ucap Dilla yang masih ngotot berjalan sendiri. Tegar tidak mampu menolak apa yang diinginkan oleh Dila.  Akhirnya Tegar hanya mendampingi istrinya berjalan menuju gang depan untuk mencari bakso.


“ Sayang…,  kenapa tidak dimakan di sini saja? Kalau tahu dimakan di rumah, harusnya kita bisa menyuruh Mbok Atun saja  untuk membelinya.  Apa kamu tidak kasihan dengan bayi kita yang masih dalam kandungan kamu?” ucap Tegar yang khawatir dengan keselamatan calon bayinya.


“Hikk…, hikk…, aku memang sengaja ingin seperti itu! Karena aku ingin merasakan sensasinya berjalan ditemani suami untuk mencari makanan untuk calon bayi kita!” ucapnya sambil menangis hingga keluar air matanya. Tegar sangat bingung dengan kelakuan istrinya yang mulai sensitif.


Semua pengunjung dan pembeli bakso menatap Tegar dengan tatapan sinis dan seolah-olah hendak menguliti Tegar karena membuat istrinya yang sedang hamil menangis.


“Hai…, anak muda. Istri yang hamil itu dijaga bukan disakiti!” ucap salah satu pembeli yang melangkah mendekati Tegar dan mencengkram kerah lehernya hingga Tegar sesak nafas karena terjerat kerah bajunya.

__ADS_1


“Pak.., jangan sakiti suamiku!Maaf suamiku tidak bersalah, dia sangat mengkhawatirkan ku hingga dia bersikap terlalu berlebihan,”ucap Dilla sambil mengusap air matanya. Tegar tersenyum puas ternyata dengan sikap diamnya membuat Dilla membela dirinya.


“Sudahlah sayang…, kamu jangan menangis lagi. Aku hanya ingin kamu baik-baik saja! Aku juga tidak ingin kau celaka untuk kedua kalinya!” ucap Tegar yang langsung memeluk Dilla dalam dekapannya kemudian mencium keningnya. Semua orang nampak tercengang melihat keromantisan mereka berdua.


Setelah mendapatkan semua yang diinginkan mereka berdua kembali ke rumahnya. Tegar menggandeng Dilla dan tangan satunya nampak menenteng bungkusan bakso yang dia beli. Begitu sampai di rumah Tegar langsung mencari tempat untuk menyajikan baksonya. 


Dilla yang manja minta disuapin oleh suaminya, hal itu menarik perhatian si kembar yang tiba-tiba muncul dihadapannya.


“So sweet…, papa sama mama pacaran lagi ya? Aku juga mau baksonya pa?” ucap Yasa yang langsung bergabung dengan mereka berdua disusul oleh Setya.


“Pa…, ma…, baksonya enak sekali. Ini papa dan mama belinya di restoran mana?” tanya Setya penasaran.


“Itu di gang depan!” jawab Tegar sekenanya hingga membuat Setya penasaran.


“Gang depan? Apa iya pa? Baksonya cocok ini kalau kita jual di salah satu restoran kita!” ucapnya seraya otak bisnisnya muncul tiba-tiba.


“Kamu itu nak? Kecil-kecil pikiran  kamu sudah diliputi bisnis dan bisnis. Sekolah dulu ya nak, biar yang cari uang papa dan mama saja!” ucap mama Dilla yang heran dengan kedua putranya yang masih kecil tapi sudah pandai mencari uang. Semua peluang usaha yang menghasilkan uang sellu dia kerjakan.


“Tidak apa-apa ma? kita itu hanya manajemennya, aku yakin dengan menarik pedagang bakso ke restoran kita dengan perjanjian pembagian royalti tentunya akan sangat diminati oleh abang penjual baksonya!” ucap Yasa yang memang lebih mahir dalam menjalankan usaha dibandingkan si adik Setya.

__ADS_1


“Terserah kamu saja nak! Mama sama papa mendukung kalian yang terpenting kamu bisa mengatasinya! O…, iya itu ada baju dari tante Brenda dan om Rahardi kamu coba ya? Kita diundang untuk menghadiri pernikahannya minggu depan. Kalau baju kalian berdua tidak cocok, kalian disuruh menghubungi om Rahardi. No ponselnya ada di nota yang berada di meja kerja papa!” ucap Dilla kepada kedua putranya dengan lembut hingga kedua putranya akhirnya berjalan ke kamarnya untuk mencoba baju pemberian om Rahardi.


__ADS_2