
Hari ini sidang untuk kasus yang dilakukan oleh Lukas akan digelar. Lusi beserta Brenda juga hadiri persidangan tersebut. Sementara itu di pihak Tegar ada Dilla dan Dimas beserta Mita. Tegar sebagai penuntut menginginkan kasusnya terselesaikan secara hukum.
Sidang kasusnya Lukas yang berlapis berjalan dengan lancar. Setelah melalui perdebatan hakim antara penuntut dan terdakwa diputuskan bahwa Lukas akan mendapat hukuman seumur hidup. Lukas dianggap dengan sengaja merencanakan pembunuhan terhadap dua korbannya yaitu mamanya Dilla dan pak Ardi.
Om Lukas menghela nafasnya dalam-dalam, karena kemungkinan terburuk untuknya sudah ia perhitungkan. Om Lukas di tengah keterpurukannya masih memikirkan tante Lusi meskipun sesungguhnya om Lukas memiliki beberapa cinta yang lain tapi cinta sejatinya hanya tante Lusi. Hingga di dalam sidang om Lukas masih berbaik hati tidak menyeret tante Lusi dalam kasusnya hingga tante Lusi tidak tersentuh oleh hukum.
Begitu keputusan hakim telah diputuskan, om Lukas langsung dibawa pergi oleh sipir penjara menuju lapas. Om Lukas meminta waktu sebentar untuk bertemu dengan tante Lusi dan sekaligus bertemu dengan Tegar beserta rombongan.
“Lusi…, aku mohon jagalah dirimu baik-baik! Aku selalu mencintaimu, namun caraku salah hingga membuat aku terjerat dengan kasus hukum. Semoga kamu tetap bahagia,” ucapnya sambil berlinangan air mata penuh penyesalan.
“Maaf kan aku sayang, aku akan cari pengacara untuk naik banding meminta agar hukumanmu bisa diberi keringan,” ucap tante Lusi sesenggukan. Untuk sesaat mereka berpelukan melepas rasa rindu mereka.
“Tidak apa sayang, ini sudah resiko yang aku pilih terdahulu sebelum aku melakukan kejahatan ku,” ucap Lukas menenangkan tante Lusi.
Sesaat sebelum melangkah pergi Lukas menatap Tegar dengan berkaca-kaca seolah-olah menyesal dengan perbuatannya.
“Pak…, mari pak. Waktunya sudah cukup!” ucap salah satu sipir kepada Lukas dan langsung membimbingnya ke luar menuju ke kendaraan dari Lapas.
Lusi yang berada di dekat Dilla memandangnya sinis. “Hai…, ini semua gara-gara kamu! Dasar anak durhaka. Aku besarkan kamu dengan balasan seperti ini! Aku tidak terima karena ibumu itu memang meninggal karena kecelakaan. Aku akan berusaha membantu Lukas untuk naik banding dan akan aku buktikan kalau semua itu bukan salahnya,” ucap tante Lusi yang marah besar kepada Dilla dan hendak menyerangnya.
“Ma…, ayo kita pulang. Aku mohon jangan salahkan kak Dilla. Biarkan hukum yang memprosesnya. Aku yakin kalau papa Lukas tidak bersalah pasti akan bebas,” ucap Brenda sambil menarik tangan mamanya.
Sementara itu Dilla hanya bengong melihat aksi mama tirinya. Sementara itu Tegar langsung memeluk Dilla dan mengajaknya pergi.
“Sudahlah sayang, janganlah kau hiraukan mama tirimu!” Tegar menggandeng Dilla dan menuntunnya untuk masuk ke mobil.
__ADS_1
Di dalam perjalanan pulang Dilla masih merasa galau karena sikap mama tirinya. Dilla mengingat masa lalunya dimana dirinya selalu dianiaya mama tirinya dan diberlakukan berbeda dengan Brenda.
Flashback on
“Brenda, ini uang jajan kamu dan ini bekel kamu. Untuk Dilla hari ini tidak ada uang saku maupun bekal. karena uang kemarin sudah digunakan untuk membayar les kamu!” ucap Tante Lusi kepada Brenda dan dan Dilla.
“Baik ma, itu tidak masalah,” Ucap Dila sambil menahan air matanya.
Disaat sampai di depan sekolah sopir papanya yang bertugas mengantar jemput dirinya bersama Brenda selalu memberikan bekal yang dititipkan oleh si mbok.
Flashback off
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Tegar suaminya yang merasakan bahwa Dilla sedang memendam sesuatu.
“Hik…, hik…, Aku ingat waktu sekolah dulu mama Lusi selalu membedakan uang saku dan bekel aku dengan Brenda, aku selalu tidak diberi apa-apa,”ucapnya sedih tatkala mengingat masa lalunya.
“Iya kak. terimakasih atas dukungannya,” Jawab Dilla yang mulai tenang.
“O…, iya. Yasa sama Setya minta di jemput sekalian kita mampir ya?” ucap Tegar kepada istrinya. Tegar menyuruh sopirnya untuk meluncur menuju sekolah putranya. Sementara itu Yasa dan Setya berada di kelas masih ada pelajaran bahasa Indonesia.
Setya dengan semangat mempresentasikan puisi buatannya tadi malam yang berjudul “Mamaku.” Puisinya menceritakan kasih sayang mamanya yang telah diberikan kepada dirinya dan kakaknya. Setya membacakan puisi dengan sangat menghayati hingga bu guru yang ada di ruangan tersebut meneteskan air matanya.
Puisi yang dibacakan oleh Setya sangat indah didengar dan mengandung beberapa makna di dalamnya.
Tidak berapa lama kemudian bel pulang pun berbunyi, Setya dan Yasa keluar dari kelasnya menuju halaman sekolah dimana papa dan mamanya menunggunya.
__ADS_1
“Yasa…, Setya…, tunggu aku! Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian,” ucap Sasa yang tiba-tiba mengejarnya.
“Iya…, ada apa Lili?” tanya Yasa dan Setya yang spontan menoleh melihat Sasa yang berusaha berlari mengejarnya.
“Ini undangan untuk kalian. Aku berharap nanti sore kalian datang ke tempat ulang tahun aku!” ucap Sasa penuh semangat dan memberikan undangan yang berada di tangannya untuk mereka berdua.
“Iya…, nanti aku usahakan datang,” jawab mereka berdua spontan.
“Ok…, aku tunggu janji kalian. ingat harus datang dan tepat waktu!” ucap Sasa yang terus berlalu meninggalkan mereka berdua. Sedangkan si kembar hanya bengong menyaksikan kepergian Sasa yang anggun dengan gayanya.
“Hai…, hai anak papa sudah dewasa ya? Apa yang kalian tetap seperti itu?” goda papa Tegar kepada kedua putranya.
“Itu pa…, si Sasa bintangnya kelas kita. Anak itu cerdas sekali dan sangat cantik,” puji Setya dengan bangga hingga membuat Yasa juga berusaha memujinya.
“Iya…, pa. Selain cantik Sasa juga jago beladiri. Hi…, hi…, kemarin Setya dibantingnya hingga terpelanting!” ucap Yasa yang sengaja menggoda adiknya.
“Kakak…, itu tidak lucu! Kemarin itu aku tidak siap karena aku baru pasang kuda-kuda,” ucap Setya berusaha membela diri.
“Wah…, kayaknya anak mama sedang bersaing ya mendapatkan perhatian si Sasa?” tanya mama Dilla kepada putranya.
“Tidak ma…, kita hanya berteman kok. Dan kebetulan Sasa baik banget,” ucap Yasa kepada bundanya hingga Setya mengiyakan ucapan saudara kembarnya.
“Iya nak, anak kecil tidak boleh pacaran. Dan perlu juga kalian ingat besok kalau sudah besar jangan bersaing dengan saudara sendiri untuk mendapatkan cewek ya?” ucap Papa Tegar memberikan nasehat kepada kedua putranya.
“Sudahlah pa…, ma…, ayo kita pulang. Aku sudah lapar,” ucap Setya kepada mamanya hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mampir ke restorans sebelum pulang ke rumah. Sepulang dari restoran papa Tegar mengajak mampir ke makam kakek Ardi.
__ADS_1
Setya dan Yasa mendoakan kakeknya dengan tulus. Mereka berdua sangat menyayangi kakek Ardi. Mereka merindukan kasih sayangnya kakek Ardi.