Buah Hati Ceo Pendendam

Buah Hati Ceo Pendendam
Semakin Kesal


__ADS_3

Dilla menggeliatkan badannya karena suara kumandang adzan subuh. Dilla pelan-pelan membuka matanya dan melihat langit-langit kamar. Dilla nampak terkejut tak kala melihat kalau kamar yang dia tempati bukan kamarnya bersama si kembar. Dilla tersadar dan berteriak karena terkejut apalagi baju yang dipakainya sudah berubah.


Karena teriakan Dilla Tegar terbangun dan menghampirinya kemudian membekap mulut Dilla dengan tangannya hingga membuat Dilla semakin kesal. “Sayang diamlah, jangan sampai seluruh penghuni villa ini terbangun dan menikahkan kita,” ucap Tegar namun tidak digubris oleh Dilla. Tegar yang kehabisan akal langsung mencium bibir Dilla hingga Dilla terdiam dibuatnya. Dilla tidak mampu untuk menolaknya karena masih sedikit dibawah pengaruh minuman. Naluri lelaki Tegar bangkit sesaat hingga berlanjut bermain api dengan mencium bibir, kemudian turun ke leher jenjang Dilla hingga Dilla merasakan sensasi yang luar biasa dan kembali menyerang Tegar secara agresif. Tegar yang masih normal langsung melepaskannya hingga keduanya terengah-engah menahan ***** yang sudah menggelora dalam jiwanya.


“Sayang, maaf. Kita tunggu waktu yang tepat. Dan aku mohon kamu bersabar ya?” ucap Tegar yang menghempaskan duduk di ranjang bersebelahan dengan Dilla. Sementara itu Dilla merasa malu dan berlahan-lahan ke luar kamar Tegar dan kembali ke kamarnya. Dilla membersihkan dirinya ke kamar mandi dan berlanjut sholat subuh. Demikian juga Tegar langsung membersihkan diri dan memakai baju koko dan turun menuju masjid terdekat dengan villa.


Sekembalinya dari masjid dilihatnya Dilla sudah siap dengan koper dan kedua putranya hendak pergi meninggalkan villa. Si kembar masih kelihatan mengantuk dan duduk bersandar di sofa. “Hai, ada apa ini? Apakah kalian akan pulang sekarang?” tanya Tegar yang masih bingung dengan mereka.


“Iya kak. Kami akan pulang sekarang, karena kak Irfan kecelakaan bersama Rara jadi aku akan mengurusnya,” ucap Dilla tanpa sadar membuat Tegar cemburu. Namun akhirnya Tegar juga memutuskan pulang bersama mereka. Sementara itu kakek Ardi pulang siang bersama sopirnya.


Tegar dengan senang hati mengemudi sendiri bersama Dilla dan kedua putranya. Tidak berapa lama kemudian mereka sampai ke rumah sakit. Dilla langsung turun diikuti Tegar menuju ruang operasi. Tidak berapa lama mereka menunggu dokter yang menangani dokter Irfan keluar dari ruang operasi.


Dilla langsung menghampiri dokter yang menangani dokter Irfan dan menanyakan keadaannya. Dokter kemudian menjelaskan kalau dokter Irfan hanya cidera kakinya dan perlu perawatan intensif. Sementara itu Rara yang baru sadar dari pingsannya di ruang perawatan langsung keluar kamar dan hendak menemui dokter Irfan. Namun baru beberapa langkah langsung pingsan kembali hingga keluarganya panik dan memanggil dokter.


Mita yang datang bersama Dimas langsung membesuknya dan menunggu Rara di kamarnya. Mita nampak meneteskan air matanya melihat kepala Rara yang penuh dengan perban. Mita yang tidak tega dengan Rara berniat menunggunya di rumah sakit hingga sembuh.

__ADS_1


Dimas yang tidak tega dengan Mita menemani Mita menjaga sahabatnya.


Sedangkan Dilla berkenan menunggu Irfan dan menyuruh Tegar untuk pulang bersama putra kembarnya. Tegar merasa keberatan dengan tindakan Dilla. Dan Tegar merasa hal itu akan membuat hubungan Dilla dan Irfan menjadi tidak baik dan akan mengancam kelangsungan hubungannya yang sudah mulai membaik.


“Sayang kamu bersama anak-anak pulang saja, untuk sementara sambil menunggu pihak keluarga Irfan datang, aku dan Dimas yang menjaganya. Kasihan anak-anak jadi lebih baik kamu pulang saja!” ucap Tegar sok baik yang sebenarnya tidak rela kalau calon istrinya menunggu Irfan yang sedang sakit. Tegar tidak percaya dengan Irfan karena kuatir Irfan menanggapinya dengan salah paham. Tegar ingat kalau Irfan pernah menaruh hari kepada Dilla jadi Tegar takut kalau Irfan memanfaatkan peluang ini untuk mendekati Dilla kembali.


Dilla akhirnya menyetujui permintaan Tegar mengingat kedua putranya masih kecil-kecil dan tidak baik tinggal terlalu lama di rumah sakit. Tegar meminta Dimas untuk mengantar Dilla pulang dan menyuruhnya cepat kembali.


“Ah…, bener-bener menjengkelkan kalau saja Irfan tidak berjasa menolong Dilla aku malas menunggunya. Aku tahu Irfan sebenarnya Irfan sangat mencintai Dilla,” gumam Tegar menghela nafasnya.


“Astaga..., bener-bener dokter somplak. Kalau habis operasi tunggu 2 jam baru minum. Jangan-jangan gelar dokter kamu itu beli ya?” ucap Tegar sekenanya hingga membuat Irfan marah dan hendak bangun mau menyerang Tegar.


“Kau itu…, manusia yang tidak berperasaan makanya Dilla meninggalkanmu!” balas Irfan sekenanya juga. Tegar hendak kembali membalas perkataan Irfan namun tidak jadi karena merasa ada suara langkah kaki seseorang masuk ke kamar perawatan Irfan. Dan benar saja Mita masuk dengan mendorong Rara masuk ke kamar perawatan Irfan.


Rara mendekati Irfan dan langsung memegangi tangan Irfan dan menangis di hadapan Irfan. Rara menyalahkan dirinya karena mengganggu konsentrasi Irfan menyetir.

__ADS_1


Flashback on


“Kak aku sangat senang bisa keluar dengan kamu, tempo hari papa aku menanyakan tentang hubungan kita. Papa meminta kakak untuk segera melamar ku. Jadi papa berharap besok kak Irfan berkenan datang ke rumah untuk membicarakan tentang lamaran,” ucap Rara yang menyandarkan kepalanya di bahu Irfan dengan manja.


“Dik, maaf kakak belum siap untuk membicarakan masalah lamaran. Kakak saat ini masih konsentrasi menyelesaikan gelar spesialis dan itu harus aku tempuh di luar negeri. Jadi setidaknya kamu harus menunggu kakak selama 2 tahun,” ucap Irfan santai sambil memberi pengertian kepada Rara.


“Pokoknya besok kakak harus menemui papa aku. Kalau tidak mau berarti kakak tidak mencintaiku dan itu artinya kakak masih mencintai bu Dilla,” ucap Rara yang kesal hingga membuat Irfan berusaha menenangkannya. Rara yang keburu cemburu sangat sulit ditenangkan hingga Irfan berniat untuk menepikan mobilnya ke kiri. Namun tiba-tiba ada motor nyelonong nyalip dari arah kiri hingga akhirnya Irfan membanting setir mobilnya ke kanan namun saat itu ada mobil yang melaju kencang hingga akhirnya menabraknya.


Flasback off


“Hi…k, hikk…, kak maafkan aku. Semua ini terjadi karena aku,” ucapnya menangis di tepi ranjang Irfan. Irfan yang tidak tega dengan Rara berusaha mengusap air matanya dan menenangkannya.


“Sudahlah. Ini semua sudah kehendak Allah, yang terpenting aku dan kamu masih selamat. Ayo istirahat dan kembalilah ke kamar kamu biar kamu cepat sembuh,” ucap Irfan sabar dan penuh kasih sayang.


“Tidak kak. Aku ingin di sini menemani kakak,” ucapnya sambil menangis sesenggukan. Tegar yang tidak tega melihat kedua pasangan tersebut langsung menelpon perawat dan menyatukan mereka dalam satu ruang perawatan. Tegar yang terpandang dan punya kekuasaan apapun pasti akan dipercaya oleh pihak ruah sakit apalagi Tegar juga ikut andil dalam penanaman saham rumah sakit.

__ADS_1


Terimakasih para pembaca yang setia, kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya sangat menentukan update episode berikutnya.


__ADS_2