Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
sebuah janji


__ADS_3

Mentari sudah kembali. Bulan pun menggantikannya memberikan cahaya terang di langit.


Di tengah-tengah kehangatan Antara Akhri dan Merr yang sedang menonton televisi bersama, terdengar suara ketukan di luar.


"Biar Abang saja..."


"Iya bang," menuruti. Sembari memasang hijabnya, menutupi kepala hingga ke dada.


Di luar... Ummi berdiri dengan ekspresi tak terlihat baik-baik saja.


"Ummi? masuk, Mi..." Akhri meminta ibunya untuk masuk.


Maryam yang mengetahui Ummi Salma datang langsung menghampiri ke luar. Menjabat tangan Ummi dan menciumnya.


Tatapan Ummi nampak tak bersahabat, sepertinya suasana hatinya memang sedang tidak baik. Akhri memberi kode untuk membuatkan minum, Merr yang tanggap langsung berpamitan kebelakang.


"Ummi duduk, yuk." Akhri merengkuh pundak sang ibu. Mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.


Wanita yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu menitikkan air mata.


"Ummi, kenapa?" Mengusap lembut sudut matanya.


"Nggak apa-apa ... hanya saja, Abah mu baru kasih kabar. Anaknya yang di Bandung sedang hamil lagi."


Akhri terdiam, bukan karena Dia tidak peka. Namun hal yang pernah di bahas mereka berdua tempo hari, membuat Akhri berusaha keras untuk tidak mengingat-ingat apalagi memberitahukan itu pada Maryam.


"kamu tahu apa yang selalu mengganggu pikiran Ummi, 'kan? Cuma Ummi loh yang belum kasih cucu ke Abah!" Ummi sengaja mengeraskan suaranya.


Membuat sang anak menempelkan jari telunjuknya ke bibir. "Ummi, kita bahas di luar saja yuk."


Ummi menghela nafas, sudah sangat ingin Dia bicara langsung pada Maryam sebenarnya. Tentang keresahan hatinya, namun Akhri selalu memintanya untuk tak membahas soal anak di depan Maryam.


"Yuk, Ummi."


"Tidak usah, Ummi mau pulang saja. Toh kamu juga nggak ngerti perasaan Ummi."


Maryam yang hendak keluar seketika menghentikan langkahnya. Karena sepertinya bahasan mereka cukup privasi.


"Akhri mengerti, dan sangat memahami Ummi."


"Kalau begitu kenapa belum juga kalian periksakan kondisi kalian ke dokter?"


Dokter? Periksa apa maksud Ummi? (Maryam)


"Iya, nanti Akhri coba berunding dulu. Ini nggak mudah Ummi."

__ADS_1


"Nggak mudah apanya? Bentar lagi masuk tiga tahun pernikahan kalian loh."


Ya Allah... rupanya masalah itu. –Maryam menunduk, ia sendiri menyadari serta khawatir tentang kondisinya.


"Berusahalah untuk cek kondisi kalian di rumah sakit. Supaya tahu, dan bisa langsung mendapatkan solusi."


"Iya Ummi. Nanti Akhri coba bicara, ya. Kita jangan bahas ini di sini. Seharusnya Ummi telfon saja biar Akhri yang kerumah Ummi." Akhri berbicara amat pelan. Berusaha meredam suara sang ibu yang sedikit bernada tinggi.


Ummi Salma diam, ia menghela nafas. Rasanya sangat sesak. Beberapa kali pertemuan dengan para Bu Nyai, yang di tanyakan tentang cucu,cucu dan cucu. Belum lagi mendengar dua madunya sudah memberikan cucu untuk suaminya, membuatnya semakin merasakan gerah.


Setelah situasi sedikit hening, Maryam baru berani keluar. Menyuguhkan minuman untuk ibu mertuanya.


"Minum dulu Ummi."


Ummi Salma menatap tangan Merr yang memang terlihat kurus.


"Kamu terlihat makin kurus saja?"


Maryam tersenyum. "Masa sih, Ummi?"


"Makannya yang banyak. Jangan terlalu memilih."


"Merr banyak kok makanya. Hari ini saja sudah banyak jajan sama Abang tadi," jawabnya ceria.


"Besok kamu nggak sibuk, kan?" Tanya Ummi sembari meraih cangkir berisi teh hangat. Maryam menggeleng pelan. "Kalau begitu ikut Ummi ke dokter kandungan, ya?"


"Mau, ya?" Ummi yang tak mau kalah memegangi tangan wanita di hadapannya. "Hanya periksa, jadi bisa tahu solusi apa yang harus kamu lakukan agar bisa cepat hamil."


Maryam merasa terhentak, namun ia berusaha tersenyum. Lalu mengangguk.


Ajakan Ummi tidak salah kok ... hanya memeriksa kesuburan ku, tidak apa-apa.


"Iya Ummi, Maryam mau. Periksa ke dokter."


"Sama Abang saja. Kita periksa kondisi kita sama-sama. Pekan depan, ya. Tunggu Abang pulang dari kulon Progo."


Maryam mengangguk lagi. Nampak Ummi bernafas lega hingga suasana pun kembali cair. Mereka mengobrol ringan beberapa saat sebelum Ummi pulang.


Akhri dan Maryam mengantar Ummi hingga ke depan pagar rumah mereka, memandangi motor Ummi yang semakin menjauh.


"Dik, bener mau periksa ke dokter?"


Maryam menoleh. Ia mengangguk. "Iya, biar jelas. Kali saja bisa kita mencoba bayi tabung, Bang?"


Akhri manggut-manggut. Namun raut wajahnya berubah khawatir.

__ADS_1


"Abang kenapa?"


"Nggak papa ... cuman?"


"Apa?"


"Nggak papa, sayang. Kita masuk saja yuk." Akhri mulai melangkah menggandeng tangan Maryam masuk ke rumah mereka.


–––


Di dalam kamar, pria itu menatap lekat wajah Merr yang tengah memejamkan mata.


Tidur dalam posisi miring, dengan tangan menopang kepala.


Maryam membuka mata, netra peri itu mengamati wajah sang suami yang penuh dengan kebisuan.


"Abang kenapa, sih?"


"Hemmm?" Akhri mengusap pipinya. "Nggak papa, Abang sedang berpikir saja."


"Apa?"


"Kalau Abang yang bermasalah, bagaimana? Lagian tidak perlu kita periksa kesuburan. Lebih baik tidak tahu kondisi kita daripada nanti jadi beban pikiran, Dik."


Mendengar itu Maryam sendiri lah yang jadi merasa risau. Bukan masalah jika suaminya yang memiliki masalah kesuburan, namun jika rupanya Dia sendiri, bagaimana?


"Tidak usah, ya? Nanti Abang coba bicara lagi sama Ummi untuk lebih sabar lagi. Lagian pernikahan kita baru mau tiga tahun, masih banyak waktu dik."


"Jangan, Bang. Merr mau kita tetap periksa ke-dokter."


"Tapi?"


"Bang, jangan takut. Demi kebaikan kita, mau ya periksa kesuburan?" Maryam berusaha untuk menenangkan suaminya, membujuknya untuk bersedia periksa ke dokter. Walau tatapan Akhri terkesan keukeuh menolaknya. "Begini saja ... bagaimana kalau kita saling berjanji?"


"Janji?"


Maryam mengangguk sembari tersenyum. Meraih lengan Akhri yang tertekuk. Menjadikan itu bantalan lalu memeluk lingkar pinggangnya.


"Kita saling janji, apapun hasilnya kita akan saling menerima kekurangan kita. Syukur-syukur sih, tidak ada masalah pada kesuburan kita. Hanya memang sedang di tunda."


"MashaAllah..."


"Janji, ya? Hanya berdua, walaupun tanpa anak."


"Iya, Dik." Akhri mengecup kening Maryam lembut, setelah itu menatap mata yang tak terlalu sipit milik Maryam. "Kita akan tetap berdua. Dengan, atau tanpa anak. Sebab Abang sayang sama kamu. Tidak akan mampu Abang menduakan kamu." Dikecupnya bibir manis sang istri beberapa saat, lalu di lepas serta mengusapnya dengan ibu jari.

__ADS_1


"Maryam juga, sangat menyayangi Abang. Aku pula tidak akan rela jika di duakan," Maryam mempererat pelukannya seraya menatap mata sang suami.


"MashaAllah ... istri sipitku yang Soleha," goda sang suami. Keduanya lantas tertawa kecil, lalu melanjutkan obrolan manis itu di atas bantal yang sama. Hingga mereka mulai mengantuk dan tertidur.


__ADS_2