
Seusai membeli dimsum Bilal masuk kedalam restoran tadi, menghampiri rekan-rekan Hadrohnya. Dimana semua makanan telah tersaji di hadapan mereka. Seperti dua bakul nasi berukuran sedang, cah kangkung, SOP ayam, Nila bakar, juga beberapa potong ayam bakar.
Semua nampak menggugah selera, namun belum ada satupun piring mereka yang terisi nasi. Mereka masih menunggu Bilal, merasa tidak enak saja jika mengambil makanan itu lebih dulu sebelum sang Habib.
"Kok, belum pada makan?" tanyanya sembari meletakkan dua kotak dimsum ke tengah meja.
"Kami nunggu Antum, Bib," jawab salah satu dari mereka.
"Saya mah nggak usah di tunggu! Lagi nggak pengen makan nasi," jawabnya sembari ngambil secentong nasi lantas meletakkannya di atas piring salah satu dari mereka. Yang paling dekat dengan Beliau. "Makan–makan..." titahnya.
"Barakallah, nuhun Bib." ucap pria di sebelah, yang tadi di ambilkan nasi oleh Bilal.
"Udah buruan pada makan, gih! saya mau makan ini aja," ucap Beliau sembari membuka satu kotak dimsum. Sejenak memandangi mereka sembari tersenyum tipis ketika anak-anak Hadroh mulai mengambil nasinya secara bergantian. Setelah itu kembali fokus pada jajannya sendiri dengan tangan yang bekerja menusukkan salah satu dari makanan tersebut. Kang Beben sendiri langsung menyerahkan piring kecil untuk Bilal dengan sopan.
"Buat tempat sausnya, Bib."
"Makasih, Kang," jawabnya. Kang Beben pun mengangguk masih memandangi Habib Bilal yang mulai memakan dimsumnya.
"Bib, beneran nih cuma makan ini aja. Kita udah telat makan siang, masa Habib nggak makan nasi?"
"Ini juga ngenyangin, Kang..."
"Tapi nanti kan jadwal kita padat, Bib. Habib kan ada penyakit lambung, jadi nggak boleh telat makan. Teteh juga sudah wanti-wanti ke saya buat awasin pola makan Habib," terangnya khawatir. Namun, Bilal hanya tertawa.
"Nggak papa, Kang. Nanti juga bisa makan setelah sampai hotel," jawabnya santai. "Kang Beben makan, gih! Biar nanti kita cepet jalan lagi," sambungnya.
"tapi obatnya ke bawa 'kan? mending habib minum obat dulu biar nggak jadi masalah."
"iya–" Bilal mengangguk, lalu merogoh tasnya. mencari-cari botol berisi kapsul obat.
"bagaimana, Bib?"
"duh, terakhir aku minum obatnya dimana, ya? sepertinya ketinggalan."
"jangan-jangan ketinggalan di hotel yang di Jogja?"
Bilal menepuk bahu kang Beben untuk tenang, "udah santai, nanti mampir aja ke apotik." Beben segera mengangguk pelan. "Kang, makan dulu aja, nggak usah mikirin saya. Yakin deh nggak akan terjadi apa-apa, inshaAllah."
"iya Bib." Beben mengangguk lagi setelahnya turut nimbrung rekan-rekan lain mengambil lauknya, lantas menikmati hidangan lezat tersebut dengan tenang tanpa suara selain dencingan sendok yang beradu dengan permukaan piring keramik saat mengambil sayur ataupun lauknya.
__ADS_1
Empat puluh menit kemudian mobil kembali berjalan setelah mbayar makanan dan minuman mereka. Ketenangan tercipta cukup lama, karena habib lebih fokus melihat jalan lengang di depan. Bertemankan musik Nasyid yang tak begitu kencang.
Tangannya juga tak henti-hentinya memasukkan ujung plastik panjang kedalam mulut. mengemil pasta coklat yang ia bawa. Menikmati jajanan anak-anak itu sepanjang perjalanan, seperti sebuah kenikmatan tersendiri baginya.
––
Sama halnya dengan Bilal, setelah berburu kuliner, Maryam akhirnya mendapatkan apa yang ia inginkan. Kuotie halal yang terlihat lezat. Merr menggigit ujungnya.
"Gimana, Tante?"
"Tetep enakan punya Koh Afung. Maaf sedikit mengkritik Ini kaya banyak tepungnya, ayamnya nggak begitu terasa Deb," bisiknya.
"Yang penting kan tetep gurih," jawabnya. Merr mengangguk. Setidaknya rasa kuotie itu masih bisa ia nikmati. Selepasnya mereka berpindah tempat, menuju tempat bermain anak-anak.
Sat baru masuk, Alzah seperti diam saja belum langsung menyentuh wahana apa yang ingin ia mainkan.
Sementara Debby mengisi Card main-nya, Merr mengajak Alzah duduk lebih dulu, sebab tiba-tiba saja ia merasakan tubuh yang tidak sehat. Rasa pusing dan tak bersemangat seperti biasanya tahu-tahu muncul mengganggu momennya bersama Debby dan Alzah.
"Ayo mau main yang mana?" Ajak Debby.
"Deb, Tante mau duduk aja lah. Pusing..."
"Nggak tahu nih. Sudah dari habis makan tadi itu. Perut langsung kaya nggak enak."
"Terus gimana, mau pulang aja?"
"Alzah 'kan belum main. Masa langsung pulang?"
"Nggak papa, justru mumpung Dia belum main." Debby menunduk sembari menyentuh pipi anaknya. "Nak, kita pulang aja yuk... mainnya nanti sore aja sama Abi, ya?"
Alzah diam saja, anak laki-laki itu seperti tidak ingin pulang namun belum ingin main. Menggelayut saja di tubuh Debora.
"Zah?" Panggilannya, namun anak itu malah justru menarik tangan ibunya sembari menunjuk salah satu mesin arcade.
"Tuh anak kamu mau main, Deb. Udah sana main aja dulu. Nggak papa Tante duduk disini aja."
"Tapi aku khawatir Tante makin ngerasa nggak nyaman." Debby masih menahan sang anak yang terus menarik tangannya.
"Tante ke toilet sebentar, ya." Merr beranjak dengan tergesa-gesa pergi menjauh dari keponakannya itu, setelah Debby menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya Allah... Tante Maryam kenapa, ya? Apa karena makan kuotie tadi?" Debby terheran-heran namun juga khawatir. "Tapi aku juga makan, bahkan lebih banyak dari Tante, nggak papa tuh..."
"Ummaaa... Ummaaa... kesitu, ayo kesituuuu...." Alzah semakin menarik tangan ibunya, yang langsung di turuti oleh Debby.
–––
Beberapa menit berselang, Merr sudah kembali. Nampak wajah cantiknya terlihat pucat dan lemas. Debby sendiri segera mendekati sembari menyerahkan air minum untuknya.
"Ya Allah, Tante sakit beneran ini mah?"
"Nggak tau, nih. Udah nggak nyaman banget." Merr mengusap-usap perutnya yang tak nyaman.
"Ya udah kita pulang aja yuk, Tante tidur di rumah ku. Nanti kalau udah enakan baru pulang. Mobilnya biar aku yang bawa, Tante istirahat aja," ucap Debby memberi saran. Merr mengangguk, mengiyakan. Untungnya Alzah sudah bermain walaupun hanya tiga mesin arcade jadi dia tidak begitu sulit untuk di ajak pulang walaupun ia terus berbicara pada ibunya agar membawanya ketempat ini lagi.
Di rumah Debby Merr hanya tidur sekitar satu jam itupun tak nyenyak. Dan pada pukul empat sore ia kembali. Walaupun Debby menawarkan untuk mengantarnya karena khawatir, Merr tetap menolak. Ia merasa tubuhnya sudah lebih baik. Jadi tidak masalah untuknya menyetir.
***
Sebelum subuh Merr sudah terjaga, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk bebersih. Melihat pasta gigi di wadahnya sudah habis. Ia pun mengambil stock di lemari khusus perlengkapan mandi.
Saat tangan itu meraih kotak pasta gigi, ia menyentuh bungkusan hitam yang berada di ujung. Membuat ingatannya kembali, pada hari dimana Bilal sangat antusias ketika tahu dirinya telat datang bulan.
"Ya ampun, alat ini jadi nggak terpakai. Mana belinya sampai tiga, lagi!" Maryam meraih salah satunya. Bibirnya tersenyum tipis, ia kembali meletakkan itu dan menutup lemarinya. Namun sejenak termenung matanya masih terarah kelemari sebelum akhirnya kembali membukanya.
Masa iya? –batinnya setelah mengingat rasa tak nyaman yang akhir-akhir ini ia rasakan. Merr meraihnya lagi, lalu membawanya mendekati toilet duduk sembari membuka bungkusnya.
"Aku takut kecewa, tapi nggak ada salahnya mencoba sekali lagi. Setelah ini kalau masih negatif, maka aku akan membuang semua alat tes kehamilan itu," gumamnya ketika hatinya seolah mendorong kuat Merr untuk memeriksa air seninya pagi ini.
Matanya menyipit, ia mengangkat alat tersebut. Mencoba untuk yakin dengan keakuratan alat tes kehamilan tersebut.
"Du-dua garis?" Seolah tak percaya dengan hasilnya. Maryam hanya bisa bengong untuk beberapa saat. Ia pun mencoba memeriksanya lagi dengan dua alat lainnya. Menunggu beberapa detik sampai dua dari alat itu juga menunjukkan hasilnya. "Ya ampun!"
Merr melemas, menutup mulutnya. Kedua netranya mengembun. Ia bergegas keluar dari kamar mandi, dimana adzan subuh sudah berkumandang.
Langkahnya terseret pelan, pandangannya terarah pada tiga alat tes kehamilan tersebut.
"Allah... aku tidak percaya ini. Aku?" Tangannya bergetar hebat, jantungnya pun terasa berhenti berdetak untuk beberapa saat. "Aku pasti bermimpi, ini beneran kah?" Air matanya lolos begitu saja, sementara bibirnya tersungging lebar.
"Ha-hasilnya positif. Hiks... aku hamil?" Maryam terisak, ia menurunkan tubuhnya. "Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!" Maryam bersujud setelahnya, dengan bahu berguncang kuat. Ia terisak-isak mengucap kalimat tauhid berkali-kali sebagian tanda syukurnya ketika akhirnya bibit itu berkembang menjadi janin dalam rahimnya yang tandus.
__ADS_1