
Beberapa hari kemudian, Merr terkejut dengan kehadiran wanita paruh baya yang menyambangi rumahnya. Wanita berhati lembut juga menyejukkan hati apabila bertutur kata. Wanita yang bahkan sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri, teman berbagi rasa apabila tengah ingin mencurahkan isi hati, ialah Ibu Karimah.
"MashaAllah..." sigap memeluk erat tubuh wanita itu selepas mengecup punggung tangannya. "beneran aku nggak percaya Ibu sampai sini, kok nggak kabarin di awal sih, biar Merr bisa siap-siap."
"Nggak perlu juga harus siap-siap, Merr. Kaya menyambut tamu agung aja hahaha. Lagian, tadinya ibu mau ke acara ta'lim. Nggak tahunya salah hari, pas udah mau sampai lokasi. alhasil putar balik, deh..." Bu Karimah tertawa.
"Ya Allah, kok bisa?"
"Qadarullah Merr. Entahlah, kenapa bisa salah jadwal. Seharusnya besok malah jadi hari ini datangnya. Jadi malu ini..."
"Jangan malu, Bu. Mungkin memang benar, sejatinya ibu itu ditakdirkan untuk kesini. Hehe... tapi aku seneng banget! ketika Bu Karimah bersedia mampir ke rumah ku." Merr masih memegangi erat kedua tangan Bu Karimah
"MashaAllah... berasa menyambangi rumah anak kedua ini jadinya, ibu juga senang saat tahu lokasi ta'lim dekat dengan tempat tinggal mu," menanggapi dengan tawa juga.
"Allah... harusnya memang begitu. Hahaha, masuk, yuk," ajaknya masih menggandeng tangan Bu Karimah setelah mengangguk.
Sesampainya di ruang tamu yang cukup luas, Bu Karimah menoleh ke berbagai penjuru.
"Rumah mu sepi, Sayyid tidak dirumah? Anak kamu mana?" tanyanya.
"Beliau sedang perjalanan ke luar kota. Baru berangkat kemarin siang. Sementara anakku baru saja di Bawa Ummi Anisa kerumahnya."
"Oo... begitu ya. Bu Anisa pasti sayang sekali dengan cucuknya?"
"Sangat Bu, Alhamdulillah tidak nampak perbedaan kasih sayangnya antara cucu dari kami ataupun dari anak keduanya."
"MashaAllah, kalau itu ibu percaya. Bu Anisa memang terkenal wanita yang amat lemah lembut dan penyayang anak kecil."
"Iya Alhamdulillah... walaupun kadang jadi lebih sepi. Karena anak itu kalau sudah di rumah neneknya betah sekali. kadang sampai meminta bermalam di sana. Paling akunya yang ngalah, akhirnya tidur di rumah Ummi ketika Yahya tidak mau pulang."
__ADS_1
"Nggak papa lah, hitung-hitung jadi buat teman neneknya," Merr mengangguk sembari tertawa lirih. Sementara ibu asisten rumah tangga keluar seraya membawa nampan berisi secangkir teh hangat serta tiga toples berisi makanan.
"Di minum, Bu."
"Alhamdulillah, terima kasih." Bu Karimah meraih cangkirnya, lantas menyeruput sedikit. "kamu juga pasti sudah semakin terbiasa kalau di tinggal-tinggal begini sama suami?" tanyanya sembari meletakkan lagi cangkirnya.
"Iya, bedanya sekarang ada anak jadi sedikit teralihkan. Kalau dulu, setiap di rumah bingung mau apa," tuturnya sembari terkekeh.
"MashaAllah, ibu turut senang mendengarnya. Kamu jadi nampak lebih ceria seperti Merr yang dulu, saat pertama kali Arshila membawa mu ke rumah."
Merr tertawa renyah sembari mengucap hamdalah, bersamaan dengan Bu Karimah.
"Merr apakah kamu sudah tahu, bahwa ada kabar bahagia tentang Beliau?"
"Beliau, Ustadz Akhri?" Merr sudah menangkapnya, secepatnya Bu Karimah mengangguk.
"Alhamdulillah, saya sudah mendengar kabar baik darinya yang akan melangsungkan pernikahan. Benar begitu, Bu?"
"benar Merr. apakah Arshila sudah memberitahu?"
"Tidak, justru suamiku yang memberi tahu."
"Oo..." gumamnya lirih.
"Ibu tahu, aku sangat bahagia saat mendengar kabar Ustadz Akhri akan menikah lagi." Merr menghembuskan nafas, rasanya dada ini plong. Tidak ada lagi beban atau apapun. Ia senang ketika Ustadz Akhri bisa menemukan tambatan hatinya. "Ku harap dia bahagia, dengan wanita yang sekarang..." imbuhnya dengan tatapan tulus memberikan doa terbaik untuk sang mantan suami.
"Aamiin mudah-mudahan demikian, karena ibu melihat aura antusiasnya. Seperti kala dia akan menikah dengan mu dulu."
Merr menoleh tanpa berniat untuk menanggapinya lebih dulu.
__ADS_1
"Dia sudah menemukan apa yang di cari. Pasangan yang mungkin mampu menutupi kegalauannya selama ini," sambungnya. Maryam pula tersenyum tipis.
"Syukurlah kalau begitu."
"Kamu juga, sekarang lain. Nampak lebih bahagia. Ibu jadi lega, rasa bersalah ibu pula berkurang. Sebab sekarang bisa kembali tertawa lepas, tak seperti dulu ketika lebih banyak menjatuhkan air mata saat hidup bersama keponakan, ku."
Merr tersenyum sekenanya, "Alhamdulillah... tapi nggak gitu juga, Bu. Aku merasa selalu bahagia, kok. Karena aku bersyukur dengan setiap jalan hidup yang ku tempuh. Entah saat bersamaan Sayyid ataupun Beliau." Bu Karimah manggut-manggut seraya tersenyum, menanggapi. "Terkadang hidup bersama Sayyid pun tak semulus apa yang orang lain lihat di luaran. Ibu tahu kan, normalnya rumah tangga tidak akan terhindar dari konflik?"
"Iya benar..."
"Hanya bedanya? cinta yang kami jalin selama ini, tak pernah mengandung konflik yang ekstrim seperti saat aku hidup bersamanya. Maaf, aku tak bermaksud mengulik masa lalu, hanya ku jadikan hikmah saja. Sembari terheran-heran dengan garis takdir yang terlalu berliku ini. Kenapa tidak lurus saja, jika memang sejatinya jodohku itu dengan Habib?"
Bu Karimah menanggapi dengan senyum, ia menangkap maksudnya.
"Begitulah rumus kehidupan yang kita sendiri tidak pernah tahu, lewat jalan mana untuk bertemu ujungnya. Mungkin dulu kamu belum memiliki akses untuk bersama Habib. Tapi, kala itu juga kamu amatlah butuh perlindungan seorang pria di masa-masa awal keislaman-mu. Hingga Tuhan mengirimkan Akhri lebih dulu untukmu. Walaupun mungkin terasa pedih, tapi tak bisa di pungkiri. Kalian tetap bahagia, 'kan? Sebelum itu?" tanyanya.
Merr pun mengangguk pelan. Karena, terlepas dari poligami Beliau dulu. Ustadz Akhri adalah suami yang baik.
"Dan, mungkin memang Akhri itu sejatinya di peruntukan untuk wanita seperti Hapsoh yang memiliki keistimewaan hingga membuatnya sulit untuk mencari pria yang akan tulus menerimanya. Dimana dia lebih membutuhkan Akhri dengan kondisinya yang sekarang."
"Keistimewaan seperti apa maksudnya?"
Bu Karimah tersenyum tipis. "Ibu tidak bisa memberitahukannya. Intinya, wanita itu istimewa. Hampir sama seperti dirimu."
"MashaAllah–" Merr seolah memahami. Hatinya tersentuh walaupun ia belum paham sepenuhnya makna di balik kata istimewa yang di sematkan untuk calon istri mantan suaminya dulu. Apakah dia memiliki masalah yang sama? Tatapan itu seolah memberikan pertanyaan yang membuat Bu Karimah bisa membaca pikirannya.
Mungkin apa yang ada pikiran mu itu benar, Merr. Kondisi wanita itu jauh lebih parah dari kondisimu. Dari situ pula alasan Akhri menikahinya. Ia ingin mencintai Hapsoh, sebagai caranya menembus kesalahan di masalalu. –Batin Bu Karimah.
Ya, Ustadz Akhri memang sempat bercerita tentang wanita itu kepada Bu Karimah. Ibunda Arshila itu pula menanggapi dengan antusias serta terharu. Saat Akhri mengatakan niat baiknya itu kepadanya. Serta berharap, tidak akan terulang kembali kisah Maryam untuk Hapsoh. Sebab, Ummi Salma pula menerimanya dengan lapang dada, walau sebelumnya pernah bergeming cukup lama serta meminta waktu untuk berpikir ketika di beri tahu, jika wanita yang akan Akhri nikahi adalah gadis tanpa rahim.
__ADS_1