
Maryam menengguk air dalam botol minumannya. Membasahi kerongkongan yang kering setelah puas berkeliling dengan sepeda. Lantas berhenti di salah satu taman kota yang terletak tak jauh dari rumahnya, taman yang tak begitu luas namun ramai orang datang.
Merr meluruskan kakinya, bergerak-gerak hingga sepatu di kedua kakinya itu terketuk-ketuk. Duduk langsung di atas rumput.
Tangannya berkerja menutup botol minum, setelah selesai meneguk isinya. Maryam termenung, memandangi orang-orang berseliweran di depan.
Sejatinya pikirannya masih tertuju pada ucapan ibu panti. Belum lagi DM tadi malam. Ia membaca tanpa membalas, hanya menjawab salam Bilal dari gumaman bibirnya langsung.
Maryam tidak ingin terlalu memikirkan. Karena sudah pasti akan seperti yang lainnya, mendekati hanya untuk menambah luka baru. Sejujurnya ia tahu, tak baik berpikir buruk ketika mendapati niat baik seseorang.
Tapi, luka menganga akibat pernikahan sebelumnya benar-benar membuatnya takut. Lebih-lebih dengan pria yang paham agama.
Merr khawatir, akan terjadi hal yang sama. Jadi dari pada menambah luka lain lebih baik sendiri saja. Untuk selamanya...
Sebuah panggilan telepon membuatnya terkesiap, Merr mengeluarkan ponsel tersebut dari dalam tas kecil yang ia kenakan.
"Hallo, Deb?" Semangat.
"Tante, siang ini aku, Abi Irsyad dan juga Kak Rumi akan berkunjung ke rumah Tante. Boleh..."
Ustadz Irsyad?
Maryam belum menjawab, jika Rumi dan Debby memang sudah biasa. Tapi kenapa tiba-tiba Ustadz Irsyad mau datang.
"Tante–"
"Emmm... ada apa ya? Kok tumben Ustadz Irsyad mau ikut datang."
"Kata Abi ada yang mau di obrolin sama Tante. Tante hari ini stay di rumah 'kan?"
"Iya, nanti siang Tante nggak kemana-mana, kok. Datang saja..."
"Baiklah, habis Dzuhur inshaAllah kami on the way."
Maryam tersenyum. "Iya Deb, Tante tunggu,ya."
__ADS_1
Setelah mengucap salah Debby langsung mematikan panggilannya. Maryam semakin merasa ada yang tak beres. Dirinya tiba-tiba gugup, membuatnya memutuskan untuk kembali menengguk sisa air dalam botolnya. Setelah itu beranjak dan pulang.
***
Maryam meletakkan tiga cangkir teh, bersama camilannya.
"Terimakasih... saya jadi bikin repot, Cece," kata ustadz Irsyad seraya terkekeh.
"Nggak papa Ustadz, orang cuma teh sama biskuit. Silahkan di minum, Ustadz."
"Iya..." Ustadz Irsyad meraih cangkirnya, lalu menyeruput sedikit setelah mengucap bismillah. "Kira-kira kedatangan saya kesini, mengganggu aktivitas Cece, nggak?"
"Enggak kok, saya juga sedang free tidak ada pekerjaan hari ini."
"Begitu, ya?" Ustadz Irsyad meletakkan lagi gelasnya di atas lambar. Setelah itu mulai berbicara. "Begini, saya sebenarnya datang kemari ada tujuan untuk menyampaikan amanah seseorang."
Maryam yang duduk dengan sopan masih mendengarkan. Hatinya yang bergetar seolah paham, amanah apa itu. Mungkinkah tentang Bilal? Ah... jangan dulu menebak, dengarkan saja.
"Maaf sebelum saya menyampaikan amanah itu, saya ingin bertanya. Apakah Cece sudah ada calon?"
"Belum ada Ustadz."
"Silahkan, Ustadz."
"Begini, saya menghormati, Cece sebagai Tante dari menantu saya. Namun semalam saya dapat kabar dari seseorang yang menurut saya pribadi, ini sangat baik. Bahkan beliau meminta saya untuk jadi perantaranya. Jadi misalkan ada seorang Ikhwan yang berniat mempersunting Cece. Apakah Cece bersedia untuk menjalankan ta'aruf dengannya?"
Maryam menarik nafas panjang tanpa bersuara, bibirnya mengulum sejenak. Lalu menggigit ujungnya. Matanya sesaat melirik kearah Debby yang sudah tersenyum lebar.
"Bagaimana?" tanya Ustadz Irsyad, sementara Maryam masih belum mampu menjawab.
"Tante, Beliau orang baik. Pasti Tante akan cocok," Rumi menimpali. Di tambah Ustadz Irsyad yang langsung menjelaskan dari keturunan siapa saja anak itu, lalu apa pendidikan yang ia ambil, serta gelarnya.
"Anu– apa beliau tidak terlalu tinggi untuk saya yang hanya orang biasa?" Tanya Maryam, mengetahui silsilah Bilal dari keluarga Abinnya saja sudah membuat Merr ragu.
"Habib Bilal, pastinya sudah konsultasi dengan guru-guru Beliau. Dan mereka setuju, katanya tidak masalah."
__ADS_1
"Tante, terima saja. Dia pasti akan menerima Tante," kata Debby. Maryam menggeleng, tanpa menimbang-nimbang kembali mengarahkan pandangannya pada Ustadz Irsyad.
"Mohon maaf Ustadz Irsyad, sepertinya saya tidak bisa menerima beliau. Sebab, di samping pemahaman agama saya yang masih sangat rendah untuk seorang Sayyid seperti beliau. Saya juga j*nda yang bercerai hidup dengan pasangan saya sebelumnya. Di tambah..." getir Maryam mengatakannya, suaranya mulai terdengar serak. "saya itu seorang wanita cacat yang memiliki masalah pada rahim saya. Jadi, sebelum melambung tinggi dan jatuh lagi. Lebih baik saya hindari."
"Tante–" Debby memegangi tangan Maryam, matanya sudah berkaca-kaca. kepala Maryam kembali menggeleng pada keponakannya.
"Kenapa tidak mencoba dulu, Cece ambil waktu untuk istiqarah?"
Maryam tersenyum, tangannya mengusap lembut pipinya yang basah akibat lolosnya air mata yang tiba-tiba mengalir di sana.
"Saya sudah berpikir dalam kurung waktu yang tak sebentar. Beberapa kali saya mencoba membuka hati, namun?" Maryam menelungkupkan tangannya di depan dada. "Tetap tidak bisa, Ustadz. Saya punya trauma masa lalu, yang tak bisa saya jelaskan."
"Tante, tapi nggak semua laki-laki Soleh seperti itu. Debby percaya, masih ada laki-laki yang tulus mau bersanding dengan Tante."
Maryam tak menjawab selain tersenyum pada keponakannya.
"Maaf, Ustadz. Tolong sampaikan pada beliau, kalau saya menghargai niat baiknya... tapi saya tidak bisa menerima Habib Bilal, karena bukan berarti saya angkuh. Justru ketidakberdayaan saya sebagai seorang wanita, pasti akan membuat Dia menyesal..."
Debby lemas mendengarnya. Padahal ia sudah sangat bahagia, karena bibinya tidak akan menjadi sendiri lagi apabila menikah dengan habib Bilal.
Ustadz Irsyad tersenyum, beliau mengangguk karena menghargai keputusan wanita di hadapannya. Hingga kabar pun sampai ke telinga Bilal via telpon seluler.
"Saya sudah berusaha, tapi sepertinya trauma di pernikahan sebelumnya masih pekat menutupi hati Ce Maryam. Dia tidak bisa membukanya walaupun hanya sedikit," kata Ustadz Irsyad. Bilal yang tengah berdiri di depan jendela pun terpekur sejenak. "Kita coba lagi saja, tapi kasih jeda."
"Iya Ustadz..."
"Kamu harus semangat, di tolak wanita itu hal biasa. Jangan di ambil pusing."
Bilal tersenyum, "ya Ustadz... tapi saya tidak menyerah sih, saya akan coba lagi."
"Boleh, asal tetap tahan nafsu, ya. Bergerak secukupnya saja, perbanyak lambungkan doa..."
"inshaAllah, Ustadz. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak atas bantuan Ustadz."
"Sama-sama. Kalau begitu saya tutup, ya. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Walaikumsalam warahmatullah." Bilal menurunkan ponselnya, lalu meletakkan itu ke atas meja. Kedua tangannya mengusap naik dari dahi kebelakang kepala. Menghembuskan nafasnya kemudian. "Mungkin niatku kurang baik, akan ku perbaiki lagi setelah ini. Aku harus menahan diri, dan sekeras mungkin menahan fitnah di dadaku."
Bilal menghembuskan nafasnya berkali-kali, mencoba menormalkan hati. Setelah itu meranggai pecinya di atas meja, memakainya langsung setelah itu keluar dari kamarnya karena sebentar lagi akan masuk waktu Magrib.