
Di satu hari yang sama, Akhri menghentikan aktivitasnya. Setelah bermain bersama anak-anak di kebun raya Bogor.
Ia meraih botol minumnya lantas menengguk air tersebut sembari mengawasi Ketiga anaknya yang masih betah berlarian. Bermain gelembung sabun dan lain sebagainya.
Ya, keluarga itu hanya pergi berlima tanpa pengasuh. Karena Akhri ingin, hari ini murni menghabiskan waktunya menjaga anak-anak tanpa bantuan pengasuh mereka.
Ummi sedari tadi hanya duduk di atas matras yang di gelar di antara rerumputan. Mengabadikan momen mereka menggunakan kamera ponselnya sembari tertawa. Melihat Daud berlarian sembari jejeritan di kejar Alma.
"Ummi bilang apa? Mereka butuh refreshing," gumamnya masih mengarahkan kamera kearah cucuk-cucuknya.
"Pengennya sering-sering meluangkan waktu begini. Tapi mau bagaimana lagi... aku sibuk, Mi."
Ummi Salma menurunkan ponselnya. Setelah selesai merekam. Ia membenahi kacamatanya lalu menoleh kearah sang anak.
"Kapan kamu menikah lagi?" tanyanya.
"Belum ada gambaran, Mi."
"Jangan terlalu banyak memilih. Anak-anak harus punya ibu sambung."
"Memilih ibu sambung untuk anak itu tak semudah mencari istri untuk diriku sendiri," jawabnya sembari membuka layar ponselnya. Ummi pun mengalah kembali terdiam.
Sesaat Akhri termenung, memandangi layar ponsel. Tepatnya ketika ia baru saja membuka aplikasi sosial media miliknya.
Merr sudah melahirkan... gumamnya dalam hati. ketika tak sengaja melihat postingan Habib Bilal hari itu. Foto seorang bayi mungil di dalam boks bayi tengah memejamkan matanya. Ia beralih pada catatan di bawah. Lantas membacanya.
__ADS_1
[Momen paling mengharu biru, terima kasih ya zaujatti... pengorbanan mu untuk bersabar selama menjalani prosesnya. Hingga terdengar jerit tangis mungil yang membuatku tak bisa berhenti menangis. Aku bersaksi bahwa kamu adalah istri ku yang solehah.
Wahai tambatan hati... Yahya Akhlan Asegaf, selamat datang ke dunia ini. Abi berharap kepribadian mu akan sama seperti Nabi Yahya as. laki-laki Soleh yang lemah lembut, santun, serta sangat patuh dan taat kepada ibu-bapaknya.]
Selesai membaca caption ia kembali memandangi foto bayi tersebut lalu menggeser gambar berikutnya. Sebuah foto yang di ambil dari kamera depan oleh habib Bilal sendiri, dimana Beliau nampak bahagia berpose dengan gigi-giginya yang nampak. Sementara tangan kiri-nya merengkuh tubuh Maryam yang tengah tersenyum polos kearah kamera sembari mendekap erat bayi mereka.
Akhri tersenyum tipis. Dalam hatinya merasa turut bahagia memandangi wajah polos tanpa riasan itu. Meski demikian, aura cantik Maryam tetap terlihat.
Menghela nafas kemudian, ia menatap langit yang biru dengan awan-awan putih, bergerak mengikuti arah angin.
Jangan lagi paksa Merr untuk minum jamu ini, Bang. Merr nggak kuat... kalau memang Merr nggak bisa kasih anak, mau bagaimana lagi? Merr sudah ikhlas jika Abang ingin menikah lagi. –mendadak suara Merr terngiang di telinganya. Membuat Akhri tertunduk lesu. Mengingat momen-momen menyedihkan bagi mantan istrinya dulu.
Flashback on...
Tatapan Maryam kala itu nanar, bibirnya pucat, matanya pula sembab. Ia menggeleng pelan dengan keteguhan hatinya. Tanpa senyum, tanpa membalas tatapannya.
"Enggak, Bang," jawabnya keukeuh.
"Dik, kamu tahu Abang masih sangat mencintai kamu. Kamu bilang, kamu ikhlas kalau Abang menikah lagi, namun kenapa justru kamu menyerah...?"
"Aku ikhlas namun bukan berarti aku sanggup menahan kesaktian ini lebih lama. Aku tidak bisa membatalkan keputusan ku untuk bercerai dengan Abang. Maaf, aku sudah tidak bisa bertahan untuk di duakan."
"Tapi ini bukan kemauan Abang, untuk menduakan kamu. Selama ini siapa yang menekan Abang untuk menikah lagi, kamu kan?"
Maryam menitikkan air mata. "Abang benar, aku yang meminta Abang untuk menikah lagi. Aku pula yang membawa racun itu masuk sendiri ke dalam tubuhku. Semua karena kekurangan ku yang tak bisa memberikan Abang anak."
__ADS_1
"Kenapa selalu itu yang di jadikan alasan, Merr?"
"Memang hanya itu alasan terkuat-ku ingin menyerah. Tetaplah teguh dengan talak Abang itu. Karena besok sidang putusan akan di gelar, tolonglah datang dan jangan ajukan banding lagi. Aku lelah Bang..."
Flashback off
Akhri mendesah kasar. Lalu beristighfar berkali-kali. Membuat Ummi bingung sendiri.
"Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa, Mi," jawabnya tanpa menoleh kearah ibunya. Beliau lantas beranjak lalu berjalan sedikit menjauh setelah meminta tolong Ummi-nya untuk mengawasi mereka bertiga sebentar.
Akhri berjalan pelan hingga sampai pada salah satu aliran air yang jernih. Beliau berjongkok mendayung air tersebut dengan telapak tangannya ke depan.
Kenapa harus aku merasakan kerinduan yang haram ini kepada dia yang bukan halal-ku lagi. Padahal aku sudah mampu melupakannya di saat-saat masih ada Nia disisi-ku.
Akhri meruntuk dirinya sendiri. Merasa bahwa imannya memang kerap kali goyah setiap kali mengingat cinta pertamanya itu.
Merr, mungkin aku memang satu-satunya orang yang wajib kamu benci seumur hidupmu? Pria yang senantiasa membuatmu berderai air mata karena ketidakadilan yang ku berikan kepadamu.
Ku anggap, sakit yang tak pernah mengering ini sebagai hukumanku. Ya, kuharap semua orang paham. Kalau tidak ada luka yang biasa-biasa saja. Sekecil apapun akan terasa pedihnya. Seperti perceraian kita... ku anggap itu luka paling sakit dalam hidupku.
Abang sendiri tidak tahu, bagaimana cara menutup luka ini. Sementara kita sudah berpisah jarak yang tak akan pernah mampu ku tempuh menggunakan apapun. Jangankan untuk kembali, menyapamu saja sudah tidak bisa.
Akhri menarik nafas panjang lalu menghembuskannya sedikit kasar. Dirasa hatinya ingin menjerit sekeras-kerasnya. Mengharapkan waktu bisa kembali berputar kemasa-masa dirinya masih bersama Maryam. Tanpa Kania...
__ADS_1