
Selepas sholat subuh, Bilal kembali mengajak Merr berdzikir. Kali ini beliau menepati janji, hanya sebentar. Ambil yang paling wajibnya untuk di baca, setelah itu bermunajat.
Namun ketika sudah selesai Bilal masih bertahan, menyambung dzikirnya.
"A'a mau sambung dzikirnya, sama lanjut dzikir pagi. Nanti setelah itu kita keluar cari sarapan, ya. Nggak usah masak," katanya yang di balas anggukan kepala oleh Maryam.
Pukul 06:09 suara pintu kamar terbuka, Maryam menoleh menyambutnya dengan senyum.
"Udah, A'…?"
"Iya," jawab Bilal sembari mendekati. Lalu memberikan kecupan di kepala. Matanya terarah pada layar komputer yang menyala di hadapannya.
"A'a mau aku bikinin kopi dulu?"
"Nggak usah, aku nggak biasa ngopi pagi-pagi. Lebih banyak minum air putih sih kalau A'a mah. Dan tadi udah minum..." Melihat Maryam masih nampak fokus mengarahkan pandangannya ke layar monitor, Bilal kembali mengusiknya dengan kecupan dipipi. "Kamu lagi apa?"
"Ngedit tabungan bab Ku. Hanya baca ulang kok."
"Oh..." Bilal manggut-manggut, di lihat baru ada lima bab di sana. Beliau masih berdiri di belakang Maryam, dengan kedua tangan bertopang pada pinggiran meja, mengungkung tubuhnya dari belakang.
"A'a mau sarapan apa?"
"Enaknya makan apa, ya?" Tanya Bilal sedikit kurang jelas, karena bibirnya masih menempel di kepala Maryam. Menghirup aroma wangi rambut sang istri membuatnya betah menciumi terus-menerus.
"Di sini ada nasi uduk enak. A'a mau makan itu?" Maryam menoleh sejenak.
"Emmm, Aku kurang suka yang bersanten. Suka perih di perut. Yang lain aja ya..."
"Apa, ya?" gumamnya kembali menatap ke layar dengan jari telunjuk menekan-nekan tombol di mouse. Keluar dari menu dokumennya hingga ke layar utama. Setelah itu memegangi lengan sang suami sembari mengangkat kepalanya menatap wajah tampan, Bilal. "Sate mau nggak?"
"Sate Madura?" Bilal menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan jari telunjuk. Merr yang nampak malu-malu lantas memberikan kecupan di sana.
"Iya, di depan komplek ada yang jualan pagi, dan itu enak A'... sate pakai lontong," jawabnya setelah mencium pipi Bilal.
"Boleh deh, ramai nggak tempatnya?"
"Sekarang jam?" Merr melirik ke arah jam weker berwarna ungu di meja itu. "Wah... udah mulai ramai sih, pasti."
"Ya udah, kita ke sana sekarang. Kalau nggak memungkinkan untuk di makan di sana kita bungkus."
__ADS_1
Maryam mengangguk. "Aku ganti baju dulu, ya."
"Iya, A'a tunggu di depan," Bilal mencium kepala Merr lagi sebelum meraih tas yang biasa beliau pakai, lalu keluar kamar.
–––
Udara yang menyejukkan, dengan semburat cahaya mentari yang baru saja terbit memberikan sedikit kehangatan. Eh... tidak... tidak. Ini Jakarta, tentunya hawa gerah sudah mulai terasa. Namun udara sejuk masih bisa mereka nikmati, berhembus cukup kencang. Seiring laju kendaraan roda dua yang di bawa Bilal.
Pria itu berpenampilan biasa. Dengan celana training dan kaos berlengan panjang warna putih, serta tas yang melingkar di depan dadanya. Sementara Maryam menggunakan gamis sederhana dengan aksen tiga rimpel berwarna tosca. Bergo tali yang panjang sampai ke pinggang juga ia pilih untuk menutupi mahkotanya. Gamis berjenis Midi dress memang menjadi favorit Maryam, baginya gamis jenis itu simpel untuk momen santai. Namun tetap nampak cantik jika di pakai keluar rumah.
Sepanjang jalan Bilal banyak berbicara, agak berbeda dengan Akhri yang jika sedang berkendara lebih banyak diamnya, namun terkadang bersenandung juga.
Ahh... mendadak ingat Dia. Wajar saja, mantan suami pertama memungkin akan sesekali terkenang ketika mendapati momen-momen yang kebetulan terulang walau kini dengan pasangan baru lagi. Pria yang perawakannya lebih berisi dari Bilal itu memang masih sesekali melintas di pikiran Maryam. Terlebih jika memakan makanan yang menjadi kesukaan Akhri? Pasti Merr langsung mengingat beliau.
Tangannya langsung mempererat pelukan di pinggang Bilal. Kepalanya pula menempel di punggungnya.
Maaf A' tanpa sengaja aku ingat Dia. Tapi nanti pasti akan benar-benar bisa lupa kok. Setelah hati ini benar-benar terisi penuh denganmu.
Merr merasa bersalah namun ia tetap bersyukur, setelah beberapa tahun merasakan kekosongan hati dan rindu yang tak terarah, sekarang ia bisa memiliki kekuatan untuk semakin membuang jauh-jauh masalalu. Dan kemudian bahagia dengan Bilal. Sementara itu yang di depan berdeham, senang.
"Pegangannya kenceng banget, aku nggak akan terbang kok hanya karena kurus," ledeknya, dengan tangan kiri mengusap lembut tangan Maryam yang menempel di perutnya. Kepala Maryam pun sedikit di miringkan, hingga wajah cantiknya bisa terlihat dari kaca spion. Bilal tersenyum, sebelum kembali fokus menatap ke depan.
"Loh, kalau ada yang ngajak kenalan ya tinggal kenalan aja... nggak papa nambah tali persaudaraan."
"Iya kalau laki-laki, kalau yang ngajak itu perempuan?"
"Tetep boleh dong, masa nggak boleh?"
"Dih..."
"Bercanda, sayang." Bilal tertawa sembari melirik kearah spion, nampak Maryam yang cemberut galak menghunuskan pandanganya ke arah spion.
Sampai di salah satu warung, mereka langsung mencari tempat kosong namun sepertinya penuh. Karena ada banyak orang yang duduk di hampir semua bangku, ada yang sedang makan atau mungkin masih menunggu pesanan mereka. Namun yang menjadi sulit, bukan mencari tempatnya, melainkan ada beberapa anak remaja perempuan yang tiba-tiba ngeh ada idola mereka di tempat ini.
"Ya Allah, Kakak Habib– MashaAllah... Assalamualaikum, Kak..." Salah satunya berseru. Bilal pun menelungkupkan kedua tangannya menyapa mereka semua.
"Walaikumsalam warahmatullah..." Bilal hanya tersenyum sekenanya. Ia pun menggandeng tangan Maryam.
"Kakak, boleh minta foto nggak? Boleh ya?"
__ADS_1
Bilal melirik kearah Maryam, wanita itu sepertinya tak keberatan ia hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Boleh... tapi seperti biasa, ya. Agak atur jarak."
"Iya Kak Bilal..." Mereka antusias, tak habis dengan satu gerombolan gadis remaja, beberapa yang lain juga sama. Bilal sendiri jadi agak kesulitan untuk bergerak, ia pun meladeni beberapa setelah itu kembali menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Maaf, ya. Saya lagi sama isteri, mau makan dulu," ucapnya pelan-pelan. Mereka pun mengiyakan, bahkan ada beberapa pula yang menyapa Maryam dengan sopan. Segera setelahnya Bilal menggandeng tangan Maryam lagi lalu mengajaknya ke sudut lain.
Maryam duduk di hadapan Bilal sembari tersenyum jail. "Kakak Habib–"
"Apa?"
"ABG semua loh fansnya..." Ledek Maryam lagi.
"Astagfirullah, apa Alhamdulillah ini?" Bilal geleng-geleng kepala membuat Maryam tertawa.
Suasana warung yang semakin ramai membuat mereka tidak jadi makan ditenpatnya, melainkan memilih untuk di bawa pulang. Tak hanya itu ada hal yang sebenarnya membuat Bilal maupun Merr tidak nyaman.
Sebab, semakin lama mereka di warung itu maka semakin banyak pula paparazi dadakan yang diam-diam mengambil foto Merr dan Bilal. Ya... itulah masyarakat sekarang. Gemar mengabadikan momen seseorang entah dalam bentuk video ataupun foto tanpa izin. Dan perlu di garis bawahi, perbuatan itu sangat tidak sopan sebenarnya dan sebaiknya di hindari.
–––
Di rumah, satu porsi di piring Bilal sudah habis. Sementara di piring Maryam masih tersisa beberapa potong lontong dan lima tusuk sate yang belum di makan.
"Habiskan Merr. Nggak baik menyisakan makanan, nanti berkahnya hilang."
"Aku udah kenyang. Nggak bisa nampung lagi."
"Sini kasih aku. Biar aku yang menghabiskan."
"Masa kamu makan sisa?"
"Nggak papa sisa istri, mah. Tapi janji, setelah ini kalau makan di habiskan."
"Ya kakak Habib..." Maryam bertopang dagu, seraya terkekeh. Membuat Bilal yang hendak menggigit satenya jadi urung, ia melirik sejenak setelah itu menghela nafas.
"Hemmm, kalau cemburu bilang! jangan di pendam. Nanti kalau aku nggak bisa nahan gemas gara-gara kode dari kamu. Bisa ku minta jatahku langsung, loh!" jawabnya seraya melanjutkan makan.
"Astagfirullah al'azim, A'a!" Maryam mendelik dan segera mencubit pinggang sang suami yang seketika itu pula tertawa.
__ADS_1