Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
keinginan Ummi Salma


__ADS_3

Maryam yang baru pulang dari acara keluarga kembali murung.


Wanita itu tidak bisa berbicara banyak untuk sesaat, hatinya tiba-tiba porak-poranda tergerus keinginan besar ibu mertuanya yang seolah menghantam keras ke dada.


"Kamu tahu, 'kan? Pondok pesantren ini butuh pemimpin asli dari keturunan Abdul Aziz. kalau ada anak yang hadir di sini tapi bukan anak kandung dari putraku bagaimana bisa menggantikan posisi Abinya?"


Saat itu ia sudah seperti orang bodoh yang jangankan untuk menolak dengan tegas. Memelas pun tak bisa agar ibu mertuanya bersedia untuk bersabar lagi dan memberikannya kesempatan. Ia yang hanya terdiam dengan mata yang mengembun, menahan tangis hanya mampu tergugu seraya mendengarkan.


"Jangan egois Maryam! Kita itu tidak akan sempurna sebagai seorang wanita jika belum memberikannya hak keturunan."


suara Isak tangisnya mulai keluar, berbarengan dengan bulir-bulir bening yang menetes semakin deras di pipi.


"Berikanlah Dia haknya, walaupun harus menikah lagi. Ayo mengertilah, bujuk suamimu. Demi Ummi, kamu harus pahami perasaan Ummi yang menginginkan seorang cucu."


Maryam menyeka sedikit kasar air matanya yang kian menderai. seolah semuanya semakin berat, kenyataan tentang dirinya hingga detik ini masih belum di terima keluarga besar, di tambah sebuah penyakit yang membuatnya mandul saja sudah meruntuhkan hampir separuh dari semangat hidupnya.


lalu sekarang, ini?


Bagaimana bisa, Ummi memintanya untuk memahami perasaan beliau, namun tak sebaliknya. Beliau sama sekali tak peduli dengan perasaan menantunya demi mewujudkan keinginannya sendiri. Hal yang sulit di cerna, namun itulah kenyataannya.


Ummi terang-terangan meminta dirinya membujuk sang suami untuk menikah lagi, sementara yang di jadikan contoh adalah diri beliau yang bisa bertahun-tahun hidup dengan suami yang memiliki istri lebih dari satu.


Aku harus apa? Aku bukan Ummi yang mampu menjalani hidup seperti itu. Aku tidak mungkin bisa merelakan suamiku untuk berbagai kasih. Usia pernikahan ku dengan Bang Akhri belum lama, hatiku masih sangat terikat dengannya. pasti akan sangat sulit untuk ikhlas.


Maryam semakin terisak-isak dalam kesendiriannya di kamar. Sementara sang suami saat ini belum pulang, sebab ia sudah kembali lebih dulu setelah berpamitan pada Akhri, membawa perasaan yang seolah-olah sudah tak lagi berbentuk.


Maryam memandangi foto pernikahan mereka. Lalu terbayang wajah gadis yang sempat di tunjuk Ummi tadi, kemudian menggeleng cepat. Manakala membayangkan senyum bahagia sang suami selepas ijab qobul itu terarah pada wanita lain.


Tidak mungkin aku mampu berbagi suami... Tidak mungkin aku mampu merelakannya untuk bunga lain. Bang Akhri suamiku, hanya bersamaku Dia boleh berjima. Hanya di atas pangkuanku Dia boleh merebahkan kepalanya. Hanya bersamaku Dia boleh bermanja-manja.


Maryam menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. Tangisnya pecah saat itu juga.


–––


beberapa hari setelahnya, Maryam baru berani mencari tahu. Seperti apa sosok Kania di kesehariannya.


Gadis yang masih muda dan cantik, lima tahun lebih muda di bawahnya. Anaknya ceria, hafalannya pun luar biasa.

__ADS_1


Dari sudut lain, Maryam berdiri. Memandangi gadis itu tengah duduk di taman sendirian, sembari memegangi Al-Qur'an. Sepertinya Dia tengah menghafalkan ulang. Maryam mengusap air matanya yang menetes sendiri tanpa ia suruh.


Jika bang Akhri di tawarkan untuk menikah dengannya pasti beliau tidak akan menolaknya. Dia memang cantik, dan tubuhnya lebih berisi. Pasti Dia gadis yang subur, akan cepat memberikan beliau anak.


"Kania!" Seru seorang wanita. Gadis itu lantas menutup Al Qur'an di tangannya, lalu berbicara singkat. Bibirnya yang mungil itu tersenyum amat manis berbicara dengan lemah lembut.


Maryam berpaling sejenak, lalu menunduk. Hanya melihat gadis itu sebentar saja ia sudah sangat terluka, apalagi menawarkan langsung pada suaminya belum lagi membayangkan tangan bang Akhri menempel di keningnya selepas ijab qobul.


Aku tidak bisa, aku tidak akan bisa merelakan suamiku memiliki istri lain. ya Robbi ... kuatkan aku.


Pandangannya bergeser ke langit. Matahari yang bersinar terik membuat matanya semakin menyipit.


*M*enuruti keinginan Ummi, bagaikan aku tengah menatap mentari dengan mata telanjang. Sangat sulit menantang sinarnya yang membuat mataku sakit.


*Bagaimana caranya, agar aku mampu menentang keputusan Umm*i? sungguh, ini amat sakit dan menyesakkan.


Maryam menoleh lagi ke arah Kania, gadis itu sudah beranjak dan siap untuk pergi ke majelis. Nafasnya berhembus, sementara satu tangannya merogoh saku gamisnya. Mengambil ponsel yang bergetar.


πŸ“² Suamiku: "Sayang, siap-siap, ya? Abang mau ajak jalan-jalan. Habisnya dari kemarin kamu kaya ngambek terus. Nanti Abang jajanin seblak sama asinan, deh."


πŸ“² Suamiku: "istri Solehah ku ... jangan ngambek terus, ya? Abang sayang sama kamu, Dik. Lihat ke arah atas sebelah kiri, deh."


Maryam menghela nafas. Menoleh dengan ogah-ogahan kearah yang di tuliskan Akhri. Nampak pria itu berdiri di balkon lantai dua salah satu ruangan sambil bertopang dagu, serta bibir yang tersenyum manis.


Bang Akhri menaikan ponselnya hingga menempel ke telinga. Seketika itu pula ponsel milik Maryam berdering.


Suamiku memanggil...


Mata Maryam menganak sungai, menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya menerima panggilan telepon itu.


πŸ“ž"Assalamualaikum..."


"walaikumsalam."


πŸ“ž "Masih ngambek, ya? Maaf , kalau Abang punya salah sama kamu, Dik."


Air matanya menitik. Ia banyak diam bukan karena suaminya melakukan kesalahan, melainkan marah pada dirinya sendiri yang yang tidak berguna sebagai seorang wanita.

__ADS_1


Maryam tak menjawab, berjalan mundur dua langkah lalu duduk di lingkaran pohon yang terbuat dari semen, bata dan pasir. Dengan tatapan terarah pada sosok pria yang amat ia cintai saat ini.


πŸ“ž "*Dik, sudah ya ngambeknya. Nanti ngomong sama Abang. Abang itu salahnya dimana, biar nanti di perbaiki lagi..."


Andai aku bisa berbicara yang sesungguhnya. aku takut akan tercipta satu masalah antara Abang dan Ummi*. –Maryam menyeka air matanya. ia berusaha untuk tersenyum tipis.


"Abang nggak buat salah kok, cuma emang Merr yang moody." berusaha untuk tertawa walaupun terdengar garing. "Emmm ... tadi beneran mau ajak Merr jalan-jalan sambil jajan seblak?"


πŸ“ž"Iya dong. Masa Abang bohong, sekitar sepuluh menit lagi Abang selesai. Adik mau nunggu Abang, apa mau pulang dulu, nih?"


"Nunggu aja," jawabnya sembari menyeka air matanya lagi yang dengan bandelnya terus menerus mengalir ke pipinya. Akhri tersenyum.


πŸ“ž"Ya sudah, tunggu Abang beberes dulu ya. Habis ini turun jangan ngambek lagi. atau naik sini."


"Merr di sini saja."


πŸ“ž "iya deh. tunggu ya ... Zaujatti."


"Iya"


πŸ“ž"Iya-nya sambil senyum, dong. Jadi Abang tahu kamu nggak marah lagi."


Maryam lantas tersenyum lebih lebar.


πŸ“ž"Duh MashaAllah, berasa terbang."


"Berlebihan." Maryam terkekeh.


πŸ“ž"Nggak berlebihan, serius ini mah. Ya sudah Abang beres-beres dulu. Tunggu Abang turun, ya?"


"Iya Bang."


πŸ“ž"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." Maryam mematikan sambungan teleponnya dengan pasang mata masih terarah pada Akhri. Pria itu sempat tersenyum sebentar lalu bergegas masuk ke dalam ruangannya.


"Astagfirullah al'azim. Aku sudah dua hari ini tutup mulut. Menolak berbicara dengan suamiku yang sejatinya tidak tahu apa-apa. Tapi Dia tetap sabar menghadapiku yang seperti ini–" menyeka lagi air matanya, saat ini hatinya benar-benar di penuhi awan hitam. Membuatnya tidak bisa berpikir jernih, maklum saja. Sebagai wanita biasa, imannya itu masih belum stabil.

__ADS_1


__ADS_2