Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
bidadari cantik


__ADS_3

Bilal menutup buku bertuliskan La Tahzan. Buku yang amat tebal dengan sampul berwarna kuning. Setelahnya termenung, melempar pandangan pada kaca jendela. Hujan di luar mulai turun, Bilal memikirkan sesuatu yang siang tadi ia lihat.


Garis wajah ayu yang tiba-tiba memenuhi pikirannya. Ada apa?


Benar memang, wanita adalah fitnah terbesar kaum laki-laki. Dimana saat keluarnya mereka dari rumah. Setan akan mengikuti, berbondong-bondong menghiasinya. Hingga mampu mengusik jiwa para kaum laki-laki.


Wanita itu janda tapi nggak punya anak... Dia pernah menikah dengan seorang laki-laki, lebih dari lima tahunan. Sebenarnya orangnya baik, suaminya juga saya kenal. Orang baik juga, tapi ya... itu, yang saya dengar Dia punya masalah pada kesuburannya sehingga tidak bisa memberikan keturunan.


Bilal mengingat cerita Bu Suci pada Ummi-nya saat di panti tadi. Nampak wajah Isti seperti prihatin, hingga saat hendak pulang Isti sampai meminta untuk bertemu dengannya dulu. Memberikannya pelukan hangat, bahkan mengusap pipinya sembari memandang mata Maryam lekat.


Jelas, Farah yang ngefans dengannya langsung senang bukan kepalang karena akhirnya bisa berjumpa dengan penulis kesayangan.


Maryam yang ia lihat tadi, jauh lebih humble dan gemar tersenyum. Matanya yang tak terlalu sipit namun sayu, dengan bibir yang tipis serta kulitnya yang putih bersih. Pantas lah untuk mendapatkan julukan Ummi cantik dari para anak panti.


Bidadari cantik? Bilal mengingat dengan jelas garis wajahnya. Namun segera tersadar untuk tak berlarut-larut memikirkan.


Bahunya terhempas kesandaran kursi seraya meraih ponsel yang tergeletak di meja. Pandangannya tertuju pada menu utama di layar yang menyala, beliau pun menekan aplikasi sosial media yang amat jarang beliau gunakan.


Mengetik huruf M di menu pencarian. Namun segera berhenti, Ia menggeleng cepat. Hingga sebuah panggilan telepon membuatnya beristighfar.


Pelan-pelan Bilal menekan tombol terima. Saat nama Aiman adik tingkatnya dulu di Tarim menelfon beliau.


Bilal menghembuskan nafas panjang, sebelum akhir menerima panggilan itu. Berbicara sebentar, lalu tersenyum. Seperti ada hal baik, pasalnya Bilal langsung bergegas keluar setelah telfonya di matikan.


Di luar, Dia berbicara pada adiknya. Kalau akan ada yang datang Ahad besok. Pria salih yang berniat untuk mempersunting Farah.


"A'a, 'kan belum menikah, masa Farah duluan?"


Bilal tersenyum. "A'a itu laki-laki. Lebih wajib melindungi Ummi dulu. Sementara kamu wajibnya segera di nikahkan jika sudah ada yang berniat meminang mu."


"Tapi? Aku baru lulus dua bulan yang lalu," kata Farah seraya memegangi ponsel kakaknya, melihat wajah pria yang akan meminangnya.


"Kamu boleh kok pikir-pikir dulu. Kalau bersedia? A'a akan menerima kedatangannya," Bilal mengusap kepala adiknya lembut. "Sedikit yang A'a tahu selama Dia dulu ngekos sama A'a di Tarim. Anaknya baik, mandiri juga. Dia sekolah di Tarim itu lewat beasiswa, anaknya memang pendiam tapi cerdas. Ilmu pemahaman Al Qur'an dan hadits-nya juga baik. Satu lagi Dia anak bontot dari lima bersaudara."

__ADS_1


"Anak terakhir?"


"Ibunya udah wafat saat Dia berusia dua belas tahun, dan menyusul bapaknya Habib Yahya lima tahun kemudian, Far. Jadi Dia tinggal sendiri, menempati rumah orangtuanya."


Farah terdiam, sepertinya Dia mulai berpikir untuk setuju. Karena memang melihat dari posturnya, nampak pria itu sederhana tak banyak gaya. Namun aura keimanan nampak di wajahnya yang berseri.


"Ambil solat malam, ya. Nanti kasih jawabannya ke A'a," kata Bilal yang di jawab anggukan kepalanya sembari menyerahkan ponsel tersebut lagi pada kakaknya.


Setelah berpikir beberapa Minggu Farah bersedia. Hingga tak berselang beberapa bulan dari kedatangan Aiman Farah pun menikah dengannya. Dengan Bilal sebagai wali nikahnya.


***


Selama lebih dari satu tahun berselang, Bilal kembali bertemu dengan Maryam. Kali ini karena beliau mengantarkan Ummi-nya menjenguk menantu dari Ustadz Irsyad yang sedang di rawat di rumah sakit.


Sebuah pertemuan yang kali ini seolah meninggalkan kesan yang unik. Pasalnya saat ini Bilal duduk di kursi panjang berisi tiga skat, sementara Maryam berada di kursi lain cukup jauh, bahkan terbatas pintu masuknya. Jadi Maryam duduk di sisi kanan pintu, dan Bilal di sisi kiri.


Keduanya kikuk. Bingung ingin berbicara atau tidak. Karena kenal pun tak begitu...


"Saya– beberapa kali baca buku, Ukhti." Bilal membuka pembicaraan dengan amat kaku, memecah keheningan di lorong rumah sakit.


"Terimakasih, Bib."


Bilal hanya tersenyum manggut-manggut. Bingung mau lanjut bicara apa lagi.


"Apakah ada tulisan yang salah? Maksudnya, Anda kan paham agama? Saya takut salah saat memasukkan sedikit ilmu yang saya ketahui."


"Emmm, menurut aku pribadi? Belum menemukan kesalahan. Mungkin di beberapa, tapi kembali ke mazhab masing-masing." Mereka berbincang tanpa saling tatap. "Sebaiknya coba baca buku X. Untuk menambah referensi, karya seorang syekh asal Mesir, yang membahas tentang wanita-wanita di rindukan surga juga hukum berkeluarga... karena yang saya tangkap, Ukhti banyak mengambil tema tentang pernikahan."


Maryam tersenyum, "terimakasih... nanti akan saya cari."


Keduanya kembali diam cukup lama, hingga akhirnya Ummi Isti keluar bersama ibunya Debby. Mereka masih berbincang sedikit setelah itu berpelukan.


Maryam menoleh ke arah kakak iparnya selepas Bilal dan ibunya pulang. Sepertinya Dia senang sekali berbincang dengan wanita bercadar tersebut.

__ADS_1


"Bicaranya halus sekali, jadi betah ngobrolnya."


"Iya, walaupun Merr nggak kenal banget. Cuman di beberapa pertemuan ini selalu memberikan kesan keibuan yang luar biasa."


Brigitta tersenyum, setelah itu mengajak Maryam untuk masuk kedalam menghampiri putrinya.


.


.


.


Di sisi lain...


Bilal menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, melirik sejenak ke arah Ummi-nya.


"Mi, masih ingat ucapan Bilal dulu nggak?"


"Yang mana?"


"Tentang, menikahi janda."


Isti tertegun. Memandangi Bilal di sisinya.


"Kamu serius?"


"Serius kalau Ummi mengizinkan."


Belum mau menjawab lagi, karena Isti sudah kembali menatap lurus kedepan.


"Nggak boleh ya, Mi?" Tanya Bilal lagi, tangan Isti pun mengusap lengan anaknya dengan lembut.


"Kita bahas nanti saja di rumah, ya," tuturnya lembut seperti biasa.

__ADS_1


Bilal lantas mengiyakan, ia tidak bisa melihat ekspresi wajah ibunya seperti apa saat ini. Karena tertutup cadar sementara wajahnya menghadap lurus ke depan.


__ADS_2