
Di rumah, Isti memandangi hujan yang sudah deras sembari memegangi ponsel di tangan. Pesan chat yang di kirimnya masih belum terbaca. Padahal sudah lewat waktu Magrib. Membuat pikirannya merancau kemana-mana.
"Ummi, ini diminum dulu tehnya." Merr meletakkan satu gelas berukuran sedang di atas meja. "Ummi?"
Isti menoleh, tangannya nampak gemetaran. "Merr, Ummi makin ngerasa nggak enak. Kepikiran Farah sama Aiman."
"Udah coba telfon?"
"Nomor mereka nggak aktif. Seharusnya kan sudah sampai."
Merr pun mendadak mendapatkan firasat yang tidak baik. Hingga terdengar suara mobil Bilal di luar, membuatnya merasa sedikit lega saat tahu suaminya sudah pulang.
"Merr keluar dulu, Ya Ummi," ucapnya yang di balas dengan anggukan kepala.
Di teras rumah, Merr menunggu suaminya yang sedang berjalan dengan payung.
"Assalamualaikum–"
"Walaikumsalam." Merr mencium tangan sang suami langsung. "A' tadi, Farah kesini. Terus dari semenjak pulang tadi sampai sekarang belum bisa di hubungi. Ummi jadi kaya kepikiran."
"Farah sama Aiman?"
"Iya."
"Pulangnya dari jam berapa?"
"Udah dari jam empat sore tadi."
"Mungkin lagi sibuk kali," jawab Bilal sembari menoleh kearah jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat.
"Mungkin..." jawabnya. Bilal segera masuk menghampiri ibunya, namun baru sampai pintu telefon genggam di dalam tasnya berdering.
"Nih, Aiman Telfon." Bilal menyunggingkan senyumnya. Merr sendiri sedikit lega. "Halo, Assalamualaikum?"
Bilal menerimanya dengan ceria, namun hal yang aneh terjadi. Suara Aiman serak seperti menangis. Bilal sendiri masih mendengarkan hingga selesai membuat senyumnya meredup seketika.
"innalilahi wa innailaihi roji'un," gumamnya membuat Merr penasaran.
"Sekarang kondisinya kritis, A'. Farah harus operasi, karena anak kami juga harus di selamatkan segera."
"Innalilah..." gumamnya, mengusap wajahnya. Kedua matanya seketika menganak sungai. "Ya udah, lakukan apapun segera. Yang penting keduanya selamat."
Isti yang tak memakai cadarnya segera mendekati Bilal. "Ada apa?"
Bilal menutup panggilan teleponnya setelah selesai, lalu memeluk ibunya.
"Bilal, Ada apa?"
"Ummi sabar ya, Aiman dan Farah mengalami kecelakaan. Sekarang kondisi Farah kritis, Mi."
"Innalilah... Farah?" Seketika tangis Ummi pecah. Tersedu-sedu dalam pelukan Bilal yang berkali-kali menghembuskan nafasnya, tangan Beliau pula nampak mengusap kedua matanya. Menjeda waktu beberapa menit, sebelum akhirnya bergegas kerumah sakit selepas sholat isya.
–––
__ADS_1
Di rumah sakit...
Aiman berdiri saat melihat Ummi, Bilal, Maryam dan juga Hafiz. Bilal langsung memeluk tubuh Aiman yang sebenarnya butuh perawatan juga. Namun karena pria itu khawatir dengan istri dan calon anaknya membuat Dia menolak untuk melakukan perawatan.
"Maaf, A'... aku nggak bisa menjaga Farah." Isaknya.
"Sssstt... jangan bilang begitu, ini musibah. Farah pasti baik-baik saja," Bilal berusaha menenangkan. Hingga seorang perawat keluar.
"Suami ibu Farah–" serunya. Aiman lantas melepaskan pelukan Bilal lalu mendekati.
"Saya, suster."
"Bayi bapak sudah lahir, Alhamdulillah selamat."
"Alhamdulillah..." gumamnya. "Lalu istriku?"
"Ibunya masih belum bisa melewati masa kritis. Dan saat ini sedang butuh banyak darah pak."
"Astagfirullah al'azim," gumamannya.
"Mungkin bapak mau mengadzani anak bapak lebih dulu?"
"Iya sus..." Aiman mengusap air matanya.
"Sementara itu, di sini ada nggak yang memiliki golongan darah O?"
"Saya! golong darah saya O," jawab Isti segera.
"Ada lagi?"
"Baiklah, bapak boleh ikut saya untuk masuk. Sementara ibu dan Mbaknya tunggu petugas yang akan mengantar kalian ke ruangan laboratorium, ya."
"Iya Sus," jawab mereka hampir berbarengan. Sementara pintu kembali tertutup setelah Aiman turut masuk. Bilal pun merengkuh tubuh ibunya.
"Farah... Bilal?" Isaknya.
"inshaAllah, Farah akan sembuh Ummi. Kita berdoa saja."
"Hiks, ya Allah..." Kaki Ummi Isti seperti lemas. Sehingga membuat Bilal mengajaknya untuk duduk di kursi panjang, sembari menunggu seorang perawat yang akan membawa Merr dan juga Isti menuju laboratorium.
Sementara itu, di ruang operasi. Aiman menoleh kearah kaca, nampak beberapa perawat masih menangani istrinya. Membuat langkahnya terhenti.
"Ya Allah, Istriku..." Aiman mengusap air matanya yang kembali menitik.
"Silahkan sebelah sini, pak," ucap perawat wanita tadi. Aiman pun menoleh lagi. Lantas kembali melangkahkan kakinya memasuki ruangan khusus, lantas mendekati salah satu ranjang bayi.
Seolah semuanya tertutup kabut, Aiman tidak bisa menahan tangisnya. Antara bahagia bisa melihat anaknya, namun sedih dan takut dengan kondisi istrinya. Perlahan beliau membungkuk menempelkan tangan di telinga.
"Allahu Akbar... Allahu Akbar..." Aiman mengumandangkan adzan di dekat telinga anaknya sembari menahan getir yang mencekak kerongkongan. Selesai adzan dan Iqamah, Aiman mengangkat tubuh mungil anaknya. "Ini Abi, nak."
Kembali Aiman terisak, sembari memeluk anaknya yang nampak tenang dalam pelukannya. Sama sekali tidak menangis, walaupun matanya nampak terbuka.
***
__ADS_1
Dua harinya...
Kondisi Farah masih sama. Belum memberikan respon, hidupnya masih bergantung pada alat-alat medis yang terpasang hampir sekujur tubuhnya.
Seorang perawat menghampiri mereka. Mengabarkan jika bayi Ibu Farah sudah bisa di bawa pulang.
Isti yang mendengar itu hanya bisa menangis. Sembari memandangi tubuh Farah.
"Anaknya sudah bisa pulang, tapi ibunya bagaimana?" gumam Isti. Maryam pun mengusap bahu ibu mertuanya.
"Ummi, kalau Maryam bawa pulang dulu anaknya Farah bagaimana? Biar Maryam yang rawat dulu."
Isti menoleh. "Mengurus bayi itu mungkin akan sedikit merepotkan. Apa tidak apa-apa?"
"Iya, nggak papa. Kalau Ummi dan Aiman mengizinkan, Maryam akan membantu merawatnya dulu."
Bilal tersenyum saat mendengar itu. Ummi pun menoleh lagi ke arah kaca. Memandangi Aiman yang masih menunggu istrinya sembari membaca Al-Qur'an kecil di tangannya. Setelah itu kembali menoleh kearah Maryam, lalu mengangguk.
"Nanti Bilal coba bilang dulu sama Aiman. Pasti Dia setuju." Bilal segera melangkah masuk ke dalam ruangan ICU menghampiri Aiman. Selang beberapa lama Bilal kembali keluar, membawa izin dari Aiman. Malah justru laki-laki itu mengucapkan terimakasih pada Maryam dan juga Bilal. Nampak Aiman menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. Bibirnya mengucap terima kasih pada Merr.
–––
Dan sorenya setelah mengurus administrasi, anak Farah yang di beri nama Umar sudah berada dalam dekapan Maryam. Wanita itu menciumi bayi mungil yang masih merah dengan perasaan sayang seperti kepada anak kandungnya.
Setelah sampai rumah. Bilal menata kamar mereka. menyiapkan kasur bayi untuk Umar. Tak lupa pula membersihkan dan merebus botol susunya di bawah. Setelah selesai, Beliau kembali ke kamar.
"Umar mau minum susu sekarang?"
Merr menoleh, saat ini dia sedang mengganti popok bayi laki-laki itu.
"belum A'... masih kenyang kayanya, liat aja. Dia tidur lagi," jawab Maryam masih fokus mengikat tali pokoknya.
"kamu kok bisa, sih?" tanya Bilal yang tengah duduk di sisi ranjang. Mengamati gerakkan luwes sang istri memakaikan kain bedong di tubuh mungilnya Umar.
"Alhamdulillah, waktu anak Arshila lahir. aku ikut membantunya merawat Daffa. Jadi kaya buat latihan."
"oh..." Bilal mengusap kepala mungil Umar, sembari tersenyum. Setelah itu melirik ke arah ember. "ini Aku cuci dulu, ya."
"Masih sedikit A'. Biar aku aja..."
"nggak papa, nanti di angin-anginkan. Biar nggak ke habisan. Atau mungkin nanti malam pakai popok sekali pakai aja, ya? nanti A'a beli habis nyuci."
Merr mengangguk senang. memandangi tatapan sang suami yang sama sekali tak terlepas dari bayi yang kembali tertidur di ranjangnya. Tak lama pria itu beranjak meraih ember lalu membawanya keluar untuk di cuci.
Baru selesai mencuci dan menjemur. Bilal mendengar tangis Umar dan bergegas kembali naik ke lantai dua.
"kenapa, Sayang?" tanyanya setelah membuka pintu kamar.
"A' kayanya Umar haus."
Bila mengusap peluh di kening, lalu mendekati istrinya hanya untuk mencium bayi yang berada di gendongan Maryam.
"A'a bikin susu dulu," bergegas lagi berjalan ke dekat meja. Membuka bungkusan plastik lantas mengeluarkan susu dari dalam kotak. "Aduh, dotnya masih di dapur kayanya," setengah berlari Bilal keluar kamar. Maryam yang melihat itu terkekeh.
__ADS_1
"Abi panik, Nak," ucapnya sebelum terdiam seketika, "eh... kok jadi Abi?" Tertawa sendiri Kemudian, ia baru ingat kalau anak ini adalah keponakannya. "MashaAllah, lucunya kamu."
Merr merasa senang, karena ia bisa lebih dekat dengan Umar. Kalau dulu saat sama Akhri jangankan bisa menggendong, ingin ikut kerumah Nia saja seperti tidak di perbolehkan oleh istri kedua mantan suaminya. Namun sudah lah, itu sudah masa lalu yang tak ingin ia ingat-ingat lagi.