Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
Cinta halalku


__ADS_3

Di depan cermin Bilal mengusap kepalanya. Memandangi diri di sebelah Maryam yang sedang membersihkan wajahnya.


"Ngaca terus?" Cibir Maryam pada suaminya.


"Nggak tahu nih... di botakin malah tambah ganteng kayanya?" Bilal melirik lalu menaik-turunkan alisnya, menggoda.


"Dih... ganteng dari mananya? Kaya biksu Tong, itu." Merr mencipratkan air ke arahnya membuat Bilal terkesiap, reflek memalingkan wajahnya sembari tertawa. Lalu memeluk lingkar pinggang sang istri.


"Udah bebas dari pantangan Ikhram nih... jangan mancing aku, untuk berbuat sesuatu, ya?"


"Apaan?? Siapa yang mancing, sih? Ge'er!" Maryam tertawa saat Bilal mencium bahunya. "A'a! Beneran ini?" Jeritnya manja saat Bilal menggigit lehernya dengan bibir.


"Emang kalau beneran, mau?" Tantang Bilal yang di jawab pelan dengan gelengan kepala. "Kok nggak mau?"


"Masih, siang dan aku capek." Maryam nyengir, namun secepat kilat mendapat kecupan di bibir. "A'a, nih?"


"Hahaha Enggak sayang... aku juga capek dan ngantuk banget," kata Bilal tertawa gemas lalu mencium kepalanya sebelum keluar kamar mandi. Merr pun menghela nafas, karena memang secara hasrat mungkin Bilal lebih sering meminta jatahnya saat di Indonesia. Untungnya selama umroh ada beberapa pantangan di antaranya larangan bersenggama dengan pasangan. Jangankan melakukan hubungan itu, untuk bersentuhan bibir selama belum bertahallul saja di larang itu kenapa mereka tidur di dua ranjang yang berbeda walau dalam satu kamar.


Namun, sepertinya yang membuat Bilal tahan adalah karena padatnya waktu Beliau untuk beribadah selama di sana. Merr sendiri saja bingung. Jam berapa Bilal tidur dan bangunya. Karena selama di sana ia tidak melihat Bilal tidur malam terkecuali siang sehabis Dzuhur itupun jika tidak ada perjalanan tour.


Merr keluar dari kamar mandi dan melihat sang suami sudah memeluk bantal gulingnya di atas ranjang.


"Cepet banget Dia terlelapnya," gumam Maryam yang langsung meraih remote AC, menurunkan lagi suhu kamarnya agar lebih sejuk. Setelahnya menghampiri sang suami lalu duduk di sisi kanan posisi Beliau miring. "Nggak cuma tambah ganteng, tapi jadi tambah kaya bocah... gemes," gumamannya lirih sembari menyentuh pipi Bilal.


"Jangan cuma di sentuh, di cium dong." Bilal tersenyum dengan mata yang masih terpejam.


"Eh... kirain udah tidur. Lagian tadi A'a udah Wudhu, 'kan?"


"Nggak papa cium pipi doang, mah." Bilal mengetuk-ketuk pipinya sendiri. Di mana Merr langsung mendekati lalu mencium pipinya. "MashaAllah... sini tidur siang. Nanti sore selepas ashar kita tinggal jalan-jalan beli beberapa oleh-oleh."


"Aku tidur di sana."


"Di sini aja, sama aku." Bilal menarik tangan sang istri. Merr sendiri tak berpikir panjang ia langsung merebahkan tubuhnya lalu tidur membelakangi suami miring ke sebelah kanan. Di mana Bilal langsung menyingkirkan bantal gulingnya mengganti tubuh Merr untuk ia peluk.


"Lama, nggak tidur sambil peluk kamu."


"Ya ampun, A'a." Merr mencium tangan suaminya karena ia juga rindu bermanja-manja dengannya. Namun di belakang sepertinya kembali tenang, setelah mempererat pelukannya dengan suara senyum A'a yang menyejukkan hati. Merr menoleh sedikit, rupanya sang suami sudah tidur ia pun memutar tubuhnya melihat wajah polos suaminya yang nampak lelah. Lalu memeluknya erat, usel-usel sedikit di dadanya yang datar, membuat Bilal reflek memberikan kecupan di kening walaupun dengan mata terpejam setelah itu kembali tenang dalam tidur siangnya.


***


Sudah berlalu beberapa bulan setelah kembali dari umroh mereka. Keduanya kembali di sibukkan dengan rutinitas sehari-hari.


Merr sendiri, walaupun sudah banyak buku yang di cetak. Namun ia tetap tidak melupakan tempatnya meniti karier di awal, yaitu salah satu platform baca Novel gratis yang tetap menghasilkan uang setiap bulannya dari banyaknya pembaca perhari.


Walau tak setiap hari menambah episode di novel onlinenya. Namun ia tetap tak kehilangan pembaca yang sudah jatuh cinta pada setiap karya-karyanya.


Merr melirik cangkirnya. Kopinya habis, namun pekerjaan belum selesai. Kembali meletakkan lagi, setelah itu merenggangkan kedua tangannya memilih untuk beristirahat ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

__ADS_1


Suara ponsel tanda masuknya satu pesan chat membuatnya menoleh. Secepat mungkin ia membuka saat tahu pesan chat itu dari A'a yang menanyakan apakah ia sudah tidur? Karena saat ini Beliau sedang berada di kota Ungaran, Semarang.


Merr yang hendak membalasnya seketika tidak jadi, sebab telfon dari sang suami. Mungkin A'a mengamati tanda centang dua yang berubah biru. Itu kenapa Beliau memilih untuk langsung menelepon saja.


"Assalamualaikum..."


"Walaikumsalam warahmatullah, belum tidur?"


"Baru mau, A'a sendiri belum tidur?"


"Ini baru selesai acara. Dan mau kembali ke hotel."


"Ooh..."


"Jangan malam-malam kalau tidur..."


"Iya, kan nggak setiap malam juga. Besok aku harus update episode baru. Jadi malam ini aku kejar. Cuman belum selesai, mata udah berat banget."


"Jangan di paksakan, A'a masih ngizinin kamu nulis di platform itu bukan untuk memforsir diri. Kalau bukan karena kamu senang, A'a sebenarnya pengen kamu nggak nulis on going lagi."


"A'a, jangan gitu..."


"Iya sayang, A'a ngerti. Yang penting tetap jangan di paksakan. Nulis saja hanya untuk mengisi waktu luang selama A'a nggak di rumah."


"Iya suami ku."


"Emmm... yang khas apa? Yang enak?"


"Apa ya?" Bilal nampak berpikir lalu terdengar dari sebrang Bilal seperti tengah bertanya pada seseorang dan setelah itu kembali ke Maryam. "Katanya tahu bakso di sini enak, Yang. Kamu mau?"


"Boleh deh," jawabnya.


"Sama apa lagi?"


"A'a," jawabnya.


"Kok A'a?"


"Ya pengenya A'a cepat pulang, bukan oleh-olehnya."


"Asik... bahaya, bahaya..." terdengar tawa Bilal di sebrang.


"Bahaya apa?"


"Kalau udah di kangenin gini," jawab Bilal.


"Ge'er, emang ada aku ngomong kangen?"

__ADS_1


"Itu tadi? A'a mah paham kode begitu. Kok samaan, sih?" Ledeknya lirih agar tak terdengar yang lain.


Merr pun tersipu, malu. "Samaan apanya?"


"Kangennya...?" jawab Bilal dengan suara sedikit berbisik namun terdengar lembut.


"MashaAllah." Merr semakin merindu.


"Udah lah, jangan lama-lama telfonannya. A'a tutup ya?"


"Dih, kok gitu?"


"Kan biar cepat pulang ke hotel, tidur, ketemu pagi, terus pulang deh."


"Ya ampun..." Merr menggeser pandangannya ke arah foto mereka berdua di pantai waktu itu, yang sengaja di cetak oleh sang suami. Karena bagi Beliau itu amat bagus jika di letakan di meja kerjanya dengan Maryam.


Rindu... Batin Maryam.


Entahlah rasanya jauh dari sang suami itu beda, tidur kurang nyenyak, di rumah pun seperti kurang semangat. Namun bagaimana lagi, beginilah resikonya memiliki suami seperti Bilal. Harus siap ketika di tinggal-tinggal dengan waktu yang kadang tak sebentar.


"Sayang, mobil udah siap. Aku ke hotel dulu, ya. Kamu tidur aja. Udah mau jam satu nih," tutur Bilal.


"Iya, A'..."


"Selamat istirahat, sampai bertemu besok, ya."


"Iya. Kamu besok hati-hati."


"inshaAllah... semoga Allah melindungi perjalanan pulang A'a."


"Aamiin."


"Sebelum di tutup, sayangnya mana?"


"Ya ampun... muuaaach."


"MashaAllah, harus minta yang beneran besok, nih."


"Hahaha, iya suamiku sayang," ucapnya bernada manja.


"MashaAllah, udah lah bubar...! bubar...! nggak asik nih, kalau kaya gini di telfon."


"Hahaha, A'a... A'a..."


"Assalamualaikum kesayangan."


"Walaikumsalam."

__ADS_1


Merr mendekap ponselnya. Rasa rindu semakin terasa membuatnya bergegas bangun dari tempat duduknya, berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum tidur.


__ADS_2