
Hari-hari Akhri kini nampak di penuhi kegalauan, ia menjadi lebih pendiam bahkan seperti tidak bergairah menggauli istrinya.
Pertanyaan dalam benak Nia, tentang apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya. Memang Dia tak seceria dulu saat sebelum bercerai dengan Maryam. Namun sangat keterlaluan bagi Nia jika beliau masih saja memikirkan mantan istrinya itu. Sangat menyakitkan itu yang ia rasakan. Ingin rasanya memberontak tapi, jika dibahas beliau tidak akan mau menanggapi.
Sore ini Akhri baru saja pulang dan langsung masuk ke kamar tanpa menegur. Jelas, hal itu membuat Nia gerah karena tidak ada angin dan tidak ada hujan tahu-tahu di cuekin selama hampir seminggu.
"Bang–"
"Ya, Dik?" Akhri melepaskan tas yang menggantung di bahu.
"Abang kenapa lagi? Tiba-tiba cuekin Nia?" Tanyanya bernada ketus. Ia sudah tidak bisa lagi diam, terus-menerus di anggap seperti mahluk tak kasat mata.
"kenapa apanya? Cuma capek, Nia," jawabnya tanpa menoleh, sembari meraih handuk.
"Bohong! Abang galau lagi? Mikirin siapa? Dia ya? Mantan Abang?!" Cecarnya.
"Ngomong apa sih, Kamu?" Akhri tak ingin menanggapi, ia langsung saja membuka pintu kamar mandinya hendak masuk. Namun geramnya Nia membuatnya mendahului dan memasang badan di depan.
"Beneran, Kan? Abang galau lagi karena Dia? Abang pasti ketemu Cece lagi!!"
Akhri menghela nafas. "Abang nggak ketemu Dia."
"Kalau nggak ketemu, kenapa galau? Kenapa pula nyuekin Nia? Abang kan gini, kalau lagi inget wanita itu selalu Nia yang jadi korban diamnya Abang! sadar nggak, Abang tuh nyakitin Nia! Bertahun-tahun Nia bertahan di giniin. Abang masih aja nggak berubah!"
__ADS_1
"Astagfirullah al'azim. Nia udah, ya! Abang capek, Abang mau mandi mau istirahat, juga bentar lagi magrib. Jadi jangan ajak Abang debat." Akhri masih mengontrol emosinya. Tutur katanya pun di tahan agar tidak tinggi. Entahlah bersama Nia dia jadi semakin tidak bisa sabar.
"Abang nggak pernah sayang sama Nia."
Akhri menggaruk kepalanya kasar, lagi-lagi Dia berbicara dengan air mata.
"Siapa yang nggak sayang? kalau Abang nggak sayang sama kamu... nggak mungkin Abang masih bertahan sama kamu sampai saat ini."
"Buktinya, Abang masih seperti ini. Kenapa sih masih aja mikirin Dia. Abang itu Ustadz, seharusnya tahu dosa! Mikirin dia itu HARAM untuk Abang!"
"Dia? Ya Allah... Nia Abang males kalau udah begini..."
"Sama Bang! Aku juga males karena Abang selalu aja mikirin yang udah bukan wajibnya Abang buat memikirkan Dia."
"Diam kan? Abang itu udah nggak bisa ngelak, Karena apa yang Nia omongin itu benar. Abang galau karena mikirin si perempuan mandul yang nggak bisa kasih Abang anak, kan?"
BRAAAAAKKK!
Sekonyong-konyong Akhri menggebrak pintu kamar mandi. Membuat Nia terkejut bukan kepalang. Kakinya mendadak gemetaran.
"Abang pernah bilang, kan? Jangan pancing murkanya Abang dengan ucapan itu. Kamu lupa, ya!"
Air mata Nia semakin menderas. "Habis Abang seperti ini terus! Abang nggak sa–"
__ADS_1
Akhri menuding dirinya, membuat Nia bungkam. Suaminya memang tidak pernah marah. Namun sekalinya marah sangatlah menakutkan. Tatapan tajamnya membuat Nia tidak bisa mengangkat kepalanya.
"Kamu mau bikin Abang benar-benar nggak sayang sama kamu... IYA, NIA!!"
"Bang, Nia cuma pengen di hargai sebagai seorang istri." Isaknya.
"Di hargai? Kamu sendiri menghargai Abang, nggak!"
"Ya... Nia selalu berusaha menghargai Abang, mengerti kondisi Abang, tapi Abang masih saja selalu seperti ini, gimana Nia mau menghormati?"
"Selama ini Abang kurang kasih kamu apa?? Abang udah berusaha, Nia."
"Tapi sayangnya Abang ke Nia nggak kaya sayangnya Abang ke Cece! Siapa yang nggak sakit hati bertahun-tahun seperti ini," jawabnya lagi tidak mau kalah.
"Terus maunya gimana? Kamu udah capek sama Abang? Udah nggak bisa Nerima Abang? Bilang!!" Akhri semakin naik pitam, karena memang Nia selalu saja menjawab ucapannya.
Tok... Tok... Suara ketukan di pintu membuat Akhri menghela nafas. Bibirnya bergumam istighfar. Sementara Nia langsung menghapus air matanya, ia berjalan menuju pintu kamar membukanya.
Sementara Akhri langsung masuk ke kamar mandi sembari membanting pintu kamar mandi tersebut.
Nia yang mendengar itu terperanjat, air matanya semakin deras. Menikah dengan Akhri rupanya tak serta-merta membuatnya bahagia. Akhri memang baik dan penyayang, namun kekurangannya ada pada dirinya yang masih saja belum bisa move on dari masa lalu membuat dirinya kerap menjadi korban galaunya. Ia sudah paham, apa yang ia lakukan tadi pasti semakin menambah waktu Akhri mendiaminya.
Di luar ada anak-anak yang hendak masuk, bibirnya tersenyum getir. Menggendong si bungsu dengan air mata yang kembali mengalir. Nia pun mengajak tiga anaknya ke kamar mereka.
__ADS_1