Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
rindu 1


__ADS_3

Rupanya tangis Maryam tadi terdengar hingga keluar, lalu keheningan sejenak yang di susul dengan takbir keras Bilal setelahnya.


Sebenarnya mereka bingung apa yang terjadi di dalam. Namun, tentunya Beben tidak berani memeriksa karena sudah ada Maryam di sana jadi biarlah. Mungkin ada sesuatu yang sedang mereka bicarakan cukup serius. Sesuatu yang amat membahagiakan di dalam sehingga Habib sampai bertakbir keras sebanyak tiga kali tadi.


Akhri melirik jam di tangan. "Afwan, Kyai. Sepertinya sudah masuk waktu isya."


"Oh, ya?" Irsyad menengok juga ke arah jam di tangannya. "Kita ke Masjid?"


"Iya, tapi sebaiknya langsung pulang saja. Karena sudah malam. Saya harus jalan ke Jakarta."


"Loh, besok pagi saja. Sekarang kita pulang ke Magelang, ke rumah saya. Paginya baru jalan ke Jakarta," Irsyad menawarkan.


"Sebenarnya saya mau sekali, Kyai. Namun, Kyai kan tahu saya sudah tidak ada istri di rumah. Anak bungsu saya juga sudah menanyakan saya terus, kapan pulang katanya..." Akhri terkekeh, sama halnya dengan Irsyad.


"MashaAllah, iya juga sih. Seharusnya di ajak saja sambil jalan-jalan."


"Kalau dekat biasanya saya bawa anak-anak saya. Paling sering Daud, sebab dia belum sekolah. Ini karena jauh jadi di tinggal takut kecapean."


"Iya juga, sih..." Irsyad terkekeh. Beliau pun beranjak, dimana Beben juga turut berdiri. "Kang, kami jalan dulu ya?"


"Oh, iya... iya Pak Kyai. Pak Kyai mau masuk dulu ketemu Habib?" tanyanya sopan.


"Sepertinya nggak perlu. Biarlah Habib sama Ce Maryam. Jangan di ganggu. Sekarang saya dan Ustadz Akhri pamit, sampaikan salam kami nanti pada Beliau."


"Oh, baiklah kalau begitu Kyai. Nanti saya sampaikan."


"Terima kasih. Kalau begitu kami permisi Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah. Saya antar sampai depan, Kyai."


"Sudah nggak usah, kamu di sini aja."


"Nggak papa sekalian ke masjid."


"Oh begitu, ya? Ya sudah ayo!" ajaknya dimana Beben langsung mengangguk sekaligus mengikuti langkah kaki mereka berdua.


––


Kembali ke dalam...


Bilal mengusap perut istrinya. Rasanya masih tidak percaya bahwa sang istri hamil.


"Ngomong-ngomong, kamu sudah periksa kandungan?"


"Belum. Niatnya nunggu A'a pulang."


"Kok belum, periksa? Ya Allah, mana kamu jauh-jauh kesini. Kalau ada apa-apa sama anakku bagaimana?"


"Iiihh... jadinya yang dikhawatirkan calon anaknya doang?"


"Ya nggak hanya calon anak kita. Jelas kamu juga, Yank. Cuman, karena tahu kamu hamil jadi aku lebih khawatir lagi. Saat ini juga bisa nggak ya, kita cek kandungan kamu?"

__ADS_1


"Udah besok aja A'..."


"Besok bagaimana? kamu habis perjalanan jauh masalahnya..."


"Iya, tapi aku nggak ngerasa ada masalah. Biasa aja. Lagian ini udah malam, udah pasti nggak ada poli spesialis kandungan yang buka," jawabnya menyakinkan.


"Tapi beneran nggak ada keluhan apa-apa? Ada yang nyeri atau apa, nggak? beneran aku nggak tenang."


"Allah... beneran, Bi. Calon anakmu nggak papa. Lebay banget, sih." Merr menyentuh tangan sang suami yang langsung mengangkat kepalanya menatap Maryam sambil nyengir.


"Jadi nggak sabar ada yang manggil, Abi. Panggil Abi lagi dong..."


"Idih...!" Merr melepaskan tangan Bilal yang masih betah memegangi perutnya. "Dia terus yang di pegangin."


"Ya mau gimana orang sayang, uluh-uluh anak Abi," jawab Bilal sembari memeluk lingkar pinggang Maryam dengan pipi yang di tempelkan. Maryam tersenyum karena Bilal bergumam manja seperti tengah berbicara dengan janin dalam kandungannya. "A'a, aku laper..." sambungnya. Membuat Bilal mengingat kalau istrinya belum makan.


"Oh iya, coba keluar dulu Yank panggil kang Bebennya. Sama?" Bilal baru ingat tadi ada Ustad Irsyad dan Ustadz Akhri. "Ya Allah, Pak kyai masih di luar nggak, ya?"


"Nggak tau deh, mereka udah di luar dari tadi. Sebentar aku cek dulu." Maryam melepaskan tangan Bilal dan melangkah keluar. Memeriksa lorong rumah sakit yang lumayan sepi. Hanya beberapa orang yang tak ia kenal sedang duduk di kursi panjang, setelah itu masuk lagi.


"Bagaimana?"


"Nggak ada siapa-siapa. Mereka sepertinya sedang keluar. Udah masuk waktu isya juga A'... bisa jadi sedang sholat."


"Begitu ya? Ya udah kalau begitu kita sholat yuk."


"Ayo!" Merr bersemangat. "A'a mau tayamum?"


"Ya udah ku bantu turun." Merr memegangi lengan sang suami saat Beliau sedang turun lalu berjalan pelan di sembari membawa botol infusnya.


Selepas shalat Beliau berzikir cukup lama. Mengucap syukur kepada Sang Maha Kuasa yang telah mengkharuniai janin berkembang di dalam rahim sang istri. Walaupun kekhawatiran masih ada, sebab mereka belum memeriksanya langsung.


Tok... tok...


Merr beranjak. Membukakan pintu untuk orang di depan.


"Assalamualaikum, Teh..."


"Walaikumsalam, Kang. Masuk aja sini, Habib sebentar lagi selesai, kok."


"Iya, Teh. Punten..." Beben masuk dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. Berjalan sopan. Maryam sendiri duduk di kursi lipat yang terbuat dari besi, sementara Beben duduk di sofa.


Tak lama Bilal bangun sembari mendorong tiang infusnya, mendekat ke sofa tempat Beben duduk.


"Pak Kyai sama Ustadz Akhri dimana, Kang?" tanya Beliau.


"Sudah pulang, Bib."


"Duh, jadi nggak enak sama mereka."


"Kata Beliau nggak papa. Hanya titip salam saja."

__ADS_1


"Walaikumsalam..." gumamnya.


"Begini, Bib. Anak-anak sekarang kan di hotel. Si Amir bilang pengenya langsung pulang aja kalau memang di izinkan."


"Astagfirullah. maaf ya, Kang. Gara-gara saya sakit, jadwalnya jadi berantakan begini."


"Nggak juga, Bib. Kan udah dua tempat yang kita penuhi undangannya, inshaAllah pengada acaranya memaklumi. Namanya juga sakit, bukan pula keinginan kita," Kang Beben menimpali.


"Iya sih. Qadarallah... mungkin memang kita di suruh istirahat. Karena sebelum tiga kota ini, kita baru pulang dari Balikpapan. Istirahat cuma tiga hari terus jalan lagi. Saya aja jujur capeknya masih terasa..."


"Iya Bib, benar. Rekan-rekan malah jadi bisa bisa tidur. Makanya malam ini mereka udah ngerasa segeran." Kang Beben terkekeh.


"Ngomong-ngomong udah pada makan, belum?"


"Yang di hotel udah, Bib. Saya juga udah, tadi pas keluar sholat habis itu langsung ke rumah makan Padang."


"Alhamdulillah, tenang saya kalau dengar kalian udah makan semua. Kang Beben nanti uang makannya saya ganti, ya."


"Nuhun... nggak perlu, Bib. Paling cuma berapa."


"Nggak papa. Udah peraturannya, segala biaya perjalanan termasuk makan 'kan jadi tanggungan saya. Walaupun senilai lima ribu rupiah, pun tetap akan saya ganti."


"Ya Allah, nuhun pisan, Bib," tuturnya, Bilal pun tersenyum. "Oh, iya... Jadi bagaimana sama anak-anak?"


"Ya, kalau maunya saya mereka istirahat semalam lagi aja. Paginya baru jalan. Tapi, kalau maunya jalan sekarang? nggak papa. Asal pelan-pelan–"


"Ya udah, nanti saya konfirmasi langsung ke Amir. Oh... teteh mau saya antar untuk istirahat di hotel atau mau di sini aja?"


"Saya di sini aja, nemenin Habib."


"Merr, mending tidur di hotel aja. lebih nyaman," kata Bilal. Merr pun menggeleng.


"Nggak mau, aku mau di sini aja."


"Nurut lah... hotelnya nggak jauh kok, iya 'kan Kang?"


"Iya, nggak jauh Teh... biar saya yang temani Habib di sini."


"Nggak, Kang. Saya mau tidur di sini aja..."


"Merr–" Bilal memintanya sekali lagi, membuat Maryam menoleh. "Sebaik-baiknya istri itu apa?"


Maryam menghela nafas, mengalah. "Iya–"


"Besok sehabis subuh kesini lagi nggak papa."


"Iya, A'..."


Bilal tersenyum lantas kembali menggeser pandangannya ke arah Beben, "ya sudah Kang, tunggu di luar dulu. Biar Maryam siap-siap."


"Iya Bib, Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Walaikumsalam warahmatullah." Bilal beranjak menghampiri Istrinya yang sedikit manyun karena di suruh pulang.


__ADS_2