
"jangan ngambek..."
"Nggak sih, biasa aja." Maryam menjawab sedikit ketus.
"Biasa aja tapi gitu jawabnya?" Bilal menyentuh dagunya.
"Habis aku kan pengen disini sama kamu. Kangen A'..."
Bilal tersenyum tipis. "Aku juga kangen, tapi mau gimana. Kamu harus istirahat di tempat yang nyaman. Kalau disini, khawatir nantinya kamu malah nggak nyenyak."
"Tapi?" Bilal membungkamnya dengan kecupan manis di bibir.
"Hanya malam ini, kita terpisah lagi. Besok kan aku keluar dari rumah sakit. Niatnya mau istirahat semalam lagi sebelum balik ke Jakarta. Kita bisa kangen-kangenan dulu di hotel, ya?" ucapnya, Maryam sendiri mengangguk.
"A'a–"
"Ya?"
"Cium lagi..."
"Wah... wah... ketagihan nih." Bilal tertawa.
"Boleh nggak? Kalau nggak boleh ya udah."
"Tentu boleh, mau berapa kali? A'a siap ngasihnya–" ucapnya sembari menepuk-nepuk dadanya pelan.
"Dua aja, boleh..." Merr menunjuk kedua pipinya.
"Jangankan dua, sejuta kali juga boleh."
"Hehehe..." Merr memejamkan matanya, dimana Bilal langsung memberikan kecupan di kedua pipinya secara bergantian.
"Lagi, sekali lagi. Di sini–" menunjuk ke arah bibirnya.
"Duh, rumah sakit loh ini."
"Aaaa– mau sini juga."
"Kalau ada yang masuk gimana?" Tanya Bilal sedikit membungkuk saat tangan Maryam melingkar di lehernya. Bilal pula menurunkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dengan lembut.
Tok... Tok...
Reflek Maryam melepaskan ke-dua tangannya, setelah itu mendorong dada Bilal karena terkejut. Dari balik pintu, masuklah seorang perawat wanita. Membawa nampan kecil berisi tensimeter digital.
"Selamat malam– mohon maaf saya tensi dulu, ya. Sekaligus ngecek infus."
"I–iya, Sus." Bilal menjawab dengan gugup. Sebelum menoleh kearah Maryam yang sedang tertawa tanpa suara. Sang perawat kemudian memasang alat tersebut ke lengan Bilal. Selama angka-angka itu berjalan, ia menoleh kearah infusnya yang tinggal sedikit.
"Bagaimana, pak? Apakah masih ada keluhan di dada?" Kembali menoleh pada Bilal.
Bilal menggeleng. "Nggak ada sih, cuman agak perih juga perutnya. Bawaannya lapar terus..."
"Justru bagus, ya pak. Lambung bapak sudah bisa menerima makanan dengan baik. Setelah ini dirutini makan sedikit-sedikit namun sering walaupun cuma roti," ucapannya sebelum kembali menatap kearah angka digital. "Syukurlah, tensinya normal. Ini botol infusnya saya ganti sekalian, ya? Sudah tinggal sedikit."
"Iya sus–"
Perawat tersebut menggantinya dengan yang baru. Setelah itu membereskan kembali alatnya.
__ADS_1
"Baiklah, saya tinggal ya. Selamat malam–"
"Malam–" jawab Bilal dan juga Maryam hampir bersamaan. Pintu kembali tertutup rapat, Bilal sendiri langsung mengusap dadanya.
"Nyaris–"
"Hahaha." Merr bersiap menggendong tasnya di bahu sebelah kanan. "Aku jalan dulu, A'..."
"Iya, yank. Tolong nanti HP ku di kasih ke Kang Beben, sama sekalian baju gantinya."
"Iya, nanti aku titipkan." Merr meraih tangan kanan suaminya lalu menciumnya mengucap salam kemudian sebelum keluar dari kamar tersebut.
.
.
Di sisi lain...
Akhri duduk di kursi sebelah supir. Matanya menatap fokus kearah jalan yang nampak lengang dengan pendar cahaya lampu jalan yang warna-warni di sisi kanan kirinya.
walaupun nampak tak bersuara, Akhri rupanya sedang memikirkan sesuatu. Ya, ia mengingat tatapan khawatir Maryam yang di arahkan pada Bilal. Mungkin ia sering bilang pada dirinya sendiri untuk menghalau bayang-bayang wanita itu dari dalam hatinya. Namun mau bagaimana?
Tidak mudah nyatanya menghapus rekam jejak masalalu dia dengan wanita itu. Karena bagaimanapun juga, Merr adalah wanita pertama tempatnya melabuhkan hati. Sebagai cinta pertama kepada lawan jenis yang ia tanamkan di hati paling dalam.
Sejenak– ia mengingat kata-kata Ustadz Irsyad, yang memintanya untuk mencoba mencari pengganti Kania sebagai teman hidupnya.
Menikah lagi? –Batinnya.
Mendadak ia berpikir keras. Sembari memutar waktu dalam memori ingatannya. Di beberapa jam yang lalu.
# Flashback on...
"Iya, Kyai. Saya kan berdua, jadi bisa gantian nyetirnya. Lagipula sudah janji sama anak-anak kalau besok pagi saya sudah di rumah."
"MashaAllah, Abi yang baik."
"Tabarakallah, sebaik-baiknya saya masih banyak kekurangannya."
Ustadz Irsyad terkekeh. "Haduh, nggak bisa bayangin sedihnya jadi Antum di tinggal istri saat anak-anak masih kecil-kecil. Pasti lebih gimana, ya?"
"Ya begitulah, kalau soal ngurus Alhamdulillah masih bisa pakai jasa pengasuh. Walaupun si bungsu masih sering tanya Umminya. Tapi setelah itu lupa lagi... ingetnya kalau lagi sedih aja, nangis sambil manggil Umminya."
"Ya Allah, kasian. Lantas anak-anak Antum yang lain bagaimana?"
"Sudah mulai bisa menerima, nggak lagi ngerasa terpukul. Mereka sudah kembali fokus sekolah, paling si anak nomor dua bilang; katanya jadi lebih di sayang guru-gurunya," Ustadz Akhri menanggapi sembari tertawa kecil. Walaupun tatapan Ustadz Irsyad nampak terlihat iba padanya.
"Oh, MashaAllah..." Ustadz Irsyad menghela nafas. Beliau menyentuh bahu Ustadz Akhri. "Afwan, semoga saya nggak langcang tanya ini. Antum? Belum adakah niatan untuk menikah lagi biar bisa sama-sama ngurus anak, dan Antum bisa punya teman berbagi cerita."
Akhri tersenyum. "Gimana, ya? Kalau yang nawarin udah banyak. Termasuk guru-guru saya yang lain dan bahkan Abah saya. Cuman, saya belum ada keinginan, Kyai."
"Antum itu laki-laki. Masih muda, harus memiliki pasangan agar batin Antum nggak mudah terhasut untuk bermaksiat."
"Ya–iya, sih. Tapi, saya kan punya tiga anak. Cari yang mencintai dan sayang sama saya itu nggak susah. Tapi yang sayang dan mencintai ketiga anak saya, itu yang sulit."
Irsyad manggut-manggut. Lalu ia teringat salah satu mantan mahasiswinya dulu yang baru-baru ini bertemu di Jakarta saat Beliau kesana beberapa Minggu yang lalu.
"Begini, saya mau tanya kriteria wanita yang antum suka seperti apa?"
__ADS_1
Akhri terkekeh. "Ya Allah Kyai..."
"Serius saya nanya ini."
Akhri terdiam, tiba-tiba ia mengingat wajah Kania. Setelah itu tersenyum.
"Kok diam saja?"
"Nggak perlu cantik, nggak perlu gadis. Kalau anak-anak saya cocok, ya saya mau."
"Lah, kalau anak-anak cocok tapi udah beruban, mau?"
"Hahaha... ya kalau berubannya masih di bawah usia lima puluh tahun ya nggak papa."
"Hahaha." Irsyad turut tertawa. "Emmm, kalau masih di bawah tiga puluh tahun, dan masih gadis, Antum mau nggak?"
"MashaAllah... muda banget, saya saja sudah empat puluh tiga tahun. apalagi masih gadis?" tanyanya
"Walaupun masih muda tapi kan anaknya dewasa, inshaAllah. Keturunannya juga jelas, anak Gus Wahyudi. Yang punya pondok pesantren di Serang."
"Oh, iya. Sepertinya saya pernah berjumpa Beliau..."
"Nah putri beliau itu pernah menjadi mahasiswi saya. Dia mengajar di salah satu SD Islam swasta. Anaknya baik, solehah. Baru-baru ini saya ketemu, dan cerita kalau dia baru saja batal menikah."
"Kenapa itu?" Akhri nampak tertarik untuk mendengar kisahnya.
"Wanita itu belum lama ini habis menjalani operasi pengangkatan rahim. Sebab ada tumor ganas di sana."
"Innalilah..." mendengar kata tumor Akhri jadi mengingat kesedihannya saat tahu Kania sakit.
"Alhamdulillah, sekarang sudah sembuh total. Tapi, masalahnya? Calon suami dia membatalkan pernikahannya. Mungkin karena masalah itu."
"Lalu apa wanita itu ridho?"
"Dia bilang ridho. Karena belum mengenal dekat juga. Hanya pernah bertemu saat ta'aruf, setelah itu pernikahan mereka ketunda karena dia sakit. Sampai akhirnya di batalkan. Cuman, nggak tahu hatinya..."
"MashaAllah..."
"Gimana, mau saya kenalkan?"
Akhri terdiam sejenak. "Kalau boleh tahu namanya siapa, Kyai?"
"Hapsoh..."
"Hapsoh?"
"Iya."
"Hapsoh–" gumamnya sembari tersenyum. Nama yang indah, semoga ahlaknya sama seperti Hapsoh anak perempuan Umar bin Khattab. Istri Rasulullah Saw.
"Ustadz?" Panggil Ustadz Irsyad membuat Akhri sedikit terkesiap. "Jangan di bayangin."
"Hahaha, enggak Kyai."
"Kapan-kapan kalau saya di Jakarta, kita ke rumah Gus Wahyudi. Bagaimana?"
"inshaAllah, Kyai. Sekalian saya berpikir dulu..." jawabnya, Ustadz Irsyad pun mengangguk sebelum akhirnya menjabat tangan Akhri untuk izin jalan lebih dulu. Mereka berpelukan saling mendoakan keselamatan masing.
__ADS_1
# Flashback off...