Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
jawabnya


__ADS_3

Di kursinya, Akhri masih menunggu jawaban Hapsoh. Wanita yang masih tertunduk membisu. Memainkan kuku-kukunya di atas pangkuan.


"Bagaimana, Nak?"


Ia kembali mengangkat kepalanya memandang Akhri sekali lagi. Dalam hati ia mengucap bismillah. Lalu mengangguk.


"Saya bersedia, Bah," jawabnya.


"Alhamdulillah–" semua yang mendengar itu bahagia. Rasa syukur yang tak terkira, Hapsoh sendiri kembali menunduk sembari mengusap air matanya. Berbeda dengan Akhri yang sesekali mencuri-curi pandang.


Aku akan berusaha membahagiakanmu. Sudah cukup aku melukai dua wanita. Semoga untuk yang saat ini, kamu dapat menjadi pelabuhan terakhir untuk ku... Nur Hapsoh.


***


Setelah mengatur jadwal pernikahan. Ia kembali kerumah. Dalam kebisuannya, beliau kini tengah meresapi perasaan yang campur aduk. Antara bahagia bercampur kekhawatiran. Pasalnya waktu tiga bulan ini mungkin tidaklah lama. Sementara dirinya masih takut akan mengecewakan wanita ketiganya itu.


Akhri beristighfar, Ia sudah bertekad menikah untuk ibadah serta teman berbagi rasa. Sekarang jalani saja, toh yang terpenting ketiga anaknya telah setuju. Begitu pula Ummi yang sudah sempat ia ajak berunding sebelum akhirnya beliau menghubungi Ustadz Irsyad yang di jadikan perantaranya.


.


.


Beberapa bulan sebelumnya, Ustadz Akhri memang sudah pernah bertemu dengan wanita itu beberapa kali. Dan yang paling membuatnya berkesan adalah manakala supir yang biasa menjemput anaknya telat. Sebab adanya kendala.


Flashback on


Hujan di luar amatlah lebat, sementara Akhri baru saja pulang sehabis perjalanan dakwahnya seperti biasa. Langkah yang nampak lelah membawa segera memasuki rumah. Di lihat Ummi baru saja selesai menerima panggilan telepon.


"Assalamualaikum–" sapa Akhri saat sudah berada di dekat ibunya. Ia mencium punggung tangannya dengan sopan.


"Walaikumsalam warahmatullah, kebetulan sudah sampai."


"Ada apa, Mi?"


"Itu mobil yang di bawa supir disini buat jemput Alma dan Husein bannya bocor. Sekarang mending kamu suruh supir kamu ke sekolahan mereka, deh! buat jemput anak-anak kamu."


Akhri menggaruk kepalanya. Karena ia baru saja menyuruh sang supir untuk istirahat karena sejak perjalanan pulang sudah mengeluhkan tidak enak badan.


"Biar Akhri aja–"


"Kamu kan capek?"


"Nggak terlalu kok," jawabnya sementara matanya menoleh ke arah lantai dua. "Daud mana?"


"Sedang tidur siang sama pengasuhnya."


"Oo..." Akhri membulatkan bibirnya. "Ya sudah... aku jalan dulu, Mi."


"Iya, hati-hati ya."


"Iya–" jawabnya sebelum mengucap salam dan lantas melenggang pergi.


–––


Di sekolah...

__ADS_1


Gadis kecil berkerudung putih itu berdiri di depan pintu masuk yang terbuat dari kaca, bersamaan juga kakaknya yang hanya duduk di kursi panjang sisi samping agak jauh sedikit dari tempat adiknya berdiri. Sama-sama memandangi hujan namun dengan ekspresi sedikit cuek sembari mengayunkan kedua kakinya.


"Mana sih, si Mamang?" gumamnya sudah lelah setelah menunggu sekian lama. Dimana hanya tinggal mereka saja yang tertahan di sekolah itu. Bersama seorang security.


"Alma! Duduk aja, ngapain sih di situ?" Seru Abangnya.


"Nggak mau, Alma mau pulang!" rengeknya sembari menghentakkan kakinya ke ubin keramik.


"Ya udah sih, tunggu aja sambil duduk. Nanti juga Mamang dateng."


"Iiiihh... tapi lama, sebel jadinya!" Alma terus saja menghentakkan kakinya sembari menatap hujan di luar. Sementara Husein hanya menghela nafas. Menyandarkan kepalanya ke dinding. Sebenarnya dia sendiri juga sudah jenuh, dan sedikit lapar. Namun mau bagaimana lagi ia tetap harus menunggu. Sementara bekal makanan yang di bawa sudah habis.


"Alma, Husein?" Suara halus itu membuat keduanya menoleh.


"Ustadzah Hapsoh?" Alma tersenyum lebar.


"Kalian kok masih di sini?" tanyanya seraya mendekati.


"Ini Ust, tadi Bu Nyai telfon. Katanya mobil yang buat jemput mereka bannya bocor. Jadi telat jemputnya," jawab sang scurity.


"Oh... udah berapa lama nunggunya?"


"Satu jam ada kayanya..." jawab scurity itu lagi.


"Ya Allah, kalau begitu duduk sana aja, Alma. Sama Abangnya–" Hapsoh menunjuk kearah Hussein yang masih duduk dengan ekspresi wajah datarnya.


"Tapi Alma mau pulang sekarang, Alma lapar–"


"Oh, kamu lapar. Ustadzah punya kue nih, kamu mau nggak?"


"Kue apa? Enak nggak?"


Di sana sang guru mengeluarkan kotak dari dalam paper bag. Awalnya keduanya seperti tak tertarik. Namun saat melihat isi dari kotak tersebut rupanya adalah kue brownies potong dengan berbagai hiasan cantik. Membuat Alma yang tadinya sudah amat jengkel seketika ceria.


"Wah–" ucap anak perempuan itu senang. Karena hiasan kue itu membuatnya terlihat amat lezat.


"Kita makan ini sambil nunggu yang jemput datang, ya," ucapannya sembari mendekati kotak kue tersebut kearah mereka.


"Iya, Ust!" jawabnya senang. Mengambil kue yang terdapat potongan strawbery segar dengan sangat antusias, sebelum akhirnya mencicipi. "Enak banget, Ust..."


"Benarkah?"


"Benar... Alma nanti tambah ya, Ust?"


"MashaAllah, silahkan sayang." Hapsoh nampak berbinar melihat anak itu nampak lahap memakan kue yang ia bawa. Padahal kue tersebut, tadinya mau ia berikan pada seorang wanita yang sebelumnya hampir menjadi ibu mertuanya namun tidak jadi. Sesaat tatapnya teralihkan pada Hussein. "Abang nggak mau ambil?"


"Nggak Ust, terima kasih–" jawabnya singkat tanpa menoleh.


"Abang, ini enak loh," ucap Alma dengan mulut belepotan terkena krim dan keju. Hapsoh terkekeh melihat bibir Alma. Ia pun mengeluarkan tissue dari dalam tasnya.


"Sini, Ustadzah bersihkan ya." Dengan kelembutan Hapsoh menyentuh bibir Alma yang sedang nyengir. Bersamaan dengan itu, mata Hussein melirik kearah Alma. Sepertinya ia mau mencoba namun malu. Sayang, tatapan Hussein kepergok Alma yang langsung menggodanya.


"Abang mau?" ucapnya sebelum menggigit lagi kuenya.


"Alma malu-maluin. Itu kan kue punya Ustadzah."

__ADS_1


"Nggak papa ya Ust...? Abang kalau mau ngomong aja. Kan boleh sama Ustadzah."


"Haha, iya..." Hapsoh mendekatkan kotak kue itu pada Hussein. "Ambil, sayang–"


Dengan malu-malu Hussein mengambil satu potong.


"Syukron Ust..." ucapnya amat lirih.


"Afwan sayang." Hapsoh mengusap kepalanya lembut. Posisi wanita itu berjongkok di hadapan keduanya sembari memandangi, sesekali ia mengusap bibir gadis manis yang gemar bercerita itu.


Hingga seorang laki-laki dengan payung di tangan nampak berjalan mendekati lantas memasuki terasnya.


"Abi!" Seru Alma sembari menunjuk ke arah pintu. "Ye...ye... ada Abi..."


Seorang security yang masih di sana membukakan pintu kaca tersebut.


"Assalamualaikum– Afwan saya lama," ucap Beliau pada scurity tersebut. Sementara matanya bergerak menggeser pandangan pada wanita berjilbab panjang yang kini sudah berdiri sembari menunduk.


"Abi– kita lagi makan kue punya Ustadzah Hapsoh. Enak loh, Abi mau?"


Akhri tersenyum. "Nggak sayang, Abi sedang tidak makan hari ini."


"Abi puasa, ya?"


"Emmm..." Akhri hanya tersenyum. Beliau kembali menatap wanita yang masih menundukkan kepalanya. "Syukron khatsiron, Ust. Maaf kalau saya kelamaan jemputnya."


"Tidak apa-apa, Ustadz. Kalau begitu saya pamit duluan." Hapsoh maju beberapa langkah sebelum akhirnya terhenti karena Alma memanggilnya.


"Ust, ini kuenya ketinggalan."


Hapsoh menoleh. "Alma suka kuenya?"


"Suka... ini enak. Nanti mau minta Abi beli yang kaya gini. Ya Abi, beli kue kaya gini ya..." ucapnya pada pria yang hanya mengangguk dengan rasa canggung.


"Emmm..." Pelan-pelan ia berjalan melewati Ustadz Akhri lagi. Lalu mendekati Alma dan Hussein yang sudah berdiri di dekat kursi panjang tersebut. "kalau Alma suka, ini buat Alma aja."


"Beneran?" Alma berbinar. Sementara Hapsoh hanya mengangguk sembari tersenyum. Ia menutup lagi kotak kuenya lalu memasukkannya ke dalam paper bag yang tadi. "Berbagi sama Abang, sama adenya juga ya."


"Alhamdulillah– makasih Ust." Alma mencium pipi wanita itu. Hapsoh sendiri terkejut namun ia senang. "Ustadzah Hapsoh jangan menikah ya, soalnya Alma senang di ajar ustadzah... takut Ustadzah jadi pindah juga setelah menikah seperti Ustadzah Eva. Kan aku udah sayang banget sama Ustadzah."


"MashaAllah..." Hapsoh hanya melebarkan senyumnya merasa terharu.


"Ya sudah, Alma pulang dulu. Sampai bertemu besok Ust. Assalamualaikum–"


"Walaikumsalam warahmatullah, hati-hati ya cantik."


Anak itu mengangguk lalu berjalan sembari membawa tas berisi kota kue yang lumayan berat. Lantas menyerahkan itu pada Abinya yang sedari tadi memandang kagum kedekatan keduanya.


"Abi Ini..."


"Eh..." Akhri gelagapan. Ia beristighfar sembari menerima paper bag tersebut. "Syukron khatsiron, Ustadzah."


"Afwan Ustadz," jawabnya sembari menelungkupkan kedua tangannya di depan dada. Mereka pun berpamitan lalu keluar dari tempat tersebut.


Di sisi lain Akhri tersenyum tanpa sepengetahuan wanita itu juga anak-anaknya. Rupanya memang benar setelah sedikit mencari tahu. Ternyata Dia adalah Hapsoh yang sama dengan wanita yang pernah di ceritakan Ustadz Irsyad.

__ADS_1


Rasa syukur lainnya yaitu ketika Alma rupanya sangat menyayangi wanita tersebut. Ya, sepertinya semuanya akan mudah... walaupun ujian memang tidak akan pernah luput untuk menyapa sebagai penghias kehidupan.


flashback off


__ADS_2