Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
harapan yang masih tertunda


__ADS_3

Di pagi yang sama namun tempat yang berbeda.


Bilal membuka lemari gantung di dalam kamar mandinya. Niat hati ia ingin mengisi sabun cair yang sudah habis, namun fokusnya teralihkan. Ia melihat pembalut Merr masih utuh dan seingatnya ini sudah lewat satu bulan. Kenapa Merr belum memberikan kode liburnya?


Bilal tersenyum, ia bergegas keluar lagi menghampiri Maryam yang hendak menyetrika baju.


Greeppp...


"Eh?" Merr terkejut saat suaminya tiba-tiba memeluknya erat dari belakang, saat dia tengah berdiri di depan lemari pakaian. "Kaget aku... nggak jadi mandi?"


"Jadi, tapi aku mau tanya dulu?"


"Tanya apa?" Merr mengerutkan keningnya.


"Bulan ini kamu belum haid, ya?"


"Emmm..." Ia berpikir sejenak. "Eh, iya sudah lewat siklusnya. Bahkan mau masuk siklus kedua."


"MashaAllah," gumam Bilal berbinar. "Kamu ada tanda apa gitu, nggak?"


"Tanda apa? Enggak ada..." jawabnya sembari menoleh.


"Masa sih? Kita cek, yuk."


Merr tercenung, memandang wajah bahagia Bilal yang penuh harap. "Nggak usah A', aku yakin ini bukan itu kok?"


"Nggak ada salahnya. Ayo sayang, kita ke apotek."


Lagi-lagi ia terdiam, namun Bilal malah justru berjalan meraih jaketnya di dekat pintu kamar dan memakainya dengan cepat. Merr sendiri duduk dengan pelan, merasa khawatir rasa bahagia suaminya yang menganggap telat datang bulan itu adalah satu tanda kehamilan.


"Ayo, siap-siap..." ajaknya. Namun Merr justru menahan lengannya yang hendak keluar. Wanita itu menggeleng pelan.


"Aku rasa bukan A'..."


"Kita hanya ngecek pakai alat, kalau belum ya nggak papa."


"Tapi?" Merr murung, membuat Bilal berjongkok di hadapannya memegangi kedua tangan itu erat.


"Nggak ada salahnya, kita ngecek sekali lagi. A'a nggak akan kecewa begitupun kamu. A'a harap kamu juga nggak kecewa kalau ternyata hasilnya masih negatif."


Merr menganggukk pelan.


"Baiklah, kita jalan?"


"Pakaian masih berantakan A'... aku mau menyetrika baju yang mau A'a bawa ke Pekanbaru siang nanti."


"Ya udah, A'a beli sendiri. Kamu berdoa ya, semoga hasilnya bagus."


"Iya, Aamiin..." Merr tersenyum tipis bersamaan dengan A'a yang mengusap kepalanya setelah itu keluar dari kamar tersebut. Berjalan dengan penuh semangat dan optimis yang tinggi. Berharap penantian selama hampir tiga tahun ini berbuah manis. Ia akan segera mendapatkan momongan.


––

__ADS_1


Di apotek...


Bilal berdiri menghadap jajaran para obat yang tertata di rak kaca. Seorang apoteker pula mendekati setelah melayani konsumen sebelumnya.


"Ada yang bisa di bantu, mas?"


"Itu, apa ya namanya?" Bilal berpikir. "Pokoknya alat yang buat ngetes kehamilan."


"Oh, Testpack?"


"Nah..."


"Sebentar ya, Mas." Bilal mengangguk saat sang pelayan apotek itu mendekati salah satu lemari dan mengambil beberapa jenis alat tes kehamilan. Setelah itu kembali menghampiri Bilal. "Silahkan, mas mau memilih yang mana?"


"Bedanya apa? Yang paling akurat?"


"Keakuratannya rata-rata sembilan puluh sembilan persen, Mas. Cuma ada yang cepat ada yang harus menunggu beberapa detik." Apoteker tersebut mendorong pelan salah satunya. "Ini hanya di siram air seni tanpa di rendam cuma agak lebih mahal dari yang lain, namun cepat memperlihatkan hasilnya."


Bilal meraih itu lalu tersenyum. "Yang cepat lagi yang mana?"


"Ini, sama ini. Tapi rata-rata sama kok mas, cuma di bedakan dengan mereknya."


"Ambil tiga deh ini, ini, sama ini."


"Baiklah mas, ada lagi?"


"Vitamin yang bagus untuk ibu hamil apa, ya?"


"Biasanya penambah darah sama asam folat, Mas."


"Bisa kok."


"Iya sudah dua-duanya. Sama itu mbak... susu hamil." Bilal nyengir. Terlihat sekali Beliau amat antusias. Sang apoteker pun tersenyum.


"Baiklah... tunggu sebentar ya, Mas? Susunya mau merek apa?"


"Yang paling bagus," jawab Bilal spontan.


"Siap, Mas. Di tunggu sebentar ya..."


"Iya." Bilal pun menunggu sebentar. Beliau menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya. Salah satu tangannya mengusap dada.


*S*emoga Merr beneran hamil. Aku akan sangat bahagia.


Semua barang belanjaannya telah terbungkus rapi dalam kantong keresek. Bilal lantas membayar setelah itu bergegas pulang. Tidak sabar menemui istrinya untuk memeriksa.


––


Kembali ke kamar...


Bilal mengucap salam dengan tergesa namun tak ada jawaban selain suara keran air yang mengalir di dalam kamar mandi. Seolah tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya Bilal terus saja tersenyum menunggu di depan pintu kamar mandi, hingga pintu kamar mandi itu terbuka.

__ADS_1


sang istri terkejut saat melihat suaminya sudah kembali. Namun seketika kembali murung lebih-lebih saat pandangannya bergeser pelan kearah plastik putih di tangan suaminya.


"Ayo di cek, sayang... aku udah beli tiga alat tes kehamilan," kata Bilal menggebu-gebu.


Merr menatap sendu, tidak sanggup untuk berkata-kata. Rasanya ia ingin nangis namun tertahan, bersamaan dengan getir yang mencekak kerongkongannya.


"Yaaang...?" Bilal tak melanjutkan saat Merr langsung memeluknya.


"Maaf A'... aku mengecewakanmu lagi," ucapnya.


"apa?"


"Baru saja darah haidku keluar. Aku memang tidak berguna sebagai istri," jawab Merr merasa sedih, ia bahkan tidak berani menatap wajah suaminya. Tidak ingin menatap responnya. Bilal sendiri sempat membeku, namun segera ia beristighfar dalam hati dan kembali tersenyum.


"Nggak papa, kita berusaha lagi."


Merr semakin erat memeluknya. "Maaf aku mengecewakanmu A'..."


"Aku nggak kecewa, sayang. Nggak papa," jawabnya dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya ada walaupun sedikit. Namun mau bagaimana lagi... harapan tingginya tadi seolah membuat Bilal lupa tentang kondisi sang istri yang harus ia pahami.


"aku nggak yakin!" Merr melepaskan pelukannya, terlihat air matanya mengalir membasahi pipi. "A'a boleh marah kok, katakan saja kalau A'a kecewa padaku... aku akan menerimanya."


Bilal menggeleng, sembari menghapus jejak air mata tersebut, "untuk apa aku kecewa, apalagi marah padamu. Semuanya kan bukan kuasa kita. Jadi ya... nggak papa, kita usaha lagi," jawaban Bilal membuat sang istri menunduk lesu. "semangat sayang..."


"aku selalu semangat, namun A'a sendiri?"


"aku? tentu saja aku juga selalu semangat sayang... wajar kan kalau tadi aku antusias sekali. Tapi ya? nggak papa kalau ternyata hasilnya belum memuaskan. Aku tetap sayang sama kamu. sekarang senyum, ya..." Bilal mencium pipinya membuat Merr tersenyum, ia memberikan kecupan balasan di pipi suaminya.


"Makasih A'a..."


"Iya, jangan sedih lagi. Harus selalu ingat keyakinan kita, tidak ada anak bukan berarti kita tak bisa bahagia."


Merr mengangguk. Setelah itu menyentuh kantong keresek di tangan suaminya. "Ini jadi sia-sia."


"Nggak papa, soal alat tes bisa kita simpan. Kalau vitamin katanya masih bisa di konsumsi."


"Susunya?"


"Boleh juga di konsumsi katanya."


"Ya udah aku akan tetap mengkonsumsinya." Merr meraih kantong keresek tersebut. "Terimakasih A'... gara-gara aku telat datang bulan kamu langsung beli ini semua."


"Wajarlah, sayang. Siapa yang nggak senang saat tahu sang istri telat datang bulan??" jawab Bilal membuat Maryam kembali murung. "Tapi bukan berarti A'a langsung kecewa sama kamu saat tahu kamu ternyata belum hamil. Jangan khawatir, masalahmu? Masalah A'a juga... berharap kabut ini tak berlarut-larut. Kita akan bahagia walaupun mungkin dengan cara lain. Kita tidak pernah tahu kejutan apa kedepannya."


Merr menganggukk. Di mana A'a kembali melebarkan kedua tangannya.


"Peluk lagi sini," pintanya, membuat Merr tertawa dengan rengekkan manjanya lalu memeluk sang suami erat.


"Makasih A'a... makasih..."


"A'a yang berterimakasih kepadamu. Karena sudah menjadi kuat."

__ADS_1


"Hiks... sayang suamiku."


"Sayang istriku juga." Bilal mengecup kepalanya lembut sembari mengusap punggung sang istri yang tengah ia dekap erat.


__ADS_2