Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
aku yang akan lebih dulu menua


__ADS_3

Perjalanan pagi ini adalah mengunjungi salah satu taman cantik di kawasan puncak Bogor.


Taman yang memiliki udara yang masih asri, sejuk, dan nyaman untuk di kunjungi. A'a menyiapkan kamera DSLR. Memotret Merr yang tengah berjalan menyusuri bunga-bunga cantik di area tanaman sakura.


Kebetulan saat ini bunga-bunganya sedang bermekaran, pantaslah jika pengunjung lumayan banyak di sana.


"A'a..." panggil Maryam.


Klik!


Bilal tersenyum saat berhasil mendapatkan gambar yang bagus.


"Dih... kok di foto, sih?"


"Cantik soalnya," jawab Bilal sembari berjalan mendekat lalu menunjukkan hasil jepretannya. "Bagaimana, bagus 'kan?"


"Lumayan–" Merr tersenyum tipis. "A'a berbakat sekali sih, motret begini. Walau aku belum siap, tapi tetep bagus hasilnya."


Bilal tak menjawab selain menyibak rambutnya kebelakang, memasang tampang sok cool setelah mendapatkan pujian dari sang istri.


"Biasa aja, jangan tebar pesona gitu. Nanti cewek di belakang pingsan, lagi...!" Merr bersungut sebal. Sebaliknya, A'a malah justru tertawa sembari menarik hidung Maryam yang merengek manja kemudian.


"Aku suka motret semenjak kuliah, Merr. Kaya suka aja, gitu. Cuman dulu objeknya lebih ke alam..."


Merr manggut-manggut. Karena Bilal juga sebenarnya suka Hiking. Terlihat dari beberapa foto Beliau saat masih mengambil S1 di Indonesia.


"Alam membuat aku tenang dan takjub dengan ciptaan Allah SWT. itu kenapa aku betah membidiknya dengan kamera." Bilal memicingkan matanya, mengintip dari lensa kamera yang ia pegang. Mengarah pada salah satu pohon lalu menggesernya pelan kearah Maryam.


"Jangan ke aku?" Merr menutup wajahnya. Bilal pun tersenyum menurunkan kamera tersebut pelan.


"Jangan di tutup, dong."


"Habis A'a suka banget motret aku tiba-tiba."


"Mau bagaimana lagi, fokusku sekarang kamu. Salah satu ciptaan Tuhan yang ku syukuri bisa memilikinya..."


Merr tersipu, rona pipinya terlihat ketika dia memilih untuk memalingkan wajahnya menyamping menatap salah satu bunga sakura. Tangannya menjulur pelan menyentuh salah satu kelopak bunga di hadapannya.


Sigap, Bilal menyiapkan kameranya mengambil gambar istrinya.


Klik...


"MashaAllah..." Bilal tersenyum melihat hasilnya. Menurut Bilal Merr benar-benar model sempurna untuk di jadikan objek foto baginya. Setiap gambar yang di ambil tak pernah gagal. Baik itu pose siap atau tidak siap, semuanya bagus.


Tak hanya senang dengan fisiknya. Merr juga mampu menyenangkan hati Habib Bilal. Sikap dewasa dan keibuan, serta sesekali mempertontonkan kesan imut yang natural tanpa di buat-buat membuatnya senantiasa merasakan gemas dengan istrinya. Belum lagi dengan kesan penurut dan tak suka membangkang. Merr jarang sekali membantah dirinya apa bila tengah di tegur, justru sebaliknya wanita itu kerap mendahului meminta maaf apabila memang benar melakukan kesalahan. Itulah kenapa Bilal merasa Merr adalah wanita paling pas untuk di jadikan pendamping hidup.


Keduanya kembali melangkahkan kaki, hingga sampai pada waktu makan siang setelah sholat Dzuhur mereka memilih salah satu resto dengan bangunan estetik. Menghadap bukit yang di penuhi pepohonan subur nan hijau.


Mereka lantas menyantap beberapa hidangan yang tersaji dengan tenang. Sesekali A'a mengarahkan sendoknya kepada Maryam, agar wanita itu bisa mencicipi makanannya.

__ADS_1


"Udah, A' nanti aku kekenyangan," ucapnya setelah memasukkan suapan nasi dari tangan suaminya.


"Tapi kamu cuma makan sedikit, tuh."


"Kan camilannya banyak," ngeles sembari tertawa saat melihat Bilal melirik tajam lalu geleng-geleng kepala.


Di sela-sela ketenangan mereka. Datang dua orang pemuda sembari tertawa cukup keras, lantas duduk yang mungkin usianya tak begitu jauh dengan suaminya.


"Bro, tumben seharian ini Doi nggak nelfon?"


"Udah putus, jadi nggak ada lagi yang nelfon," jawabnya di sambut tawa pria di hadapannya.


"Gua kira, Lu bakal nikah sama dia."


"Nyokap nggak setuju, keluarga juga banyak yang nggak setuju. Satu, Dia j*nda, udah gitu umurnya jauh di atas gue, enam tahun."


Merr yang masih bisa mendengar itu seketika terdiam. Terlebih saat lawan bicara pria tersebut tergelak.


"Iya sih, lagian cewek kan mukanya boros, Bro."


"Hahaha Parah, lu!"


"Faktanya begitu, kan?"


"Iya bener... bisa jadi Dia jadi nenek-nenek duluan."


"Hahaha Nggak papa, Lu bisa nikah lagi ama yang masih mudaan."


"Konsekuensi Nikah sama berondong. Jadi harus tahu diri kalau nanti dia tua duluan terus suaminya minta nikah lagi."


"Hahaha."


Merr menggigit ujung sendoknya, memandangi mereka yang duduk di belakang Bilal. Lalu setelah itu menoleh kearah suaminya, karena tangannya tengah dipegangi erat oleh sang suami.


"Nggak usah ikut mendengarkan."


Merr tersenyum kecut setelah itu kembali melanjutkan makannya dengan sedikit ogah-ogahan.


***


Sepanjang perjalanan pulang hingga sampai ke rumah, Merr terdiam. Tidak ada ucapan langsung darinya sebagai pembuka, selain menjadi pendengar saja dan menjawab apapun yang di tanyakan suaminya.


Malamnya ia masuk kedalam kamar mandi hanya untuk membersihkan muka dan mengambil air wudhu. Merr memandang wajahnya sendiri di depan cermin.


Konsekuensi Nikah sama berondong. Jadi harus tahu diri kalau nanti dia tua duluan terus suaminya minta nikah lagi.


Merr lesu, wajahnya memang masih nampak muda. Namun sepertinya tanda-tanda penuaan dini sudah mulai muncul. Berbeda dengan suaminya yang masih seperti bujangan dengan ketampanan yang tak jarang mengundang beberapa akhwat yang sengaja memfollow akunya hanya untuk menggoda sang suami di kolom komentar.


Merr pun keluar kamar mandi, setelah itu menghampiri suaminya yang sedang duduk di ranjang sembari memandang ponselnya. Sedang berkirim pesan dengan Kang Beben. Merr turut sama, meraih ponselnya sendiri hanya untuk membuka akun sosial media milik suaminya melalui akunnya. Setelah itu menoleh.

__ADS_1


"A'a?"


"Hemmmz?" jawabnya tanpa menoleh.


"A'a aku boleh tanya nggak, tapi jangan marah."


Bilal mematikan ponselnya lalu menoleh. "inshaAllah, memang mau tanya apa?"


Merr terdiam sejenak, ia ragu-ragu namun akhirnya menunjukkan layar ponselnya. Bilal melihat sejenak.


"Akun A'a...? Kenapa, ada masalah?"


Sang istri mengangguk pelan. "Nggak ada foto kita, kebanyakan foto tentang kamu dan tim rebana kamu."


"Itu 'kan akun official, Sayang. A'a jarang buka, lebih banyak adminnya yang posting. A'a sendiri cuma mantau kadang-kadang," jawabnya.


"Tapi dulu kamu ngechat aku pakai ini."


Bilal menggaruk keningnya dengan jari telunjuk. "Ya, kan emang cuma itu akun aku. Kenapa, ada komen akhwat yang minta di nikahin lagi?" Bilal menggoda sembari menyentuh dagu sang istri.


"Kalau itu aku udah kebal–" jawabnya sebal. Bilal pun tertawa sebelum mendaratkan kecupan di pipi istrinya. "Aku udah tua, dan jelek, ya?"


"Kata siapa? Enggak lah... kamu masih muda, dan cantik."


"Nggak usah bohong, A'... buktinya kamu nggak pernah posting foto kita di akun sosial media kamu."


"ada kok..." jawab Bilal.


"cuma foto tangan. Itu aja nggak banyak," jawab Maryam sebal. Bilal tersenyum tipis.


"A'a sering bilang sama kamu kan? aku nggak suka menunjukkan kemesraan di sosial media. lebih suka menyerang kamu langsung seperti ini." Bilal mencium bibir sang istri dengan gerakan cepat membuat Merr terkejut. "cinta itu di sembunyikan, bukan di pamerkan. Itu kan privasi jadi hanya kita yang tahu manisnya madu ini."


"iya sih. tapi janji, ya! A'a jangan pernah menuntut aku untuk tahu diri? suatu saat nanti."


"Nuntut kamu untuk tahu diri? Maksudnya?"


"Kalau aku udah jadi nenek-nenek, sementara kamu masih menjadi pria dewasa. Jangan menuntutku untuk tahu diri lantas mengizinkanmu mencari yang muda."


"Allah... kamu itu ngomong apaan, sih?" Bilal terheran-heran, tak lama ia mengingat yang tadi saat mereka tengah makan. "Oh... jangan bilang kamu masih mikirin yang tadi."


"Wajar aku takut, A'..."


"Takut boleh, tapi jangan berlebihan. Jangan mendahului takdir. Ucapan itu dia loh..."


"Astagfirullah al'azim."


"Berpikirlah positif. A'a kan sering bilang latihlah dirimu untuk berprasangka baik dalam hal apapun. Agar hasilnya juga tetap baik. hatimu jadi lapang dan bisa terhindar dari konflik."


"Iya A'..."

__ADS_1


"Ya sudah, nggak usah memikirkan apalagi membayangkan hal yang belum terjadi. Masa sekarang adalah sekarang, dan masa nanti serahkan kepada Allah SWT dengan harapan baik kedepannya." Bilal menyentuh dagu istrinya setelah itu mendaratkan satu kecupan di bibirnya dengan durasi yang cukup lama.


__ADS_2