
Ucapan Ustadz Irsyad tadi sepertinya membuat Akhri jadi berpikir. Cuman, apakah anak-anak mengizinkan jika Abi mereka menikah lagi? Sedangkan si sulung sering merajuk manakala mendengar Abinya di jodohkan dengan wanita-wanita yang tak ia kenal.
Mungkin, dia mendapatkan cerita perihal ibu tiri. Sehingga dengan keras melarang Abinya agar tidak menikah lagi. Sikap anak itu memang sedikit menuruni Kania. Mudah merajuk, dan marah. Bahkan ketika sudah sampai pada puncak emosinya ia akan membanting apapun yang ia pegang setelah itu berlari menjauh. Tapi tak bisa di pungkiri, sekeras apapun sikapnya. Anak itu tetap penurut dan cerdas apabila di minta untuk mengaji bersama Abi ataupun guru ngajinya.
Tidak perlu terlalu dipikirkan. Nanti saja jika waktunya telah pas. –Batin Akhri sembari memejamkan matanya. Memilih untuk tidur selama perjalanan ini.
***
Pagi menyapa Akhri baru saja tiba di rumah orangtuanya. Memang, semenjak Kania berpulang anak-anak lebih sering tinggal bersama Ummi Salma. Namun ketika Akhri sedang di rumah, ia akan membawa mereka kembali kekediamannya dengan Nia.
"Abi ayo jalan–jalan," si bungsu mengajak Abinya untuk pergi.
"Nanti sore ya, sama kakak sama Abang juga."
"Maunya sekarang, Abi bilang katanya mau ajak main tembak-tembakan."
Akhri mengangkat tubuh si bungsu lalu memangkunya. "Daud, Abi lelah. Abinya istirahat dulu ya, kalau sudah bobo kan kita bisa jalan-jalan. Lagian nanti kalau kakak sama Abang nggak di ajak bisa nangis, loh."
"Tapi beli es krim. Sekarang!"
"Iya boleh, belinya sama Mbak Ning, ya?"
"Nggak mau, maunya sama Abi," pintanya. Akhri menghela nafas. Tak lama Ummi Salma menghampiri.
"Abit mana? Si Alma kok belum di jemput?" Tanya Ummi Salma pada Mbak Ning.
"Tadi lagi nganterin Mbak Marni, Bu Nyai."
"Kemana?"
"Ke pasar. Hari ini kan mau masak-masak, makanya agak lama."
"Ya ampun–"
__ADS_1
"Ya udah, Mi. biar Akhri aja yang jemput sekalian ajak Daud jalan, beli es krim."
"Daud beli es krimnya naik motor, Bi."
"Siap..."
"Eh, kok naik motor?"
"Nggak papa lah Ummi, sekalian jalan-jalan."
"Tapi kamu kan capek."
"Sedikit sih, tapi nggak papa. Mau tidur juga tanggung."
"Ya sudah kalau begitu, Daud pakai jaketnya, ya."
"Iya, Omah..." Anak itu menjawab sembari melompat-lompat di atas pangkuan Abinya, senang. Akhri sendiri tersenyum, mencium pipinya.
Beberapa menit kemudian, motor sudah berjalan. Si bungsu bernyanyi riang melawan angin yang menerjangnya. Kedua tangannya memegang mainan kecil yang ia dapatkan dari Snack coklat yang dibungkus kemasan berbentuk telur.
Sebelum ke warung membeli es krim, Akhri membujuk Daud untuk menunda ke warungnya dan memilih menjemput anak perempuannya lebih dulu. Karena sudah lumayan telat, khawatir Alma sudah pulang dan kini tengah menunggunya lama.
Motor memasuki kawasan sekolah dasar. Tempat Hussein dan Alma sekolah. Berhubung Kak Hussein sudah duduk di bangku kelas empat, pulang sekolahnya jadi lebih siang. Sementara Alma, anak itu masih duduk di bangku kelas dua, itu sebabnya ia pulang di jam yang lebih awal.
"Abiiii–" teriak anak keduanya itu sembari berlari. Akhri sendiri tersenyum menyambut anaknya dengan hangat. Setelah itu memeluk dan menciumnya.
"MashaAllah– bagaimana Kakak sekolahnya?"
"Bisa, Bi. Aku tadi ada kuis, dan bisa jawab dong," ujarnya setelah mencium punggung tangan Abinya.
"Oh, ya?"
"Iya... soal bahasa Arab."
__ADS_1
"Pintarnya anak, Abi."
"Tadi Alma juga di kasih coklat sama Ustadzah Hapsoh."
Akhri terdiam sejenak. "Ustadzah siapa?"
"Ustadzah hapsoh, Bi."
Ustadzah Hapsoh? Ah... mungkin kebetulan namanya sama. Batinnya, "wah... hadiahnya apa?"
"Coklat–" Alma menunjukkannya.
"Daud mau– itu." Anak bungsu Ustadz Akhri berniat merebutnya namun segera di jauhkan oleh sang kakak. "Kak Alma–"
"Ini punya kakak, bukan punya Daud."
"Tapi Daud mau! mau coklat Bi.... Daud mau coklat..." rengeknya. Akhri pun menoleh kearah Alma.
"Kakak, kasih dong adiknya sedikit. Nanti Abi belikan lagi."
"Nggak mau ini punya, Alma di kasih Ustadzah."
"Iya, tapi berbagi sama adiknya kan nggak salah... itu namanya kakak yang baik. Sini Abi potong jadi dua." Alma menyerahkannya pada sang ayah, kemudian Akhri yang sudah menerima itu langsung membaginya menjadi dua. "Nah, kan jadi makan semua– nanti pulangnya kan kita ke minimarket. Bisa beli lagi."
"Sama indejoy–" serobot si bungsu.
"Iya, sama itu. Tapi janji kalian harus rajin menyikat gigi, ya!"
"Iya Abi–" jawabnya bersamaan.
"Pintarnya anak-anak Abi. Sekarang naik ke motor. Kita pulang."
"Ayooo!!!" Seru mereka bersemangat. Akhri tertawa, seolah segala keletihannya tadi telah sirna melihat anak-anaknya nampak ceria. Ya, Walaupun sekarang ia harus merawat anak-anak dengan separuh sayap. Yang terkadang membuatnya sedih, manakala memaksa tegar di depan anak-anaknya. Agar mereka pun tidak bertambah sedih ketika mengingat Ummi mereka yang telah tiada.
__ADS_1