
Berjalan bersisian di lorong panti. Keduanya lantas berhenti di salah satu sisi tiang besar, penyangga atap koridor. Sembari memandangi anak-anak yang sedang bermain bola di lapangan.
"Ngomong-ngomong, karena baru ketemu hari ini setelah terakhir di Magelang. Saya jadi nggak enak belum mengucapkan terima kasih sama Antum yang sudah berkenan mampir dulu ke Solo dari Magelang," ucap Bilal membuka suara. Akhri sendiri lantas tersenyum menanggapi. "Maaf Ustadz. Waktu pulang saya malah nggak tahu–"
"Nggak papa, Bib. Waktu itu sudah malam. Dan karena ada istri Antum? terlebih, sepertinya sedang ada obrolan serius. Jadi kami tidak enak untuk pamitan ke dalam."
"Iya, pada saat itu Merr mengabarkan berita kehamilannya. Jadi saya kaya senang sekali sampai lupa ada Antum dan Pak Kyai di luar," jawabnya. Sementara Akhri hanya manggut-manggut mendengarkan.
Masih tidak percaya. Maryam akhirnya bisa mengandung, ia akan memberikan anak untuk Habib Bilal.
Batin Akhri, yang merasa perasaan sedikit iri mencubit hatinya. Serta penyesalannya. Andai saja dulu ia mampu menahan diri? Ahh... sudahlah. Tidak perlu mengungkit lagi masa yang telah berlalu cukup lama. Intinya mereka tidak berjodoh...
Ustadz Akhri mengulurkan tangannya. Bilal sendiri mengerutkan kening. Perlahan membalas jabatan tangan pria dihadapannya.
"Selamat atas kehamilan istri Antum. Semoga, Allah SWT menjaganya juga calon anak Antum."
"Aamiin... syukron katsiron, Ustadz."
"Afwan, yaa Sayyid..." balas Akhri kemudian. Setelah itu keduanya terdiam lagi untuk beberapa saat. Sepertinya ada banyak hal yang membuat lidah keduanya membeku sehingga tak ada kata lagi untuk terucap. "Sa–saya senang saat melihatnya lebih bahagia sama Antum."
Bilal menoleh seketika. Membuat kedua tangan Akhri secepatnya terangkat sampai sebatas dada.
"Maaf, Antum jangan salah paham, saya berbicara begitu karena saya sungguh-sungguh turut bahagia melihat keharmonisan Antum dengannya. Tanpa memiliki pikiran lain." buru-buru Akhri menjelaskan.
Bilal tersenyum. "Tidak apa-apa– lanjutkan saja, saya akan mendengarkan."
"Tidak Bib. Sudah cukup... saya hanya mengatakan itu." Ustadz Akhri menghela nafas. Merasa tidak enak hati. Khawatir ia salah bicara.
"Saya minta maaf... karena dulu tidak tahu kalau Dia itu mantan istri Antum."
"Ya Allah... kenapa minta maaf? Jodoh seseorang, tidak ada yang tahu. Mungkin memang Merr itu ditakdirkan untuk Antum."
Bilal tersenyum tipis.
__ADS_1
"Sebaiknya kita tidak membahas ini. Karena sangat sensitif, Bib. Sekali lagi saya minta maaf."
"Tidak apa-apa, Ustadz. Saya berdoa, semoga Antum bisa mendapatkan jodoh lagi. Yang bisa menemani masa-masa tua Antum nanti."
"Barakallah... Aamiin, Aamiin ya rabbal alamin." Keduanya melanjutkan obrolan selama beberapa menit sebelum melangkah masuk lagi ke ruangan Bu Suci.
–––
Dalam perjalanan pulang, ketiganya banyak diam. Lebih-lebih Bilal.
Merr sendiri bingung, dan penasaran dengan Bilal yang mengajak Ustadz Akhri keluar untuk berbicara. Ingin rasanya ia bertanya, namun di urungkan. Dari pada membuat suaminya berpikir hal-hal lain lebih baik diam saja.
Mobil telah tiba di rumah, tepat beberapa menit sebelum masuknya waktu Azhar. Sempat lah untuk Bilal bebersih sebelum menuju masjid.
Sebelum keluar ia menghampiri Maryam yang sedang meluruskan kakinya di atas ranjang. Tangannya sendiri bekerja memukul pelan bagian tulang keringnya. Menghalau pegal. Bilal mengusap perut Maryam lalu menciumnya.
"A' kakiku sedikit bengkak."
"Mungkin kamu capek karena banyak jalan-jalan. Nanti A'a pijat ya..."
"Dia kok kaya ngambek, ya? Tapi, kaya enggak juga? Cuman kalau enggak kenapa banyak diam?" Merr bergumam sendiri, namun setelahnya menggeleng cepat. Bergegas turun dari ranjangnya untuk mengambil air wudhu di dalam kamar mandi.
–––
Malamnya...
Bilal benar-benar memijat kaki sang istri pelan. Menggunakan minyak urut. Rasa hangat di kaki membuat Maryam merasakan nyaman, bahkan sampai memejamkan matanya. Keheningan tercipta, membuat Maryam kembali membuka matanya lalu beranjak untuk duduk.
"A'a kok diam aja?"
"Nggak papa. Cuma lagi pengen diem–" jawabnya tanpa menoleh, tanpa senyum seperti biasa.
Maryam yang bingung mengusap perutnya. Ia menghela nafas pelan. Perut yang membesar membuat Maryam sedikit sulit bernafas. Berkali-kali ia menarik nafas panjang dan membuangnya memulai mulut.
__ADS_1
"Ngomong aja, aku punya salah, ya?"
"Enggak, Yank."
"Mood mu nggak baik, aku tahu." Maryam bergeser untuk meraih tangan suaminya.
"Ya– hanya sedikit. Nggak usah dipikirin."
"Kamu tadi ngobrol apa sih sama Beliau?" Tanya Maryam, karena diamnya Bilal dari sejak mereka mengobrol tadi.
"Kenapa pengen tahu? Dia nggak ngomongin masa lalunya, kok," jawab Bilal sedikit ketus.
"Ya Allah, kok jawabnya begitu? Kan aku cuma tanya."
Bilal beristighfar, lalu memeluk Maryam. "Maaf aku agak sensitif."
"makanya kasih tahu penyebab sensinya? Aku nggak tahu apa-apa, loh. Lebih enak menjelaskan seperti biasa dari pada diam dengan muka masam, 'kan?"
"Nggak papa Yank, hanya perasaan ku saja. Udah ya, nggak usah di bahas lagi. Nggak baik juga."
"Lebih nggak baik lagi kalau di resapi sendiri, A'. Bikin celah hati A'a kebuka. Makanya kemasukan setan," ceplosnya. Bilal tak menjawab selain kalimat istighfar. "A'a percaya kan, masa lalu hanya ada di belakang tidak akan mungkin ku letakkan lagi di depan. Apalagi di jadikan sarana untuk ku ingat-ingat. Jadi A'a nggak perlu berpikir yang aneh-aneh. Supaya hatimu nggak di usik setan?"
"Iya..." gumamnya, sembari kembali istighfar. "Maaf A'a mungkin sedang Futur iman. Makanya semakin sensitif. Mungkin karena banyak pikiran juga. Mikirin kamu yang mau lahiran, mana besok A'a harus ke Palembang juga. Jadi seperti seapa-apanya masuk ke hati."
Merr tersenyum. Ia mengambil tangan Bilal lalu menempelkannya di perut.
"Abi sabar ya... ayo dewasakan lagi seperti biasa. Ummi butuh kekuatan Abi soalnya."
Bilal tersenyum tipis lalu mencium kening istrinya. "Maaf aku kaya marah tadi, ya."
"iya A'... aku paham," jawab Maryam. karena kamu emang biasanya jadi sensi kalau habis bertemu Beliau di saat bersamaku hehe...
"Ya Allah– aku benar-benar nggak sabar pengen ketemu dede."
__ADS_1
"Makanya Abi semangat– jangan berlebih-lebihan memikirkan sesuatu. Karena sejatinya kita akan baik-baik saja." Bilal mengangguk.