
Pekan itu tiba...
Hari di mana pria bernama lengkap Akhri Mumtaz Zulkarnaen resmi mempersunting seorang wanita bernama Nur Hapsoh.
Seolah suasana haru dan bahagia menghiasi masjid tersebut, lebih-lebih saat sang mempelai wanita menghampirinya selepas para saksi menyerukan kata sah untuk mereka berdua.
Bilal menggandeng istrinya, sementara tangan satunya memegangi tubuh Yahya dalam gendongannya. Mereka mengucapkan kata selamat untuk keduanya, jujur saja Akhri masih dalam rasa terharunya Beliau lantas memeluk tubuh habib Bilal setelah Yahya di serahkan ke Maryam. Dengan tubuh berguncang sebab Isaknya, Akhri mendengarkan setiap ucapan doa yang berikan oleh Bilal.
"Sekali lagi selamat, Ustadz."
"Aamiin terima kasih. Terima kasih banyak, Bib."
Selepas bersalaman. Mereka pula langsung berpamitan. Akhri sendiri hanya tersenyum samar memandangi punggung Maryam dan suaminya. Semuanya sudah biasa saja. Tidak ada lagi kecemburuan haram yang ia rasakan, selain keihklasan untuk menerima masa yang kini telah ia jalani.
Setelahnya menoleh kearah sang istri, seperti sebuah aliran listrik yang tiba-tiba saja mengenai ke-duanya. Lebih-lebih Hapsoh yang melihat senyum pria itu lebih jelas. Buru-buru ia menunduk karena gugup. Membuat desir cinta di dada Akhri tiba-tiba saja muncul.
"MashaAllah..." gumamnya amat lirih, Beliau menyentuh dadanya yang berdebar-debar. Sedikit pula ia mencondongkan tubuhnya.
"Abang mencintai kamu, Dik," bisiknya amat pelan namun masih bisa di dengar Hapsoh yang merasakan tingkat gugupnya semakin meninggi. Ia menoleh, memandangi senyum manis yang benar-benar manis dari jarak yang amat dekat.
Aku baru sadar, Bang Akhri amatlah tampan. Posturnya yang tinggi benar-benar memberikannya kesan gagah, amat berkarisma.
Hapsoh membalas senyuman itu amat kaku, lalu menunduk lagi. Tangan Akhri pun mencoba meranggainya. Mencengkeram lembut tangan halus milik wanita di sebelahnya.
Allah... aku gemetaran.
Hapsoh semakin merasakan keringat dingin, ia juga tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap wajah sang suami lagi. Dan dari sanalah, Akhri malah justru ingin tertawa saking gemasnya.
***
__ADS_1
Beralih ke dua satu tahun setelahnya.
Merr mengusap air matanya, memandangi testpack yang menunjukkan dua garis merah di hadapannya.
"Subhanallah... aku hamil lagi?" Setengah tidak percaya ia pun menangis saking bahagianya. Buru-buru dia berjalan keluar, menuju ruang solat.
Di lihat ke-dua cintanya yang tengah bercanda di atas alas sujud sembari mempelajari surat-surat pendek dalam Al Qur'an. Membawanya pada fakta kebahagiaan yang tak bisa ia jelaskan. Harapannya telah berbuah manis bahkan melebihi dari doa-doa yang ia panjatkan selama ini.
Ya, semuanya telah berakhir. Kerisauan yang selama ini membelenggu jiwa telah menjadi perasaan syukur yang tiada terkira. Manakala Tuhan telah menunjukkan kebesarannya. Segala doa yang ia panjatkan kini telah di bayar kontan, semenjak lahirnya Yahya juga anak kedua yang tengah berkembang dalam rahimnya.
Habib memergoki istrinya tengah berdiri di depan pintu. Beliau tersenyum, bersamaan pula dengan Yahya yang tengah menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, sebab menguap.
"Ummi, ngantuk–" ucapnya. Merr kembali menyeka kristal bening di sudut matanya lantas mendekati Yahya.
"Ayo tidur sayang," ajaknya sembari membantu anak itu untuk bangun. "A' aku antar Yahya tidur dulu. Nanti aku mau kasih tau kamu sesuatu."
Binar mata sang suami membuat Maryam tak sabar untuk memberitahukannya namun, di tahan saja. Menunggu nanti.
Membuat Merr terkekeh, ia paham yang di maksud suaminya lantas mengangguk. Setelahnya berjalan keluar dari ruang untuk ibadah bersama Yahya. Sementara habib membereskan semua yang masih berserakan di sana.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Bilal berjalan menuju kamar untuk membersihkan beberapa bagian tubuhnya selagi menunggu Maryam kembali.
Selang setengah jam, pintu kamar terbuka. Maryam melihat sang suami sudah menunggunya dengan buku di tangan. Beliau segera meletakkan bukunya lalu meminta sang istri untuk mendekat dengan isyarat tangannya, yang ia tepuk-tepuk di atas permukaan ranjang tepat di depannya. Merr tersenyum, belum lagi kidung cinta yang beliau nyanyikan sebagai tembang rayuannya.
"Yah albi nadak witmannak tib anta wayaya...Yah ba’d esniin shuk wa haniin alaiik hina ma’aya... Yah dummini liik, danta habibi hayati liik. Wa ha’iish ‘umri ‘ashana ‘ineek wa ‘umri fadak*."
* (Hatiku memanggil, harapkan engkau senantiasa setia. Selepas bertahun tahun lihatlah sayang kita berjumpa disini dan bersama. Air mataku mengalir karenamu, engkaulah kasih, hidupku hanya untukmu. Seluruh hidupku, usiaku, karena matamu, aku serahkan segalanya.)
Seperti untuk langganan, Bilal sering sekali menyanyikan kidung cinta tersebut secara berulang hanya untuk menggodanya. Meski demikian Merr senang semenjak paham artinya, bahkan kadang ia mendadak terharu dengan sikap romantis Bilal yang hingga saat ini tak sedikitpun berkurang. Bilal membelai rambutnya lalu menciumnya setelah itu menyentuh bagian yang menjadi kesukaannya, sembari membuka kancing baju tidur sang istri.
__ADS_1
Dimana gerakan tangannya lain menyibak rambut di bahu sebelah kiri untuk ia singkirkan sejenak ke sebelah kanan lantas mencium pundak tersebut.
"A'a, yakin mau mengajakku?"
Bilal tak menghentikan pekerjaannya. "Aku kangen, lagi jatahku belum terpenuhi," gumamnya lirih kemudian bahkan hampir tak terdengar. Merr menanggapi dengan senyuman.
"Besok jadi ajak Yahya ke taman safari?" mengalihkan sejenak.
"Harus jadi sayang. Sama Ummi, juga keluarga Farah."
"MashaAllah, senangnya akan rame."
"Iya–" memeluk erat tubuh istrinya, menjamah sebagai anggota tubuh langsing Maryam dengan kecupan bibir. Merr sendiri pasrah, terserah sang suami ingin melakukan apa. Sebab sentuhan itu juga masih amat lembut dan hati-hati hingga beberapa menit, Bilal memandangi wajahnya. Sebelum mencium kening, selebihnya ke bibir.
Di sana baru lah Merr menahannya. "Aku mau ngomong sesuatu..."
"Apa?" Bilal kembali menciumnya, hasratnya sebagai pria normal sudah mulai meninggi.
"Dengarkan dulu, ini aku mau kasih tahu kalau Yahya mau punya adik." Cerocosnya langsung. Dimana Bilal kemudian bergeming, menghentikan gerakannya. keheningan tercipta beberapa saat sampai Bilal akhirnya menyunggingkan senyum.
"Kamu tadi bilang apa?" Seolah tak percaya, Bilal bertanya sekali lagi. Merr sendiri terkekeh, lantas mengangguk.
"Aku hamil lagi, sayang."
"Allahu Akbar... A'a nggak salah dengar, kan?" Netranya kini menganak sungai. Merr pula mengangguk cepat, setelah itu meraih sesuatu di laci meja.
"Lihat, aku sudah memeriksanya. Hasilnya positif." Merr menunjuk alat tes kehamilan tersebut dimana Bilal langsung bengong, menitikkan air mata.
"Allahu Akbar... MashaAllah, MashaAllah, MashaAllah..." Segera di peluknya sang istri, seraya bergumam melafazkan Kalimat tauhid berkali-kali sebagi tanda syukurnya.
__ADS_1
Ya, setelah meredam tangis bahagianya Bilal pun meminta sang istri untuk tidur saja. Hasratnya seketika ia tahan demi sang calon anak keduanya...