Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
pertemuan tak terduga


__ADS_3

Bulan berganti bulan. Seolah setiap detik jamnya memberikan makna syukur bagi wanita bermata peri itu. Hari-hari yang membuat jiwanya lebih hidup, bersamaan dengan semakin terkuburnya kenangan sesak di masa lalu.


Ya, dia sudah benar-benar lupa, jika dirinya pernah berada pada jurang kenestapaan. sebab kini sudah berganti tempat indah. Kebahagiaan yang tak bisa ia ukir dengan kata-kata.


"Pelan-pelan, Yank–" Bilal memegangi tangan Maryam yang hendak turun dari mobil. Melangkah dengan hati-hati sembari tangan satunya memegangi perut. Secara bersamaan seorang wanita paruh baya dengan kacamatanya mendekati.


"Allahu Akbar..." Ummi Suci menyambutnya dengan bahagia, memeluk wanita hamil yang nampak lelah itu.


Ya, minggu terakhir setiap dua bulan sekali, keluarga Isti akan berkunjung ke panti asuhan milik yayasan Abdul Aziz.


Saat ini, Maryam membawa bingkisan lebih yang akan di bagikan untuk anak-anak. Berharap bisa memanjatkan doa bersama sekalian dengan mereka di sana.


"Apa kabar, Ummi?" Tanya Maryam lirih. Membalas pelukannya.


"Baik, Merr. Senangnya kedatangan keluarga Habib Bilal." Ucapnya sembari melepaskan pelukan. Mereka pula membalas dengan tawa hangat. Bu Suci beralih pada Ummi Isti, memeluknya kemudian.


Tak lama sebuah mobil Sienta berwarna putih memasuki pelataran panti di waktu yang bersamaan dengan datangnya Habib Bilal sekeluarga. Senyum Ummi Suci melebar saat tahu itu adalah mobil Ustadz Akhri.


"MashaAllah–" gumamannya, "sebentar ya, Bu Anisa."


"Iya, Bu," jawab Isti mempersilahkan sang pengurus panti mendekati mobil yang baru tiba.


Ya, wanita bertubuh tambun itu menunggu sebentar sampai pintu samping terbuka seluruhnya. Di lihat Bu Nyai Salma turun dengan hati-hati.


"Assalamualaikum, Bu Suci," sapanya sembari tersenyum.

__ADS_1


"Walaikumsalam warahmatullah." Ummi suci menjabat tangan Ummi Salma setelah itu memeluknya. "Barakallah, tidak menyangka sekali Bu Nyai datang kemari."


"Iya, kami habis dari suatu tempat. Lalu mampir sebentar–"


"kebetulan sekali, karena istri mendiang Habib Utsman juga baru saja tiba."


"istri mendiang Habib Utsman?"


"Assalamualaikum Bu Nyai–" Isti menyapanya, sementara Ummi Salma terdiam sejenak.


"MashaAllah, tabarakallah–" di peluknya Ummi Isti kemudian memberikan respon hangat untuk istri almarhum Habib Ustman. "Sudah dari tadi, kah?"


"Enggak, Bu Nyai. Kami sekeluarga juga baru sampai." Isti menunjuk kebelakang, Bilal menelungkupkan kedua tangannya kepada Ummi Salma setelah menyapa Ustadz Akhri lebih dulu.


"Maryam?" Pandangan Ummi Salma tertuju pada wanita hamil di sebelah Bilal.


Sementara Ummi tercenung tak percaya. Sebenarnya Akhri juga sama, ia kaget melihat perut Maryam yang membuncit. Namun demi menjaga perasaan Bilal, pria itu memilih untuk mengalihkan pandangannya ke yang lain.


"Kamu, sedang hamil?" Ummi tak menjawab pertanyaan Maryam. Ia justru langsung bertanya sesuai isi pikirannya sebab penasaran dengan perut buncit mantan menantunya itu.


"I–iya." Maryam membiarkan tangan Ummi Salma menyentuhnya.


"Allah..." Diusapnya lembut perut itu. Seolah bayi dalam kandungan Maryam merespon. Ia menendang tepat di bagian telapak tangan Ummi Salma. "MashaAllah, bergerak."


Mendengar itu Maryam dan Isti tertawa lirih.

__ADS_1


"Ya Allah– Ummi tidak menyangka."


Maryam tersenyum. "Aku juga, Ummi. Sebab selama ini aku mengira diriku mandul. Rupanya, setelah bertahun-tahun menanti aku bisa hamil."


Ummi Salma termangu. Seolah kembali di putar ingatan masa lalu dirinya yang pernah memaksa Maryam untuk membujuk Akhri menikah lagi karena kekurangannya itu.


Namun hari ini ia melihat sesuatu yang mustahil itu. Merr bisa hamil. Mungkinkah vonis dokter dulu itu salah?


Sebenarnya ia ingin bertanya, apakah Maryam melakukan ikhtiar pengobatan atau terapi? Namun urung karena perasaan tak enak hati pada Bilal dan ibunya. Jika saja Maryam hanya sendirian mungkin ia akan menanyakannya.


"Barakallah, selamat untuk mu, dan Anda Sayyid." Ummi mengalihkan pikirannya tadi.


"Terima kasih, Bu Nyai." Bilal tersenyum melingkari pundak istrinya, lalu mengelus pelan. Karena ia sendiri sadar tatapan Akhri yang sesekali mengarah pada istrinya. Mungkin ia ingin berbicara sesuatu juga tapi tidak enak jadilah Ustadz Akhri hanya banyak diam.


"Emmm... mohon maaf. Sebaiknya kita mengobrol di dalam biar nggak panas, sebab matahari lagi terik-teriknya," ajak Bu Suci. Mereka yang di sana mengiyakan ajakan sang pengurus panti tersebut lantas melangkah masuk.


––


Di dalam...


perbincangan hangat tercipta di ruangan Bu Suci, walaupun lebih banyak di keluarkan oleh tiga wanita paruh baya itu. Sementara yang muda-muda hanya sebagai pendengar sembari tertawa sesekali.


Bilal sendiri meraih gelas berisi air di atas meja, setelahnya mengarahkan pada Maryam. Karena ia melihat Merr sedikit kesulitan saat membungkuk mengambil air. Semua sebab meja di hadapannya terlalu rendah.


Wanita itu tersenyum manis, seraya meraihnya dari tangan sang suami lantas mengucapkan terima kasih. Sementara yang berada di depan mereka. Ya, Ustadz Akhri tersenyum tipis melihat mereka berdua lalu menundukkan kepala, menghindari perhatian Bilal ke Istrinya.

__ADS_1


Sebenarnya ini tidak baik, tapi kalau aku langsung keluar pasti akan menimbulkan tanda tanya bagi Habib Bilal dan orang yang ada di sini. Padahal beliau hanya mengambilkan air saja untuk istrinya. Kenapa harus aku merasa tidak nyaman? Tidak mungkin aku masih menyimpan perasaan pada Maryam. Astagfirullah al'azim–


"Ustadz, mau keluar sebentar?" Bilal membuat Akhri terlengak. Segala apa yang sedang ada pada pikirannya cerai berai. Akhri sendiri tak menjawab selain mengangguk. Setelahnya mereka berdua keluar mencari udara segar sembari mengobrol empat mata.


__ADS_2