
Bilal mengusap air mata Maryam, sembari tersenyum. Wanita itu sudah jauh lebih tenang, setelah beberapa menit menangis.
"Kamu belum jawab pertanyaan ku. Kesini sama siapa?"
"Emmm, sendiri," jawabnya lirih.
"Sendiri?" tanyanya lagi. Merr pun mengangguk. "Naik apa?"
"Kereta."
"Ya Allah, yank..."
"Jangan marah, aku hanya khawatir sama kamu. Wajar 'kan?"
"Iya wajar, tapi seharusnya kamu jangan main datang aja. Jauh loh Solo... apalagi kamu seorang perempuan. Kenapa nggak sama Hafiz aja?"
"Dia kan harus nemenin Ummi," jawabnya.
"Kalau nggak, ya kamu yang di rumah."
Merr menunduk. "Memang aku nggak boleh datang karena khawatir, ketika mendengar kabar kalau suamiku kolaps ?"
"Bukan gitu..."
"Apa sebenarnya kamu yang nggak mau aku datang?"
"Bukan nggak mau kamu datang, Mer."
"Terus apa? Malu ya kalau aku datang, takut ketahuan Istrinya lebih tua," cecarnya mendadak jengkel.
Yang di cecar langsung mengatupkan bibirnya menghela nafas. Mengalah. Sebab, kalau di ladeni bisa jadi akan keluar gerbong kata berderet-deret tanpa henti.
"Kalau diem aja berarti, iya!" sambungnya sebelum Bilal akhirnya mencubit pipi Maryam merasa kesel namun gemas juga.
"Aaaa, lepas! Sakiiit..."
"Ngambek terus aja, nggak akan A'a lepas."
"Siapa yang ngambek?"
"Ini apa? Di nasehatin malah balik marah?"
"Nggak ngambek, nggak marah juga. Hanya jengkel karena kamu-nya yang kaya nggak seneng aku datang."
__ADS_1
"Siapa bilang aku nggak seneng kamu datang?! Mau di sentil atau gimana sih?" Bilal melepaskannya.
"Sakiiit..." lirihnya sembari mengusap pipi yang di tarik Bilal tadi. –Beneran udah sehat kayanya. Nyubit pipinya sakit. Jahaaat...
"Merr? justru itu aku khawatir. Karena, kamu istri aku. Aku bersyukur kamu nggak papa. Ini tuh aku lagi menasehati, kalau kejadian seperti ini jangan main langsung pergi aja. Apalagi jarak jauh... kalau terjadi apa-apa? Sementara aku nggak tahu apa-apa, bagaimana?"
"Hafiz menelfonku terus, kok. Dia tanya aku sudah sampai mana setiap jamnya," jawab Maryam. Bilal pun menghela nafas, "Aku rasa, wanita manapun saat tahu suaminya pingsan karena asam lambung atau mungkin penyakit lainnya. Pasti reflek akan segera berlari menghampiri lokasi suaminya di rawat. Karena yang mereka takutkan adalah hadirnya sebuah rasa penyesalan jika kemungkinan terburuk itu sampai menimpa suaminya."
"MashaAllah..." Bilal beranjak duduk.
"Eh, A'a mau apa?" Sigap membantu suaminya untuk bangun. Namun justru tubuh Maryam lah yang ditarik sebelum mendapatkan pelukan hangat dari sang suami.
"A', takut tiba-tiba ada yang masuk."
"Nggak akan, kalaupun ada yang mau masuk? pasti ketuk pintu dulu."
Merr tersenyum, ia mengusap rambut suaminya. "Maaf ya, A'... kalau kedatanganku justru membuat mu khawatir. Tapi yang penting 'kan, aku baik-baik saja. Aku pula senang karena kamu juga baik-baik saja."
"Alhamdulillah... A'a itu sebenarnya senang, dan berterimakasih kamu mau bela-belain datang. A'a takut terjadi apa-apa sama kamu. Maaf kalau kamu jadi tersinggung karena ucapan A'a."
Merr mengangguk. "Iya, A'... aku ngerti."
"Ngomong-ngomong, kamu pasti lelah?"
"Ya Allah. Maaf sayang. Oh iya, kamu udah makan, belum?"
"Belum, tapi aku nggak lapar."
"Jangan-jangan dari siang belum makan?"
"Tadi sempat makan mie instan cup di kereta. Nanti juga aku makan A'."
"Nggak-nggak. Pokoknya harus makan nasi. Sekarang aku panggil Kang Beben dulu, minta tolong Dia buat beliin kamu nasi." Bilal menoleh ke arah meja. "Hp ku mana, ya?"
"Kata Kang Beben hp kamu di hotel," jawab Maryam.
"Ya ampun... yaudah pinjam HP kamu."
"Buat apa, A'... udah nanti aja, sih. Sekarang itu ada hal lain yang aku mau tunjukkan ke kamu. Soalnya aku udah nggak sabar kalau harus menunggu nanti."
"Sesuatu?" tanyanya yang di jawab dengan anggukan cepat. Merr bergegas membuka tasnya lalu mengeluarkan kotak yang sudah sangat tidak sabar untuk ia tunjukkan.
"Nih..."
__ADS_1
Bilal meraihnya pelan, dengan kening berkerut. "Perasaan ini bukan tanggal kelahiran ku, kok di kasih kado?"
Maryam senyum-senyum. "Buka coba..."
"Curiga jadinya, mau isengin A'a, ya? Kualat loh nanti."
"Hahaha, siapa yang mau isengin. Masa suami lagi sakit di isengin? Buka aja, makanya."
"MashaAllah. Bismillahirrahmanirrahim..." Kotak itu di bukanya perlahan. Sejenak Bilal bingung karena mendapati kaos kaki serta sarung tangan bayi di dalamnya. "Ini?"
"Ada card ucapan. Ayo di baca, dulu! Itu clue-nya..."
"Ya Allah, kamu bikin A'a deg-degan, Yank." Bibir Bilal tersungging lebar. Segera ia meraih kartu ucapan itu dan membacanya.
Assalamualaikum.
Dear calon Abi ku... akulah jawaban atas doa Abi dan Ummi selama ini loh. Abi senang nggak aku akan hadir di dunia ini? Terima kasih sudah bersabar menunggu aku ya, Abi. Ku doakan Abi sehat, dan kita bisa berjumpa di dunia. Doakan aku juga ya Abi, yang sedang dalam proses penyempurnaan ku. Nggak sabar deh ingin bertemu. Aku sayang Abi...
Tangan Bilal gemetar, matanya yang masih tertuju pada kartu ucapan itu mengembun setelah membacanya.
"A'a coba cari di dalam kotak itu ada yang lain lagi, di bawah serpihan kertas," ucap Maryam. Bilal pula bergegas mencarinya.
Ketemu!
"Allah..." Tangannya semakin gemetar mengeluarkan alat tersebut. Tidak percaya. Beliau mengangkat alat tes kehamilan itu tinggi. "Ini artinya apa, Yank? A'a takut salah artikan... ya Allah."
"Ingat nggak? Itu alat yang A'a beli dulu. Maaf, baru ku pakai..." ucapnya. Bilal menoleh. Air matanya menetes.
"Kamu pakai?" Bilal memandangi wajah Maryam dengan tatapan bingung. Namun nampak sekali Beliau terharu. "Allah..."
Maryam terkekeh, ia menyentuh wajah suaminya lalu mencium pipinya. Setelah itu berbisik. "Aku hamil–"
"Allahuakbar!" Gumam Bilal spontan.
"Hiks... A'a pasti nggak percaya, kan? aku juga awalnya sama nggak percaya. Tapi aku sampai cek tiga kali, hasilnya positif semua."
Bilal masih bengong. Bibirnya tersenyum lebar, pandangannya kabur akibat menampung air mata bahagianya.
"Coba lihat?" Tangannya yang gemetaran itu menyentuh perut Maryam. "Ya Allah, Ya Allah...."
"A'a seneng, nggak?" Merr menayangkan. Di mana Bilal langsung mengangguk cepat.
"Aku Ampe nggak bisa ngomong apa-apa." Bilal merubah posisinya. Ia mengambil gerakan sujud di atas ranjangnya.
__ADS_1
"Allahuakbar! Allahuakbar...!" Bilal bertakbir cukup keras membuat tangis haru Maryam pecah. Tangannya pula mengusap punggung suaminya yang mulai kembali bangun lalu menyentuh perut Maryam membacakan doa, setelah itu baru memeluk tubuh sang istri erat.