Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
menikmati status baru


__ADS_3

Senja bergulir. Hari-hari kian berlalu. Mengganti Minggu dan juga bulan. Maryam sudah mulai bisa menata hidupnya dengan baik.


Walau, sejatinya luka itu masih pedih. Namun tidak baik juga terlalu meratapi sebuah perpisahan. Hidupnya harus terus berjalan. Sesulit apapun rintangan, sekeras apapun gempuran ujian di depan. Tidak akan menyurutkan langkahnya untuk terus bertahan hidup dengan baik.


Walau terkadang iman naik dan turun, lelah juga terkadang menggelayuti jiwa. Membuatnya tak jarang merasakan berputus asa.


Namun kembali, ia harus bisa terus bertahan. Seperti inilah kisah seorang wanita yang statusnya sudah berubah menjadi janda.


Senyum getir kadang menghiasi wajah cantiknya. Seolah geli dengan julukan itu. Tapi mau bagaimana lagi, memang itulah statusnya yang sekarang.


Maryam kini lebih menyibukkan diri dengan mengikuti seminar literasi, mendatangi majelis ilmu, juga yang tengah ia sering datangi yaitu sebuah yayasan panti asuhan.


"Ummi datang! Ummi datang!!" Seru salah seorang anak yang di susul beberapa yang lainnya. Melompat-lompat kegirangan saat sebuah skuter matik berhenti di pelataran. Langsung saja, beberapa berlari mengerumuni wanita yang akrab di sebut mereka dengan sapaan Ummi cantik.


"Assalamualaikum, semuanya." Ramah Maryam menyapa, sembari turun dari kendaraan roda dua miliknya. Menjabat tangan mereka satu persatu. Walaupun berebutan, tapi disitulah letak bahagianya.


"Ummi, bawa apa?" Tanya salah satu anak laki-laki yang berusia lima tahun.


"Tebak, bawa apa?" Maryam tersenyum jail.


"Makanan ya, Ummi?" Seorang anak bertubuh tambun langsung menyerobot menjawab. Maryam pun terkekeh.


"Seratus buat zafran."


"Yeaaaaaayyy!!!" Semuanya bersorak-sorai. Sementara itu seorang ibu pengurus panti menurunkan sedikit kacamata bulatnya.


"Maryam–" panggil beliau lirih. Membuat pandangan Maryam beralih.


"Assalamualaikum, Ummi." Maryam mencium tangan wanita itu.


"Walaikumsalam, kamu dari mana? Lama nggak kesini, terakhir kayanya tiga bulan yang lalu."

__ADS_1


Maryam tersenyum kecut, memang selama itu dirinya sibuk mengurus perceraian juga menata hati pasca perceraian itu.


"Sedang banyak urusan, Ummi. Jadi agak lama."


"Begitu, ya. Masuk dulu yuk. Biar ini di urus sama pak Yadi," ajak beliau yang di jawab dengan anggukan kepalanya.


Beberapa kotak makan berisi ayam tepung dengan nasinya lantas di bagikan oleh pak Yadi secara adil. Anak-anak itu lantas dengan suka cita membawanya kotak yang sudah mereka dapatkan. Memencar ke sudut-sudut rumah yayasan. Ada yang berkelompok ada pula yang sendirian intinya mereka bahagia. Mendapatkan makanan yang seringkali mereka lihat di iklan televisi.


–––


Wanita paruh baya yang kita sebut saja Ummi Suci. Menyerahkan secangkir teh hangat untuk Maryam.


"Tumben datang dengan sepeda motor, sendirian lagi. Biasanya sama Ustadz."


Maryam tersenyum tipis. "Jujur saja, Merr sudah tidak bareng Ustadz lagi."


"Maksudnya?" Kening wanita itu berkerut.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un. Kenapa, Nak? Setahu Ummi kalian baik-baik saja."


"Banyak hal, yang sebenarnya memang tidak baik-baik saja. Tapi nggak papa lah, semuanya mungkin sudah takdirku dengan beliau. Berjodoh hanya sampai disini."


Ummi Suci meraih tangan putih dan mulus milik Maryam. Memang senyum masih menghiasi, namun tatapan sedihnya seolah masih ada.


"Sabar ya, semoga bisa segera mendapatkan gantinya. Jangan pula di ratapi terus-menerus."


Maryam tertawa kecil. "inshaAllah, Ummi." Hening sejenak, bersamaan dengan tangan Ummi suci yang menepuk-nepuk pelan punggung tangan milik Maryam. Menenangkan wanita itu, khawatir Dia akan menangis lagi. Namun tidak, Maryam sudah kuat. Dia tidak akan menangisi Akhri lagi seperti Minggu sebelumnya.


Di sana obrolan masih berlanjut. Sebelum Maryam kembali bermain dengan anak-anak. Membacakan dongeng dengan logatnya yang kadang membuat anak-anak tertawa. Setelah itu melakukan permainan tradisional.


Lelah bermain, Maryam beristirahat sejenak sebelum berpamitan. Karena waktu sudah mulai senja.

__ADS_1


"inshaAllah, Maryam akan lebih sering kesini."


"Terimakasih, atas kepedulianmu, Nak. Walaupun sudah tidak bersama Ustadz tapi ibu bersyukur. Kamu masih bersedia mendatangi yayasan milik Alm. KH. Abdul Aziz."


Maryam mengangguk. "Mereka sudah Merr anggap anak, makanya kadang Merr kangen." Terkekeh riang. Karena benar, setelah bertemu hari ini hatinya seolah kembali berwarna.


Maryam meraih tangan Ummi Suci, menciumnya lalu setelah itu memeluk yang di tutup dengan saling menempelkan kedua pipi mereka secara bergantian.


Motor Maryam mulai melaju menjauh. Meninggalkan mereka yang sejatinya masih ingin bersama Ummi cantik. Namun mau bagaimana lagi, Maryam harus membagi waktunya dengan baik. Karena selepas Maghrib nanti Dia harus mulai mencicil revisi novelnya yang di rencanakan akan terbit sebagai sebuah buku.


Berselang beberapa menit, dari Merr. Sebuah mobil masuk. Membuat senyum Ummi Suci kembali merekah.


"MashaAllah, hari yang baik. Baru saja di datangi wanita baik hati. Kini istri almarhum Habib Utsman datang." Ummi suci menyambut wanita itu dengan suka cita. Bersamaan dengan tiga anaknya yang turut hadir.


"MashaAllah... senangnya kedatangan tamu agung," Ummi Suci memeluk tubuh mungil Isti.


"Ya ampun... Bu Suci bisa saja." Isti tertawa, sembari membalas pelukannya. Setelah itu Ummi Suci beralih pandang pada tiga anak Isti. Farah, Hafiz, juga Bilal.


Lebih fokus tatapannya pada pria jangkung yang mencium punggung tangan beliau dengan takzim.


"MashaAllah, benar-benar mirip almarhum. Tinggi dan juga tampan, ya Allah. Padahal terakhir kali liat masih kecil."


Isti terkekeh. "Anak sulung saya ini baru pulang dari Tarim beberapa pekan yang lalu."


"Oh, ya? MashaAllah... sudah lulus, ya?"


"Alhamdulillah... sudah Ummi," jawab Bilal dengan sopan.


Ummi suci geleng-geleng kepala. "Sepertinya akan mengikuti jejak Abinya ini."


"Aamiin, semoga saja. Karena Alhamdulillah mulai sering di minta untuk memimpin sholawat," jawab Isti sembari tersenyum.

__ADS_1


"MashaAllah... semoga terus lancar ya, Sayyid." Ummi suci menepuk-nepuk punggung pria di hadapannya, yang mengangguk sembari bergumam Aamiin. Ummi Suci lantas mempersilahkan mereka semua masuk. Berbincang sebentar sebelum masuk waktu shalat Magrib. Karena ada Bilal di sana, ibu pengurus panti juga memintanya agar menjadi imam sholat mereka semua. Di salah satu musholla yang tak terlalu besar namun tidak kecil juga, di panti tersebut.


__ADS_2