Cinta Berselindung Risau

Cinta Berselindung Risau
lembaran baru bersama Sayyid


__ADS_3

Mata Merr mengerjap, di dalam kamar yang masih remang-remang ia terjaga. Tangannya bergeser ke sisi kiri. Ia tak mendapati apa-apa selain bantal guling. sosok suaminya yang semalam tidur di sebelahnya tak nampak, ia pun duduk sejenak. Mengumpulkan tenaga seraya membaca doa tidur dan dzikir singkat yang dulu sering di ajarkan oleh mantan suaminya. Masih ia pakai hingga saat ini.


Hal yang sudah menjadi kebiasaan, ia selalu terjaga di pukul 02:48 atau paling lambat pukul 03:15. Biasanya kalau sedang tidak solat sekalipun Maryam akan menyelesaikan pekerjaannya sampai subuh.


Merr turun dari ranjangnya, berjalan keluar kamar. Ya, malam ini mereka masih berada di rumah Maryam. Niat hati akan pindah dua hari setelah pernikahan mereka ke rumah orang tua Habib Bilal.


Hal ini sudah di bicarakan saat sudah lamaran. Bilal bertanya sebelumnya; apakah Merr keberatan jika harus tinggal di rumah Ummi-nya. Namun Maryam menjawab ia tidak keberatan. Merr sendiri paham, ibunya Habib Bilal tinggal sendirian. Sementara Beliau sering perjalanan keluar kota untuk dakwah dan memimpin sholawat. Jadi setidaknya bisa menjadi teman Ummi Isti.


Meskipun demikian, Bilal tetap berjanji akan memberikannya tempat tinggal jika suatu saat Merr benar-benar ingin mandiri hanya dengan beliau saja.


Maryam bebersih sejenak, lalu berjalan keluar dan menengok ruang sholat. Di sanalah ia mendapati Bilal tengah berdiri, menjalankan ibadah sholatnya. Maryam tersenyum, ia sedikit terharu. Sebab setelah sekian tahun, dirinya bisa menjadi ma'mum shalat tahajud bagi seorang pria yang berstatus suami.


Maryam bergegas meraih mukenah dan memasangnya, karena sebelumnya ia sudah wudhu sekalian. Ia pun menyentuh pundak Bilal, memberi kode jika dirinya ingin menjadi ma'mumnya.


Sebenarnya pada saat itu, Bilal sudah berdiri solat dari jam setengah dua. Sementara saat ini beliau masih di reka'at pertama setelah membaca dua surat yang pertama surat Al-Baqarah lantas di sambung Ali Imran, dan sekarang sudah mulai masuk surat Al Annisa. Niatnya beliau mau sampai selesai namun berhubung istrinya ikut, jadi beliau menyelesaikannya di ayat ke dua puluh. Setelah itu bertakbir untuk ruku'. Di reka'at ke dua Bilal hanya membaca surat pendek setelah itu ruku' lagi.


"Assalamualaikum warahmatullah..." Menoleh ke kanan membaca doa lanjutan, setelah itu menoleh ke kiri dengan salam yang sama.


Bilal mengusap wajahnya sejenak, setelah itu mengulurkan tangannya ke belakang.


"Udah bangun?" Tanya beliau, sembari mencium kening Merr kemudian.


"Iya, A'a kenapa nggak bangunin aku?"


niatnya malam ini A'a mau target lima juz sampai menjelang subuh untuk dua reka'at. Takut kamu nggak kuat. –Bilal tersenyum. Ia hanya menjawab di hatinya.


"Tadi A'a liat kamu kaya masih letih. Jadi nggak tega buat bangunin..."


Tapi aku biasa bangun jam segini, A'. Mau capek kaya gimanapun juga. Aku nggak pernah libur sholat malam kecuali jika sedang libur datang bulan. –Maryam menjawab dalam hati juga.


Karena baginya ibadah malam itu harus serapat mungkin di tutup. Khawatir akan menjadi ria dan membuatnya bangkrut karena pahala yang hilang.


"Kita sambung dzikir dulu, ya."


"Iya, A'... bimbing aku, ya suamiku."


"MashaAllah..." Bilal mengangguk. Ia pun segera menghadap depan lagi, setelah itu membaca doa-doa panjang dzikir rutinnya di sepertiga malam. Ilmu yang beliau dapatkan dari seorang guru besar di Tarim.

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian nampak sang istri sepertinya mulai lelah, Merr berkali-kali mengganti posisi kakinya.


Bilal pun menghentikan bacaannya, ia menoleh. "Kenapa? Udah cape, ya?"


Maryam terkekeh, "iya A'..."


"Padahal udah lumayan di singkat, tapi nanti A'a persingkat lagi ya."


Udah di singkat aja masih segini lamanya. Ya Allah... (Maryam)


"Ya udah langsung doa munajat, ya. Nggak lama kok."


Maryam manggut-manggut. Bilal mulai mengangkat kedua tangannya, lalu membaca doa lagi. Sungguh, nggak lamanya bagi Bilal itu tetap saja lama bagi Maryam yang mulai lelah mengangkat tangannya. Sampai membuat kedua tangannya berkali-kali naik-turun


Hingga terdengar bacaan Rabbana atina fiddunya hasanah, Wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar. Maryam mulai menghela nafas lega. Namun rupanya setelah itu masih ada sambungannya lagi.


Ia baru bisa benar-benar lega setelah kata Aamiin terdengar. Bilal menoleh kebelakang sembari tersenyum jail.


"Gimana? Mantap?"


"A–apanya?" Merr meregangkan kedua tangannya yang pegal.


Maryam bersungut. "Sengaja rupanya, dasar! Kan jadi aku kurang khusyuk Aminin-nya."


"Kerasa kok, dari yang semangat jadi turun intonasi suaranya." Bilal tertawa. "Besok mau lagi? Itu belum full loh."


"Jangan lah... mau nyiksa aku, ya?"


"Katanya mau dididik aku, mau ikut cara aku..."


"Ya, nggak gitu juga. Kasih lah keringanan. Gimana sih?" Maryam meluruskan kakinya sedikit bersungut. –Begini rupanya menikah sama yang lebih muda, kadang ada isengnya, dan lagi isengnya dia itu ngeri.


"Ya zaujatti... Sini aku pijitin."


"Nggak usah, aku bisa pijit sendiri."


"Ya nggak enak lah..." Bilal menoleh ke arah jam. Masih ada sekitar tiga puluh menit sebelum subuh. "Kita main pijitan dulu sebelum subuh, ya..."

__ADS_1


Maryam tersenyum, ketika kakinya mulai di sentuh Bilal.


"Gini-gini pijitan ku itu mantap. Jaminannya Ummi. Tanya aja sama beliau kalau nggak percaya."


"Ngapain aku tanya, kan sekarang aku lagi ngerasain."


"Eh, iya... enak nggak?"


"Enak, A'..."


"Ku bilang juga apa, aku itu tukang pijat pribadinya Ummi, jadi udah profesional."


Maryam terkekeh. "iya deh, percaya aku..."


"Jangan cuma ketawa, aku kan mijit kaki kamu. Kamu pijit pundak aku sini–" Bilal menepuk pundaknya sendiri.


"Yang ada-ada aja, sih. Aneh banget nanti jadinya."


"Ya nggak aneh lah... coba dulu sini, pijitin A'a juga. Kan tadi kesepakatan mau pijit-pijitan."


"Kapan kita mengatur kesepakatan? Kan itu A'a sendiri yang bilang."


"Ya A'a bilang kan udah sepaket, kamu udah pasti mengiyakan."


"Ngaco, nih... nggak Ah, aneh." Maryam tertawa sembari memukul bahu sang suami yang juga tertawa.


Di ruang sholat itu, keduanya masih tertawa bersama. Karena Bilal memang cukup humoris orangnya, membuat Maryam bahkan sampai lelah tertawa meladeni banyolannya. Belum lagi dengan suara merdunya yang melantunkan lagu Aisyah istri Rasulullah.


A'a, aku ingin bahagia seperti ini terus. Semoga kamu benar-benar menjadi yang terakhir untuk ku walaupun bukan yang pertama.


Maryam memandangi wajah yang masih tertunduk fokus ke kaki Maryam yang sedang ia pijat. Bibirnya masih dengan merdu melantunkan lagu-lagu romantis religi. Bilal yang merasa di pandangi pun mengangkat kepalanya lantas tersenyum tipis.


Mengehentikan gerakannya setelah itu meraih wajah Merr. Perlahan mendarat kecupan lembut di bibir sang istri. Sementara salah satu tangan mengusap lembut pipi yang putih dan mulus itu. Bilal masih menyatukannya hingga adzan subuh menghentikan kegiatan mereka.


Bilal mendapati pipi Maryam basah karena air mata. Membuatnya segera menghapus jejak air mata itu.


"A'a berharap selalu... bersama dengan ku. Jangan lagi ada ketakutan, jangan lagi ada kerisauan. Cintai A'a dengan kepercayaan, dengan ketulusan. Maka A'a akan berusaha membalas lebih dari itu. Ya zaujatti..."

__ADS_1


"Iya A'... terimakasih sudah memilih ku, menjadi Khadijah mu."


Bilal mengangguk lantas mencium kening Merr sejenak sebelum akhirnya mengajak Merr kembali mengambil air whudu-nya.


__ADS_2